Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 275


__ADS_3

Kediaman Dario ...


"Lapor, Tuan. Kami berhasil membawa salah satu dari mereka," lapor anak buahnya di sana.


"Kau yakin?" raut wajah Dario terlihat sumringah mendengar laporan anak buahnya yang berhasil membawa apa yang ia minta.


"Kau tidak salah bukan?" Dario masih memastikan jika apa yang ia dengar dari bawahannya itu tidak salah.


"Tidak, Tuan. Kami berhasil membawanya," ujarnya meyakinkan Dario.


"Hahaha... bagus. Bawa aku bertemu anak itu." Dario beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya terlebih dulu. Bawahannya itu mengikuti langkah kakinya dari belakang.


Salah satu bawahannya membukakan pintu mobil untuknya, ia memiliki tempat tersendiri untuk membawa sandranya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jejeran mobil Dario dan para bawahannya seperti pawai.


Meninggalkan Dario beserta anak buahnya, kita melihat ke sisi Jennifer dan Fany yang juga baru saja tiba di markas. Mereka berdua melangkah dengan cepatnya untuk masuk ke dalam.


"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan informasinya?" baru saja tiba, Jennifer langsung saja bertanya pada Julian dan Robert.


"Mereka sudah mencoba melihat ke lokasi dari sinyal yang aku dapat dari ponselnya. Mereka hanya menemukan mobil kosong, dan masih ada barang miliknya. Bagaimana ceritanya?" ucap Robert pada Fany dan Jennifer.


"Ambilkan p3k," ujar Jennifer pada anak buah yang ada di markas.


"Aku dan Fany sedari tadi di buntuti beberapa orang. Kita berdua telah melawannya, dan sepertinya mereka juga membuntuti Thea. Sepertinya yang menjadi incaran adalah aku dan Fany, tetapi Thea yang mereka dapatkan ," tebak Jennifer dengan situasi yang telah terjadi.


"Apa kalian ada yang terluka?"


"Aku baik-baik saja, sebaiknya obati luka Fany." Julian yang mendengar ucapan Jennifer itu pun dengan cepat mendekat ke arah Fany dan melihat luka yang di terima oleh Fany.


"Aduduh ...," ringis Fany saat Julian menarik tangannya begitu saja. Tanpa sengaja Julian mengenai luka yang di telapak tangannya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau terluka seperti ini." Julian menoyor kepala Fany dengan pelan. Bohong jika dirinya tidak khawatir melihat Fany yang terluka walau luka itu terbilang kecil. Jennifer melirik malas dengan dua pasangan itu, yang entah kapan mereka akan resmi mejalin hubungan.


"Kau ini. Kenapa kau menoyor kepalaku? Apa kau tidak melihat aku sedang terluka!" sengal Fany karena mendapat hadiah dari Julian.


"Yang terluka tanganmu, bukan kepalamu." Julian membantah ucapan Fany.


Anak buah yang Jennifer pinta telah kembali dengan membawa satu kotak p3k. Julian memintanya dengan cepat. Di ambilnya kapas dan obat cair untuk mengobati luka Fany.


"Biar aku yang obati sendiri." Fany menolak untuk di obati Julian.


"Sudah diamlah!" Julian juga menolaknya. Ia tidak membiarkan Fany mengobati lukanya sendiri.


Dengan telaten Julian mengobati luka Fany, perlahan-lahan ia lakukan agar Fany tidak kesakitan. Fany menatap wajah Julian yang dengan serius mengobati lukanya. Terdapat perasaan aneh yang menyelimuti dirinya, ia terlihat senang mendapat perhatian kecil dari Julian.


Jantung yang baisanya tidak berdetak kencang kali ini berdetak dengan kencangnya. Ia berharap jika Julian tidak sampai mendengarnya.


"Ehheemm kalau suka bilang saja. Jangan diam-diam menatap seperti itu," celetuk Robert yang melihat tatapan Fany pada Julian.


Sebenarnya Julian juga sadar dengan yang di lakukan Fany, tetapi dirinya diam saja. Ia tidak mau jika nanti Fany kembali ke setelan pabrik, kembali judes dan selalu ngegas. Dia diam saja agar Fany juga bisa puas menatapnya dalam diamnya.


"Apa kau juga meminta anggota di sini untuk membersihkan tempat tadi?" tanya Jennifer megalihkan pembicaraan. Ia tahu jika kali ini Fany terlihat salting, ia memberikan kesempatan untuk Fany dan Julian menikmati waktu berdua.


"Hmm... tentu saja aku meminta mereka juga membersihkan tempat itu. Jangan sampai polisi setempat atau orang sekitar tahu akan hal ini," jawab Robert mengiyakan Jennifer. Robert meminta anak buahnya di sana untuk mendatangi lokasi tadi tanpa di pinta oleh Jennifer. Mana mungkin mereka akan membiarkan begitu saja orang-orang tidak bernyawa itu tergeletak di sana.


"Tumben sekali kau hanya berdua, biasanya Gerald selalu bersamamu?" sambung Robert.


"Hidupku bukan hanya bergantung dengannya selama 24 jam. Dia juga memiliki dunia sendiri," jawab Jennifer dengan serius.


Status mereka memang sudah tunangan, tetapi Jennifer juga tidak mau bergantung dengan Gerald dalam hidupnya. Mereka juga memiliki dunia masing-masing, tidak selalu ke mana-ke mana, tidak selalu mereka setiap hari berdua. Selagi menjaga kepercayaan satu sama lain, tidak akan menjadi masalah dalam hubungan.

__ADS_1


Itu sudah menjadi prinsip dari Jennifer. Jennifer tidak pernah membatasi Gerald ke mana pun dia saat ini. Gerald juga pasti sibuk dengan anak-anak buahnya, tahu sendiri jika dirinya selama di jerman tidak mengenal banyak orang.


Yang ia kenal hanya Julian dan teman-teman satu circlenya.


"Ya kan siapa tahu. Biasanya anak itu tidak pernah jauh darimu," ujar Robert.


"Tidak. Dia buru-buru untuk cepat pulang, dia harus kembali ke Amerika,"


"Benarkah? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku?" ucap Robert.


"Memangnya kau siapa dia? Kenapa juga Gerald harus mengatakan padamu?" Fany menyahut dengan nada bicara yang tidak biasa.


"Kalau dia mengatakan padaku, aku bisa memita oleh-oleh padanya," jawab Robert dengan enaknya.


Yang tidak terima di sana bukannya Jennifer, tetapi Fany. Ia memincingkan bibirnya mendengar jawaban dari Robert. "Bukannya kau juga anak sultan? Kenapa juga kau tidak pergi sendiri. Dasar tidak modal!"


"Kenapa kau yang sewot. Jen saja tidak ada masalah ," sinis Robert.


Julian menekan sedikit luka Fany yang tengah berdebat dengan Robert. Sang empunya itu pun meringis kesakitan karena ulah Julian. "Auush... kalau kau tidak ikhlas lebih baik tidak usah!"


"Kau diam saja. Jangan berissik!" sarkas Julian.


"Fe, apa ini berhubungan dengan orang yang kau temui tadi?" tanya Jennifer yang mengingat mereka bertemu dengan Arion.


Fany berpikir sejenak dengan apa yang di ucapkan Jennifer. "Memangnya dia siapa? Aku juga tidak tahu siapa dia?"


"Siapa yang kau temui tadi?" seketika Julian menghentikan aktifitasnya.


"Apa kau ingat laki-laki yang bertemu kita kemarin di perpustakaan. Aku bertemu kembali dengannya tadi. Tadi tidak sengaja dia menenggor Thea di sana," jelas Fany pada Julian.

__ADS_1


Robert memandang Julian yang hampir selesai membalut luka Fany. Mereka berdua sudah mencari tahu siapa sebenarnya orang itu, tetapi mereka masih diam belum memberitahukan Fany dan Jennifer siapa orang itu.


"Persiapkan semuanya," perintah Julian dengan singkat. Robert paham dengan perintah Julian walau itu sangat singkat, tetapi itu sudah sangat jelas. Tanpa berbasa-basi Robert melangkah pergi dari sana.


__ADS_2