
Udah tau belum karya author yang berjudul kembali ke masa lalu Yuk mampir yaa
Sirene 120 bpm meraung ketika ambulans melintasi pusat kota.
Di sisi lain, ketika Amanda Patrick yang tengah berbaring di mobil ambulans berangsur-angsur kehilangan kesadarannya dia mendengar suara seorang dokter dan perawat.
Ponselnya diambil oleh perawat. Kemudian, dia mendengar perawat itu berbicara lewat telepon.
"Apakah ini suami Amanda Patrick? Istri Anda mengalami kecelakaan mobil. Saat ini dia sedang dilarikan ke rumah sakit, tolong..."
"Apakah dia mati?"
Suara dingin di seberang telepon langsung menginterupsi perawat itu.
Tertegun, perawat itu menjawab tanpa berpikir dua kali, "Tidak, belum."
"Saya sangat sibuk. Beritahu saya kalau dia mati. Nanti Saya akan kesana mengambil mayatnya."
"Halo..."
Bip-
Sebelum perawat itu menyelesaikan kata-katanya, telepon sudah terputus. Nada putus yang terdengar dari seberang telepon, seolah mengejek Manda karena telah menyanjung dirinya sendiri.
Manda juga tidak tahu apa yang terjadi padanya. Saat dia kehilangan kesadaran, dia bisa dengan jelas mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Kevin Anderson.
Sambil tersenyum pahit, Manda perlahan menutup matanya.
Lupakan saja, beberapa orang terlahir dengan hati dingin yang tidak akan pernah bisa dihangatkan.
Kenapa aku berharap bisa menyentuh hatinya suatu hari nanti?
Setelah itu, tangannya jatuh tak bernyawa ke tanah.
"Jantung pasien sudah berhenti berdetak..."
Manda duduk di tempat tidur sambil menatap tangannya yang cantik dan ramping dengan mata kosong. Tidak ada bekas luka sedikit pun yang terlihat di kulitnya.
Apa yang terjadi?
Bukankah aku dilarikan ke rumah sakit setelah kecelakaan mobil?
Bagaimana aku bisa terbangun di kamarku? Dan kenapa aku tidak terluka?
Pada saat ini, pikiran yang tidak logis muncul di benaknya.
Tiba-tiba dia mengangkat matanya untuk melihat jam di dinding. Waktu yang ditunjukkan adalah ...
__ADS_1
1 Januari 2020.
"Aku... Aku terlahir kembali?" Batin Manda.
Meskipun ini adalah hal yang hanya bisa terjadi dalam novel, ini juga satu-satunya penjelasan yang masuk akal kenapa dirinya baik-baik saja dan jam di kamar tidurnya sendiri menunjukkan waktu setahun yang lalu.
"Apakah ini artinya Tuhan memberiku kesempatan lagi untuk membuat keputusan?" pikirnya.
Mengingat kata-kata Kevin yang dingin dan tak berperasaan sebelum kematiannya, Manda menertawakan dirinya sendiri.
Kemudian, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu dan membuka meja di samping tempat tidurnya.
"Sudah kuduga..."
Manda mencibir ketika melihat kata "Surat Cerai".
Kemarin Kevin telah mengirimkan dokumen ini kepadanya melalui pengacaranya, karena dia tidak cukup sabar untuk membahas masalah perceraian mereka dengannya secara pribadi.
Di kehidupan sebelumnya, Kevin menolak untuk bercerai dan hal itu memperburuk hubungannya dengan Manda secara signifikan selama setahun ke depan. Ketika dia berusaha menyelamatkan pernikahan mereka, Kevin menolak untuk kembali ke rumah. Bahkan jika dia kembali ke rumah, dia juga menolak untuk berbincang-bincang dengannya.
Kevin sendiri tidak bisa mengerti apa yang dia perjuangkan, dia tidak bisa menjelaskan kenapa dia bersikeras untuk berada dalam pernikahan yang hanya tinggal sekadar status.
Dia ingin tetap berada di sisi Kevin, karena dia percaya, sebagai istrinya mungkin dia akan dapat menyentuh hatinya suatu hari nanti.
Tetapi, pada kenyataannya, Kevin menolak untuk memedulikannya bahkan ketika dia berada di ambang kematian setelah kecelakaan mobil. Tampaknya, Kevin juga telah menantikan kematiannya.
Kevin bagaikan pembunuh terampil yang dengan mahir menikam jantungnya berkali-kali.
Bahkan betapa kesakitannya Manda, ia juga tidak ingin melepaskan Kevin.
Semakin Manda memikirkan masa lalu, semakin dia menganggap dirinya konyol.
Segera, ia mengambil surat cerai itu dari laci kemudian membaca semua persyaratan-persyaratan yang tertulis dengan teliti.
Meskipun Kevin tidak memiliki perasaan pada dirinya, tapi Kevin masih sangat murah hati.
Dengan aset yang akan dia terima dari perceraiannya, Manda masih dapat menjalani kehidupannya dengan sangat nyaman, dia tidak mungkin dapat menghabiskan semua uang itu bahkan meskipun dia menggunakannya di beberapa kehidupan.
Setelah membaca dokumen itu, Manda lekas pergi ke ruang belajar.
Setelah memasuki ruang belajar dengan sebuah dokumen di tangannya, Manda segera menelepon pengacara Kevin.
"Tuan Lance, aku sudah menandatangani dokumen perceraiannya setelah membuat beberapa perubahan. Jika tidak ada masalah, tolong segera berikan kepada Kevin. Minta dia untuk segera menandatanganinya."
Ada ketukan di pintu kantor presiden PT. Anderson.
"Masuk."
Kepala konsultan dan pengacara dari PT. Anderson, Bryan Lance, membuka pintu kantor dengan map di tangannya kemudian berjalan ke arah Kevin dengan ekspresi yang rumit terpampang di wajahnya.
__ADS_1
Mendongak, Kevin yang memperhatikan Bryan langsung bertanya dengan santai, "Apa sia masih tidak mau menandatangani dokumennya?"
Suara dingin Kevin dapat membuat bulu kuduk semua orang merinding. Tidak ada guratan emosi yang aneh di wajahnya bahkan ketika dia mengangkat topik perceraiannya.
"Tidak, dia sudah menandatanganinya. Tapi..." Bryan terdiam sesaat.
"Tapi apa?"
"Dia membuat beberapa perubahan pada pembagian propertinya."
Ujar Bryan melaporkan seraya menyerahkan dokumen-dokumen itu pada Kevin.
"Apakah dia berpikir bahwa aset yang aku berikan terlalu sedikit?"
Kevin mencibir.
"Benar saja, dia juga wanita yang serakah. Tidak peduli seberapa besar dia mencintai seseorang, pasti dia tidak akan bisa menahan godaan uang," batin Bryan sambil mengerucutkan bibirnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Kevin tidak menunggu Bryan berbicara. Segera, mengambil surat cerai yang telah ditandatangani Manda, seketika dia membeku.
Dibandingkan dengan setumpuk dokumen yang dia kirimkan padanya, yang merincikan alokasi aset setelah perceraian mereka, di sini hanya ada satu lembar kertas surat perceraian.
Di atasnya, Manda telah menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak akan diberi aset apa pun.
Selain itu, ada juga perjanjian pengalihan saham, yang menyatakan bahwa 5% saham PT. Anderson yang dimiliki Manda akan dialihkan kepada Kevin dengan tanpa syarat.
Jadi, Manda yang kemarin bersikeras tidak setuju dengan perceraian, telah menandatangani surat cerainya tanpa menginginkan aset apa pun?
Selain itu, Manda juga memberikan Kevin apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Ekspresi Kevin seketika membeku, sejenak dia tidak bisa merasakan emosi apapun.
Apa gerangan yang akan Manda lakukan?
"Apa lagi yang dia katakan?"
Kevin tidak percaya bahwa Manda akan menyetujui perceraiannya begitu saja.
Dulu, Manda telah berusaha keras untuk menyenangkan kakeknya supaya Kakek memaksa Kevin agar ia menikahi Manda. Jadi, mana mungkin dia bisa melepaskan posisinya sebagai istri dari presiden PT. Anderson dengan mudahnya?
Kevin mengernyit dan beberapa lipatan mulai muncul di kertas itu. Tanpa sadar dia telah mengeratkan cengkeramannya pada surat perceraian itu.
Asistennya, Alex menyadari ekspresi Kevin yang frustasi, langsung berpikir bahwa Manda telah merevisi persyaratannya agar memuat lebih banyak aset jadi diam-diam Kevin membencinya.
Yok Mampir ke karya author yang baru
Jangan lupa untuk di like, gift vote and koin kalau adaðŸ¤
follow juga author ya
__ADS_1