Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 56 Masalah Selesai


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Ana keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur sesuai apa yang di katakana sang mami mertua tadi.


Di sana sudah ada mami Sean yang sedang mengoleskan selai ke roti yang berada di sana.


"Makanlah, Ana. Mami juga sudah membuatkan susu untukmu." Perintah mami Sean pada Ana.


"Terima kasih, mi. Mami tidak perlu repot-repot."


Jawab Ana tidak enak.


"Sudah tidak apa. Sekarang makanlah dulu. Kasian nanti cucu-cucu mami di dalam sana kelaparan." Perintah mami Sean lalu memakan rotinya.


Ana pun mengambil makanan yang sudah tersedia di meja makan, "mami tidak makan?"


"Mami makan roti saja, mami tadi sudah sarapan sama papi di mension." Jawab mami Sean.


"Apa Sean tadi sudah makan, mi?" Tanya Ana lagi.


"Sepertinya belum, tadi dia langsung saja berangkat ." Jawab sang mami. Ana tertunduk lesu mendengar jawaban dari sang mami.


"Sudahlah, jangan fikirkan itu, Ana. Sean pasti sudah memesan makanan di kantor, paling nanti siang dia juga sudah pulang." Ucap mami Sean agar Ana tidak bersedih.


"Tapi, mi. Pasti ini gara-gara, Ana."


"Tidak, Ana. Tidak ada yang salah. Sekarang makanlah dulu, nak. Kau juga harus memikirkan anak-anakmu." Ucap sang mami lagi.


Tanpa berkata-kata lagi, Ana sarapan dengan perasaan yang seperti tidak mood sama sekali.


Sedangkan di sisi Sean...


la tampak melamun saat meeting berlangsung, entah dia mendengarkan pembahasan yang di sampaikan padanya atau tidak.


"Bagaimana, tuan?" Tanya James pada Sean.


"Kau lanjutkan saja." Jawab Sean singkat.


James yang melihat Sean seperti mempunyai banyak fikiran itupun melakukan tugasnya dengan baik.


Tak berselang lama, meeting yang diadakan itupun


berakhir.


"Ada apa dengan anda tuan? Sepertinya, ada yang mengganggu fikiran anda?" Tanya James pada Sean. yang tidak seperti biasanya.


"Huhh... Entahlah. Ana sepertinya sedang kecewa denganku?" Jawab Sean.


"Memangnya, ada apa tuan? Apa tuan mempunyai wanita lain?" Tanya James lagi.


"Sembarangan saja kalau kau berbicara." Sungut


Sean.


"Ana sepertinya kecewa denganku karena aku seorang mafia." Sambungnya.


"Jadi... nyonya sudah tau jika anda seorang pimpinan mafia?" Sean mengangguk dengan ekspresi malasnya.


"Lalu, apa yang akan anda lakukan, tuan?"


"Entahlah, aku tidak tau harus bagaimana." Jawab Sean yang terlihat seperti sangat putus asa.


"Kalau menurut saya, biarkan dulu nyonya untuk berfikir, tuan. Beri waktu untuk nyonya, pasti nyonya juga sangat terkejut dengan kenyataan ini. Apa lagi saat ini nyonya juga sudah mengandung, mood dan hormon kehamilannya pasti sering berubah-ubah." Jelas James. Seketika dirinya seperti sudah sangat ahli dalam urusan wanita.

__ADS_1


"Kau belajar dari mana seperti itu?" Ujar Sean yang sepertinya meragukan Robert.


"Tidak ada. Otodidak saja." Jawab James ngasal.


Sean hanya tersenyum miring mendengar jawaban James yang seadanya.


Niatnya ingin sedikit bercanda dengan asistennya, tapi jawaban yang di berikan James membuatnya tidak bisa berkata banyak.


"Kau urus hasil meeting tadi, nanti kirim ke emailku seperti biasa. Aku mau pulang dulu." Perintah Sean. Sepertinya, dia sangat kepikiran bagaimana Ana.


Sean menyambar jas miliknya lalu bergegas untuk pulang. Sean menenteng jas mahalnya begitu saja di tangannya, tidak memakainya seperti saat berangkat ke kantor tadi.


Dengan langkah sedikit cepat dia menuju ke mobilnya lalu melajukannya dengan cepat.


Hingga beberapa saat kemudian, Sean sudah tiba di halaman depan mensionnya. Ia melangkahkan kakinya masuk dengan lesu.


Sean terus saja melangkah menuju lantai atas tanpa memerhatikan sekitar. Sean juga tidak ingin mengganggu Ana, ia kira jika Ana masih marah dan kecewa dengannya.


"Itu, anakmu kenapa, mi?" Tanya papi Sean melihat Sean yang berjalan dengan tidak semangatnya.


Papi Sean sudah berada di sana setelah menjemput Diva sekolah tadi.


"Mungkin dia masih patah hati." Jawab mami Sean.


"Mami. Kalau papi tanya jawab yang bener, mi."


"Mami jawab yang sebenarnya, papi. Anakmu itu habis ada masalah dengan Ana. Tapi mami sudah berhasil membujuknya." Jelas mami Sean.


"Masalah apa? Kenapa papi tidak tahu?" Tanya papi Sean sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Begini, Ana sudah tau kalau kita dari keluarga mafia. Sean semalam pergi ke gudang persenjataan karena ada penyerangan. Ana sudah bangun sebelum Sean datang, jadi dirinya ketahuan. Mau tidak mau Sean jujur." Jelas mami Sean dengan singkat.


"Lalu... bagaimana?"


"Sudah aman, pi. Biarkan mereka nanti berbicara berdua." Ujar mami Sean.


Di sisi Sean, dia memandang Ana dari sebalik candela kamar, saat ini Ana berada di halaman belakang bersama Diva.


Sean memandang wajah Ana dari kejauhan tanpa bersuara. Setelah puas memandang Ana, ia memutuskan untuk ke lantai bawah.


"Kau sudah pulang, son?" Ucap sang papi pada Sean.


"Hemmm..." Sean hanya menanggapi dengan deheman. Dia kembali bersikap dingin.


Mami dan papi Sean hanya saling pandang.


"Apa ada yang tersangkut di tenggorokanmu?" Papi


Sean mencoba untuk mencairkan suasana.


"Tidak." Jawab Sean singkat padat dan jelas.


"Kau susul Ana sana. Aku tidak tega melihat wajahmu yang kusut itu." Celetuk sang mami. Passalnya, wajah Sean terlihat benar-benar sangat dingin dan lesu kali ini. Baru kali ini papi dan maminya melihat Sean yang seperti itu.


Tanpa bersuara Sean pergi menyusul Ana sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh sang mami.


Sesampainya di sana, Sean berdiri sedikit jauh dari Ana dan Diva yang sedang bercanda di sana. Sean ingin sekali mendekat, tapi dia merasa takut jika Ana menghindar lagi darinya.


Tanpa sengaja, pandang Ana tertuju pada Sean yang berdiri jauh darinya.


"Sean..." gumam Ana pelan.

__ADS_1


"Ada apa aunty?" Tanya Diva pada Ana.


"Tidak apa, Diva."


"Eemm... Diva... Diva bisa kembali dulu? Diva mau berbicara dulu pada uncle." Ucap Ana pelan.


"Memangnya, dimana uncle. Orangnya tidak ada."


Jawab Diva yang masih belum melihat kehadiran sang


uncle.


"Disana... nanti Diva suruh paman ke sini ya." Jawab Ana sambil menunjuk kearah Sean. Diva ikut menoleh kearah yang di tunjuk Ana.


"Oke aunty." Jawab Diva lalu beranjak pergi dari sana. Untungnya dia bisa memahami situasi saat ini.


Setelah Diva menyampaikan pesan pada Sean, ia lengsung masuk ke dalam.


Sean melangkahkan kakinya mendekat kearah Ana.


Wajahnya terlihat sayu dan lesu. Ana yang melihat wajah Sean sedikit merasa bersalah.


"Maafkan aku, Ana." Ucap Sean pelan. Ana diam tidak menanggapi ucapan Sean.


"Apa kau marah padaku?" Sambung Sean.


"Tidak, aku tidak marah." Jawab Ana.


"Justru, aku berterima kasih denganmu, Sean.


Dirimu sudah jujur denganku, meskipun aku sangat terkejut."


"Aku sangat beruntung bisa berada dalam lingkungan keluargamu. Mereka semua bisa menerimaku apa adanya. Aku sangat beruntung mendapatkan suami sepertimu meskipun jauh diluar sana masih banyak wanita yang lebih baik dan sepadan denganmu."


"Aku bisa menerima semua kenyataan ini, ini sudah menjadi jalan takdirku. Aku bahkan sangat berterima kasih kalian sangat melindungiku dari orang-orang di luaran sana." Ungkap Ana. Sean mencoba untuk mendengarkan setiap perkataan Ana tanpa ingin memotongnya.


Ana menangkup wajah Sean. "Aku sangat beruntung bisa menjadi istrimu, terima kasih banyak atas semua usahamu untukku. Terima kasih banyak kau sudah melindungiku. Aku begitu sempurna bisa dimiliki oleh dirimu." Ana tersenyum manis di hadapan Sean.


"Kau tidak akan meninggalakanku?" Sean ingin memastikan.


"Tidak... mana mungkin aku akan meninggalkanmu. Kau adalah suamiku, aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku akan menerima apa yang akan terjadi nanti.Entah itu hal besar atau kecil." Jawab Ana penuh keyakinan.


Senyum Sean kembali terbit setelah mendengar jawaban dari Ana. Ia memeluk erat tubuh Ana.


"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya, Ana ." Ucap Sean.


"Tidak, akulah yang harusnya berterima kasih. Kau sudah memilihku menjadi istrimu." Jawab na.


"Aku sangat takut jika dirimu tidak bisa menerima kenyataan ini dan meninggalakanku begitu saja. Mana bisa aku tanpamu." Ungkap Sean menyampaikan isi hatinya.


"Aku menerima semua yang ada di hidupku, meskipun itu terlihat sangat mengejutkan untukku."


"Terima kasih." Ujar Sean mengecup singkat kening Ana.


Sean bisa bernafas lega kali ini, batu besar yang mengganjal hatinya sudah hilang setelah mendengar ucapan dari Ana.


Ana juga bisa bernafas lega kali ini. Rasanya sangat ringan setelah dirinya bisa menerima semuanya dengan lapang.


Takdir memang sudah ada yang mengatur, siapa saja tidak bisa menebak bagaimana takdirnya nanti. yang bisa di lakukan adalah, menerimanya dengan lapang walaupun terkadang sangat berat dan merasa tidak mampu.


Selagi kita yakin, semuanya pasti bisa dilalui.

__ADS_1


__ADS_2