
Waktu berjalan begitu cepat, kali ini usia kandungan Ana sudah mencapai 9 bulan.
Dalam masa-masa kehamilannya, Ana dan Sean sangat menikmati meskipun terkadang ulah Ana membuat semua orang kesal.
Dalam beberapa waktu itu juga, permintaan Ana terbilang yang aneh dan unik. Setelah meminta anak jerapa dan alpaca, Ana meminta Sean anak ceetah dan leopard. Entah jadi apa sekarang halaman mansion Sean, untung saja memiliki lahan yang luas.
Mami dan papi Sean tidak kaget dengan permintaan Ana yang terbilang ekstream itu, karena masa mami Sean hamil Sean pun mintanya hampir sama seperti Ana.
Diva sering bermain kejar-kejaran dengan anak leopard milik Ana. Jadi, binatang buas itu bisa dekat dengan Diva. Tapi tentu saja masih dalam pengawasan pawangnya di sana. Sean membawakan pawangnya sekaligus karena memang itu bukan di lingkungan markasnya. Jika saja di markasnya, pasti anak buahnya yang merawatnya.
"Diva... sudah mainnya," Teriak Ana melihat Diva yang masih asik dengan anak leopard itu.
"Bentar lagi aunty," Sahut Diva. Dirinya sangat asik dan merasa tidak kesepian lagi setelah hewan-hewan peliharaan permintaan Ana ada di sana.
Diva juga tidak banyak debat lagi dengan Ana karena saking asiknya bermain sendiri.
Ana bangkit dari duduknya karena merasa perutnya sangat tidak nyaman. Seperti ada yang meronta-ronta ingin keluar.
"Auuhh... kenapa sakit sekali," Ringis Ana memegang perutnya dan berjalan pelan masuk ke dalam.
"Aduuh...... apa sudah saatnya. Apa kalian sudah ingin
keluar?" Ringis Ana lagi.
"Mii... Sean..." teriak Ana yang merasakan sakit di perutnya.
"Itu teriakan Ana bukan? Kenapa dia berteriak?" Ucap papi Sean mendengar teriakan Ana.
Mereka semua berkumpul di ruang berkumpul seperti biasa, kalau Ana sering mengawasi Diva bermain-main di luar.
"Mii... Pii... Seaaan." Teriaknya lagi.
"Apa sedang terjadi sesuatu?" Sean langsung saja berlari mendengar Ana berteriak.
__ADS_1
"Ada apa Ana?" Tanya Sean yang melihat Ana sangat kesakitan dan keringat bercucuran di dahinya.
"Perutku sakit sekali. Sepertinya mereka sudah ingin
keluar," Jawab Ana menahan sakitnya.
"Bukankah ini masih 9 bulan awal?"
"Sudah cepat bawa istrimu itu ke rumah sakit Sean. Jangan banyak tanya," Sengal Mami Sean mendengar Sean. Kebanyakan hamil kembar memang lebih cepat masa bersalinnya dari pada hamil biasa.
"Kau pergi dulu, biar mami yang mengambil perlengkapan Ana." Sambung sang mami. Sean langsung saja menggendong tubuh Ana dan membawa ke mobil.
Diva yang melihat Sean menggendong itu pun bertanya-tanya. Pasalnya sedari tadi dirinya asik main dengan peliharaan milik sang aunty.
"Uncle kenapa? Sepertinya buru-buru sekali?" Gumam Diva.
"Hey Black... kita lanjut nanti lagi ya. Aku mau kejar aunty dan uncle dulu," Ujar Diva pada teman bermainnya. Anak leopard itu pun seakan-akan paham dengan ucapan dari Diva. Dirinya menurut begitu saja dengan apa yang Diva ucapkan padanya.
Diva berlari kearah mobil Sean dengan cepat, "Aunty kenapa uncle?" Tanya Diva dengan ngos-ngosan.
"Jalankan mobilnya," Perintah Sean pada supirnya. Kali ini Sean memilih untuk menggunakan supir, biasanya ia menggunakan mobilnya sendiri.
Diva hanya memandang mobil Sean yang sudah melaju. Diva dalam mode bingungnya, tidak lama ia melihat grandma dan grandpa nya keluar menggunakan tas yang berisi perlengkapan Ana. Diva datang mendekat kearah keduanya dan bertanya apa yang terjadi.
Dalam perjalanan, Sean memerintahkan anak buahnya untuk menyediakan jalan khusus untuk masuk ke dalam rumah sakit, agar kedatangannya dan Ana tidak di ketahui oleh kalangan public. Terutama dengan musuh-musuh Sean.
Selama ini, Sean dan keluarganya sangat menutup rapat status Sean dan Ana. Untung saja Ana tidak berfikiran yang aneh-aneh soal identitasnya yang tidak di ketahui oleh banyak orang.
la bisa memahami, dan setelah mendengar penjelasan dari mami Sean itu membuatnya semakin faham dengan situasi di luaran sana. Ana juga tidak keberatan dengan statusnya sebagai istri Sean itu tidak di ketahui banyak orang, karena itu membuatnya bisa tenang tidak mendapat cibiran dari orang luar menurut Ana.
"Cepatkan laju mobilnya." Perintah Sean lagi setelah menghubungi anak-anak buahnya yang ada di mana-mana.
Tidak sulit bagi sean untuk melakukan hal seperti itu. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ana memegang kuat tangan Sean karena merasakan sakit.
__ADS_1
"Sabar dulu, ya. Kita akan segera sampai," Ujar Sean mengecup kening Ana agar Ana bisa merasakan sedikit tenang.
"Ini sangat sakit, Sean." Ringis Ana. Genggaman tangannya semakin kuat.
"Kita akan sampai sebentar lagi." Ujar Sean lagi.
"Lebih cepat lagi," Perintah Sean pada sang supir. Padahal supirnya pun sudah melajukan mobilnya dengan cepat.
Setibanya di sana, Sean di giring anak buahnya untuk masuk ke rumah sakit melewati jalan khusus yang biasa di gunakan oleh para petinggi rumah sakit
Jalan yang mereka lalui sudah di sterilkan oleh anak-anak buah Sean. Jadi Sean tidak perlu khawatir untuk itu, pasalnya kali ini dia tidak memakai maskernya karena sudah terburu-burur dan mendadak tadi. Sean membawa Ana dengan langkah cepatnya, tidak lupa juga anak buah Sean mengawal perjalanan Sean.
Sean segera membawa Ana keruang untuk bersalin, di sana sudah ada dokter yang menunggu atas perintah Sean tadi. Sean meletakkan Ana di atas brankar.
"Permisi, tuan. Saya mau mengecek kondisi nyonya dulu," Ujarnya pada Sean. Sean memeprsilahkan dokter tersebut untuk meemriksa bagaimana kondisi Ana.
"Pembukaan nyonya belum sempurna, tuan. Sambil menunggu, kami akan menyiapkan yang lainnya dulu untuk persalinan nyonya nanti," Jelasnya pada Sean.
Dokter itu pun segera bergegas untuk menyiapkan yang lainnya, sedangkan Sean duduk di kursi yang berada di samping brankar Ana.
"Sabar sebentar, oke. Aku ada di sini. Kau boleh berpegangan padaku jika merasakan sakit," Ucap Sean. Sean juga tidak tega sebenarnya melihat Ana yang merasa kesakitan.
"Uuhh... sakit," Ringis Ana merasakan sakit. Pinggulnya terasa sakit semua.
"Gigit tanganku jika terasa sakit." Ujar Sean lagi.
Sean mencoba mengelus-elus lembut perut Ana supaya Ana merasa baikan, "Anak-anak papi yang sabar dulu ya. Yang rukun ya di sana, jangan buat mami sakit," Ucap Sean pelan.
Ucapan Sean mendapat respon tendangan yang sangat kuat dari sang buah hati. "Auuh... mereka menendang sangat kuat sekali." Ana kembali meringis kesakitan.
"Kalian jangan bertengkar ya di sana. Mami dan papi menyayangi kalian berdua." Ucap Sean lagi agar anak-anaknya tidak menendang Ana lagi.
Usaha yang dilakukan oleh Sean berhasil, mereka tidak menendang-nendang lagi. "Punggungku rasanya seperti remuk." Keluh Ana.
__ADS_1
"Miringkan tubuhmu, biar aku mengelusnya." Perintah Sean lembut.
Ana memiringkan tubuhnya kearah Sean. Sean pun mengelus lembut punggung Ana. Ana terus saja berdesis karena merasa sakit semua.