
"Kau seperti tidak makan selama tiga hari,"
"Pantas saja kalau Fenya selalu menolakmu, kau tidak bermodal sekali. Aku jadi ragu, setiap kalian keluar pasti Fenya yang mengeluarkan uangnya untuk jajanmu itu," celetuk Jennifer.
Entah kenapa harus senjata itu yang mereka gunakan, mungkin karena Julian yang lebih sering menggunakan katana dari pada yang lainnya.
"Kalau tidak kalah, mengalahlah. Harusnya yang lebih tua mengalah dengan yang lebih muda," jawab Julian dengan mudahnya.
Sriing...
Sriing...
Suara senjata itu kembali bergesekan, terdengar ngilu di telinga jika tidak terbiasa mendengarnya.
"Yang lebih muda yang harusnya mengalah dengan yang lebih tua.," jawab Sean. Mereka berbincang-bincang di tengah-tengah latihan yang mereka lakukan.
"Mana bisa seperti itu?" Julian masih kuekeh. Mereka masih sempat-sempatnya melakukan perdebatan di saat seperti itu.
"Lebih baik fokuslah pada latihanmu, Boy. Kau jangan sampai lengah," tutur Sean.
"Sedari tadi Julian fokus, Pi." Julian kembali mengayunkan katana miliknya.
Sriing...
Sriing...
Keduanya sama-sama kuat, sedikit kesulitan untuk mengambil celah.
"Jangan terlalu serius, Pi. Garis penuaan di wajahmu sangat terlihat." Entah kenapa ada saja yang Julian ucapkan di sana. Jika yang lain seirus dalam latihan yang ia jalani, beda lagi dengan Julian yang sedari tadi berceloteh tidak jelas.
Sring...
Sring...
Sring...
"Kau kalah, Boy." Julian mendongakkan kepalanya karena katana milik Sean tepat berada di depan lehernya, hanya berjarak beberapa centi saja. Sean menurunkan katana miliknya.
"Ck... curang sekali," ujar Julian yang tidak terima karena dirinya kalah dari sang papi. Bisa-bisanya dia mengalahkan sang papi, padahal dirirnya sedari tadi berbicara tidak ada hentinya.
"Sudah Papi katakan, bukan. Sebaiknya kau fokus, bukan terlalu banyak berbicara," jawabnya.
__ADS_1
Julian memutar kedua bola matanya malas. "Tidak baik kalau terlalu serius, membuat pusing kepala saja."
"Heh, jangan sampai nanti musuh-musuhmu mudah mengalahkanmu. Tidak ada dalam sejarah jika kau sampai terkalahkan,"
"Mereka yang akan kalah, bukan aku." Julian menggelengkan kepalanya dengan wajah tengilnya.
"Kau harus pertahankan itu. Mau mencoba lagi?" Sean berancang-ancang kembali siap untuk memulai lagi.
"Aaah... sudahlah, aku lelah. Papi dengan yang lain saja." Julian melenggang pergi dari sana meninggalkan sang papi sendiri. Mungkin dia juga kelelahan karena baru saja ia tiba dari Venezuela, sedari tadi dirinya belum beristirahat sama sekali. Katana yang ia bawa ia tenggerkan di pundaknya, Julian berjalan dengan sambi bersiul.
"Heh, anak itu selalu saja. Kau memang sangat tengil, Boy. Tapi kemampuanmu juga tidak bisa di ragukan." Tanpa berlama-lama Sean menyusul kepergian Julian yang sduah sedikit jauh. Dirinya juga harus cepat kembali sebelum Ana memarahinya jika tak kunjung pulang.
Terlihat jika Julian saat ini tengah memandang ponselnya yang ada di tangan. Ia menimang-nimang dan berpikir-pikir cukup lama di sana. Setelah cukup lama berpikir, Julian pun menscroll layar ponselnya untuk mencari sesuatu.
Tuutt...
Tuutt...
Bunyi yang berasal dari ponselnya, entah siapa yang ia hubungi malam-malam begitu, bukannya segera tidur tetapi dia melakukan panggilan telfon.
Kriing...
Krriiing...
keras, ia menutup telinganya menggunakan bantal karena mendengar suara berisik dari ponselnya.
Kriing...
Kriing...
Suara itu masih terdengar nyaring hingga tidak lama kemudian suara itu terdiam dengan sendirinya.
Kembali lagi ke sisi Julian, ia merasa kesal karena orang yang ia hubungi itu tidak menjawab tlpon darinya. Julian kembali menekan untuk memulai panggilan.
Tuut...
Tuutt....
Di sisi seberang...
Kriing...
__ADS_1
Kriing...
Hanya sepersekian detik ponsel itu teridam, bunyi itu kembali lagi terdengar. Sang pemilik itu semakin merapatkan bantal untuk menutupi telinganya.
Kriing...
Kriing...
"Hah, siapa yang sudah menghubungiku malam-malam begini? Apa dia tidak melihat jam berapa sekarang!" kesalnya dengan membuka bantal yang menutupi telinganya. Di ambilnya ponselnya yang berada di nakas, ia melihat nama yang tertera di sana.
Dengusan napas kasar terdengar setelah dirinya melihat siapa yang sudah menghubunginya malam-malam. Dengan terpaksa dia harus menjawab panggilan telpon tersebut dari pada ia tidak bisa tidur karena terganggu.
"Apa kau tidak melihat jam berapa sekarang! Apa kau tidak tahu jika sekarang waktunya orang lain tidur!" sentaknya pada orang di seberang sana. Orang di seberang sana pun menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Kau kasar sekali?" ujarnya sedikit memelas di sana.
"Aku tidak peduli!" sentak Fany kembali.
"Apa kau masih tidak puas menggangguku sedari tadi! Dan sekarang kau mengganggu tidurku, kalau kau terus-terusan menggangguku akan aku blacklist nomor ponselmu!" ancamnya pada orang di seberang sana dengan kesal.
"Haissh... aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Kenapa kau galak sekali?"
"Bukankah kau sudah mendengarnya sekarang? Apa kau masih belum puas!" lagi-lagi Fany bersikap ketus pada orang di seberang sana.
"Cepat katakan apa yang kau mau, atau aku tutup telpon ini," sengal Fany kembali.
"Eeehh... tunggu-tunggu. Kenapa kau buru-buru sekalii," cegah orang di seberang sana. Fany berdecak kesal dengan memutar kedua bola matanya malas.
"Apa kau besok ada waktu?"
"Tidak! Aku sibuk. Sudahlah, aku tutup." Fany memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Fany mematikan ponselnya dan kembali untuk tidur.
"Aaa...." Belum juga dirinya menjawab, panggilan telpon itu sudah selesai begitu saja. Ia mencoba kembali melakukan panggilan telpon, tetapi nomor yang ia hubugni sudah tidak aktif.
"Haiiss...," kesalnya di seberang sana.
Siapa lagi kalau bukan Julian dan Fany, Julian yang masih belum bisa memejamkan kedua matanya itu pun mengubugni Fany. Ia berencana jika esok paginya ia mengajak untuk berkeliling, tetapi belum juga dirinya berbicara, Fany sudah memutuskan panggilantelponnya secara sepihak. Julian yang terlihat kesal itu melempar ponselnya ke atas kasur tepat berdekatan dengan bantal tidurnya, ia pun memutuskan untuk tidur dengan keadaan kesal karena Fany memutuskan panggilan telponnya secara sepihak.
Pesawat tengah mendarat mulus di bandara internasional kota Berlin, seorang pria memakai kaos pendek yang di baluti oleh jas panjang selututnya dengan tegap berjalan menuruni tangga pesawat yang ia tumpangi. Ia menghirup sedikit udara kemudian melanjutkan kembali langkahnya untuk segera turun. la berjalan dengan satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Kedatangannya sudah di tunggu oleh beberapa bawahannya di sana, ia meminta bawahannya untuk membawa koper miliknya. Ia kembali melangkahkan kakinya dengan ke dua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, pandangannya lurus ke depan tidak memperhatikan yang ada di sekelilingnya. Ia tetap berjalan sampai tiba di mobil yang menjemputnya dan membawanya pergi dari bandara.
__ADS_1
Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan kota yang mulai memasuki waktu dini hari.