Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 140 Season 2


__ADS_3

"Mamaa.... Kenapa papa tidak datang ke sini menjemput kita?" rengeknya lagi pada sang mama. Akhirnya Cindy menangis ketakutan di sana, ia sedari tadi merengek pada sang mama meminta untuk di lepaskan di sana.


"Kenapa kau cengeng sekali?" ketus sang mama.


Mereka saat ini berada di markas milik Sean, Sean memang sengaja tidak membawa ke polisi. Setiap ada permasalahan, pasti keluarga Sean akan menyelesaikannya sendiri, dan pasti dengan cara mereka sendiri.


Sedangkan di sisi lain....


Seorang pria mengusap wajahnya kasar, ia juga bingung bagaimana sekarang. Dia berfikir bagaimana caranya untuk membebaskan anak dan putrinya.


"Apa dia sudah bisa di hubungi?" tanyanya pada bawahannya.


"Asistennya mengatakan jika tuan William sedang sibuk, tuan. Dia tidak bisa di ganggu." Jawabnya. Siapa lagi dia kalau bukan papa Cindy.


Sedari tadi mereka memikirkan cara untuk membebaskan Cindy dan mamanya, namun tidak bisa. Karena Sean selalu menolak untuk bertemu dengan papa Cindy. Hal itu membuat papa Cindy sangat frustasi.


Jelas saja dia sangat bingung dan frustasi, karena memang keluarga William tidak pernah bermain-main. Apa lagi jika sudah di tangan keluarga mereka, maka tidak mudah untuk bisa lepas dari genggaman keluarga tersebut.


"Haahh...." Kesalnya mengacak-acak rambutnya.


"Tuan, sebaiknya tuan tenangkan diri dulu. Kita akan membujuknya besok lagi, jika kita lakukan sekarang pun semua tidak akan membuahkan hasil." Ujar bawahannya padanya.


Papa Cindy bernafas kasar dan mendudukkan dirinya. Ia menyenderkan dirinya di sofa yang ada di ruangannya, dirinya juga memijat keningnya pelan karena merasa pusing.


Mension Sean....


"Jen, ikut papi." Ajak Sean pada putrinya.


Jennifer mengangguk dan mengikuti langkah sang papi ke dalam ruang bekerjanya.


"Ada apa, pi?" tanyanya.


"Duduklah." Pintahnya, Jennifer duduk di kursi depan sang papi.


"Kau bisa jelaskan pada papi."


"Apa yang harus Jenni jelaskan, pi?"


"Jangan berkilah, Jen. Papi sudah tahu semuanya." Ujar Sean.


"Laahh... kalau sudah tahu kenapa papi tanya Jenni ?" jawabnya.


"Papi kan juga ingin mendengarkan ceritamu, Jen."

__ADS_1


Ujar sang papi membujuk agar putrinya menceritakan padanya. Mau tidak mau pun Jennifer menceritakan kejadian siang tadi meskipun sang papi juga sudah tahu.


Sean mendengarkan semua cerita putrinya dari awal sampai akhir tanpa menyelah sedikitpun.


"Jika ada apa-apa, katakan saja pada papi ataupun adikmu, Jen. Tidak semuanya bisa kau atasi sendiri," tutur sang papi.


"Jenni bisa kok, pi. Jenni kan anak kuat." Jawabnya lalu menunjukkan senyumnya.


"Kau memang copyan mamimu, tapi sifatmu lebih ke papi. Tapi entah dengan Julian, kenapa beda sendiri dia." Sean berdesis mengingat setiap kelakuan Julian yang random dan tidak ada obat itu.


"Hahaha... Julian hanya luarnya saja pi seperti itu, tapi dia sama kuat seperti papi." Jawabnya.


Selesai berbincang-bincang, Jennifer dan sang papi kembali berkumpul seperti biasa. Di sana keduanya melihat jika Diva dan Julian sedang tidak bisa diam. Mereka kejar-kejaran entah apa tadi yang mereka rebutkan.


Dugh...


Bughh...


Julian terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, Diva yang melihat kesempatan itupun segera mendekat ke arah Julian.


Bugh...


Buugh..


Bugh...


"Aduh... aduh... ampun, kak. Ampun... maaaam... tolongin Julian." Teriaknya pada sang mami tapi tidak di gubris oleh Ana.


"Putramu kenapa, sayang?" tanya Sean pada Ana.


"Sudah biasa putramu, biarkan saja. Aku juga kesal dengannya, ada saja tingkah yang dia lakukan." Ujar Ana yang sepertinya juga sudah pusing dengan kejahilan putranya yang tidak ada habisnya.


"Rasakan kau, hah. Berani kau..." ujar Diva yang


masih memukulinya dengan bantal. "Kenapa kau tidak ambilkan saja katana milik papi, kak. Kan sekalian kau tebas saja dia," sahut Jennifer pada Diva.


"Kau benar. Mana, ambilkan aku katana itu," ucap Diva.


"Kalian tega sekali denganku," ucapnya dengan raut wajah tengilnya.


"We don't care." Ucap Diva dan Jennifer secara bersamaan.


Bugh...

__ADS_1


Diva melemparkan bantal yang ia pegang itu ke wajah Julian tanpa rasa bersalah lalu kembali duduk dengan diam. Julian yang mendapat timpukan itu hanya bisa menggerutu kesal. Mami papinya tidak memperdulikan dirinya, dia menggerutu sendiri. mungkin karena Ana juga sudah lelah.


Keesokan harinya....


Sebelum berangkat ke sekolah, Julian kembali berulah dengan Diva. Dia menghalangi jalan Diva untuk keluar dari sana. Sepertinya, dia tidak ada kapok-kapoknya.


"Eiitt...eiiitt... kenapa buru-buru sekali?" ia merentangkan kedua tangannya di depan Diva.


Diva berkacak pinggang di depan Julian. "Menyingkir atau aku tebas kepalamu itu."


"Aku tidak takut," Julian menantang Diva.


"Juliaaann..." suara Jennifer terdengar dari belakang sana. Ia menunjukkan tatapan horrornya pada sang adik. Julian yang melihat sang kakak menunjukkan tatapan horornya itu menciut seketika.


Mereka pun pergi dengan tujuan masing-masing, Diva yang pergi ke kampusnya. Sedangkan Julian dan Jennifer pergi ke sekolah.


Skiiip...


William Company...


"Tuan, ada tamu yang ingin bertemu." Ucap James.


"Suruh dia masuk." Ucap Sean pada James. Jelas saja Sean sudah tahu siapa yang datang berkunjung menemuinya.


James mempersilahkan orang tersebut untuk masuk dan duduk di kursi yang tersedia di ruangan sana.


"Ada perlu apa, tuan?" tanya Sean yang seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa.


"Sepertinya, aku tidak perlu berbicara banyak kali ini. Aku mohon kepadamu, tuan. Tolong lepaskan anak dan istri saya, saya tahu jika mereka sudah salah. Apa yang mereka lakukan salah besar." Ucapnya memohon pada Sean. Siapa lagi orang itu kalau bukan papa Cindy.


Sean menunjukkan smirknya pada papa Cindy." Apa semudah itu, tuan?"


"Istri dan putrimu sudah melakukan hal yang fatal," ujar Sean dengan tegas.


"Aku mohon padamu, tuan. Tolong lepaskan anak dan istriku, aku berjanji akan memberikan hukuman pada mereka. Semua orang telah mencibirku dan keluargaku, bahkan reputasiku menurun karena hal ini. Sepertinya, itu adalah hukuman untukku." Ujarnya pada Sean.


"Hahaha.... Bahkan di saat seperti ini kau masih mementingkan reputasimu di kota ini, tuan. Apa kau tidak khawatir dengan anak dan istrimu?"


"Tentu saja aku memikirkan mereka, tuan William. Jika aku tidak memikirkan mereka, untuk apa aku jauh-jauh datang ke mari memohon padamu agar melepaskan istri dan putriku." Jawabnya.


"Memangnya, apa yang bisa kau janjikan padaku jika masuk dan duduk di kursi yang tersedia di ruangan sana.


"Ada perlu apa, tuan?" tanya Sean yang seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Sepertinya, aku tidak perlu berbicara banyak kali ini. Aku mohon kepadamu, tuan. Tolong lepaskan anak dan istri saya, saya tahu jika mereka sudah salah. Apa yang mereka lakukan salah besar." Ucapnya memohon pada Sean. Siapa lagi orang itu kalau bukan papa Cindy.


__ADS_2