
Sean mencium lembut kening Sean, "Jika saja sakit ini bisa di pindahkan, maka biarkan saja aku yang menerima rasa sakit ini," Ucap Sean yang tidak tega jika Ana merasakan sakit.
"Apakah menyakitkan sekali jika wanita melahirkan?" Ucap Sean dalam hatinya.
"Sepertinya, lebih sakit wanita melahirkan dari pada tertembak" Ucapnya lagi yang masih mengelus punggung Ana.
Melihat Ana yang merasa kesakitan, Sean pun teringat sang mami. Bagaimana dulu waktu melahirkan dirinya. Sean tidak bisa membayangkannya.
Tidak lam kemudian, mami dan papi Sean tiba di rumah sakit. Mereka segera bergegas ke ruangan yang di gunakan oleh Ana. Sebelumnya mereka sudah di beritahu oleh anak buah Sean, jadi mereka tidak perlu bertanya-tanya lagi dengan pihak rumah sakit.
Sean menoleh kearah pintu yang terbuka, "Bagaimana Sean?" Tanya sang mami yang baru saja tiba. "Dokter kata jika harus menunggu pembukaannya sempurna," Jawabnya.
"Apa adik-adik Diva akan keluar?" Tanya Diva.
Sean tersenyum kearah Diva yang sedang bertanya, "Adik-adik Diva akan keluar sebentar lagi. Diva doakan aunty ya," Ucap Sean.
"Diva mau adik laki-laki dan perempuan. Biar rame," ucap Diva lagi.
"Semoga saja, ya."
Tidak berselang lama, dokter tadi pun kembali keruangan Ana untuk mengecek apa sudah dalam pembukaan sempurna atau belum. "Permisi, nyonya, tuan, kami akan mengecek kembali. Yang lain silahkan keluar terlebih dahulu," Ucapnya sopan.
Mami dan papi Sean keluar mengajak Diva untuk menunggu di luar. Dokter pun kembali mengecek keadaan Ana. "Pembukaan masih pembukaan 5 tuan, tunggu sampai pembukaan sempurna," Jelasnya.
"Apa lama menunggu pembukaannya sempurna?' Tanya Sean. "Itu semua tergantung tuan, ada yang lama ada juga yang tidak," Jawabnya. "Kami permisi dulu, jika ada apa-apa nanti, tuan bisa memanggil kami," Pamitnya lalu bergegas keluar.
Ana terus saja meringis kesakitan yang teramat di kelahirannya yang pertama ini. "Sakit, Sean," Ringisnya kembali. Air matanya jatuh karena tidak tahan menahan sakitnya.
"Tenang, ya... aku ada di sini," Ucap Sean. Ia bingung apa yang harus dilakukan untuk mengurangi rasa sakit yang Ana alami.
"Jangan menangis, oke," Sean semakin tidak tega melihat Ana menangis.
"Aku rindu mama dan papa," Lirih Ana mengingat kedua orang tuanya. Di saat dirinya akan melahirkan, orang tuanya pun sudah tidak menemaninya lagi.
__ADS_1
"Jangan bersedih, oke. Ada mami dan papi di sini, mereka juga orang tuamu," Sean mencium tangan Ana lembut. Sean merasa gusar melihat Ana yang sedari tadi merasa kesakitan.
Setiap 30 menit sekali, dokter datang untuk memeriksa Ana. Hingga Sean merasakan kesal dan geram karena belum juga pembukaan sempurna.
"Aaarkkh... apa masih lam, hah? Apa kau tidak lihat bagaimana istriku kesakitan?" Sean frustasi mengusap kasar wajahnya dan memarahi dokter yang memeriksa Ana. Pasalnya, hari sudah sore tapi pembukaan Ana masih belum sempurna.
"Maafkan saya, tuan. Tapi memang terkadang pembukaan bisa memakan waktu," Jawabnya yang sedikit merasa takut. "Apa tidak ada cara lain, hah?" Kesal Sean lagi.
"Untuk saat ini kita hanya bisa menunggu nyonya sampai pembukaan sempurna tuan. Kalau di operasi pun takut jika berakibat fatal. Pembukaan nyonya juga sudah pembukaan 8," Jelasnya.
"Aaarrkh..." Sean kembali mengusap kasar wajahnya. "Keluar kalian," Sentaknya. Dokter itu pun kembali keluar takut jika Sean akan marah besar.
"Jangan memarahi mereka, mereka jadi takut," Ucap Ana pelan.
"Bagaimana aku tidak marah, mereka tidak beccus," Kesal Sean.
"Aku tidak ingin melihatmu kesakitan seperti ini," Lirih Sean yang tidak bisa berbuat apa-apa kali ini. la menunduk lesu karena payah dalam hal wanita seperti ini. "Tenanglah, aku akan kuat menahan ini," Ujar Ana sambil tersenyum tipis.
Sean mencium kening Ana cukup lama agar dirinya dan Ana bisa sedikit tenang. Sean tidak menyangka jika proses melahirkan itu tidak semudah yang dia kira.
bisa bekerja sama," Terang dokter itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Sean yang tidak tahu bagaimana. "Tuan cukup berada di samping nyonya, dan bantu
kami agar pinggul nyonya tidak terangkat," Jawab dokter tersebut. Sean mengangguk faham.
"Baik, nyonya... kita akan bersiap. Ikuti instruksi yang saya ucapkan tarik napas... hembuskan..." Ana pun mengikuti instruksi dari dokter tersebut.
"1..2..3.. dorong." Aba-aba dokter. Ana mengejan dengan sekuat tenaga.
"Kita lakukan lagi, nyonya. 1...2..3..." Ana kembali mengejan. ucapnya dan
"Sedikit lagi nyonya, kepalanya sudah terlihat." Huuhh.. huuhh...
__ADS_1
"1...2...3" Ana kembali mengejan dengan kuat. Dan akhirnya... Oeekk... Oeekkk... Suara tangisan terdengar keras memenuhi ruangan.
"Selamat nyonya, tuan. Bayi pertama kalian perempuan," Ucap sang dokter lalu memberikan pada perawat yang mendampingi dokter tersebut.
Tidak lama kemudian Ana kembali merasakan perutnya sakit melilit. Dokter pun mulai memberi aba-aba lagi pada Ana seperti tadi. Dan tak lama kemudian.. Oeekk... Oeekk... suara tangis kembali terdengar.
"Waahh... bayi anda kedua laki-laki. Selamat ya, kalian mendapat sepasang bayi yang lucu dan menggemaskan," Jelasnya. Ana meneteskan air matanya karena merasakan haru, dirinya tidak menyangka jika dirinya sudah menjadi ibu.
Sean juga tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar suara tangis anaknya memenuhi ruangan itu. Mami dan papi Sean merasakan senang mendengar suara bayi yang terdengar dari kamar Ana. Diva juga tidak kalah senang setelah tahu jika adik-adiknya lahir ke dunia.
Dokter meletakkan kedua bayi itu di atas tubuh Ana, agar ikatan batin antara ibu dan anak kuat.
Oeekk..
Oeekk...
Suaranya nyaring terdengar memenuhi ruangan. Ana mengelus lembut anak-anaknya yang baru saja lahir. "Selamat datang di dunia anak-anak mami," Ucapnya sambil meneteskan air mata kebahagian.
Sean yang melihat kedua anaknya lahir itu pun juga merasa bahagia yang tidak terkira. Sean mengecup kening Ana tanpa henti karena saking bahagianya dirinya sekarang.
"Welcome to the world anak-anak papi," Ucap Sean yang melihat kedua anaknya yang masih terdapat darah di tubuhnya.
"Kami bersihkan dulu nyonya, tuan," Ucap perawat lalu membawa keluar kedua bayi kembar itu untuk di
Bayi kecil itu terus saja menangis di atas tubuh Ana.
Bersihkan. "Terima kasih untukmu, sayang. Kau sudah berusaha keras, kau sudah melengkapi kebahagiaanku," Ujar Sean mengecup kembali kening Ana.
Air matanya menetes karena rasa bahagianya. Sean yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu pun akhirnya bisa mengeluarkan air matanya saat anak-anaknya tiba di dunia. "Kau menangis?" Tanya Ana yang melihat air mata Sean terjatuh.
"Aku bahagia," Jawabnya tersenyum manis.
Dokter yang berada di sana pun ikut tersenyum melihat keharmonisan dan keromantisan sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Ini adalah pemandangan yang langkah untuknya, karena yang biasa mereka tahu jika Sean sangatlah dingin dan tidak mau tersenyum dengan sembarang orang. Dan sekarang, bahkan dirinya bisa mengeluarkan air mata.