Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 146 Season 2


__ADS_3

"Aku membiarkan mereka tidak bernyawa di sana," jawabnya dengan enteng. Riko mengusap wajahnya setelah mendengar jawaban Julian. Bisa-bisanya Julian membiarkan orang-orang itu tergeletak di sana.


"Aauwh... Auwh..." Ringis Julian karena Diva menekan kuat lukanya.


"Kau yang benar saja, kak? Uncle, apa kau masih mau dengannya? Dia sangat kasar sekali," ucapnya yang mulai ingin menggoda keduanya.


"Kau itu bersikap bodoh sekali," sengal Diva padanya.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" ucapnya menunjukkan wajah polosnya.


Diva menjitak kepala Julian dengan keras, ia pun meringis dengan jitakan dari Diva yang kuat.


"Tuan muda, kenapa kau tidak menghubungi kami. Masalah ini pasti akan menarik perhatian polisi setempat ," tutur Riko di sana. Bukannya apa, tapi berurusan dengan aparat setempat pasti akan membuat rumit saja.


"Mereka pasti tidak akan tahu kalau aku yang melakukannya." Jawab Julian enteng.


"Apa kau tidak melihat cctv di daerah sana?" Julian menepuk jidatnya cukup keras. Dia tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya.


Riko pun buru-buru memberitahukan anak buah Sean yang ada di markas untuk meretas cctv yang ada di lokasi tempat kejadian tadi sebelum kejadian itu di ketahui oleh aparat setempat.


Diva yang ada di sana menggeblak kepala Julian, memang mereka tidak pernah ada akur-akurnya.


"Kenapa kau memukulku?" Sengalnya pada Diva.


"Dasar ceroboh," ujar Diva lalu bergegas pergi menyusul Riko. Julian hanya mencebikkan bibirnya disana.


Malam hari....


Seperti biasa keluarga Sean akan berkumpul di ruang keluarga. Saat santai-santainya terdengar berita jika ada di temukan beberapa orang tergeletak tidak bernyawa.


Julian yang sedang asik memakan cemilannya pura-pura saja tidak mendengarnya.


"Siapa yang melakukannya, ya?" Ujar Ana saat melihat berita itu. Dirinya belum tahu jika itu adalah ulah dari anak bungsunya. Sean memandang Julian yang sedang asiknya memakan cemilannya seperti tidak ada apa-apa.


"Julian," panggilnya pada Julian.


"Yes, papi. Ada apa?" Jawabnya.


"Bagaimana dengan lukamu?" Tanya sang papi to the point.


"APA? Kau terluka, Jul? Sini mami lihat!" Elina terkejut mendengar hal itu.

__ADS_1


"Eng-enggak kok, mami. Papi bohong, orang Julian gak kenapa-napa kok." Bohongnya pada sang mami.


"Kau mau berbohong pada mamimu, Jul?" Ana melototkan matanya pada Julian. Julian tidak bisa mengelak lagi melihat sang mami seperti itu.


"Coba sini, mami mau lihat." Ujar Ana.


"Tidak, mami. Julian tidak kenapa-napa." la masih berusaha mengelak. Ana semakin memasang wajah horrornya, mau tidak mau Julian mendekat ke arah sang mami dan memperlihatkan luka yang ia terima.


Ana membelalakkan matanya mengetahui luka


yang ada di legannya, padahal dia sudah berusaha menutupi dengan memakai kaos panjangnya. Tapi malah sang papi membicarakan lukanya.


"Siapa yang melakukan ini padamu, hah?" Ana terlihat marah melihat Julian mendapat luka.


"Kau sangat galak melebihiku, sayang." Ujar Sean yang melihat kemarahan dari sang istri.


"Diamlah, aku tidak terima melihat putraku terluka seperti ini. Aku ibunya, aku juga pasti akan merasa sedih melihatnya begini." Ana marah. Entah marah pada suaminya atau marah pada orang yang sudah membuat Julian terluka tidak ada bedanya.


"Aunty tenang saja, orang yang membuat ljul terluka sudah tidak ada." Sahut Diva.


"Apa maksudmu?" Tanya Ana. Diva pun menunjukkan TV yang sedang memberitakan orang-orang yang tewas tergeletak di sana tadi.


"Jadi itu ulahmu, Jul?" Julian menganggukkan kepalanya dengan pertanyaan sang mami.


"Tenangkan dirimu, sayang. Julian pasti bisa mengatasi orang-orang itu," ucap Sean yang di angguki oleh Julian.


"Tidak bisa, enak saja." Ana tidak bisa di bujuk dengan rayuan Sean.


"Tenangkan dirimu, mam. Kami anak-anakmu pasti bisa menjaga diri," sahut Jennifer pada sang mami.


"Bisa apanya? Kemarin dirimu yang ingin di singkirkan, dan sekarang terjadi pada adikmu. Bagaimana bisa mami tenang," Ana benar-benar marah. Mereka hanya diam menyaksikan kemarahan dari sang mami.


"Siapa lagi yang melakukannya?" Sambung Ana.


"Tenangkan dirimu dulu, sayang. Anak buahku akan menangkap orang itu," ujar Sean menenangkan istrinya.


"Baguslah, biar nanti aku yang akan memberi dia pelajaran." Ucap Ana dengan menggebu.


Meninggalkan Ana yang saat ini sedang marah-marah, kita beralih ke satu sisi. Anak lelaki itu tengah berbicara melalui sambungan telfonnya.


"Hallo, dad. Bagaimana kabar daddy dan mommy di sana?" Tanyanya pada sang daddy.

__ADS_1


"Daddy dan mommy baik, bagaimana kabarmu di sana, son? Kau sudah lama tidak pulang." Tanya sang daddy di seberang sana melalui sambungan telfonnya.


"Gerald baik, dad. Gerald suka di sini," jawabnya.


Benar sekali jika dia adalah Gerald. Dia sedang berbicara dengan sang daddy yang melalui sambungan telfonnya.


"Kau suka di sana atau kau suka dengan seseorang di sana?" Tanya sang daddy mencoba menggodanya.


"Jangan mulai, dad. Gerald tutup dulu telfonnya, Gerald akan pulang waktu liburan nanti." Ucapnya pada daddy-nya lalu mematikan sambungan telfonnya secara sepihak. Padahal baru saja dia menghubungi sang daddy, karena tidak ingin membahas yang aneh-aneh, dirinya pun memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.


Sedangkan di sisi seberang sana...


"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa tidak kau berikan padaku?" Kesalnya karena tidak berbicara dengan putranya.


"Tenang saja, mom. Dia baik di sana," jawabnya pada sang istri. Istrinya pun hanya bernafas lega mengetahui putranya baik-baik saja di negeri seberang.


Kembali ke Gerald, dia hanya tersenyum tipis lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Dirinya pun memutuskan mengambil jaketnya dan mencari udara segar di luar.


Orang itu nafasnya memburu setelah melihat berita jika orang-orang bayarannya telah tewas dan tergeletak di sana.


"Hhaaahh... Susah sekali menghadapi keluarga itu," teriaknya murka karena usahanya tidak berhasil. Siapa lagi dia kalau bukan papa Cindy, ia terlihat sangat marah saat tahu orang-orang


Tidak berselang lama, terdengar suara keributan di depan rumah megah miliknya.


"Coba lihat, apa yang sudah terjadi." Perintahnya pada bawahannya yang saat ini bersamanya. Rambutnya ia acak-acak hingga tidak berbentuk lagi, dia sangat frustasi kali ini.


"Mereka sangat bodoh, hanya berhadapan dengan anak ingusan bisa terkalahkan." Gerutunya di sana. la menyenderkan dirinya di kursi yang ada di ruang kerjanya sambil memejamkan kedua matanya.


Baru saja ia terpejam, suara gebrakan pintu terdengar hingga membuatnya terkejut.


Braakk...


"Apa yang kalian lakukan?" Sentaknya melihat beberapa orang masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia melihat jika orang-orang itu bukan dari orang-orangnya.


"Bawa dia." Ucap salah satu di antaranya.


Dua orang mendekat ke arahnya dan mencekal tangan papa Cindy.


"Mau apa kalian? Lepaskan aku!" Ucapnya memberontak. Tapi usahanya sia-sia saja.


Orang-orang itu pun membawa papa Cindy pergi dari rumahnya. Ia terus saja memberontak tidak ada hentinya.

__ADS_1


Semua orang-orang yang ada di rumahnya terkapar lemah tidak bisa menolongnya. Alhasil dia di bawa oleh orang-orang tersebut ke tempat mereka.


__ADS_2