
"Mau kau ajak ke mana lagi putriku? Jangan sampai putriku di lihat buruk oleh orang-orang," sahut Rika di sana.
"Ck, siapa yang berani melihat buruk putrimu itu, Aunty. Suruh mereka berhadapan denganku jika aday yang membicarakan hal buruk padanya. Aku yang akan pasang badan untuk putrimu," jawab Julian berkesiap di sana. Namun ucapan Julian memang tidka ada yang salah, memangnya siapa yang akan berani mengatakan hal buruk pada Fany jika bersamanya.
"Kau masih kecil tapi belagu sekali," ujar Rika.
"Hah? Kalau aku menurutmu kecil, lalu aku harus sebesar apa?"
"Tubuhmu saja yang terlihat besar, tapi dirimu itu masih bocah ingusan. Jangan belagu," ketus Rika yang sepertinya juga lelah jika berhadapan dengan Julian.
"Bocah ingusan yang bagaimana? Bagaimana bisa bocah ingusan menjadi pimpinan mafia di Eropa?" Julian menolak keras dengan ucapan Rika yang mengatainya bocah ingusan.
"Hah, bagaimana bisa Ana memiliki anak sepertimu? Sepertinya hanya kau sendiri yang seperti ini," kesal Rika pada Julian.
"Ya memang hanya aku yang seperti ini, hanya aku yang tampan di keluargaku," jawab Julian dengan sangat pede di sana.
"Astaga, anak ini! Kau bersiaplah sana, Fe. Mommy pusing kalau ada dia di sini berlama-lama." Rika sudah benar-benar kesal berhadapan dengan Julian. Rika memutuskan pergi ke dapur dari pada harus berhadapan dengan Julian berlama-lama.
"Apa yang kau tunggu?" ujar Julian menyadarkan Fany.
Fany mencebikkan bibirnya lalu berlalu pergi dan bersiap dengan ajakan Julian. Entah ke mana lagi dirinya mengajak Fany kali ini. Sepertinya Julian mulai sering mengajak Fany keluar walaupun hanya sebentar.
"Kenapa kau mengajakku ke sini?"
"Apa kau tidak bosan kalau pergi ke mall terus? Sesekali berjalan kaki biar sehat kakimu itu," jawab Julian.
"Di mall juga sama saja berjalan, memangnya kau pernah lihat kalau di dalam mall menggunakan scooter?" Fany tidak mau kalah dari Julian.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku ...,"
"Lalu yang seperti apa?"
"Aaahh sudahlah, tidak penting," ujar Julian pasrah. Tumben sekali jika dirinya mengalah, biasanya dia yang paling tidak mau mengalah.
Kali ini Julian mengajak Fany untuk pergi ke Sungai Spree, sungai terkenal yang melintasi negara bagian Axony, Brendenburg dan Berlin di Jerman. Mereka berdua berjalan-jalan di sepanjang sungai, banyak sekali turis yang juga berjalan-jalan di sekitar sana.
"Ayo kita naik," ajak Julian yang mengajak Fany untuk menaiki perahu yang tersedia di sana.
Fany nampak berpikir-pikir sejenak sebelum menyetujui ajakan Julian. "Eeemm ... oke." Fany menyetujui ajakan Julian di sana.
Mereka berdua memutuskan untuk naik ke salah satu perahu yang tersedia di sana untuk melihat pemandangan sungai. Mereka naik dengan para pengunjung yang lain juga, biasanya orang sekelas Julian pasti akan membooking salah satu untuk dirinya dan pasangannya. Namun tidak dengan Julian, dia memilih untuk berbaur dengan yang lainnya saja.
Perahu mulai berjalan menyusuri sungai panjang itu, Fany nampak takjub melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Fany juga terlihat sangat asik bericara dengan Julian, tidak ada perdebatan dan pertengkaran dari mereka berdua. Mungkin mereka menyesuaikan situasi yang ada saat ini, karena di sana tidak hanya mereka berdua.
William's Company ...
Tiing...
Bunyi ponsel terdengar, yang artinya hal itu ada pesan yang masuk. Di bukanya pesan tersebut, terdapat beberapa foto yang terkirim di sana. Di lihatnya satu persatu foto tersebut hingga habis, foto itu merupakan foto dua pasang remaja yang tengah menikmati masa mudanya.
"Bert, bagaimana jika kita menjodohkan putra putri kita?" celetuk Sean saat setelah melihat foto yang baru saja ia terima.
Sean menerima pesan dari anak buahnya yang berisi beberapa foto Julian dan Fany tentunya. Mau siapa lagi kalau bukan mereka berdua.
"Hah, apa Tuan!?" sahut James yang ngebug mendengar perkataan Sean yang tiba-tiba. Tiada angin tiada hujan tiba-tiba saja Sean mengatakan hal itu padanya.
__ADS_1
"Hoh hah hah hah, apa ucapanku tadi kurang jelas?"
"Bukan begitu maksduku, Tuan. Aku tidak mengerti, kenapa anda tiba-tiba mengatakan hal itu. Anda tadi tidak salah makan, bukan?"
"Tentu saja tidak. Karena Ana memasaknya dengan sepenuh hati," jawabnya dengan sangat bangga.
"Coba lihatlah." Sean memberikan ponselnya pada James yang ada di sana. Ia menscroll apa yang di tunjukkan oleh Sean padanya.
"Bagaimana menurutmu? Aku berencana untuk menyatukan mereka seperti Jen dan Gerald," sambung Sean.
"Tapi, Tuan. Aku tidak ingin memaksakan perasaan mereka, bagaimana jika salah satu dari mereka berdua menolak? Aku tidak mau jika nanti mereka tertekan dalam hubungan ini," jelas James yang tidak ingin terburu-buru untuk hal itu. tentu saja dirinya juga tidak mau mekasakan perasaan putrinya, biarkan putrinya yang menentukannya sendiri.
"Itu tidak akan terjadi pada mereka, kau bisa percayakan hal ini padaku. Memang mereka seperti Tom dan Jerry, tapi sebenarnya itulah cara mereka untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Kau bahkan tidak tahu bukan, kalau saja Julian sudah mengcap putrimu itu miliknya?" jelas Sean panjang lebar pada James.
"Jika dia sudah berucap seperti itu, maka akan dengan cara apapun miliknya akan terus di tangannya," sambung Sean lagi.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan apa yang tidak akan terjadi, James. Aku lihat hanya putrimu saja yang belum bisa memahami perasaannya sendiri. Dia masih belum bisa menyadarinya." James berpikir-pikir dengan semua penjelasan dari Sean.
"Jangan terlalu banyak berfikir. Kau pasti akan bangga memiliki besan sepertiku." Dengan narsisnya Sean mengatakan hal itu di depan James.
"Tapi, Tuan, bagaimana jika nanti putriku menolaknya? Kenapa anda tidak mencari menantu yang sepadan dengan keluarga anda, Tuan?" ucap James dengan berhati-hati.
"Sepadan dengan keluargaku bukan tentang kaya ataupun miskin orang itu, Bert. Tapi keperibadiannya dan tingkah lakunya sehari-hari pada orang-orang. Itulah yang selalu di katakan Ana padaku,"
"Banyak sekali jika orang-orang kaya di luar sana adalah seorang penjilat," sambung Sean.
"Aku sudah memiliki rencana untuk ini. Aku akan menemuimu dan istrimu nanti, tidak ada penolakan. Kau percayakan saja padaku, inilah yang terbaik untuk mereka." Sean memang mendukung penuh bagaimana putra dan putrinya. Dia tidak mau melarang keinginan anak-anaknya, dengan siapa pun mereka, pasti Sean akan mendukungnya. Kebahagiaan Twin J adalah kebahagiaan untuknya.
__ADS_1
James hanya bisa pasrah dan mengangguk dengan ucapan Sean. Dirinya menaruh percaya pada Sean, karena memang Sean tidak pernah salah dalam menentukan.