Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 221


__ADS_3

Gadis itu saat ini sedang berdiam di pojokan dengan meringkuk menutup telinga dan kedua matanya.


"Kau sepertinya sangat betah di sini," ujarnya.


"Kenapa kau melakukan ini padaku? Lepaskan aku, biarkan aku pulang." Gadis itu memohon agar di lepaskan dari sana.


"Anggap saja ini rumahmu, Nona. Kau juga memiliki banyak teman di sini. Lihatlah semua temanmu." Tunjuknya ke arah tawanan yang lain.


"Tolong keluarkan aku dari sini. Aku berjanji akan menuruti semua ucapanmu," mohonnya lagi. Orang tersebut hanya memanggut-manggutkan kepalanya.


"Memangnya, apa yang akan kau lakukan untukku?"


"Apa saja, asal aku bisa keluar dari sini," jawabnya cepat.


"Kenapa aku harus mengeluarkanmu? Tidak ada alasan untuk aku mengeluarkanmu dari sini," tolaknya tanpa berlama-lama.


"Kau nikmati saja yang ada di sini, Nona. Kau lihat saja pertunjukan dari anak-anak buahku sebelum nanti giliranmu," ujarnya menakut-nakuti gadis itu.


"Tidak. Jangan lakukan itu padaku, tidak." la menggelengkan kepalanya cepat. Terlihat sekali jika sirinya sangat ketakutan, mentalnya tidak baik-baik saja selama melihat dan mendengar jeritan-jeritan dari tawanan yang lain.


la kembali menutup telinganya dan meringkuk, sungguh tidak sanggup jika dirinya terus-terusan di sana.


"Heh, ini adalah konsekuensi yang harus kau terima, Nona. Bahkan anak-anak buahku belum menyentuhmu sama sekali." Orang itu tersenyum jahat melihat ketakutan yang terjadi pada gadis itu. Jika ada yang berani, perempuan atau laki-laki dia akan memberi ganjaran.


"Tidak. Tidak, jangan lakukan padaku, aku mohon. Lepaskan aku," mohonnya.

__ADS_1


"Aaarrkh...." Terdengar teriakan dari tawanan lain.


"Tolong keluarkan aku dari sini, aku memohon," mohonnya dengan wajah yang sangat ketakutan setelah mendengar teriakan yang cukup keras itu.


"Gerald, tolong lepaskanlah aku. Aku mohon, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi." ia kembali memohon, tetapi entah itu sungguh-sungguh atau hanya pura-pura.


Benar sekali jika orang itu adalah Gerald dan anak-anak buahnya. Sementara gadis itu adalah Sisca, dia satu-satunya tawanan wanita yang ada di sana. Gerald memerintahkan anak buahnya untuk membawa mereka ke ruang bawah tanah yang di mension yang ia tinggali selama di Berlin.


Ternyata Gerald juga memiliki ruang bawah tanah selama ini, tetapi memang jarang terjamah. Kalau saja di markasnya yang berada di Amerika, mungkin sudah banyak sekali tawanan-tawanan yang ada. Selama satu bulan itu, Gerald memberi pelajaran pada orang-orang suruhan Sisca.


Hampir setiap hari siksaan demi siksaan di lakukan oleh anak buah Gerald, Gerald memang sengaja tidak membiarkan mereka meninggalkan bumi dengan cepat dan mudah. Untuk Sisca, Gerald sepertinya memiliki cara lain untuk memberikan pelajaran. Belum juga Gerald dan anak buahnya menyentuh Sisca, Sisca sudah seperti orang gila karena menyaksikan langsung siksaan-siksaan yang di berikan oleh Gerald dan anak buahnya.


Mungkin itu adalah rencana Gerald, menjatuhkan mental Sisca dengan perlahan.


"Apa kau baru saja mengakui perbuatanmu?"


Sudah terlambat untuk Sisca memgakui kesalahannya, sebanyak apapun Sisca memohon, Gerald tidak akan mengabulkannya. Tidak ada kata ampun di kamus Gerald.


"Aaah... baguslah jika kau mengakui ke salahanmu. Tapi, aku tidak bisa melepasmu. Kau nikmati saja hadiah yang aku berikan, ya. Selamat menikmati pertunjukan yang sangat mengasikkan." Gerald melangkah pergi dari sana tidak memperdulikan Sisca yang memohon padanya.


"Tidak, Gerald! Lepaskan aku dari sini," teriaknya tetapi tidak di gubris sama sekali dengan Gerald. Gerald terus melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang bawah tanahnya.


Di lain tempat, tepatnya di mension besar Sean. Julian tengah merenung di gazebo yang berada di halaman mension, entah apa yang membuat dia sampai merenung. Seperti tidak biasanya dia merenung, biasanya dia selalu berbuat jahil dan membuat semua orang pusing.


Sean yang melihat sang putra sedang merenung itu sedikit bingung, karena memang tidak biasanya Julian

__ADS_1


seperti itu. Sean mendekat dan ikut duduk di samping Julian, malam ini Julian ebnar-benar terlihat tidak semangat. Sean menaikkan sebelah alisnya melihat sikap Julian saat ini.


"Kau kenapa, Boy?" Julian hanya menoleh dengan ekspresi yang terlihat menyedihkan. Sean semakin di buat bingung oleh Julian.


"Tidak seperti biasanya? Apa kau baru saja putus cinta?" pertanyaan sang papi tidak ada sahutan sama sekali darinya. Sean menebak jika saat ini memang ada masalah pada sang putra, tetapi Sean tetap mencoba untuk membuat Julian mau berbicara dengannya.


"Heh, seorang pimpinan mafia sepertimu ternyata bisa galau juga hanya karena putus cinta," sindir sang papi. Padahal dirinya sendiri juga pernah sampai tidur di luar oleh Ana.


"Papi kaya tidak pernah saja. Papi pusing tujuh keliling karena Mami mengunci pintu kamar dari dalam." Julian menyindir balik perkataan sang papi.


"Heh, Papi harus tidur di luar itu juga karena ulahmu, Boy. Kau yang selalu memanas-manasi Mamimu dengan ketengilanmu itu," jawab Sean yang masih ingat jelas bagaimana Julian yang menjadi kompor antara Sean dan Ana.


Mengingat wantu beberapa bulan yang lalu, Julian pernah melihat jika sang papi menolong seorang nenek yang waktu itu tengah melintas di jalan raya yang sangat ramai. Sesampainya di rumah, Julian mengatakan pada Ana jika Sean menolong wanita cantik nan seksi. Sean mencoba menjelaskan yang sebenarnya, tetapi Ana lebih percaya dengan Julian yang selalu menjadi kompor.


Segala bujuk rayu Sean keluarkan untuk Ana agar percaya, tetapi usaha Sean sia-sia. Ana sudah terbakar dengan Julian, Sean hanya bisa pasrah waktu itu. Dia juga tidak bisa masuk dengan kunci cadangan karena Ana membawanya masuk ke kamar, Julian tertawa puas melihat sang papi gelisah.


Kembali lagi di mana Julian dan sang papi saat ini, Julian hanya nyengir kuda saat mengingat dirinya yang sedang mengerjai sang papi pada masa itu. "Kau sepertinya senang sekali melihat Papimu menderita."


"Julian kan hanya bercanda waktu itu," jawabnya tidak merasa berdosa dengan sang papi.


"Shh... bercandamu memang sangat beda dari yang lain," desis Sean. Memang Julian berbeda dari yang lain, bahkan Sean terkadang di buat pusing dengan tingkah Julian.


"Lalu, apa yang sedang terjadi padamu saat ini? Kau tidak seperti biasanya, apa ada masalah?" Sean mencoba agar Julian mau bercerita dengannya.


"Hmm... entahlah, Pi. Julian tdidak tahu," jawabnya yang seperti tidak mempunyai harapan.

__ADS_1


"Pi, apa Papi mau menceritakan bagaimana Papi dengan Mami dulu?" sambung Julian yang memulai perbincangannya. Sean kembali menaikkan sebelah alisnya dengan ucapan Julian.


"Memangnya kenapa? Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Sean bingung karena tiba-tiba saja Julian merasa penasaran bagaimana awal mula Sean dengan Ana.


__ADS_2