
Hanya menempuh perjalanan kurang dari satu jam, Jennifer dan lainnya sudah berada di Swiss. Mereka berjalan bersamaan secara berdampingan dengan masing-masing pasangan. Melihat mobil yang sudah menjemput, mereka segera masuk tanpa berlama-lama lagi.
"Haah... aku bosan sekali kalau harus naik pesawat atau jet, bagaimana kalau kita kembali kita naik kapal?" Julian memberikan saran pada semua orang di sana.
"Jangan terlalu banyak rencana kalau ujung-ujungnya kau hanya ingin gratisan!" ucapan Jennifer begitu nyeletuk. Hapal sekali dia dengan kebiasaan Julian yang pasti ujung-ujungnya dia minta di bayari, alias dia tidak mau mengeluarkan modal.
"Mana ada aku seperti itu." Julian menolak ucapan Jennifer, tetapi memang itu ada benarnya.
"Lalu bagaimana? Itu sudah menjadi kebiasaanmu!" celetuk Jennifer lagi.
"Tidak. Aku tidak seperti itu, tanyakan saja sama Fany." Julian mencari pembelaan dengan menyebut Fany. Pintar sekali dia, tentu saja kalau dengan Fany dia tidak akan pelit. Coba kalau dengan kakaknya, ujung-ujungnya dia tidak mau mengeluarkan uang.
"Mungkin kau tidak dengan Fany. Kalau denganku kau selalu memorotiku." Jennifer membuka kartu as Julian.
"Aku tidak memorotimu, uang Kakak kan uang Adiknya juga." Memang paling bisa dirinya mencari alasan. Bagaimana teman-temannya banyak yang tidak kesal dengannya, dirinya saja selalu bisa dalam menjawab setiap ucapan.
"Bisa tidak kalau kau tidak terus-terusan menjawab!" Jennifer mulai geram di sana. Sepanjang perjalanan mereka berdebat tidak ada habisnya.
"Lalu aku bagaimana? Kalau aku diam pasti di kira orang bisu." Ekspresi Julian terlihat sangat menyebalkan kali ini. Jennifer menarik napasnya panjang menghadapi adiknya, memang Julian selalu menguras emosi setiap harinya.
"Sebaiknya kau tenangkan dirimu, Babe. Lebih baik kau melihat pemandangan di sini, jangan biarkan mood mu rusak." Gerald bersuara menenangkan Jennifer. Gerald yang terkadang dengan Julian saja di buat kesal, apa lagi Jennifer yang harus satu rumah. Bagaimana keksalannya menghadapi ke randoman Julian setiap harinya.
Mereka tidak melanjutkan perdebatan, di lanjutkan pun pasti tidak akan pernah ada habisnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sedikit fresh mereka melihat pemandangan kota Swiss yang memukau.
Sementara di sisi Berlin ...
Mobil mewah berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi.
Tiitt... ttiitt...
Tittt... tiitt....
Suara klaksonnya ia bunyikan tanpa henti. Entah apa yang menjadi masalah. Semua penjaga di sana mendekat ke arah sumber suara.
"Apa yang sedang kau lakukan!" penjaga itu terlihat sangat kesal karena suara klakson yang tidak sopan itu.
Kepala wanita itu menyembul keluar dari pintu mobilnya. "Cepat buka pintu ini, aku ingin masuk mencari Tuanmu." Tanpa ada rasa sopan santun dia berkata seperti itu. berlaga seperti pemilik rumah saja.
"Bukankah itu wanita yang waktu itu kita usir?" ujar salah satu dari mereka mengenal siapa wanita itu.
"Kau benar. Untuk apa dia ke sini lagi?" ujarnya setelah melihat siapa itu.
Siapa lagi kalau bukan Wendy yang datang, ia datang degan tiba-tiba ke rumah megah milik Gerald. sedari di kampus dia tidak menemukan keberadaan Gerald, maka dari itu dia datang ke rumah Gerald. Berharap dia bisa bertemu dengan yang ia cari.
Kedatangannya sangat tidak sopan sekali, ia terus-terusan membunyikan klakson mobilnya. Nada bicaranya juga tidak bisa bersahabat sama sekali. Dia berlaga seperti tuan rumah saja, pemilik rumahnya saja tidak pernah seperti itu pada anak-anak buahnya yang lainnya.
Wendy kembali membunyikan klaksonnya karena para anak buah Gerald tidak kunjung membuka pintu gerbang. "Cepat kalian buka!"
"Wanita itu benar-benar sombong dan tidak tahu diri. Untung saja Tuan Muda tidak memiliki kekasih model seperti ini," gumam anak uah Gerald melihat tingkah laku Wendy.
Wendy yang geram di sana turun dari dalam mobilnya dan mendekat ke arah gerbang yang masih tergembok. "Apa kalian tidak mendengarnya! Cepat bukakan gerbang ini. Aku ingin menemui Tuanmu!" benar-benar sombong dan tidak bisa bersopan santun di sana.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, Nona. Tidak ada tempat untukmu di sini, Tuan melarangmu masuk ke dalam rumah ini." Anak buah Gerald mengusir Wendy begitu saja.
__ADS_1
"Jangan membohongiku, kalian. Cepat kalian buka!" memang dirinya benar-benar songong, sudah tidak permisi, maksa masuk pula.
"Untuk apa berbohong padamu, Nona. Tidak ada untungnya kami membohongimu. Sebaiknya kau pergi saja, Nona. sebelum kami menggunakan cara kasar untuk mengusirmu." Mereka memberi gertakan pada Wendy agar segera pergi.
"Tidak. Aku ingin bertemu dengan Gerald. Jangan macam-macam kalian, aku adalah calon dari Tuanmu." Anak buah Gerald saling pandang mendengar ucapan Wendy yang ngelantur.
Anak buah Gerald yang sudah tahu itu pun hanya tersenyum sinis. "Bangunlah dari mimpimu, Nona. Tuan Muda tidak akan menerima wanita sepertimu. Dan jangan pernah berbicara asal, Tuan Muda sebentar lagi akan menikahi tunangannya," jelas anak buah Gerald. Mereka berniat melihat bagaimana ekspresi Wendy saat mendengarnya.
"Jangan bohong kalian! Cepat buka, biarkan aku masuk!" dan seperti dugaan, Wendy pasti uring-uringan sendiri. Memang dia saja yang konyol, dia selalu terobsesi dengan Gerald, padahal dia juga sudah tahu kalau Gerald dengan jennifer.
"Kalau tidak percaya itu terserahmu, Nona. Kami sudah menyampaikannya dengan baik hati," Wendy yang tidak terima itu semakin uring-uringan dan mengguncangkan agar itu dengan keras. Ia masih ingin memaksa masuk ke dalam rumah. Anak buah Gerald telah kehilangan kesabarannya, mereka sudah berbicara dengan baik tetapi Wendy tetap kuekeh.
Salah satu dari mereka membuka gembok pagar itu lalu menarik tangan Wendy dengan kasar. Bahkan anak buah Gerald mendorongnya hingga dirinya jatuh tersungkur.
"Sudah aku katakan padamu, Nona. Tuan Muda tidak ada di rumah, sebaiknya kau pergi dari sini dari pada hanya mencari keributan!" mereka tidak perah main-main. Siapa saja yang datang membawa keributan, mereka akan bertindak dengan tegas tanpa pandang bulu orang itu perempuan atau laki-laki.
Sepertinya hari ini memang hari sial untuk Wendy, saat di kampus dirinya mendapat tamparan keras. Di rumah Gerald dia di usir dan di perlakukan kasar oleh anak-anak buah Gerald. Namun itu juga ulah dia sendiri, ia sudah di beritahu dengan halus tetapi tetap saja kuekeh ingn masuk.
"Beraninya kau mendorongku! Apa kau tidak tahu siapa aku, hah!?" Wendy tidak terima jika mendapat perlakuan kasar dari anak-anak buah Gerald di sana.
"Aku tidak perduli siapa dirimu, Nona. Sebaiknya pergi dari sini sebelum kami semakin berbuat kasar padamu!" tentu saja anak buah Gerald juga tidak mau kalah. Mereka tidaka akan takut dengan siapa yang dia hadapi. Mereka hanya takut pada tuan yang mereka ikuti.
"Apa kalian tidak tahu siapa keluarga Brown!?" Wendy mengeluarkan jurus andalannya, ia menggunakan nama marga dari keluarganya.
"A-apa? Kau putri dari keluarga Brown?" anak buah Gerald nampak terkejut.
"Iya! Apa kalian takut?" Wendy bersikap songong di sana. Wendy merasa berhasil di sini menggertak anak buah Gerald.
"Tidak ada takut untukku, Nona. Aku lebih takut pada Tuanku. Sebaiknya kau pergi atau peluru ini akan menembus kepalamu!" Anak buah Gerald mengeluarkan pistol yang ada di kantungnya. Wendy membelalakkan ke dua matanya melihat pistol di depan matanya.
Ternyata anak buah Gerald hanya berpura-pura terkejut di sana. Dapat bakat akting dari mana dirinya bisa seperti itu. Wendy kelihatan ketakutan saat pistol itu di todongkan ke arahnya.
"Cepat pergi dari sini. Atau dalam hitungan ke tiga, peluru ini menembus kepalamu."
"Saatu...." Dia mulai berhitung.
"Dua...."
"Awas saja kalian! Aku pastikan kalian akan menyesali perbuatan kalian. Keluargaku pasti akan mendatangimu." Wendy memberi ancaman pada anak buah Gerald. Ia pun kembali masuk ke dalam mobil miliknya.
"Silahkan, Nona. Akan aku tunggu kedatangannya," ujarnya dengan tanpa rasa takut.
Wendy benar-benar sangat kesal kali ini. Sangat sulit ingin bertemu dengan Gerald. tanpa berlama-lama Wendy memundurkan mobilnya lalu melaju pergi dari lingkup rumah Gerald.
Dia memang tidak ada rasa malu sama sekali, dia datang membuat onar tetapi masih saja bersikap sombong dan memaksa. Tentu saja anak buah Gerald akan menghadangnya. Mereka juga sudah mendapat pesan dari Gerald untuk tidak membiarkan siapa pun memasuki rumahnya.
Tiga hari kemudian...
Jennifer dan lainnya masih berada di Swiss untuk berlibur. Rencananya, mereka akan berlibur selama satu minggu disana. Mereka akan bersenang-senang selama di sana tanpa gangguan siapa pun.
"Grandma ...," panggil Julian dengan sanga pelan. la juga celingukan ke kanan dan ke kiri memastikan keadaan aman. Sepertinya akan ada sesuatu yang ia katakan.
Grandma yang di panggil itu pun mendekat ke arahnya, penasaran apa yang akan Julian katakan. "Ada apa?"
__ADS_1
"Julian ingin mengatakan sesuatu. Tapi Grandma harus janji ya jaga rahasia ini," ujarnya yang membuat penasaran.
Grandma pun mengerutkan keningnya, penasaran sekali dengan apa yang akan di ucapkan Julian. Raut wajah Julian terlihat sangat serius di sana. "Rahasia apa? Apa yang sedang terjadi?"
Julian kembali celingukan ke sana ke mari, entah apa yang akan dia katakan sampai dia segitunya. Seperti takut sekali kalau ada yang mendengar pembicaraannya bersama Grandmanya. "Cepat katakan, ada apa?" Grandma sudah tidak sabar menunggu apa yang akan di katakan oleh Julian.
"Grandma... cucumu yang tampan ini sedang di hukum sama Maminya." Julian memulai pembicaraan.
"Lalu?"
"Aaahh, masa Grandma tidak tahu?" bukannya memberitahu dia malah merengek pada grandma. Julian pun akhirnya berbisik di telinga grandmanya.
Bugh...
"Makanya jadi anak jangan nakal. Kau tidak kasihan dengan Mamimu, dia pasti tertekan dengan tingkahmu itu." Bukannya mendapat yang ia minta, justru Julian mendapat pukulan kecil di lengannya. Entah apa yang sudah dia bisikkan pada grandmanya itu.
"Jul tidak pernah nakal, Grandma." Julian mengelus-elus lengannya dengan wajahnya sedikit cemberut. Seperti anak kecil yang merengek tidak di belikan permen dia.
"Kalau tidak nakal Mamimu pasti tidak menghukummu!" sengal gerandma padanya.
"Aku hanya aktif saja, Grandma. Tidak nakal," jawabnya lagi. Memang paling bisa kalau Julian menjawab setiap ucapan orang lain.
Grandma pun pergi meninggalkan Julian di sana, tidak lama grandma kembali lagi membawa kartu miliknya. Ia memberikannya pada Julian, mungkin kasihan dengan cucu laki-laki satu-satunya itu. Walau sering berbuat jahil grandma tetap tidak tega pada cucunya itu.
"Ini, pakailah. Ingat, jangan kau ulangi lagi kenakalanmu itu. Kalau Mamimu menghukummu lagi, Grandma tidak akan memberikannya lagi padamu." Grandma memberikan peringatan pada Julian.
Mata Julian berbinar-binar melihat kartu milik grandmanya itu. "Terima kasih, Grandma." Julian berhamburan memeluk grandma karena akhirnya dia memegang kembali kartu untuknya jajan.
Ternyata yang ia bisikkan pada grandmanya tadi ia meminta uang pada grandmanya, ia tidak membawa uang sama sekali karena di hukum oleh Ana . Lagi-lagi pasti masalah uang yang ia minta, meminta pada Jennifer tidak di kasih alhasil ia meminta pada grandmanya.
Untung saja tidak meminta ke Diva, pasti semua barang sudah melayang ke arahnya kalau itu. Pintar sekali dirinya meminta uang pada grandmanya. Dia tahu kalau meminta gradnma atau grandpanya pasti akan di berikan.
"Sudah pergilah bersenang-senang dengan lainnya. Sayang sekali kalau kau ke sini tidak bersenang-senang," pinta grandma.
"Siap, Grandma." Julian bergaya hormat di depan grandmanya. Dengan hati yang senang dan gembira ia melangkahkan kakinya keluar.
Setelah meminta uang pada grandmanya tanpa sepengetahuan Jennifer, Julian dan lainnya pergi bersenang-senang di daerah sana. Mereka berkeliling ke destinasi, sudah berada di sana tidak mungkin hanya berdiam diri di dalam rumah.
Di sana banyak tempat indah yang wajib di kunjungi. Mereka semua mencoba beberapa jenis makanan terlebih dulu sebeum berkeliling ke tempat-tempat lain. Dengan lahapnya mereka makan tanpa beban apa pun.
Sementara di sisi Berlin ...
Wendy masih tetap mencari keberadaan Gerald, ia tidak menemukannya sama sekali. Tentu saja dia tidak menemukan keberadaan Gerald di mana pun, Gerald sedang asik di Swiss dengan yang lainnya. Dia uring-uringan sendiri tidak karuan, mungkin kejiwaannya sudah terganggu.
"Ke mana perginya kau, Baby? Pasti wanita itu yang membawa pergi. Awas saja kau!" Wendy membuat perhitungan pada Jennifer tentunya.
Memangnya kenapa kalau Gerald pergi dengan Jennifer, toh mereka juga sepasang kekasih, mereka juga sudah bertunangan dalam waktu yang lama. Tentu tidak ada salahnya kalau mereka pergi ke mana saja. Memang dirinya saja yang menolak fakta kalau Gerald sudah bertunangan, kalau sudah terobsesi mata dan hatinya pasti sudah tertutup.
"Aku akan meminta bantuan Daddy, wanita itu pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa." Dia selalu mengandalkan orang tuanya. Dia tidak tahu saja siapa Jennifer dan dari keluarga mana dia berasal. Kenapa juga dia tidak mencari tahu dulu siapa yang akan dia hadapi.
Kembali lagi ke Swiss...
Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat lain. Mereka memilih ke gunung pilatus. Untuk sampai di puncak tertinggi gunung itu, Julian dan lainnya harus naik kereta gantung. Mereka memilih naik kereta dengan secara terpisah, Jen dengan Gerald, Julian dengan Fany pastinya.
__ADS_1