Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 48 Hinaan Dari Bibi Anara


__ADS_3

Minggu kemudian...


Hari ini Ana besama Sean dan Diva pergi ke mall untuk bersenang-senang. Ana juga mencari kebutuhan-kebutuhan dapur, bahan-bahan, dan beberapa cemilan yang banyak. Diva naik di atas trolli, sedangkan Sean yang mendorong trolli tersebut.


Seperti biasanya, tidak lupa sean memakai maskernya agar tidak mudah di kenali oleh orang-orang yang ada di sana. Jarang-jarang sekali Sesn menemani Ana berbelanja kebutuhan dapur. Biasanya Sean memerintahkan para maid yang ada di mension.


Ana sibuk memilih beberapa sayur, buah dan daging-dagingan kali ini. Sedangkan Sean dan Diva memilih beberapa cemilan.


Tanpa sengaja, Ana bertemu dengan sang bibi dan tentunya dengan Lita di sana


"Wahh... waahh... siapa ini?" Ucap bibi Ana. Ana menoleh kearah sumber suara.


"Aku kira, kau sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ternyata, aku salah besar." Sambung bibi Ana dengan tersenyum mengejek.


"Bagaimana bisa dirimu masuk ke dalam mall terkenal ini? Kau pasti mempunyai simpanan om-om kan di luar sana?" Tuduh bibi Ana. Entah kenapa mulutnya itu sedari tadi mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan.


Jelas saja Ana bisa masuk ke dalam mall terkenal itu, itu juga merupakan milik keluarga Sean. Bebas bagi Ana untuk bermain-main ke sana.


"Maaf bibi, bagaimana aku sekarang, Itu bukan urusan bibi lagi." Jawab Ana kali ini. Ana mencoba bersikap tegas pada bibinya kali ini.


"Sombong sekali dirimu sekarang, hah?" Bentaknya pada Ana. Hingga beberapa orang yang ada di sana menoleh kearahnya.


"Sudahlah ma, biarkan saja bagaimana dia. Buat apa memperdulikannya." Imbuh Lita dengan tersenyum sinis memandang Ana.


"Uncle... bukankah itu kakak jahat yang waktu itu?" Tunjuk Diva yang melihat Ana dari kejauhan.


"Mau apa mereka?" Rahang Sean mulai mengeras. Sean pun mendekat kearah Ana dengan santainya.


Kembali lagi ke sisi Ana....


"Maaf bibi, kakak, sebaiknya kalian lanjutkan saja belanjanya dari pada berbicara yang tidak-tidak di sini." Tutur Ana lembut pada mereka. Ana kembali memilih kebutuhan yang ia cari.


Bibi Ana mencekal kuat lengan Ana. " Heh... jangan pernah bersikap sombong. Aku bisa saja membuatmu meninggalkan negara ini." Ucap bibi Ana dengan sedikit ancaman.


"Lepaskan tanganmu darinya, nyonya." Sahut Sean dengan sorot mata tajamnya.


"Ohooo... jadi ini simpanan om-om mu. Ternyata benar, dia bahkan juga sudah mempunyai anak." Ejek bibi Ana memandang sinis pada Sean yang baru saja mendekat.


Ternyata bibi Ana tidak tahu siapa yang berada di hadapannya saat ini. Bagaimana jika keluarga mereka mengetahui ya?


"Jaga bicara anda nyonya." Tegas Sean. Rahangnya mengeras kali ini, untungnya dia tertutup dengan masker yang di kenakannya..


"Hahaha... apa kau tidak terima dengan apa yang aku ucapkan? Bukankah memang itu kenyataannya?" Bibi Ana semakin menjadi-jadi ucapannya.


Yaa... memang tidak sepenuhnya salah perkataan dari bibi Ana jika Sean adalah om-om yang mempunyai keponakan kecil.


"Sudah, Sean. Ayo kita mencari yang lain saja." Ajak Ana pada Sean.


"Jangan sampai apa yang kau ucapkan itu membuatmu menyesal seumur hidup, nyonya." Ucap Sean dengan sedikit intimadasi pada keluarga bibi Ana.

__ADS_1


Bibi Ana dan Lita memang belum mengetahui pasti bagaimana wajah Sean meskipun dia seorang yang berpengaruh di sana. Mereka hanya sering mendengar namanya, tapi tidak dengan orangnya. Sean jarang untuk muncul di publik, dia sering sekali menyuruh James.


"Heh... kau mengancamku. Aku pastikan kalian yang menyesal." Ujarnya lagi dengan tersenyum mengejek.


Setelah keluarga mereka tahu jika perusahaan miliknya bekerja sama dengan perusahaan milik Sean, mereka semakin sombong dan menjadi-jadi. Padahal itu adalah jalan kehancuran mereka sendiri.


"Sudah ayo. Biarkan saja, mereka memang seperti itu kalau bicara." Ana kembali mengajak Sean untuk mencari yang lain dari pada harus berurusan dengan keluarga bibinya.


Sean menurut dengan ajakan Ana. Tapi, dalam hatinya, Sean tidak akan membiarkan siapa saja bisa merasa tenang jika sudah menyinggungnya.


Sean akan segera menunjukkan siapa dirinya dan Ana di hadapan keluarga bibinya. Dan di saat itu, Sean akan membuat mereka berada di titik terendah dalam hidupnya.


Sean tersenyum jahat di balik masker yang dia kenakan sambil berlalu pergi meninggalkan bibi dan sepupu Ana.


'Setelah ini, aku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup' Ucap Sean dalam hati.


Ana mencari semua kebutuhan-kebutuhan yang ia perlukan sedikit jauh dari bibinya. Sean dengan sabarnya menemani Ana berbelanja. Untung saja mood Ana kali ini sangat baik. Tidak menyebalkan seperti biasanya.


Tidak lama kemudian, Ana membayar hasil belanjaannya dan segera beralih ke tempat yang lainnya. Sean memerintahkan anak buahnya untuk mengambil barang-barang belanjaannya dan mengantarkan pulang.


"Kita makan, ya. Aku sangat lapar." Ajak Ana yang merasakan lapar kali ini.


"Aku ingin waffle. Apa di sini ada?" Tanya Ana pada Sean.


"Sepertinya ada. Diva mau apa?" Tanya Sean pada Diva yang berada di gendongannya.


Untung saja di sana ada yang menjualnya, jadi tidak perlu repot-repot mereka berkeliling mencarinya.


Mereka duduk di foudcourt dan menikmati makanan yang mereka beli tadi.


"Apa tidak ada yang kau inginkan lagi?" Tanya Sean penuh perhatian. "Emm apa yaa...?" Ana menimbang-nimbang


meletakkan jari telunjuknya di dagunya.


"Aku ingin makan buah-buahan segar." Jawab Ana setelah lama berfikir.


"Apa ada lagi?" Tanya Sean lagi. Ana menggelengkan kepalanya cepat.


"Diva mau apa lagi?" Sean beralih kearah Diva.


"Diva mau cake coklat lumer uncle." Jawab Sean. Sean pun segera menyuruh anak buahnya yang menyebar di sana untuk mencari yang di minta oleh Diva dan Ana. Tidak mungkin jika Sean meninggalkan dua wanita kesayangannya itu.


Tidak lama kemudian, anak buah Sean membawakan pesanan yang di minta oleh Sean. Aa sangat lahap memakan potongan buah-buahan segar itu.


"Tumben sekali aunty tidak makan banyak?" Celetuk Diva. Memang kali ini Ana tidak terlalu makan banyak. Biasanya dia selalu meminta 2 sampai 3 porsi makan yang berbeda.


"Aunty lagi tidak menginginkan sesuatu." Jawab Ana dengan mulutnya yang penuh dengan buah.


"Apa adiknya sudah kenyang?" Tanya Diva lagi. Passalnya, Ana selalu berkata jika adiknya yang meminta ketika memakan makanan yang banyak.

__ADS_1


"Sepertinya begitu." Jawab Ana.


"Sudah, habiskan makanan kalian dulu." Tegur Sean. pada keduanya. Mereka pun akhirnya menghabiskan makanan mereka masing-masing.


Mension Sean...


Setelah cukup berkeliling di mall, Ana dan Diva kali ini rebahan di atas sofa panjang di ruang berkumpul menonton TV besar itu.


Sean berada di ruang kerjanya untuk menghubungi seseorang.


"Hallo, kau turunkan saham yang ada diperusahaan milik Michael 50 persen. Lakukan secara sembunyi-sembunyi." Perintah Sean di balik sambungan telfonnya.


Selama ini, Sean memerintahkan James untuk menurunkan saham milik paman Ana secara perlahan-lahan. Dan sekarang, Sean langsung saja memerintahkan saham itu secarah drastis.


Sean segera bertindak cepat setelah bertemu dengan keluarga bibi Ana tadi. Ana tidak pernah tahu apa rencana Sean di luar sana. Tugas Ana hanya percaya dengan apa yang di lakukan oleh Sean.


Sean selama ini juga selalu jujur dengan Ana, kecuali rencana pembalasan-pembalasan yang ia lakukan pada orang-orang yang sudah menyakiti orang di sekitarnya.


Sean tidak memberitahukan rencananya untuk membalas keluarga bibi Ana kali ini.


"Dan aturkan rencana untuk mereka bisa berhadapan denganku." Sambung Sean lalu memutuskan panggilannya secara sepihak.


"Kalian berada di ujung tanduk sekarang." Gumam sean.


Sean menyeringai lebar tanpa ada belas kasih. Itulah sisi kejam dari Sean.


Tak lama kemudian, Sean segera turun ke bawah dan bergabung dengan Diva dan Ana.


"Sudah selesai?" Tanya Ana yang melihat Sean yang baru saja turun..


"Sudah, semua sudah beres. Aku serahkan pada James." Jawab Sean dengan entengnya.


"Kenapa kau selalu menyerahkan pada James? Kenapa tidak kau sendiri yang mengurusnya? Kau kan bossnya?" Ucap Ana pada Sean.


"Justru aku boss makanya memberikan pekerjaan padanya." Jawab Sean yang memang ada benarnya.


"Mentang-mentang kau boss seenaknya sendiri." Ketus Ana.


"Aku tidak mentang-mentang, sayaang. Karena memang itu sudah tugas James. Aku tinggal handle sedikit dan mengawasinya." Jawab Sean.


"Terserah kau sajalah." Sungut Ana. Sepertinya jiwa-jiwa debatnya kembali meronta-ronta.


Sean tidak terlalu menanggapi ucapan Ana kali ini, bisa-bisa nanti tidak akan habisnya. Akan terus berkepanjangan dan tak berujung jika berdebat dengan Ana.


Bisa-bisa semua bisa dia ikutkan dalam perdebatannya.


"Sudah jangan bertengkar terus. Pussing Diva mendengarnya." Seru Diva. Karena memang sering sekali terlibat dalam perdebatan tiada henti. Hampir setiap hari.


Sering sekali Diva di buat kesal, untung saja Diva juga bisa sabar menghadapinya.

__ADS_1


__ADS_2