Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 158 Season 2


__ADS_3

Mereka pun membicarakan semua rencana penting mereka, dari hal terkecil dan terbesar. Mereka sepakat jika pertunangan akan mereka langsungkan minggu depan, tapi mereka melakukannya secara diam-diam. Hanya keluarga keduanya saja yang tahu, hal itu menghindari musuh dari kedua belah pihak mengincar salah satu dari mereka.


Setelah pembicaraan selesain, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Di dalam perjalanan, Ana kembali bertanya untuk memastikan keputusan Jennifer. Dia tidak ingin jika Jennifer mengambil keputusan yang akan memberatkan dirinya.


"Putri Mami, apa kau sudah yakin Jen? Kau masih ada kesempatan untuk merubah keputusanmu, jangan sampai nanti kau terbebani dengan ini?" Ana mencoba memastikan.


"Tidak, Mam. Jennifer percaya dengan Mami dan Papi, Mami dan Papi tidak akan mungkin memilihkan sembarang orang untuk Jenni." Jawab Jennifer yang sudah yakin.


"Baiklah, jika kau setuju, Mami selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Gerald." Ucap Ana.


"Bagaimana dengan kak Diva ya, dia yang paling tua, tapi kenapa dia tidak segera menikah saja." Sahut Julian yang tiba-tiba teringat Diva.


"Jika sudah waktunya kakak Diva pasti akan melangsungkan pernikahannya, kita ikuti saja bagaimana yang baik untuknya." Sahut Sean. Sean tidak memaksakan kehendak dari anak-anaknya ataupun keponakannya. Jika memang sudah waktunya, pasti semua akan berjalan sebagaimana mestinya.


Semua sudah di atur di dalam hidup ini, tidak lambat dan tidak juga terlalu cepat. semua sudah ada waktunya sendiri-sendiri.


Markas....


Riko sedang melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Kau tidak pulang?" Tanyanya pada Diva.


"Tunggu sebentar lagi, nanggung." Jawab Diva masih mengotak-atik sesuatu di sana. yang


"Ini sudah malam, nanti tuan marah padaku."


"Tidak akan, uncle sedang makan malam di luar dengan temannya yang dari Amerika." Jawab Diva lagi.


"Dengan Tuan Carles?" Diva menganggukkan kepalanya.


"Naah.... Akhirnya selesai juga." Ujarnya dengan mengangkat benda yang ia otak-atik sedari tadi.

__ADS_1


"Cobalah, senjata itu tahan dalam air. Aku membuat senjata itu tanpa suara, dia akan mengeluarkan lima peluru sekali tembak." Ucap Diva memberikan senjata hasil rakitannya pada Riko.


Sedari sore Diva berada di markas, dia tidak ikut makan malam karena menyelesaikan senjata yang ia rakit sendiri dengan model sesuai dengan keinginannya.


"Baiklah, aku akan mencobanya." Riko mencoba senjata yang di rakit oleh Diva. Riko mengarahkan senjata itu papan sasaran lalu mulai menembak.


Dan benar saja, senjata rakitan Diva tidak mengeluarkan suara meskipun tanpa menggunakan peredam. Lima titik lubang kecil terlihat di sana dengan sekali tembakan, bahkan kecepatannya lebih cepat dari senjata rakitan lainnya.


"Siapa yang mengajarimu membuat senjata ini? Ini cukup memuaskan, jika ini di gunakan, pasti dengan mudah menumbangkan musuh." Riko memuji senjata rakitan Diva kali ini.


"Eemmm itu belum sempurna menurutku, aku ingin membuat lagi dan aku tambahkan sensor untuk mengetahui jika musuh tersembunyi." Ucap Diva.


"Sepertinya itu sangat bagus, dengan begitu pertahanan kita semakin kuat. Buatlah untuk semua anggota kita. Untuk senjata rakitanmu ini, jangan sampai bisa berada di tangan musuh." Riko memberikan saran pada Diva.


"Aku berencana untuk membuatnya hanya untuk anggota khusus nanti, aku juga tidak berniat untuk menjual senjata rakitanku ini." Diva mengatakan keputusannya. Diva sengaja tidak menjual senjata rakitannya, ia tidak ingin jika senjata itu berada di tangan yang salah. Apa lagi di tangan mafia yang selalu berbuat rusuh.


"Aku setuju denganmu, itu lebih baik." Jawab riko.


Satu minggu kemudian...


Hari ini merupakan hari di mana pertunangan Jennifer dan Gerald akan di laksanakan. Sesuai dengan yang di bahas oleh dua keluarga itu waktu acara makan malam, acara hanya di hadiri oleh dua keluarga saja. Acara itu di laksanakan untuk mengikat pasangan muda mudi itu.


"Tuan putri, aku tidak menyangka jika dirimu akan bertunangan lebih cepat dari yang aku kira." Ujar Fany saat berada di kamar Jennifer.


"Aku hanya tunangan, Fa. Bukan mati," ketus Jennifer melihat wajah Fany yang sudah tidak bisa di kondisikan itu.


Hingga tiba saatnya, acara pertunangan pun di mulai. Gerald datang bersama kedua orang tuanya saja, dia mengenakan setelan jasnya. Ia terlihat sangat cool. Jennifer juga mengenakan make up tipis-tipis yang membuat dia terlihat sangat cantik.


Keduanya saling bertukar cincin yang di saksikan oleh keluarga mereka masing-masing.


Semua bertepuk tangan riuh saat jari manis mereka sudah terisi cincin.


"Tuan William, kita akan menjadi besan. Semoga pertemanan kita semakin erat," ujar Tuan Carles pada Sean.

__ADS_1


"Senang bisa berbesan denganmu, Tuan Carles." Jawab Sean dengan tersenyum.


"Cucu-cucuku, baik-baiklah kalian ya. Jaga kepercayaan pasangan kalian," pesan Grandma pada keduanya.


Ternyata Grandma dan Grandpa Jennifer tidak bisa melewatkan acara ini. Mereka ikut bahagia.


"Terima kasih Grandma, Jenni akan selalu mengingat pesan Grandma.


"Jaga Jenni kami dengan baik, ya. Grandpa percaya padamu," timpal Grandpa pada Gerald.


"Baik, Grandpa. Aku akan selalu mengusahakan yang terbaik." Jawab Gerald dengan tegas.


"Kau akan menjadi bagian keluarga kami, jadi, jaga Jenniku baik-baik. Jangan sampai kau menyakitinya, jika hal itu terjadi, maka siap-siap saja kau menanggung akibatnya. Aku tidak peduli siapa dirimu," Diva sedikit memberikan ultimatum pada Gerald di sana. Baru juga bertukar cincin, Diva sudah memberikan ultimatum padanya.


"Baiklah, kak. Aku akan berusaha semampuku untuk membuat dia selalu bahagia, aku juga akan berusaha untuk selalu melindunginya." Jawab Gerald tegas. Bukannya dia takut pada Diva, tapi justru dia mempertegas dan meyakinkan Diva.


"Good, aku suka pria sepertimu." Diva memberikan dua jempolnya pada Gerald.


"Oke, bro. Kau akan menjadi kakakku, jadi sering-seringlah mentraktirku." Bukannya memberikan selamat, Julian justru yang di fikirkan hanya makanan. Dia menaik turunkan kedua alisnya saat berbicara itu pada Gerald.


"Kau ya, yang di fikiranmu hanya makanan." Sengal Fany saat mendengar Julian meminta traktiran pada Gerald.


"Suka-suka aku lah, kenapa kau syirik sekali? Apa kau iri?" Julian tidak kalah ketus pada Feny. Sudah hal biasa jika mereka berdebat setiap saat.


"Aku doakan setelah ini kalian menyusul," akhirnya Jennifer mengeluarkan suaranya.


"OGAH!" Ucap Fany dan Julian bersamaan.


Bahkan Ana dan Sean sudah tidak heran melihat kedua orang itu berdebat setiap saat.


Selesai acara tukar cincin, mereka memutuskan untuk makan bersama-sama. Kali ini Gerald berada di samping Jennifer, mereka berdua memang terlihat sangat tenang.


Acar memang hanya di hadiri keluarga masing-masing. Tapi acara itu masih di ketahui oleh orang-orang kepercayaan Sean.

__ADS_1


__ADS_2