Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 110


__ADS_3

"Tuan kecil, sudah ya. Bibi Capek." Keluhnya saat Julian berhenti.


Semua barang-barang sudah tidak berada di tempatnya karena ulah Julian yang membuat berantakan di sana.


Ana yang memang baru saja turun dari lantai atas pun merasa terkejut karena semua barang sudah tidak pada tempatnya. Bagai kapal pecah saat ini keadaan di dalam mension.


"Astaga... kenapa ini?" pekiknya kaget.


"Maaf, nyonya. Tadi tuan kecil bermain, dan berlari-lari." Jawab maid yang menjaga Julian.


"Julian." Ujar Ana berkacak pinggang. Ia menunjukkan wajah sangarnya pada putranya.


"Bukan Julian kok, mamii..." elaknya agar tidak di marahi oleh sang mami.


"Ayo minta maaf pada bibi dan bantu bibi beberes." Ujar Ana pada Julian. Julian menggelengkan kepalanya menolak perintah sang mami.


Sebisa mungkin Ana tidak memarahi anak-anaknya, Ana akan mengajari mereka untuk meminta maaf dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah putra putrinya lakukan. Ana mengajarkan itu pada twin J sedari kecil, agar mereka saat besar nanti tidak selalu meremehkan hal-hal kecil.


"Tidak apa-apa, nyonya. Biar kami nanti yang membereskan," ujarnya dengan sopan pada Ana.


"Julian... ayo minta maaf pada bibi. Kau sudah membuat bibi kelelahan kali ini." Ucap Ana lembut pada Julian.


"Bibi... Jul minta maaf." Ucap Julian dengan sangat gemas, Ana tersenyum pada putranya.


"Tidak apa-apa, tuan kecil. Tuan kecil tidak bersalah." Ujar maid itu terenyuh dengan tuan kecilnya. Dia memang sangat jahil, tapi juga terlihat sangat menggemaskan.


Setelah mendapat penolakan dari banyak orang-orang, terutama teman-temannya dan kekasihnya dulu, kini Lita terus berjalan menyusuri jalanan. la berjalan sampai di depan mension Sean, ia mengingat-ingat arah jalan ke sana. Entah kenapa orang itu memiliki daya ingat kuat. Padahal dirinya hanya sekali datang ke sana waktu bersama papa dan mamanya.


la memandang ke arah bangunan megah dan mewah itu. Tapi, tentu saja ia tidak bisa melihat apa-apa, yang hanya ia lihat adalah halaman luas dengan bangunan besar di tengah-tengahnya.


Lita menatap dengan penuh rasa benci mengingat jika Ana selalu mendapat seperti apa yang dia inginkan selama ini. Kemewahan, kekayaan dan masih banyak lagi. Rasanya dirinya ingin sekali menyingkirkan Ana dari muka bumi.

__ADS_1


Saat ini dirinya berfikir bagaimana cara untuk menyingkirkan sepupunya itu. Dia tidak mungkin bisa jika masuk ke dalam sana, karena anak buah Sean bersiap siaga di sana.


"Awas kau, Ana. Aku akan membalasmu, tunggu pembalasanku." Ujarnya dengan mengepalkan tangannya.


"Aku tidak akan membiarkan dirimu hidup bahagia di atas penderitaan ku selama ini." Sambungnya dengan sorot mata penuh dendam dan amarah.


Sepertinya, memang Lita tidak pernah bisa sadar akan diri sendiri. Dia dan keluarganya yang selama ini jahat kepada Ana, dan sekarang ia ingin membalaskan dendam pada Ana. Padahal, Ana tidak memiliki salah padanya.


"Kau selalu mendapatkan yang lebih unggul dariku." Imbuhnya.


Lita bergegas untuk pergi dari sana sebelum Sean melihatnya di sekitar sana, dia tidak mau jika di asingkan kembali. Sudah cukup baginya untuk hidup menderita jauh dari kata layak.


Lita akan mencari tempat tinggal untuk dirinya di sana.


Sedangkan di dalam mension Sean...


Julian ikut membereskan semua barang dan mainan yang sudah berserakan karena ulahnya. Sedari tadi dirinya menolaknya, tapi karena sang mami mengiming-iming sesuatu, maka dirinya tertarik dan ikut membereskan kekacauan yang sudah dia lakukan.


Ana hanya ingin jika anaknya bertanggung jawab dengan apa yang sudah mereka lakukan, bahkan Diva pun ia perlakukan sama. Meskipun terkadang melalui berdebatan panjang antara mereka.


Ana yang melihat tingkah putranya itu terkekeh gemmas, karena ekspresi yang di tunjukkan pun membuat siapa saja tidak tega.


"Hehehe... sini sama mami." Panggilnya. Julian mendekat ke arah sang mami dan memeluknya.


"Kalo nanti Julian buat berantakan lagi, Jul sendiri yang membereskan, oke." Ucap Ana.


"No, Mami." Julian menggelengkan kepalanya tidak mau jika dirinya harus membereskan barang-barang dan mainannya seperti tadi.


"Mamiiii..." suara seraknya terdengar karena ia baru saja bangun dari tidurnya. Jennifer memilih tidur waktu Julian mengajaknya bermain, alhasil Julian sedari tadi bermain sendiri dan di bantu oleh maid yang mengawasinya. Sampai-sampai dia membuat kekacauan di mensionnya.


"Mami di sini, Jen." Sahut Ana mendengar suara Jennifer. Jennifer yang mendengar suara sang mami itu pun datang mendekat dan duduk bersandar di samping sang maminya.

__ADS_1


Julian hanya memandang wajah sang kakak yang masih terlihat malas.


"Mami, ice cream Jul." Julian menagih ice cream yang di janjikan oleh Ana padanya tadi. Sepertinya, dirinya tertular dengan Diva yang sangat menyukai ice cream.


"Mami ambilkan." Ucap Ana lalu bangkit dari duduknya dan mengambilkan ice cream untuk Julian. Ana mengambil satu kotak untuk mereka nikmati bersama tadi.


Julian mengambil sendok miliknya dan memakan dengan lahap. Julian yang memang memiliki jiwa-jiwa jahil pun menempelkan sendok yang berisi ice cream itu pada Jennifer.


"Mami, Julian Mi." Jennifer mengadu pada sang mami.


"Juliiaan..." ujar sang mami melihat kejahilan Julian yang tidak pernah ada habisnya.


"Biar cantik." Ucapnya dengan cengengesan tanpa merasa berdosa. Jennifer mengelap kasar noda ice cream yang ada di wajahnya. Julian berdiam diri selama lima menit saja sepertinya tidak bisa, ia pasti akan ada saja ulah jahilnya.


"Anaa.... Yuhuuuu...." Teriaknya di ambang pintu. Ana yang mengenal suara cempreng nan familiar itu pun melihatnya untuk memastikan.


"Rika.... apa kau sendiri?" tanya Ana melihat Rika datang ke sana.


"Tidak, tadi aku di antar James kesini." Jawab Rika.


"Lalu, di mana James sekarang?" tanya Ana yang tidak melihat kehadiran James di sana.


"Dia kembali ke kantor. Aku meminta untuk di antar kesini, aku bosan di apartemen sendiri." Jawabnya.


Ana mengajak Rika untuk duduk bergabung di sana bersama anak-anaknya. Julian menoleh ke arah siapa yang datang ke sana.


Rika mendudukkan putrinya di pangkuannya, Julian yang tahu itu mendekat dan membawa kotak ice cream nya. Jennifer sedikit bingung apa yang akan di lakukan oleh adiknya.


"Hai adik bayiiikk, mau ice cream." Tawarnya sambil menyodorkan ice cream ke depan mulut putri Rika.


Rika langsung saja meringis dengan apa yang di lakukan Julian. "Julian, adiknya belum boleh makan ice cream. Nanti saja kalau sudah besar." Tutur Rika pada Julian.

__ADS_1


Julian masih saja ingin menyuapkan ice itu pada putri Rika. Putri Rika itu pun membuka mulutnya lebar-lebar. Tapi, hal yang tidak terduga pun di lakukan oleh Julian. Bukannya memberikan pada si kecil yang di pangkuan Rika, justru ice itu ia masukkan ke dalam


Mulutnya sendiri. Ia kembali duduk di bawah karpet dan menikmati ice cream nya kembali.


__ADS_2