Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 141 Season 2


__ADS_3

Sean menunjukkan smirknya pada papa Cindy. " Apa semudah itu, tuan?"


"Istri dan putrimu sudah melakukan hal yang fatal," ujar Sean dengan tegas.


"Aku mohon padamu, tuan. Tolong lepaskan anak dan istriku, aku berjanji akan memberikan hukuman pada mereka. Semua orang telah mencibirku dan keluargaku, bahkan reputasiku menurun karena hal ini. Sepertinya, itu adalah hukuman untukku." Ujarnya pada Sean.


"Hahaha.... Bahkan di saat seperti ini kau masih mementingkan reputasimu di kota ini, tuan. Apa kau tidak khawatir dengan anak dan istrimu?"


"Tentu saja aku memikirkan mereka, tuan William. Jika aku tidak memikirkan mereka, untuk apa aku jauh-jauh datang ke mari memohon padamu agar melepaskan istri dan putriku." Jawabnya.


"Memangnya, apa yang bisa kau janjikan padaku jika aku melepaskan anak dan istrimu?"


"Aku akan memastikan jika putriku tidak akan berulah lagi, maafkan saya tuan."


"Kau memang harus mengajarkan putrimu itu untuk bersikap dengan baik, hanya karena mengejar laki-laki anak dan istrimu itu berani sekali ingin menyingkirkan putriku." Jelas Sean. Sepertinya, Sean tidak akan mudah untuk melepaskan Cindy dan mamanya.


"Bukan hanya sekali dua kali putrimu mengganggu putriku, tapi sudah beberapa kali. Bahkan putrimu pun tidak mempunyai rasa jerah saat putriku memberikan dirinya pelajaran." Imbuh Sean.


"Sekali lagi, maafkan atas kesalahan Putri dan istriku, tuan. Aku kali ini benar-benar memohon padamu, tolong lepaskan Putri dan istiku, tuan." la memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di depan Sean.


Sean tersenyum miring melihat papa Cindy memohon-mohon seperti itu. "Kembalilah, aku hari ini sangat sibuk." Usir Sean secara terang-terangan.


"Lalu, bagaimana dengan istri dan putriku, tuan? Tolong lepaskan mereka, aku mohon."


"Aku tidak janji untuk itu." Sean kembali tersenyum miring.


"Apa maksudmu, tuan? Apa kau tidak akan melepaskan istri dan putriku?" papa Cindy terlihat pias mendengar jawaban Sean yang tidak meyakinkan.


"Kau bisa kembali, waktuku berbincang sudah habis ." Sean kembali mengusir papa Cindy.

__ADS_1


"Tidak, tuan. Aku tidak akan pergi sebelum kau melepaskan anak dan istriku." Tolaknya keukeh untuk meminta Sean melepaskan Cindy dan mamanya.


"Bawa orang ini keluar dari sini." Perintah Sean. Beberapa anak buah Sean yang berada di sana melaksanakan apa yang di katakana olehnya. Mereka segera membawa papa Cindy keluar sesuai dengan ucapan Sean.


"Tidak, lepaskan aku. Aku belum selesai berbicara." Berontaknya pada orang-orang di sana.


"Tuan kami sedang sibuk, mohon pengertiannya." Ucapnya dengan sopan pada papa Cindy.


Papa Cindy ingin menerobos masuk kembali dan menemui Sean membujuknya agar Cindy dan mamanya di lepaskan. Tapi, dia kalah dengan penjagaan anak buah Sean. Karena papa Cindy yang selalu memberontak dan berteriak memaksa masuk, akhirnya mereka menyeretnya keluar dari lingkungan perusahaan tanpa belas kasih. Banyak pasang mata di sana yang melihat orang-orang Sean menyeret orang yang berpengaruh di kota itu.


Julian berjalan dengan langkah santainya itu mendengar setiap orang, mereka membicarakan soal Cindy dan mamanya kemarin. Julian yang terkadang memang memiliki jiwa kepo itupun menajamkan pendengarannya.


"Memangnya apa yang di lakukan orang itu, ada-ada saja. Namanya saja yang terkenal se antero kota, tapi sikapnya konyol sekali, hah." Gumamnya sendiri dengan wajah tengilnya.


"Papi yang se antero Eropa saja biasa aja," sambungnya menyombongkan sang papi. Ia melanjutkan perjalanannya menuju kelas tidak peduli dengan ucapan-ucapan orang di luar.


Di tengah-tengah perjalanan, dirinya teringat ucapan sang kakak kemarin saat berkata jika berurusan dengan Cindy yang selalu bertindak sebelum berfikir. Dirinya pun menghentikan langkah kakinya dan mengubah wajahnya menjadi sangat serius.


Julian memang belum tahu apa yang terjadi kemarin karena sudah asik dengan dunianya sendiri, sang kakak pun hanya mengatakan jika dirinya bermain-main. Papinya pun juga tidak membahas soal ini waktu berkumpul.


la masih berdiri mematung di sana, entah apa yang dia pikirkan. Sepertinya sangat serius.


Hingga tiba-tiba.... "DOORR..." Julian di kagetkan dengan gertakan dari seseorang. Dirinya terkejut dengan apa yang di lakukan orang itu.


"Aku banting baru tahu rasa kau." Ucapnya karena kesal setelah melihat siapa pelakunya.


"Hahaha.... Memangnya kau berani?" dirinya mencoba mengecek Julian. Julian ingin menjitak orang tersebut namun ia urungkan.


"Sudah pergi sana, kau mengganggu mataku saja. Kenapa harus bertemu denganmu setiap hari?" kesalnya.

__ADS_1


"Karena aku cantik, kau bisa rugi tidak bertemu denganku." Jawabnya dengan percaya diri di depan Julian.


"Ingin sekali aku menenggelamkanmu di laut," ujarnya lagi.


"Minggir sana." Dirinya pun menyingkirkan orang itu lalu kembali melanjutkan langkahnya. Orang itu pun memicingkan bibirnya.


"Salah siapa melamun pagi-pagi." Gerutunya lalu melangkahkan kakinya menuju kelas. Siapa lagi dia kalau bukan Fany. Dia melihat Julian yang berdiam diri tengah berfikir, muncullah ide untuk menyadarkan Julian di sana.


Skiipp...


Saat jam pelajaran Julian sepertinya tidak begitu fokus dengan apa yang di sampaikan oleh guru pengajar di sana. Dia masih memikirkan ucapan yang dia dengar tadi dan mengingat-ingat perkataan sang kakak kemarin. la ingin sekali bertanya pada sang kakak, tapi itu sangat mustahil. Pasti kakaknya tidak akan memberitahukan apa yang sedang terjadi kemarin.


Jam istirahat tiba, semua yang ada di sana segera keluar kelas masing-masing. Julian menenteng tasnya lalu segera keluar.


"Kau mau kemana?" tanya Marcus padanya.


"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan." Jawabnya lalu melenggang pergi.


Jennifer yang berada di sana hanya melihat kemana kepergian Julian, tidak biasanya Julian akan pulang lebih dulu. Jennifer pun segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Julian.


"Kau mau kemana?"tulisnya. Julian tidak tahu jika ia mendapat pesan dari sang kakak. la masih melangkahkan kakinya hingga di parkiran.


Julian segera memakai helm dan naik motor sport miliknya yang biasa ia gunakan. Julian menyalakan motornya lalu melajukannya dengan cepat. Entah kemana tujuannya kali ini hingga dirinya terburu-buru.


Sedangkan Jennifer yang ada di kelas hanya memandang layar ponselnya yang sudah tidak menyala, tidak ada balasan dari Julian. Jennifer pun membaca buku yang biasa ia baca, ia percaya jika sang adik bisa melindungi dirinya di luar sana.


Julian terus melajukan motor sportnya dengan kecepatan penuh, mungkin itu sudah hobinya yang suka membawa motornya dengan ngebut.


Setelah memakan waktu hingga hampir satu jam, akhirnya Julian sampai di lokasi. Ia melepas helmnya lalu turun. la segera masuk ke dalam dengan kaki jenjangnya.

__ADS_1


"Ada apa, tuan muda? Tidak seperti biasanya? Kau tidak pergi ke sekolah?" tanya Riko di sana. Ternyata Julian pergi ke markas sang papi kali ini.


__ADS_2