
Guru pengajar pun memerintahkan Jennifer untuk duduk di bangku yang masih kosong. Jennifer fokus menghadap kedepan. Julian sedari tadi memandang ke arah Jennifer, Jennifer yang merasa di tatap pun menoleh ke arah Julian.
la mengkode Julian untuk menghadap ke depan dengan kepalanya tanpa mengeluarkan suara sepatah kata apapun.
Julian menurut dengan perintah Jennifer, dari pada nanti dirinya akan di bantai dengan kakaknya.
Seusai jam pelajaran selesai, semua orang memutuskan keluar dan menuju ke kantin untuk makan siang. Jennifer pun juga beranjak berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar. la ingin melihat situasi dan suasana dengan sekolah barunya.
Julian menyusul kepergian sang kakak sedikit berlari, hingga teman-temannya yang masuk dalam gengnya itu pun dia tinggal.
"Laahh... itu anak kenapa?" tanya salah satu di antara mereka yang melihat Julian tiba-tiba saja berlari keluar.
"Mana aku tahu, dia sedari tadi sedikit aneh setelah melihat anak baru itu." Jawabnya.
"Yasudah ayo kita keluar, kita susul dia." Ajaknya menyusul Julian.
Sedangkan Julian...
la mengejar Jennifer dengan antusias, "Haii kakakku .Kenapa kau pindah kesini? Kenapa kau tidak mengatakannya dulu padaku? Kalau begitu aku bisa menjemputmu ke rumah grandma." Cerocos Julian di depan Jennifer yang sedang berjalan. Julian berjalan mundur karena menghadap sang kakak.
Semua orang melihat tingkah Julian yang sudah seperti biasa dengan kejahilannya, jadi mereka tidak kaget.
Jennifer yang tidak peduli dengan semua ucapan Julian itu pun terus melangkahkan kakinya.
"Ayolah kak, kenapa kau diam saja. Apa kau juga akan tinggal di mension lagi?" ujarnya lagi. Dia memang tidak pernah ada capeknya berbicara panjang lebar.
Jennifer menghentikan langkahnya dan menatap ke arah sang adik. "Bisa tidak kau tidak memanggilku kakak ?" Julian yang mendengar ucapan sang kakak itu pun bingung bertanya-tanya.
"Memangnya kenapa? Kau kan memang kakakku." Ujar Julian.
"Aku tidak mau semua orang tahu kalau aku saudarimu, aku tidak mau mereka semua berteman denganku hanya karena tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak suka dengan para penjilat." Ujar Jennifer pada Julian. Untung saja di sana sudah mulai sepi karena semua orang pergi beristirahat di kantin.
"Tapi..."
"Sudah tidak ada tapi-tapian." Ketus Jennifer pada Julian. Julian pun di buat kicep.
"Aaahhh.... Tuan putriiii.... Kau ada disini?" teriaknya cempreng berlari memeluk Jennifer dengan eratnya. Siapa lagi dia kalau bukan Fany, Julian hanya memincingkan bibirnya melihat tingkah Fany yang alay menurutnya.
Jennifer hanya tersenyum melihat Fany di sana, baginya Fany sudah seperti adik sendiri.
__ADS_1
"Hai nona muda, apa kau pindah kesini?" tanyanya menyusul Fany.
"Jangan panggil aku begitu, panggil saja seperti biasa saat di sini." Terang Jennifer padanya.
"Aahh, sesuai dengan permintaanmu, nona." Jawabnya.
Jennifer menatap tajam kearahnya, "eh... iya-iyaa... Jen." Jawabnya takut melihat tatapan Jennifer padanya.
Siapa lagi orang itu jika bukan Robert, tadinya dia ingin pergi ke kantin bersama Fany dan ikut bergabung dengan geng dari Julian seperti biasa. Setelah melihat Jennifer berada di sana, mereka mengurungkan niatnya.
Mereka berbincang akrab hingga ada segumbulan ciwi-ciwi yang menatap mereka sinis tidak suka.
Jennifer yang tahu tatapan tidak suka mereka itupun menatap balik, tapi mereka tidak ada takut-takutnya. Justru mereka menatap sinis Jennifer, tidak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya kembali menuju arah lain. Jennifer hanya memandang kepergian mereka sampai mereka tidak terlihat lagi.
Juga menggilai ketampanan Julian. Siapa sih yang tidak jatuh hati sama anak paling berpengaruh se Eropa nan tampan itu. Orang itu juga yang sedari tadi memandang Jennifer sinis saat berbicara dengan Julian, Fany dan Robert.
Tapi, meskipun Julian terkenal jahil dan petakilan itu pun tidak bisa sembarangan memilih wanita.
"DIAM." Bentaknya pada temannya. Mungkin dia sedang PMS, sampai-sampai dia membentak temannya yang tidak ada salah. Untung saja temannya tidak mempunyai riwayat sakit jantung yang tiba-tiba mendapat bentakan darinya.
Dia adalah Cindy, dia juga termasuk anak orang berpengaruh di kotanya. Dirinya belum tahu jika Jennifer adalah kakak kandung dari Julian, yang banyak dia tahu adalah Diva.
Julian dan Jennifer sudah tiba di mension, mereka turun dari motor sport lalu berjalan masuk bersamaan.
"Sepadaaa...." Teriak Julian seperti biasanya jika dirinya pulang.
"Hilangin kebiasaan mu teriak-teriak." Sungut Jennifer karena Julian terbiasa selalu berteriak.
"Kalo gak gitu nanti gak ada yang tau kalau kita sudah pulang." Jawab Julian.
"Yang sopan dikit." Ujar Jennifer lalu melenggang pergi menuju ke kamarnya meninggalkan Julian yang masih berdiam diri.
Julian memanyunkan bibirnya setelah mendengar teguran dari sang kakak. Kalau saja itu Diva yang berbicara, mungkin dirinya masih berani, tapi tidak dengan Jennifer.
"Kenapa dengan bibirmu itu?" tanya Diva yang baru saja sampai di mension.
"Tidak apa-apa." Jawabnya lalu melenggang pergi menuju kamarnya. Diva hanya memandang kepergian Julian sambil bertanya-tanya.
"Kenapa dengan anak itu?" gumamnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Jennifer keluar dari kamarnya.
"Jennikuu... kau sudah pulang?" ujar Diva antusias melihat Jennifer sudah berada di mension. Jennifer hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
la ikut bergabung dengan Diva yang sedang menikmati cemilannya di ruang berkumpul.
"Bagaimana kabar grandma dan grandpa, Jen?" tanya Diva.
"Mereka baik." Jawab Jennifer dengan singkat.
"Kita keluar yuk, kak." Ajaknya pada Diva. Diva hanya menaikkan sebelah alisnya mendengar ajakan Jennifer.
"Sekali-kali kita ke mall." Ujarnya lagi.
Diva berfikir-fikir terlebih dahulu sebelum menjawab.
"Emm... oke deh. Ayo," Diva beranjak dari duduknya langsung saja berdiri. Jennifer tersenyum senang Diva menyetujui ajakannya.
Julian yang melihat kedua kakaknya berjalan ke luar itu pun buru-buru mengejarnya.
"Ehh... ehh.... Kalian mau kemana?" Julian menghadang jalan keduanya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kita mau ke mall. Awas, minggir sana." ketus Diva padanya.
"Tega sekali kalian tidak mengajakku?" ujarnya dengan menunjukkan wajah melasnya.
"Kondisikan wajahmu itu. Kau tidak pantas menunjukkan wajah melasmu di wajah jahilmu itu."
Sengal Diva pada Julian yang wajahnya di buat-buat.
"Aku ikutan yah.... Yah... yah..." bujuknya menunjukkan wajah yang sumringah.
"Hmm." Jennifer menjawab dengan deheman. Julian terlihat sangat senang karena di perbolehkan ikut.
"Jangan malu-maluin kalau di sana. Awas saja kau."
Belum juga pergi, Diva sudah mengancam Julian agar tidak bertingkah jika di sana nanti.
Mereka bertiga berjalan keluar dengan bersamaan. Jennifer menggunakan mobil sport miliknya bersama Diva, sedangkan Julian seperti biasa akan mengendarai motor sportnya.dan tak lupa juga Jennifer memakai masker untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
Keduanya langsung saja pergi meninggalkan pelataran rumah dan menuju ke tempat tujuan.