
"Diam dan jangan ikuti aku!" sentak Fany menoleh kebelakang. Julian seketika menghentikan langkahnya karena sentakan dari Fany. Fany berjalan dengan cepat menghindari Julian kali ini, bertemu dan berbicara dengan Julian hanya akan membuatnya pusing saja.
Di satu sisi...
Saat ini, Jennifer dan Thea berada di perpustakaan. Mereka berdua memang lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan. Entah mencari hal penting, atau hanya bersantai membaca novel atau buku cerita lainnya.
Di tengah-tengah Jennifer yang tengah serius, ada beberapa mahasiswi yang menghampirinya. "Hai, sepertinya kau serius sekali."
Jennifer hanya meliriknya sekilas lalu ia kembali lagi ke buku yang ia baca. Jennifer terlihat tidak memperdulikan mahasiswi itu, baginya sangat tidak penting meladeni orang-orang yang tidak jelas. Orang itu terlihat sedikit kesal karena Jennifer tidak meresponnya sama sekali.
"Kau sangat tidak sopan sekali. Harusnya kau melihat orang yang mengajakmu berbicara," sindirnya. Thea hanya melihat beberapa mahasiswi centil itu tanpa bersuara. Thea juga memilih untuk tidak peduli, jika dia di respon, mereka akan sangat senang dan semakin menjadi-jadi.
Jennifer masih saja membDivak-balikkan bukunya tanpa menatap orang itu. "Ternyata putri dari keluarga William sangat sombong," sindirnya karena Jennifer tidak memperdulikannya.
la pun menyahut buku yang di baca oleh Jennifer, Jennifer menatap tajam pada orang itu. "Sorry, sengaja." Ujarnya dnegan menunjukkan wajah songongnya.
"Apa kau tidak ada kesibukan lain? Apa hanya ini yang kau bisa?" ujar Jennifer dengan nada dinginnya.
"Karena memang ini yang aku suka. Ya kan girls...," ujarnya dan di setujui oleh teman satu circlenya.
"Aaah... aku hanya ingin memberitahumu, lebih baik kau jauhi Gerald saja, oke. Karena aku mengincarnya, kau tidak pantas dengan pria seperti itu," ucapnya dengan sombong. Dia tidak tahu jika Gerald tunangan dari Jennifer, dia hanya tahu jika mereka hanya sekedar berpacaran.
"Aku tidak perduli siapapun dirimu, walaupun kau dari keluarga William. Aku juga bisa mendapatkan apa yang aku inginkan," sambungnya lagi.
Orang itu adalah orang yang pernah Gerald pelintir tangannya. Kali ini, dia bersama dengan teman-temannya datang ke perpustakaan. Dia datang ke perpustakaan untuk bertemu dengan Jennifer dan memintanya untuk menjauhi Gerald. Dia juga merupakan anak dari konglomerat, dia merasa jika dirinyalah yang paling layak di sana.
__ADS_1
Sepertinya, dia akan menyetor nyawanya pada keluarga William. Dia hanya mengetahui jika keluarga William orang yang sangat menguasai bisnis di Eropa, tapi dia tidak tahu jika keluarga William juga merupakan keluarga mafia.
"Kalau kau mau, ambil saja dia." Jennifer menaikkan sebelah alisnya dengan wajahnya ang tersenyum sinis di sana.
"Oooh... tentu saja. Tapi, kau jangan menangis kalau saja dia menjadi milikku," jawabnya.
"Kalau kau memang bisa mengambilnya dariku, silahkan." Ucap Jennifer yang terlihat sedikit menantang orang itu. Jennifer bersikap santai menghadapi orang itu, karena dia tahu bagaimana Gerald yang sebenarnya.
"Kau tenang saja, aku akan melakukannya." Jawabnya dengan menunjukkan wajah sombongnya. Jennifer hanya tersenyum remeh pada orang itu.
"Ya... kau memang sangat ambisi. Tapi, kau juga harus tahu, Nona. Kau harus bisa memantaskan dirimu untuk bisa memilikinya, karena dia tidak akan tertarik dengan wanita penggoda sepertimu." Jennifer kembali tersenyum remeh di depan orang itu.
Orang itu pun meradang mendengar ucapan dari Jennifer. Jennifer memang terlihat santai, tetapi kata-katanya sangat memohok. Dia benar-benar copy-an dari Sean.
Bukannya Thea tidak peduli, tetapi dia juga tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan yang tidak rananya. Dia tahu bagaimana Jennifer, tanpa bantua dari siapapun, Jennifer juga bisa mengatasi orang-orang yang sombong seperti itu.
"Suut... jangan teriak-teriak. Kau mengganggu pengunjung yang lain di sini." Ucap Jennifer yang melihat ke sekitar.
"Apa aku terlihat menghinamu? Aku hanya berbicara tentang fakta yang ada," sambung Jennifer dengan santainya.
"Kau...!" ucapnya menunjuk ke wajah Jennifer.
"Turunkan jarimu, atau jarimu nanti tidak berada di tempatnya lagi." Jennifer menurunkan jari ornag tersebut yang berada di depan wajahnya.
"Kenapa kau marah? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika akan mengambil Gerald dariku? Aku hanya memberi tips untukmu," imbuh Jennifer.
__ADS_1
"Akan aku pastikan nanti jika kau akan menyesali ucapanmu sendiri," kesalnya dengan Jennifer.
"Oooh... benarkah? Kenapa aku harus menyesalinya? Apa aku sudah berbuat salah, Nona?" Jennifer semakin memancing emosi orang tersebut.
"Akan aku buat kau menangis darah nanti. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu!" ancamnya pada Jennifer.
Jennifer kembali menunjukkan tatapan tajamnya." Kau sepertinya manusia yang sulit untuk sadar diri, Nona. Bukankah kau sendiri yang menggangguku sedari tadi, dan sekarang kau marah padaku? Sebaiknya kau berkaca sebelum berbicara."
"Sebaiknya kau pergi dan jangan menggangguku," sambung Jennifer.
"Kau lihat saja nanti. Aku akan mengambil Gerald darimu dan membuatmu menyesali semua ucapanmu." Ucapnya lalu meninggalkan perpustakaan. Jennifer hanya memandang kepergian orang itu.
"Benar-benar orang tidak waras." Ucap Thea melihat kepergian segumbulan orang itu.
"Kau memang keren, Jen. Jika saja mahasiswa di sini sama sepertimu, mungkin orang itu tidak nglunjak seperti itu," sambung Thea.
"Tidak pantas orang seperti itu untuk di takuti. Tidak pantas juga orang seperti itu mendapat tempat di sini." Ucap Jennifer lalu kembali mengambil bukunya. la kembali melanjutkan membaca buku miliknya. Thea mengangguk menyetujui ucapan Jennifer, ia pun kembali melanjutkan untuk membaca bukunya.
Hari demi hari telah berlalu begitu cepatnya. Selama itu juga, Jennifer masih saja mendapat gangguan dari salah satu mahasiswi yang tengah mengincar Gerald. Meskipun Jennifer tidak pernah diam menghadapinya, tetapi orang itu masih saja meminta Jennifer untuk menjauhi Gerald.
Entah apa yang ada di pikirannya, hingga dia terlalu obsesi untuk memiliki Gerald. Sepertinya, dia tidak akan berhenti mengganggu Jennifer jika Gerald belum jatuh di pelukannya. Seperti biasa jika saat ini Jennifer berada di perpustakaan, untuk kali ini dia sedang di sana seorang diri karena Thea tidak mengikuti jam kuliah hari ini.
Di tengah-tengah fokusnya Jennifer memaca buku miliknya, ada saja yang datang untuk mengganggunya." Kau serius sekali, Nona. Apa kau tidak bosan berhadapan dengan buku setiap hari? Kenapa bisa-bisanya Gerald menyukai wanita sepertimu yang sangat cuek dan hanya perhatian dengan buku."
Jennifer tidak menggubris ucapannya, siapa lagi gitu jika bukan orang yang selalu mengusiknya dan orang memintanya untuk menjauh dari Gerald.
__ADS_1