Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 153 Season 2


__ADS_3

Keesokan harinya....


Fany terbangun lebih dulu dari pada Jennifer dan Thea, ia meregangkan otot-ototnya terlebih dulu.


Fany berjalan ke pinggiran jendela dan melihat pemandangan kota dari atas, "terlihat sangat sejuk sekali." Ujarnya. Ia pun menoleh ke arah Jennifer dan Thea yang masih tertidur dengan lelapnya. Wajahnya terlihat mencurigakan, sepertinya dia akan berbuat ulah untuk membangunkan Jennifer dan Thea di sana.


Fany mengambil ponselnya dan mencari lagu yang bergenre rock untuk di putar, saat sudah menemukannya, Fany menyetel lagu itu dengan suara yang sangat kencang. Apa lagi ia sambungkan ke sound sistem yang sempat ia bawa, apa lagi dia meletakkan di dekat


keduanya.


Fany menambah volume lagu tersebut hingga keduanya terusik dari tidurnya. Mereka menutup telinga dengan bantal dan mata masih terpejam. Fany mencoba menambahkan lagi volume lebih kencang.


Suara yang begitu keras dengan alunan lagu rock yang membuat telinga mereka ingin pecah rasanya.


Jennifer terbangun dan mengambil salah satu bantal dilemparkan pada Fany.


Bugh...


Bantal mendarat tepat mengenai wajahnya, dia tidak sempat mengelak dari hantaman bantal itu.


"Kau bisa kecilkan tidak?" Sentak Jennifer. la kesal jika tidurnya terganggu.


Buughhh...


Satu lemparan lagi ia terima dari Thea, "berissik." Cukup singkat padat dan jelas kata-kata dari Thea.


"Kenapa kalian tega sekali denganku?" Ucapnya karena mendapat timpukan dari keduanya.


"Matikan lagu itu!" Perintah Jennifer dengan ketusnya. Fany mematikan lagu yang ia putar sambil mengerucutkan bibirnya. Salah sendiri, suruh siapa dia berulah seperti itu.


Selesai sarapan dan berdandan rapi, mereka semua akhirnya berkumpul dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sana.


Merek memutuskan berjalan-jalan tidak menggunakan kendaraan, dan pertama yang mereka tuju adalah Istiklal Caddesi.

__ADS_1


Istiklal Caddesi merupakan kawasan jalanan yang terletak di distrik Beyoglu, tempat ini merupakan tempat hang out yang mengasikkan di Istanbul. Berjalan kaki di sana akan dimanjakan oleh view arsitektur bangunan klasik, bersejarah, serta sangat beragam.


Selain itu, di sana juga terdapat berbagai macam cafe, restoran, galeri seni, toko atau pusat perbelanjaan dan lain-lain. Sehingga berjalan-jalan di sana tidak membosankan.


"Mereka sungguh merawatnya dengan baik," gumam Thea melihat setiap arsitektur klasik yang ada di sana.


"Fotokan aku, fotokan aku." Fany terlihat bersemangat di sana. Dia berpose berbagai macam gaya, entah sudah berapa jebretan yang ada di ponselnya. Tidak hanya itu, Julian dan gengnya pun juga berfoto ria dengan tingkah random mereka masing-masing.


Fany yang terlalu semangat itu pun tertenggor orang yang melintas dengan kerasnya hingga dirinya hampir terjatuh. Untung saja Julian dengan sigap menangkap dirinya, orang yang menenggor Fany itu pun terus saja melangkah tidak peduli.


"Heey...." Teriak Julian yang melihat krang itu terus melangkahkan kakinya.


"Sudah, Jul. Biarkan saja, jangan sampai membuat keributan di sini." Cegah salah satu teman Julian.


"Lepaskan aku," ujar Fany padanya. Julian menatap sekilas Fany lalu menjatuhkannya begitu saja.


Bugh....


"Aauuwh.... Kau gila!" Sentaknya pada Julian. la merasakan sakit karena berbenturan dengan jalanan di sana.


"Sengaja," jawab Julian singkat lalu kembali melangkahkan kakinya.


"Dasar, kalau saja kau bukan anak tuan Sean. Sudah aku cincang dirimu sejak dulu," kesalnya dengan melangkahkan kakinya.


Mereka semua kembali melanjutkan perjalanan, kali ini mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di sana.


Mereka melanjutkan perjalanan ke Hagia Sophia. Hagia Sopia bukan sekedar bangunan biasa. Hagia Sophia memiliki arsitektur yang luar biasa khas Byzantium, serta memiliki perjalanan sejarah yang panjang dari tahun 537 Masehi.


Bangunan kokoh nan indah itu dulunya merupakan sebuah gereja tapi berubah fungsi menjadi masjid, setelah perkembangan zaman sekarang bangunan tersebut berubah menjadi museum.


Mereka melihat takjub bentuk arsitektur dari bangunan tersebut.


Setelah beberapa menit mereka di sana, mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat bersejarah lainnya. Seperti Basilica Cistern, Museum Arkeologi, Kariye Museum dan terakhir mereka menuju Dolmabahce Palace.

__ADS_1


Dolmabahce Palace merupakan istana kekaisaran Ottoman yang terletak di distrik Besiktas, bangunan di tepi laut selat Bosphorus Bosphorus, sehingga di bagian halaman belakang terbentang pemandangan laut yang indah.


"Waahh... Bangunan yang ada di sini benar-benar sangat menakjubkan, sedari tadi yang aku lihat sangat terjaga." Fany kembali berucap melihat ketakjuban setiap bangunan yang ia kunjungi.


"Kau benar, Fa. Semua yang ada di sini benar-benar terjaga." Sahut Thea. Jennifer sedari tadi hanya menikmati setiap perjalanannya.


Kruuukkk....


Bunyi suara perut keroncongan, Julian dan teman-temannya itu pun ikut menoleh ke arah suber suara. Orang tersebut hanya menyengir kuda karena teman-temannya menoleh ke arahnya.


"Hehehee.... Aku hanya lapar kok." Ucap Fany di sana.


"Badanmu saja yang kecil, tapi makanmu sangat banyak. Aku kasihan dengan mommy dan papamu, pasti mereka kuwalahan memberimu makan yang sangat banyak itu." Julian mengejek Fany di sana.


"Diamlah, aku tidak berbicara padamu." Sengalnya pada Julian.


Akhirnya mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu dan beristirahan setelah mengunjungi banyak tempat sedari tadi. Tentu saja mereka mencoba makanan khas dari Turki, selagi mereka semua di sana. Hampir setiap makanan mereka mencobanya.


Di sisi Berlin...


Dua orang yang sudah berumur sekitar 60 ke atas itu pun bimbang ke tempat mana yang akan mereka tuju. Mereka sudah tidak mempunyai tempat tinggal di sana, mereka juga sudah belasan tahun tidak di kota tersebut.


"Pa, kita mau ke mana? Bagaimana dengan Lita? Apa dia masih hidup, atau sebaliknya?" Ucapnya pada sang suami.


"Semoga saja Lita masih hidup dan mendapatkan pasangan yang layak untuknya." Jawab sang suami meyakinkan.


"Tapi, kenapa dia tidak pernah mengunjungi kita? Apa dia malu karena kita jatuh miskin seperti ini?" Ucapnya lagi.


Benar sekali jika mereka adalah papa dan mama Lita, mereka datang kembali ke Berlin di usianya yang sudah rentan. Tapi mereka masih terlihat segar, sepertinya di sana menolak untuk menua.


Entah bagaimana mereka bisa sampai di Berlin, mereka datang ke sana ingin mencari Lita yang sudah belasan tahun tidak pulang kembali. Mereka belum tahu jika Lita sudah tiada di tangan Sean.


Mereka datang ke sana dengan tangan kosong dan membawa uang yang hanya tersisa sedikit, mereka berjalan di bawah terik matahari yang menyengat.

__ADS_1


"Mereka ada di sini?" Ucapnya di dalam mobil saat melintas di sana dan melihat mama dan papa Lita.


Orang tersebut merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang, "halo, apa mereka sudah pergi dari kota terpencil itu?" Tanyanya to the point melalui sambungan ponsel.


__ADS_2