Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 253


__ADS_3

"Yes, aku menang. Kau kalah," soraknya dengan senang. Julian membulatkan ke dua matanya karena bisa-bisanya dirinya di kalahkan dengan Robert.


"Kau pasti curang," ucapnya yang tidak menerima kekalahan.


"Curang kenapa? Aku tidak melakukan apa-apa. Kau saja fokus selama satu jam, tapi tidak menyadarinya. Apa saja sebenarnya yang kau lakukan sedari tadi," elak Robert pada Julian yang tidak mau kalah darinya.


"Aaarkh..." Julian mengacak-acak semua pion-pion itu karena geram atas kekalahannya. Dia yang tidak fokus, dia juga yang ngamuk.


"Kau seperti anak kecil saja," ujarnya melihat Julian yang tidak bisa menerima kekalahannya.


"Terserah!" ia pun merebahkan dirinya di sofa, wajah yang seperti anak kecil sedang ngambek.


Robert mencebikkan bibirnya di sana, padahal dirinya juga setiap hari bersama Julian, tetapi dia juga terkadang masih merasakan kesal pada Julian. Bagaimana tidak kesal kalau memiliki teman seperti Julian yang begitu random dan jahil, meskipun begitu dirinya tidak pernah membenci dengan sikap Julian. Justru pertemanan mereka terlihat sangat awet, karena di antara mereka tidak ada kebohongan dalam berteman.


Kalau tidak suka maka Julian juga akan mengatakan tidak sukanya secara terang-terangan, kalau suka, Julian juga akan mengatakan yang menurutnya suka. Beberapa saat kemudian, salah satu anak buahnya datang menghampirinya di sana. Sepertinya akan ada hal penting yang akan ia katakan pada Julian.


"Maaf, Tuan," ujarnya dengan sopan takut jika mengganggu waktu Julian.


"Ada apa?" bukannya Julian, justru Robert yang menjawabnya.


"Saya mendapat laporan kalau saja putra dari Jacob akan mengincar Nona Diva dan putrinya. Dia mencari celah lain untuk melawan Tuan Muda, jelasnya. Julian yang sedang asik bermain ponselnya itu pun segera terduduk mendengar laporan anak buahnya.


"Apa yang akan dia lakukan?" wajah Julian seketika berubah, karena kali ini menyangkut pada kakak sepupu dan putrinya. Julian tidak akan pernah membiarkan orang-orang di sekitarnya terluka.


"Menutup laporan yang saya dapat, dia ingin merebut kembali Nona Diva. Dia tahu jika waktu dulu Nona Diva yang ingin di jadikan menantu oleh Tuan Jacob," jelasnya lagi.


Julian mengepalkan kedua tangannya kuat dengan sorot mata tajamnya menunjukkan dirinya marah jika ada yang ingin menyentuh keluarganya. "Kau tidak akan mudah menyentuh keluargaku. Jangan kira jika kau tidak bisa melawanmu."


"Beberapa dari kalian berjagalah di sana, usahakan jangan terlalu terlihat. Aku akan ke sana setelah ini," pinta Julian pada salah satu anak buahnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan Muda." la menundukkan sedikit badannya lalu melangkahkan kakinya keluar dari sana dan melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Julian.


"Apa aku ikut denganmu?" tawar Robert pada Julian.


"Tidak perlu, kau berjaga saja di sini. Biar yang lain saja yang ikut denganku. Aku akan pergi ke sana dulu." Julian memakai jaket kulitnya dengan segera.


"Baiklah. Aku akan berjaga dan melihat situasi di sini. Kau berhati-hatilah." Julian hanya membalas dengan anggukan kepala lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Dengan langkah cepat dia menuju ke motor sportnya, tidak perlu menunggu lama Julian segera melaju dengan cepatnya sebelum dirinya terlambat. Meskipun keluarga kakaknya juga bisa melakukan bela diri dan menembak, tetap saja Julian tidak akan membiarkan keluarganya menghadapi sendiri. Dirinya juga tahu bagaimana Riko yang notabenya tangan kanan dari sang papi, Julian akan tetap tetap melindungi keluarganya.


Rumah megah bak istana itu kini terlihat beberapa orang yang tengah mengintai, sepertinya mereka melihat situasi untuk bisa masuk ke dalam sana. Tentunya di sana juga memiliki banyak penjaga, tidak mungkin jika rumah megah itu tidak di jaga ekstra ketat. Mengingat siapa yang tengah tinggal di sana.


Melihat sekeliling yang sepertinya merasa aman, mereka mulai melancarkan aksinya untuk menyusup ke dalam sana. Baru juga beberapa langkah, terlihat motor sport memasuki halaman rumah tersebut. Para pengintai itu kembali mundur dan bersembunyi agar keberadaan mereka tidak di ketahui.


Helm full facenya ia lepaskan dan segera turun dari motor sportnya. Siapa dia kalau bukan Julian, dia tengah sampai di kediaman Diva dan keluarga kecilnya. Sebelum masuk, Julian menatap ke sekitar halaman kediaman Diva.


Julian melihat sedikit pergerakan yang ada di sekitar sana. Ia berjalan ke sisi halaman lain dari rumah megah Diva. Sepertinya ia memiliki rencana lain setelah melihat beberapa pengintai di sana.


Julian kembali melanjutkan langkahnya di sana. Saat tahu Julian datang, para penjaga membiarkan saja Julian mau ke mana dan apa yang akan dia lakukan. Para pengintai itu kembali keluar dengan hati-hati agar tidak tertangkap oleh para penjaga di sana.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Julian menghajar salah satu dari mereka yang tengah terlihat. Salah satu dari mereka tengah menyamar sebagai penjaga di sana, Julian yang mengenalinya langsung saja menghajarnya. Tentu saja Julian mengenali orang-orang yang ada di sana, mereka juga di ambil dari markasnya untuk berjaga di sana.


"Apa yang sedang anda lakukan, Tuan?" tanya orang tersebut dengan tampang polosnya.

__ADS_1


Julian menunjukkan smirk jahatnya saat melihat


tampang polos dari orang tersebut. "Heh, jago juga aktingmu itu. Jangan kira aku tidak tahu siapa dirimu. Aku tidak sebod*h dirimu yang mudah tertipu."


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Julian kembali menghajar orang itu, terjadilah baku hantam di anatara mereka berdua. Karena orang itu sudah ketahuan oleh Julian, maka dia juga meladeni aksi Julian. Mana mungkin dia hanya diam dan pasrah ketika Julian mengharajnya.


Suara baku hantam mereka tidak akan terdegar dari dalam rumah, rumah sebesar itu kemungkinan kecil mendengar baku hantam yang terjadi di luar. Julian tidak akan membiarkan mereka yang ada di sana masuk ke dalam.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Julian menendangnya beruntun hingga orang itu tersungkur. Julian tidak mau berlama-lama untuk menghajarnya, kalau saja bukan di rumah Diva mungkin dia akan bermain-main dulu dengan musuhnya. Julian menginjak kuat dada orang itu agar tidak bangun dan menyerangnya.


"Cepatlah ke halaman samping, jangan berlama-lama." Julian menghubungi salah satu dari penjaga di rumah Diva. Mereka yang mendapat panggilan dari julian segera datang tanpa berlama-lama.


"Ada apa, Tuan Muda?" tanya mereka sedikit bingung melihat orang di bawah kaki Julian.


"Bawa dia. Dia adalah penyusup di sini, serangan pada anak buahku yang berjaga di luar sana. Biar mereka yang membawanya," pinta Julian dengan menginjak semakin kuat orang itu.


"Bagaimana bisa ada penyusup, Tuan?"

__ADS_1


"Harusnya aku yang bertanya pada kalian! Bagaimana bisa ada penyusup masuk dan kalian tidak mengenalinya? Cepat bawa dia." Wajah Julian terlihat sangat serius, jarang-jarang sekali dia menunjukkan wajahnya seperti itu.


__ADS_2