Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 57 Berubah 360 Derajat


__ADS_3

"Auuhh..." ringis Ana merasakan sakit.


"Ada apa, Ana? Apa ada yang sakit?" Tanya Sean cemas setelah mendengar Ana meringis.


"Tidak ada. Mereka menendangku dengan kuat." Jawab Ana.


Sean pun berjongkok menyetarakan tinggi badannya dengan perut Ana yang sudah membesar.


"Anak-anak papi, jangan nakal ya. Kasian nanti maminya kesakitan." Ucap Sean mengajak calon buah hatinya berbicara.


"Kalian sabar dulu ya, sebentar lagi kalian akan melihat dunia ini. Kami semua di sini juga menanti kehadiranmu." Sambung Sean lalu mencium perut Ana.


"Sepertinya, mereka akan menjadi seseorang yang kuat sepertimu, nanti." Ujar Ana. Sean mendongakkan wajahnya menatap wajah Ana yang tersenyum simpul.


"Maaf jika papi tadi membuat mami sedih. Pasti kalian juga ikut merasa sedih di sana." Imbuh Sean dengan wajah memelas.


"Sudahlah, Sean. Jangan fikirkan itu lagi. Ayo kita makan, kau pasti belum makan." Ajak Ana.


Sean dan Ana berjalan masuk ke dalam mension. Mereka menuju ruang makan terlebih dahulu, sepertinya Ana sangat tahu jika Sean sedari pagi belum makan sama sekali.


Ana mengambilkan makanan untuk Sean lalu menyuapinya dengan telaten. "Kau juga harus makan, sayang. Biar mereka bertumbuh dengan baik." Sean mencoba mengambil piring yang ada di tangan Ana.


"Aku nanti saja, kau pasti belum makan sedari pagi kan. Biar aku yang menyuapi mu kali ini." Jawab Ana. la mengambil kembali piring yang sempat di ambil oleh Sean tadi.


"Bagaimana kau bisa tau. Apa kau memata-mataiku." Ucap Sean.


"Mana mungkin aku bisa memata-mataimu. Kau ini aneh sekali." Jawab Ana sedikit merengut.


"Yang ada pasti semua anak buahmu yang kau suruh memata-mataiku kan." Sambung Ana.


"Sepertinya, kau sudah sangat tau." Jawab Sean tersenyum sambil menyipit kedua matanya.


"Tentu saja aku tau. Aku kan istrimu." Kata Ana.


"Kau memang istri terbaikku." Puji Sean.

__ADS_1


"Sudah, makan dulu. Kalau bicara terus kapan


makannya?" Potong Ana di waktu romantis-romantisnya mereka. Tapi, jika Ana tidak segera memotong pembicaraan. Pasti akan tidak ada habisnya mereka beromantis ria.


.


.


Di sisi sebrang jauh dari kota Berlin, keluarga yang awalnya sangat bergaya elit itu kini berubah drastis 360 derajat.


Rumah yang terbilang sangat kecil, baju juga tidak terlihat mahal dan branded lagi. Makan pun tidak seenak yang dulu mereka rasakan.


"Bisa tidak sih ma kalau kita itu makan yang enak-enak. Setiap hari hanya makan roti dan mentega, mana kenyang." Bentaknya pada mamanya.


"Apa kau tidak melihat bagaimana nasib kita sekarang? sukur-sukur kita masih bisa makan walau hanya roti dan mentega." Mamanya tak kalah membentak ucapan dari putrinya.


"Aaarrkkhh.... Ini gara-gara wanita sialan itu. Kenapa tidak aku saja yang menikahi pria kaya itu?" ucapnya dengan penuh frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa anak itu tidak ikut mati sekalian bersama mama dan papanya. Harusnya mama dan papa dulu tidak menampungnya. Lihat, sekarang kita sudah menjadi miskin tidak bisa menikmati makan dan enak. Rumah pun sangat kecil." Ucapnya menggebu-gebu. Sepertinya, dia tidak pernah sadar dengan apa yang sudah di lakukan. Bisanya hanya menyalahkan orang lain.


Yaps... benar sekali, keluarga itu adalah keluarga paman dan bibi Ana. Mereka selalu meributkan dari bagaimana nasib mereka sekarang.


"Kenapa papa membela wanita itu? Semua gara-gara wanita itu, pa." Sentak Lita pada papanya.


"Berhenti menyalahkan orang lain, Lita. Apa kau juga tidak pernah sadar dengan salahmu?" Ujar sang papanya lagi.


"Sudah-sudah, diam... bisa tidak kalau tidak meributkan hal ini terus. Kau juga pa, carilah pekerjaan yang lain agar kita bisa makan enak lagi seperti dulu." Seloroh mama Lita.


"Apa mama kira papa juga tidak berusaha selama ini? Papa juga lelah, masih untung papa mendapat pekerjaan meskipun itu kecil. Mama dan Lita hanya bisa menyuruh papa tapi kalian juga tidak pernah mau usaha." Bentak papa Lita. Setelah mereka di kucilkan oleh Sean, paman Ana sedikit terbuka hatinya. Tapi tidak untuk bibi dan sepupu Ana. Mereka selalu menyalahkan Ana dan menyalahkan nasib mereka saat ini.


Brakk...


Lita menggebrak meja dengan sedikit keras.


"Aku akan membalas wanita itu. Lihat saja nanti." Ucapnya dengan mata penuh kebencian.

__ADS_1


"Jangan pernah berbuat yang tidak-tidak Lita. Lebih baik kita pilih jalan amannya saja. Apa kau mau masuk penjara sia-sia? Apa kau lupa siapa suami dari wanita itu?" Kali ini bibi Ana menyahuti perkataan dari putrinya.


"Tapi aku tidak mau seperti ini terus, ma." Rengek Lita.


"Mama juga tidak mau seperti ini. Sudah diamlah, jangan pernah melakukan yang tidak-tidak. Jika kau masuk penjara, mama dan papa tidak bisa mengeluarkanmu. Kita tidak punya uang sepeserpun." Imbuh pipi Ana.


Lita dan ibunya memang memiliki sifat yang sama. Tapi, setidaknya mama Lita, bibi Ana itu masih bisa berfikir. Dia tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi, meskipun dia juga sangat membenci Ana dan tidak terima jika nasibnya menjadi miskin seperti ini.


Setelah pengusiran yang dilakukan Sean, ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa keluarga paman dan bibi Ana jauh dari kota yang mereka tempati. Kota itu sangatlah jauh dan di bisa di bilang sedikit pelosok.


Sean sengaja membawa mereka kesana agar tidak bisa kembali lagi ke kota dan berbuat ulah.


Kembali lagi ke sisi Ana dan Sean...


Sean tertidur di paha milik Ana. Ana mencoba untuk mengelus pucuk kepala Sean agar tidurnya nyenyak.


"Sepertinya, dia tidak tidur semalam." Tebak Ana yang melihat Sean tertidur dengan nyenyaknya.


Memang sepulang dari penyerangan semalam, Sean tidak tidur sama sekali. Ia hanya merebahkan dirinya di atas kasur king size nya. Tapi matanya terbuka lebar-lebar.


"Semoga, anak-anak kita nanti bisa sekuat dirimu dan bisa sepertimu, yang selalu menyayangi orang-orang terdekatmu, melindungi orang-orang yang dia sayang nanti." Gumam Ana yang memerhatikan wajah Sean tertidur dengan pulasnya.


Senyuman indah terukir di wajah Ana. Jika saja Sean sedang terbangun, mungkin dirinya akan merasa gemas dengan istrinya. Senyumnya yang manis di tambah pipinya yang terlihat semakin chubby.


"Hai aunty..." Diva ikut bergabung di sana.


"Apa grandpa dan grandma sudah pulang?"


"Sudah." Jawabnya singkat.


"Divaaa.... Tolong ambilkan aunty ice cream dong. Sama roti tawar, aunty mau yang seger-seger." Ucap Ana meminta tolong pada Diva.


"Sepertinya enak sekali. Diva juga mau,"


"Yasudah, Diva ambilkan yah. Nanti kita makan bareng." Ucap Ana lagi.

__ADS_1


Tanpa ba bi bu be bo, Diva segera berlari kearah dapur mengambil ice cream satu kotak dan roti tawar sesuai dengan perintah Ana.


__ADS_2