
Riko mendudukkan Jennifer di pangkuannya. Riko mulai menekan piano itu.
Jennifer tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Riko. "Uncle, apa Jen boleh bermain?" ijinnya pada Riko.
"Hahaha... kau lucu sekali, nona. Bermainlah sepuasmu, ini milik papimu." Jawab Riko.
Riko mulai menunjukkan nada-nada pada Jennifer, ia mengikuti yang di tunjukkan oleh Riko. Kekesalannya sudah hilang karena ada hal yang membuatnya senang.
2 hari kemudian...
Lita sampai kembali di Berlin memerlukan waktu dua hari, ia memerlukan banyak tumpangan untuk sampai di kota itu.
Lita mencoba datang ke salah satu temannya yang biasa kumpul pergi hangout, ia datang ke sana untuk meminta bantuan dan ingin menumpang selama di sana. Lita tidak mungkin untuk kembali ke rumahnya dulu, karena Sean sudah memberikan pada yang membutuhkan.
Lita mencoba menekan tombol bel rumah itu, tidak lama kemudian, pemilik rumah pun keluar.
"Hai, Bertha." Sapa Lita melihat teman yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.
Bertha memandang Lita dari ujung rambut sampai ujung kaki karena penampilan yang terlihat kucel dengan menggunakan pakaian yang sangat biasa. Tidak seperti yang biasa ia lihat.
"Sorry, siapa ya?" tanyanya yang pura-pura tidak mengenal Lita.
"Ini aku, Bertha, aku Lita. Apa kau sudah tidak mengenaliku?" ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Bertha hanya bergidik melihat Lita. "Sebaiknya kau pergi dari sini, sepertinya kau salah orang." Usirnya lalu menutup pintu kembali.
Lita menghalangi Bertha untuk menutup pintu rumahnya. "Bertha, tolong aku. Aku butuh bantuanmu." Ucapnya memohon.
Bertha dengan sekuat tenaga menutup pintunya dari dalam.
Braak...
"Berthaa... Berthaa..." Lita menggedor-ngedor pintu rumah Bertha.
"Bertha, tolong aku. Aku butuh bantuanmu."
"Berthaaa..." teriaknya.
"Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku tidak kenal dengan dirimu." Usir Bertha dari dalam.
Lita sangat kesal karena Bertha tidak mau membantunya. Ia terlihat sangat uring-uringan kali ini.
__ADS_1
"Awwass kau... akan aku balas nanti." Ucapnya yang menyimpan dendam pada Bertha. Ia menghentakkan kakinya lalu pergi dari sana.
Lita memutuskan untuk datang ke rumah teman-temannya yang lain. Tapi, ia ke sana pun percuma. Mereka semua menolak kehadiran Lita, mereka tidak ada yang mengakui Lita sebagai temannya lagi. mungkin karena Lita tidak bukan Lita yang dulu serba ada.
Lita kesal dengan semua teman-temannya, dia menyimpan dendam untuk semua temannya.
"Mereka semua kurang ajar sekali." Kesalnya.
"Aku harus ke mana lagi?" gumamnya sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke dagunya.
"Andy... ya, aku datang ke rumahnya. Pasti dia akan membantuku." Ujarnya lalu melangkah dengan sangat antusias. Ia berharap kali ini dirinya berhasil, ia akan mencoba merayu Andy.
Setelah beberapa menit, dirinya sudah sampai di depan gerbang rumah Andy. Dia mencoba untuk melihat-lihat melalui selah-selah pagar. Penjaga yang ada di sana pun bertanya-tanya siapa yang datang.
"Siapa wanita itu?" tanyanya pada rekannya.
"Aku juga tidak tau, tapi, tampilannya seperti pengemis. Dia terlihat sangat kucel." Jawab orang itu pada temannya.
Salah satu dari mereka mencoba mendekat ke arah gerbang. "Mau apa kemari?" tanyanya sedikit ketus pada Lita.
"Aku ingin mencari kekasihku." Jawab Lita yang tidak kalah ketus.
"Kekasih? Siapa yang kau sebut kekasihmu itu?" tanya penjaga gerbang yang tidak percaya.
"Apa yang kau katakan? Bagaimana bisa tuan kami memiliki pacar sepertimu, kau memang terlihat cantik, tapi lihat saja tampilanmu yang sangat kucel dan tidak sebanding dengan tuan kami." Jawab orang itu mengejek penampilan Lita.
"Aku memang kekasihnya, apa kau tidak tahu siapa aku, hah?" sentaknya.
"Berhenti membual. Sebaiknya kau pergi dari sini." Usirnya lagi. Sebenarnya, Lita juga pernah ke rumah Andy. Tapi, mungkin karena saat ini penampilannya yang sangat jauh tidak seperti dulu itu membuat orang yang di sana itu tidak mengenalinya.
"Buka gerbangnya, aku ingin masuk." Teriaknya sambil mengguncangkan pagar itu.
"Heh, cepat buka gerbangnya. Apa kau tidak mendengarku?" teriaknya lagi pada penjaga itu.
Karena mama Andy yang keluar mendengar keributan itu pun datang mendekat ke sana.
"Ada apa ini?" tanya mama Andy.
"Maaf, nyonya. Wanita ini mengaku jika dia kekasih dari tuan Andy." Terangnya pada mama Andy.
Mama Andy yang mendengar penjelasan dari penjaga gerbangnya itu pun melihat penampilan Lita dari ujung rambut sampai ujung kaki.
__ADS_1
"Apa putraku buta? Bisa-bisanya dia memilih wanita sepertimu?" ujar mama Andy tersenyum remeh pada Lita.
Mama dan papa Andy tidak pernah tahu bagaimana wajah Lita, karena memang saat Lita datang ke sana, mama dan papa Andy tidak ada di rumahnya. Andy tidak pernah mempertemukan Lita dengan kedua orang tuanya. Entah apa alasannya.
"Aku tidak pernah bohong denganmu, bibi. Aku memang kekasih Andy." Ujar Lita sedikit memelas pada mama Andy.
"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu. Aku tidak sudi kau panggil seperti itu. Sebaiknya kau pergi dari sini, jangan pernah datang ke sini lagi. Apalagi sampai kau mengaku menjadi kekasih anakku." Usir mama Andy lagi.
"Harusnya kau berkaca terlebih dahulu jika kau datang ke sini dan mengaku menjadi kekasih putraku. Kau tidak pantas bersanding dengannya." Sambung mama Andy.
"Pergi, atau kau aku panggilkan polisi!?" mama Andy meninggikan suaranya.
"Tidak bibi, tolong biarkan aku bertemu dengan Andy." Mohonnya.
"Andyyy.. Andyy....." Teriaknya memanggil nama Andy. Namun, nama yang di teriaki olehnya tidak menunjukkan batang hidungnya.
"PERGII!!!" usir mama Andy dengan matanya yang melotot ke arah Lita.
Lagi-lagi, Lita merasa kesal karena tidak ada satupun orang yang mau menampungnya di sana.
Dia melangkahkan kakinya pergi dengan perasaan yang sangat dongkol terhadap orang-orang yang sudah ia temui hari ini.
"Dasar sombong!! Awas saja kalian jika aku kembali kaya, aku akan membalas kalian satu persatu." Gumamnya dengan tatapan mata yang terlihat sekali menyimpan dendam.
la kembali melangkahkan kakinya pergi. Entah kemana tujuan dirinya saat ini.
la terus menyusuri jalanan yang terlihat sangat terik dan ramai saat ini.
"Aaakkhh... semua ini gara-gara kau Ana."
Ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya hingga tidak berbentuk lagi. Orang-orang yang melihatnya hanya memandangnya, ada juga yang menghina Lita.
"Apa kalian lihat-lihat, hah!?" ketusnya pada orang-orang yang melintas dan memandanginya sedari tadi.
Semua orang hanya berlalu menjauh dengan mencibir tingkah Lita yang terlihat seperti orang gila karena marah-marah tidak jelas, di tambah lagi penampilannya yang sudah acak-acakan.
.
.
Mension Sean...
__ADS_1
Julian sedang berlari-lari tidak karuan, sampai-sampai maid yang menjaganya kewalahan dengan Julian.