
Tapi beda lagi jika Ana menghadapi mama Cindy, harusnya mama Cindy juga mengajarkan yang baik. Bukan bertindak konyol hingga menyewa orang-orang bayaran.
"Kau apakan istriku, hah?" Teriak papa Cindy saat Ana berada di depan ruangannya.
"Sebaiknya turunkan suaramu, jangan sampai nanti suamiku tau dia akan menghabisi mu." Sarkas Ana padanya. Tentu saja Sean pasti tidak akan membiarkan orang-orang membentak dirinya.
Ana berjalan pergi dengan langkah cepatnya, dia terlihat kesal, marah dan benar-benar murka karena berani menyentuh anak-anaknya. Apa lagi membuatnya terluka, dirinya saja bahkan tidak pernah memukul anak-anaknya.
Diva yang baru saja tina di sana terlihat bingung dengan aunty-nya yang terlihat sangat kesal itu.
"Kau di sini?" Tanya Riko melihat kedatangan Diva.
"Kenapa aunty ada di sini? Kenapa dengannya?" Bukannya menjawab Diva justru bertanya balik pada Riko.
"Nyonya menyiksa ibu dari anak itu, nyonya sangat marah." Jawabnya yang membuat Diva melototkan matanya.
"Apa yang kau ucapkan itu benar?" Tanya Diva memastikan. Riko mengangguk menjawabnya.
"Waahhh.... Ternyata auntyku hebat." Puji Diva yang memang tidak pernah tahu aunty-nya bisa menyiksa orang. Memang bisanya dia sering marah, tapi tidak sampai bermain tangan.
"Kenapa kau di sini? Kau tidak kuliah?" Tanya Riko kembali.
"Tidak, dosen tidak hadir. Makanya aku ke sini, dari pada bosan di sana." Jawab Diva santai.
"Tidak hadir atau kau sendiri yang bolos?"
"Aku anak baik-baik, mana mungkin aku bolos. Bisa-bisa induk singa marah." Jawabnya mengatai aunty-nya induk singa. Jika Ana mendengarnya mungkin dia akan kena semprot.
Tidak berselang lama, jam istirahat telah tiba. Seperti biasa Julian dan kawan-kawannya akan pergi mencari makan ke kantin.
"Bagaimana dengan dirimu, Jul?" Tanya Gerald yang mengetahui luka tembak pada Julian.
"Memangnya aku kenapa?" Julian kembali pada mode tengilnya.
Buugh....
Tanpa ba bi bu be bo Gerald memukul lengannya yang sedang terluka.
__ADS_1
"Auuwh..." Ringisnya.
"Kau gila?" Sengalnya pada Gerald.
"Kau kenapa?" Sahut Marcus dan Reiner bersamaan saat melihat Julian meringis kesakitan.
"Dia terluka kemarin," jawab Gerald.
"Kau terluka? Coba lihat." Marcus dan Reiner bersamaan mendekat pada Julian. Orang-orang yang ada di sana melihat kehebohan orang-orang itu. Pikir mereka sudah biasa mereka seperti itu, jadi tidak heran lagi.
"Apa sih kalian, sudah duduk sana." Sengalnya lagi.
"Kalau kau terluka kenapa sekolah? Tidak di rumah saja? Jika aku jadi dirimu mungkin sudah di rumah tiduran." Sahut Marcus.
"Cuma luka kecil doang," sombongnya pada teman-temannya.
"Rald, apa dirimu bisa bela diri? Aku melihat gerakan mu seperti sudah sangat terlatih." Ujar Julian.
"Bisa, tapi tidak sehebat dirimu." Jawab Gerald.
"Benarkah?" Julian tidak percaya. Karena dia sempat memerhatikan pergerakan Gerald yang seperti sudah sangat ahli.
"Tapi.... Aku melihat berita jika terdapat beberapa orang tewas. Bukankah itu orang-orang kemarin yang menghalangi kita? Apa itu kalian yang membuat mereka tidak bernyawa?" Reiner langsung saja berbicara pada intinya. Julian dan Gerald saling pandang.
"Tidak. Waktu kemarin ada beberapa orang yang menolong kita, mungkin mereka yang membuat orang-orang itu tewas." Jawab Julian meyakinkan teman-temannya.
"Apa kalian tahu siapa mereka?"
"Tidak, kami belum berkenalan. Setelah aku mendapat luka, aku dan Gerlad langsung saja pulang karena mereka memerintahkan kami." Jelas Julian yang tentu saja berbohong. Gerald hanya bisa tersenyum tipis dengan kebohongan Julian.
"Apa itu benar, Rald?" Tanya Marcus yang di angguki oleh Gerald.
"Aahh sudahlah, tidak perlu di bahas. Aku sudah sangat lapar," potong Julian sebelum kedua temannya itu bertanya padanya lebih banyak lagi. Dia bingung harus menjawabnya apa nanti.
Sean segera datang ke markas saat tahu jika sang istri berada di sana. la buru-buru untuk datang ke sana dan meninggalkan pekerjaannya yang ada di kantor. Seperti biasa pasti Robert yang akan menggantikan dirinya.
la tiba di markas karena dia melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
Setibanya di sana, Sean segera turun dan masuk ke dalam markas. Ia berjalan dengan gaya coolnya dan manunjukkan wajah datarnya.
"Di mana Ana?" Tanya Sean pada Riko dan Diva yang berada di sana.
"Sepertinya, aunty sedang berkeliling. Aunty sudah seperti induk singa kali ini," jelas Diva pada sang uncle.
"Uncle, apa sebaiknya uncle tidak mengurus mereka secepatnya, jika kita biarkan lama-lama nanti dari pihak mereka pasti akan bertindak yang semakin tidak-tidak. Aku juga ingin ikut, tanganku sudah sangat gatal. Bahkan laki-laki itu tadi membentak aunty," terang Diva. Memang dirinya tidak tahu semuanya tadi, tapi Riko memberitahunya. Dan dk saat itu Diva berfikir jika pasti kali ini mereka tidak akan di biarkan oleh sang uncle.
"Apa benar?" Tanya Sean.
"Kau tanyakan saja pada bawahanmu itu," jawab Diva menunjuk Riko. Sean pun menoleh ke arah Riko.
"Benar, tuan. Tapi nyonya kali ini benar-benar sudah seperti induk singa, dia sangat marah." Sambung Riko.
Tanpa berkata-kata lagi, Sean segera melangkahkan kakinya ke ruang yang di gunakan untuk menyekap keluarga Cindy. Ia melangkah dengan satu tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
Diva dan Riko saling pandang, mereka pun akhirnya mengikuti Sean yang sudah melangkah jauh di depan sana.
Setibanya di sana, Sean menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Ko, lakukan tugasmu. Kau urus semua yang mereka miliki. Kau faham maksudku bukan?" Perintah Sean padanya.
"Faham, tuan." Riko membungkukkan sedikit badannya lalu melangkahkan kakinya keluar dari sana.
"Lalu, aku bagaimana, uncle?"
"Terserah, lakukan saja sesukamu. Aku akan mengurus laki-laki brengsek ini," ucap Sean lalu segera memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu itu.
Diva terlihat senang saat sang uncle memperbolehkan dirinya berbuat sesuka hati. Dia sepertinya juga akan bermain-main.
Diva dengan tersenyum smirknya melangkahkan kakinya menuju ruang yang di tempati oleh Cindy dan mamanya.
Cindy yang melihat kedatangan Diva pun memandang dengan tatapan tidak sukanya. Sepertinya, setelah sang mama pingsan dirinya memiliki dendam pada keluarga Julian. Dia menjadi benci dengan keluarga itu, tapi entah perasaannya dengan Julian bagaimana.
"Kenapa kau memandangku begitu, hm? Kau tidak suka denganku?" Diva menunjukkan wajah tengilnya pada Cindy. la mencoba memancing emosi Cindy terlebih dahulu.
"Ini semua gara-gara kalian semua!" Teriaknya pada Diva. Diva menunjukkan senyum jahatnya saat mendengar jika Cindy menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Kau lihat, mamaku terbaring pingsan gara-gara wanita gila itu!" Sambung Cindy yang mengatakan jika Ana gila.