
Sean melepaskan cengkramannya dan menghentikan pukulannya karena Jacob sudah terlihat sangat lemah. Sean terlihat jika nafasnya terengah-engah di sana. Sean sedikit memundurkan dirinya.
"Kenapa kau tidak menghabisiku sekalian? Apa kau takut?" di dalam keadaan yang sudah lemah, dia masih bersikap seperti itu.
"Heh, untuk apa aku takut padamu? Aku hanya memberikan kesempatan padamu untuk melawanku," jawab Sean dengan santai.
"Bangunlah, aku tidak mungkin melawan orang yang sudah hampir mati." Sean tersenyum remeh pada Jacob. Jacob mendongakkan kepalanya dan menatap Sean dengan tatapan tidak sukanya.
"Akan aku balas dirimu," ucapnya lalu mencoba berdiri. Ia mengambil pecahan kaca untuk ia gunakan melawan Sean.
Dooorr...
Dorr...
Doorr..
Sean langsung saja memberondong peluru pada Jacob. Tubuhnya tergeletak dengan berlumuran banyak darah di tubuhnya. Tembakan terakhir Sean mengenai dekat dengan jantung Jacob. Jacob terlihat lemah dan memuntahkan darah.
"Tadinya aku ingin lebih lama melawan dirimu, tapi aku tidak ingin meninggalkan istriku berlama-lama hanya karena melawan dirimu." Ucap Sean memandang Jacob yang sudah sangat lemah.
Sekali lagi Sean meluncurkan timah panas pada Jacob, seketika Jacob tergeletak tidak bernyawa lagi. Melihat Jacob sudah tidak bernyawa lagi, Sean melangkahkan kakinya pergi dari sana dan memberantas anak-anak buah Jacob yang masih tersisa.
Door...
Dorr...
Sean memberondong pelurunya pada yang lainnya, di saat pimpinan mereka sudah tidak bernyawa di luar masih banyak anak buahnya yang belum tumbang. Tidak perlu berlama-lama Sean menembaknya, bahkan dia menggunakan dua pistol sekaligus.
Diva yang berada di lantai atas membidik semua musuh menggunakan senjata miliknya, banyak dari mereka sudah tidak bernyawa. Senjata Diva tidak mengeluarkan bunyi, jadi keberadaannya sulit untuk di temukan asal tembakan tersebut.
Sedangkan di sisi Julian dan Fany...
"Awas, Fa" teriak Julian melihat anak buah Jacob ingin memukul Fany dari belakang.
Bughh...
Fany membelalakkan kedua matanya melihat siapa yang mendapat pukulan keras itu. Ternyata Julian yang mendapat pukulan itu, karena dia segera berlari ke arah Fany dan melindungi Fany.
"Yaaahhhh...." Tatapan psikopat Julian terlihat setelah mendapat pukulan itu. Alhasil orang tersebut terkena libasan Julian dan tewas seketika.
Sriing..
Sriing...
Sriing...
Julian semakin memburu melibas semua musuh yang ada di sana. Julian mengayunkan katana miliknya memutar mengenai musuh, banyak di antara mereka tumbang seketika dalam waktu bersamaan.
__ADS_1
Fany pun memberondong peluru tanpa jeda, keduanya menjadi menggila tanpa ampun untuk memukul rata semua musuh di sana.
Syutt...
Syutt..
Jleebb...
Jleb..
Fany kembali melempar belati kecil yang tersisa pada dirinya. Berondongan peluru dan senjata yang di gunakan Julian membuat semua musuh tumbang di sana. Mereka berdua bernafas lega karena berhasil membabat habis semua musuh yang ada di sana.
Di waktu bersamaan di sisi Jennifer....
Buugh..
Bughh..
Kleek....
Gerald mematahkan salah satu tulang dari mereka, suara teriakan terdengar nyaring di telinga.
"Sedikit lagi, lebih baik gunakan senjata kalian. Bidik mereka tepat di kepala atau di dada mereka," teriak Gerald pada Jennifer dan Robert. Keduanya mengikuti ucapan Gerald di sana.
Doorr..
Rentetan senjata dari keduanya tanpa henti, mereka membidik tepat di jantung dan kepala musuh. Tanpa menunggu waktu lama, mereka berhasil menumbangkan semua musuh yang ada. Cukup menguras tenaga, tapi mereka berhasil membuat musuh tumbang tanpa tersisa.
Bahkan mereka tidak terluka, hanya Robert yang terlihat lebam karena mendapat bogeman mentah dari musuh. Mereka bernafas lega setelah melihat semua musuh tergeletak.
"Kau tidak papa-papa?" tanya Gerald memandang
lembut pada Jennifer. "Tidak, aku baik. Bagaimana bisa kau di sini?" tanya
Jennifer padanya.
"Emm... gimana, yah. Ceritanya panjang, yang penting aku melihatmu tidak kenapa-kenapa. Kita pergi dari sini, kita bantu yang lain. Mungkin masih ada yang tersisa," ajak Gerald. Mereka meninggalkan tempat tersebut dan menuju titik yang lain. Siapa tahu jika ada yang memerlukan bantuan mereka.
Riko masih bergelud dengan tangan kanan Jacob, padahal mereka sudah sama-sama babak belur. Mereka berdua merupakan musuh yang seimbang. Dia mengangkat vas bunga besar untuk d arahkan ke arah Riko.
"Enyah kau!" teriaknya dengan mengangkat vas besar itu tinggi-tinggi.
Satu tembakan mengenai punggungnya, entah siapa yang melakukannya. Ia pun tergeletak jatuh dengan bersimbah darah, vas yang ia bawa itu jatuh dan mengenai dirinya sendiri. Dirinya tewas karena tembakan dari Sean yang tepat sasaran.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil mendekat ke arah Riko.
"Tidak, tuan. Terima kasih sudah membantu saya." Ucap Riko. Ternyata yang melakukannya adalah Sean, ia melihat perkelahian Riko tidak henti-hentinya.
__ADS_1
"Kita akhiri semua," ajak Sean. Mereka bersatu dan menghabisi musuh yang tersisa di sana.
Doorr..
Keduanya menembak brutal musuh yang tersisa. Bahkan tidak ada jeda sama sekali, mereka benar-benar mengakhiri semuanya.
Sedangkan di sisi Diva....
"Apa tidak ada lagi?" tanyanya setelah semuanya sudah tergeletak.
"Bahkan aku belum melakukan apa-apa, kenapa sudah habis." Ujarnya.
Yang paling berhemat energi hanya Diva seorang, dia melawan musuh tanpa membuang tenaganya. Cukup dirinya bersembunyi dan menembak semua orang. Sebenarnya Diva tidak sendiri di sana, dia bersama para sniper anak buah Sean.
Mereka menggunakan senjata yang tidak bersuara seperti Diva, hanya saja jenisnya berbeda.
"Kerja bagus untuk kalian," Diva memberikan dua jempolnya pada orang-orang di sana. Mereka memutuskan untuk turun dan berkumpul dengan yang lainnya.
Twin J dan kawan-kawan juga datang bersamaan, mereka kembali berkumpul di satu titik.
"Kalian tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Sean bertanya pada twin dan lainnya.
"Tidak papi, kita semua tidak ada yang terluka." Jawab Julian mewakili semuanya.
"Syukurlah, jika kalian sampai terluka mamimu pasti akan marah pada papi." Ujar Sean yang takut mendapat omelan dari Ana.
"Haiii... haii... haiii..." suara Diva terdengar di sana dengan sangat bahagia.
"Segar bugar sekali spertinya," sahut Gerald melihat Diva yang tidak menunjukkan wajah lelahnya.
"Tentu doong... orang cantik gak perlu buang-buang tenaga," Diva mengibaskan rambutnya ke arah belakang.
"Bisa-bisanya dia waktu seperti ini bersikap centil seperti itu." Sahut Julian yang melihat tingkah Diva, memang tingkahnya tidak pernah ada bedanya.
"Tidak usah iri, itu di larang." Ketusnya pada Julian.
"Ogah sekali aku iri denganmu." Jawab Julian tidak mau kalah.
"Kalian berdua diamlah," pinta Sean pada keduanya.
"Kalian urus semua di sini, dan obati mereka yang terluka." Perintah Sean pada anak buahnya.
"Baik, tuan." Ujar salah satu di antara mereka. Anak buah Sean yang ada di sana segera membersihkan tempat tersebut. Tempat tersebut berubah menjadi lautan darah dengan banyaknya orang yang tergeletak di sana.
TINGGALKAN JEJAKMU DENGAN CARA KOMEN, LIKE, GIFT AND VOTE
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN NYA
__ADS_1