
Mereka yang ada di sana jarang sekali melihat sosok putra dan putri dari keluarga William, Julian yang sibuk mengurus markas, sementara Jennifer juga banyak membantu di markas.. Gerald yang berad di ujung pun tersenyum melihat tambatan hatinya terlihat cantik hari ini.
Hatinya berdebar tidak karuan melihat kecantikan Jennifer yang tidak lama lagi akan menjadi istrinya. Sementara Julian sedang menunggu di sisi kanan altar, dia duduk di tempat yang sudah di sediakan. Jennifer yang tengah di gandeng oleh Sean itu pun berjalan menuju altar.
"Waah... itu Jen? Dia benar-benar cantik. Dia terlihat seperti ratu kerajaan." Teman-teman mereka juga memandang takjub.
"Aunty, apa aku boleh bersama teman-temanku?" uzin Fany pada Ana yang berada di sampingnya.
"Sudah di sediakan tempat duduk untukmu. Kau harus ikut dengan Aunty, teman-temanmu tidak akan marah. Mereka pasti akan mengerti." Fany tidak bisa mengelak dengan ucapan Ana. Mau tidak mau dia ikut bersama Ana ke tempat yang sudah di sediakan untuknya.
"Eeh... itu Fany, kan? Kenapa dia menggunakan gaun seperti itu, dia nampak seperti Jennifer hari ini." Teman-teman satu circlenya itu bertanya-tanya, tetapi dia juga takjub sebenarnya dengan penampilan Fany hari ini. Jarang sekali mereka melihatnya, bukan jarang lagi, tetapi memang tidak pernah melihat Fany dengan penampilan seperti itu.
Julian di ujung sana juga tersenyum melihat Fany yang terlihat cantik. Sean mengulurkan tangannya pada Gerald, ia mempercayakan putrinya pada Gerald mulai sekarang.
"Jaga putri Papi baik-baik, Son. Kalau kau menyakitinya, Papi akan mengambilnya darimu," pesan Sean pada Gerald.
"Aku akan menjaganya dengan segenap hati, Pi. Dia menjadi tanggung jawabku sekarang." Tentu Gerald menerimanya dengan senang hati.
Tanpa mengulur waktu, mereka menghadap pendeta yang ada di sana dan segera melakukan pengucapan janji suci.
"Kalian sudah, siap?"
"Kami siap." Jawab ke duanya bersamaan.
"Tuan Muda Geralde Duston Carlos, bersediakah engkau menjadikan Nona Jennifer Arabella William sebagai pendamping hidupmu? Berjanji untuk selalu setia dan saling menjaga di waktu sekarang dan selama-lamanya?"
"Aku Geralde Duston Carlos, di hadapan tuhan dan para saksi. Aku bersedia menjadikan Jennifer Arabella William sebagai pendamping hidupku. Aku berjanji untuk selalu setia dan menjaganya, dari waktu sekarang sampai selamanya," jawab Gerald dengan lantang.
Pendeta pun beralih ke arah Jennifer. "Nona Jennifer Arabella William, apakah engkau bersedia menjadikan Tuan Muda Geralde Duston Carlos sebagia pendamping hidupmu? Berjanji untuk saling mencintai dan menjaga satu sama lain?"
"Di hadapan Tuhan dan para saksi, Aku Jennifer Arabella William, bersedia menjadikan Geralde Duston Carlos sebagai pendamping hidupku. Berjanji untuk saling mencintai dan menjaga satu sama lain."
"Di hadapan Tuhan dan para saksi kalian sudah sah menjadi suami istri, mempelai pria di persilahkan untuk mencium mempelai wanita."
Dengan perasaan haru dari ke duanya akhirnya mereka sah menjadi sepasang saumi istri. Gerald mendekat dan mencium kening Jennifer cukup lama. Semua tamu undangan bersorak ramai, tak terkecuali teman-teman Gerald dan Jennifer.
Mereka yang paling heboh dari para tamu lainnya. Bahkan tepuk tangan mereka terdengar keras, mereka ikut merasakan kebahagian dari teman dekatnya selama ini. Gerald kembali mencium kening Jennifer, mereka tidak bisa membohongi perasaan bahagia.
Setelah acara pengucapan janji itu selesai, Julian beranjak berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Fany. la mengulurkan tangannya pada Fany, nampak wajah bingung dari Fany dengan apa yang di lakukan oleh Julian.
"Ikutlah denganku," ajaknya.
"Aku? Ke mana?" Fany menunjuk dirinya sendiri di sana. Dia benar-benar bingung.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan sesuatu di hadapan semua orang. Kau harus ikut denganku," jawab Julian.
"Ikutlah, Fa. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk." Akhirnya Fany menerima uluran tangan dari Julian dan ikut dengannya.
Teman-temannya itu pun terheran melihat Julian membawa Fany ke atas altar. Untuk Jennifer dan Gerald menepi untuk sementara dan memberi ruang pada Julian dan Fany.
"Kenapa Julian membawa Fany ke atas sana, apa mereka juga akan menikah?" celetuk Marcus tiba-tiba. Dia asal bicara tetapi itu entah benar atau tidaknya.
"Kau jangan sembarangan. Kalau dia menikah pasti juga sudah memberitahu," sengalnya.
"Siapa tahu mereka sekalian, kan? Kau lihat saja pakaiana mereka berdua bagaimana!" timpal Marcus lagi. Karena memang mereka berpakaian layaknya ingin menikah.
"Kalian lihat saja. Tidak perlu berdebat," sahut Thea.
Kembali lagi ke arah Julian yang sudah beada di atas bersama Fany. Dia meminta mic pada mc yang ada di sana. Tanpa ragu-ragu, Julian memulai pembicaraannya di hadapan semua tamu undangan.
"Mohon untuk perhatiannya." Semua tamu undangan tertuju ke arah mereka, Fany yang berada di atas sana merasa tiba-tiba gugup tanpa tahu apa yang terjadi.
"Terima aksih atas kehadiran dan perhatiannya. Tidak berlama-lama, aku di sini akan mengatakan sesutatu hal." Julian menoleh ke arah Rika dan James yang berada di sisi kanan altar. Di dalam mode serius seperti ini, Julian terlihat keren dan cool.
"Mommy dan Papa, sebelumnya aku sudah meminta izin pada kalian. Dan sekarang, aku kembali meminta izin pada kalian dengan hal yang sama. Aku berniat menikahi putri kalian yang bernama Fany Nicolaus, izinkan aku menjadikannya pendamping hidupku."
"Huuhh... anak itu benar-benar di luar dugaan." Teman-teman Julian sangat terkejut dengan apa yang di katakan Julian saat ini. Benar-benar tidak menyangkah jika Julian melangkah cepat. Fany juga tidak kalah kaget mendengar ucapan Julian, apa ini yang di maksud kejutan untuknya, pikirnya.
Julian beralih menatap ke arah Fany dengan wajah yang serius. "Maafkan aku jika tidak memberitahumu sebelumnya. Mungkin ini akan sangat mengejutkanmu, tapi, aku bersungguh-sungguh dengan setiap ucapanku."
Ucapan Julian benar-benar membuat Fany terkejut, ia sampai bingung harus menjawab apa. Ini benar-benar mendadak sekali, lidahnya keluh tidak bisa berkata apa-apa. Para tamu ikut menantikan jawaban dari Fany.
Sementara Sean merasa bangga pada putranya yang tidak bertele-tele. Julian sudah meminta izin pada Sean dan Ana jika dirinya juga akan menikahi Fany. Setelah mendapat persetujuan dirinya segera mengurus semua yang di perlukan.
Ingat waktu dia berlari dari kamar Jennifer dengan terbirit-birit? Setelah mencerna ucapan dari jennifer itu lah dirinya juga memutuskan untuk menikah. Maka dari itu Sean membuat pesta yang sangat megah karena ke dua anaknya akan melakukan pernikahan secara bersamaan.
Fany menoleh ke arah Rika dan James, dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa di sana. Rika terlihat menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum. Ia mengatakan dari isyarat kepalanya jika semuanya akan baik-baik saja.
Fany meminta mic yang ada di tangan Julian, dengan sedikit gugup dia mulai berbicara.
"Ini sungguh-sungguh kejutan untukku, sampai aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi.... dengan izin Mommy dan Papa, aku bersedia menikah denganmu." Jawaban Fany membuat riuh tepuk tangan dan sorak sorai di sana.
"Yes..." Julian nampak gembira karena Fany bisa menerimanya. Kalau Fany menolak, mungkin dia akan malu di hadapan tamu undangan. Fany juga tersenyum di sana, semoga keputusan yang dia buat saat ini adalah keputusan terbaik.
"Lakukan sekarang, pendeta. Aku tidak mau menunda waktu lebih lama lagi," ucap Julian pada pendeta yang masih berada di atas sana. Dia benar-benar antusias untuk segera menikah.
"Apa harus sekarang?" tanya Fany.
__ADS_1
"Tentu, Honey. Aku tidak mau menunggu lama,"
"Bagaimana, Tuan dan Nona. Apa kita lakukan janji pernikahan sekarang?" sahut pendeta di sana.
"Lakukan saja,"
"Bagaimana, Nona?" pendeta itu tidak mau jika nanti Fany dalam keadaan terpaksa. Fany mengangguk dengan mantap.
Pendeta pun memulai dari Julian. "Tuan Muda Julian William, bersediakah engkau menjadikan Nona Fany Nicolaus sebagai istrimu? Berjanji untuk saling mencintai dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang?"
"Aku Julian William, di hadapan Tuhan dan para saksi. Aku bersedia menjadi Fany Nicolaus sebagai istriku. Mencintainya dalam keadaan suka atau duka, dalam keadaan sakit atau sehat, dalam keadaan susah maupun senang." Julian menjawab tanpa rasa ragu.
"Nona Fany Nicolaus, bersediakah engkau menjadikan Tuan Muda Julian William menjadi suamimu? Berjanji untuk saling mencintai dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang?"
"Ya... aku bersedia," jawaban singkat Fany.
Akhirnya mereka juga resmi menjadi suami istri. Dengan aba-aba dari pendeta, Julian mencium kening Fany. Semua keluarga besar mereka merasa terharu dan senang dengan kabar bahagia ini.
"Adikmu bergerak ceat, Babe. Dia tidak mau kalah, aku kira mereka tidak bisa bersatu karena sering ribut," celetuk Gerald di samping Jennifer.
"Ini baru adikku. Dia bergerak cepat, tidak seperti biasa yang petakilan," puji Jennifer pada Julian.
"Huhuhu... mereka benar-benar menikah dengan cepat. Tidak menyangka sekali aku dengan anak itu. Benar-benar mengejutkanku. Lalu dengan siapa nanti aku berteman?" Thea menangis terharu di sana. Ke dua teman karibnya sudah menikah.
Di saat teman-temannya heboh sendiri, hanya Robert yang bersikap tenang. Karena memang dirinya sudah tahu dan dia ikut membantu Julian mengurus semuanya.
"Kau tenang saja, Thea. Kami ada untukmu, jadi kau tidak perlu bersedih lagi." Marcus terlihat genit di sana.
"Kau sudah tahu, Land?" tanya Reiner yang melihat reaksi Robert tidak seheboh temannya.
"Tentu saja aku tahu. Aku tahu apa yang kau rasakan, Thea. Mereka juga teman masa kecilku, tentu aku juga merasakan apa yang kau rasa," jawab Robert. Dia paham sekali perasaan Thea saat ini.
Bukannya mereka tidak bahagia, tetapi masa-masa bersama pasti tidak akan terlupakan. Setelah ini mereka akan sibuk dengan dunia mereka masing-masing, tidak ada waktu main-main. Kalau Robert mungkin masih bisa bertemu dan berkumpul karena dia sendiri juga selalu bersama dengan Julian.
Ucapan-ucapan selamat mereka peroleh dari orang-orang terdekat. Thea terlihat memeluk ke dua temannya itu dan memberikan ucapan selamat pada ke duanya. Thea rasanya terharu, senang semua perasaan menjadi satu.
Julian dan Gerald juga mendapatkan ucapan selamat dari teman-teman mereka. Masih sempat-sempatnya mereka saling ledek saat ini. Memang mereka tidak pernah melihat sikon.
Hingga di akhir acara, sesi foto di lakukan. Keluarga William, keluarga Carlos dan keluarga dari Fany melakukan foto bersama. Foto itu akan di cetak dalam bingkai yang besar.
Terlihat sekali kebahagian dari keluarga besar mereka. Ke dua pengantin itu juga terlihat bahagia tanpa beban. Mereka tersenyum lebar tanpa ada rasa terpaksa.
"Satu... dua... tiga..."
__ADS_1
Gambar berhasil di ambil oleh salah satu fotografer di sana. Benar-benar menunjukkan keluarga yang rukun. Berbagai hasil gaya dari keluarga itu berhasil di ambil.
Pernikahan mereka merupakan lembaran baru untuk memulai kehidupan. Semoga mereka semua dalam keadaan bahagia selalu sampai maut memisahkan.