Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 71


__ADS_3

Sean tidak peduli dengan permohonan wanita tadi, ia melangkahkan kakinya mendekat kearah Ana dan anak-anaknya.


Wanita itu hanya bisa menangis karena nasib yang akan ia terima. Semua orang disana tidak berani mendekatinya karena takut jika mereka akan terkena imbasnya.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Sean mendekat kearah Ana.


"Tidak, hanya kepalaku sedikit pusing." Jawab Ana.


"Ayo kita pulang." Ajak Sean.


"Sebentar, biarkan aku berbicara pada mereka dulu ya? Aku sudah lama tidak bertemu teman-temanku.” Bujuk Ana agar bisa berbicara sebentar dengan teman satu ruangannya dulu.


"Ajak mereka ke mension," ujar Sean.


"Apa boleh?" Tanya Ana memastikan. Sean mengangguk menyetujui, Ana tersenyum senang.


"Ayo. Kalian ikut aku." Ajak Ana pada kedua temannya.


"Tapi, Ana. Kami masih banyak pekerjaan." Jawab mereka, sebenarnya mereka juga ingin tahu dimana Ana tinggal selama ini.


"Ikutlah. Aku memberikan kompensasi pada kalian." Tegas Sean.


"Sudah, ayo. Kau dengar sendiri bukan." Ajak Ana lagi. Kedua teman Ana itupun mengikuti langkah Ana dan Sean.


Sean memilih satu mobil dan Ana tidak lupa juga dengan Diva dan twin J. Sedangkan teman Ana menggunakan mobil satunya.


Hari ini menjadi berita yang sangat mengejutkan dan menggemparkan bagi semuanya. Dimana Sean mengatakan jika Ana adalah istrinya. Semua karyawan akhirnya tahu siapa Ana sekarang, mungkin mereka semua akan berhati-hati lagi dalam bersikap pada orang lain. Kita tidak tahu bukan, siapa yang akan kita hadapi.


Di atas langit masih ada langit. Orang yang terlihat biasa saja dalam penampilannya belum tentu orang itu rendah dari kita semua.


Mereka semua tiba di mension Sean yang luas itu. Kedua teman Ana memandang takjub kesekeliling halaman yang ada di mension Sean. Halaman yang cukup luas, memiliki kandang peliharaan seperti berada di kebun binatang. Tak lupa juga bangunan megah dari mension Sean.


Kedua teman Ana mengangan lebar melihat semua itu. "Rika... apa kita tidak salah?" ucap temannya.


"Ini istana Clare, bukan hanya sekedar rumah." Jawab Rika dengan mata yang masih memandang takjub sekeliling.


"Ana beruntung, bisa mendapatkan tuan Sean." ungkap Clare. Teman dari Ana dan Rika.

__ADS_1


"Kalian, ayo masuuk." Ajak Ana sedikit berteriak mengajak kedua temannya untuk masuk kedalam mension.


Sean sudah berjalan lebih dulu, mode marahnya marahnya sepertinya belum menghilang. Sean langsung saja melangkahkan kakinya masuk dan berjalan ke ruang bekerjanya.


Kedua teman Ana mendekat setelah Ana memanggilnya. Langkah mereka masuk kedalam mension besar itu. Mulut mereka kembali menganga lebar setelah melihat desain interior di sana.


Barang-barang mewah dengan tata letak ruang dan benda yang sangat teratur.


Ana mengajak mereka duduk di ruang berkumpul agar lebih enak suasananya. "Tuan Sean kemana Ana?" tanya Rika yang tidak melihat Sean disana. Padahal tadi mereka bersamaan ke mension Sean.


"Dia keruang kerjanya sebentar." Jawab Ana.


Beberapa maid datang menghampiri dengan membawakan cemilan untuk teman-teman Ana.


"Ini anak-anakmu, Ana? Astaga... mereka sangat lucu sekali. Aku tidak tahu jika kalian sudah mempunyai anak-anak yang imut seperti ini." ungkap Clare melihat twin J yang di biarkan bermain di karpet bulu dengan Ana.


"Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami, Ana ." Sahut Rika.


"Maaf, kami memang sudah sepakat tidak pernah memberitahu semua orang diluaran sana. Karena ada sesuatu." Jawab Ana.


"Sudah diamlah, Rika Kau terlalu kepo dengan urusan orang lain." Sahut Clare. Rika hanya mengerucutkan bibirnya.


Mereka memutuskan untuk berbincang dan bermain-main dengan twin J.


Sedangkan di sisi Sean...


la berbicara dengan sang asisten melalui sambungan telfonnya.


"Apa kau sudah mengurus semuanya, James?" tanya Sean melalui sambungan telfonnya. Sean duduk dan melonggarkan dasinya.


"Saya sudah mengurusnya, tuan. Karyawan wanita tadi sudah saya keluarkan dari sini, agak susah tadi karena dirinya terus saja memberontak." Jelas James di sana.


"Saya juga sudah pastikan jika karyawan tadi tidak akan bisa diterima dimanapun dia bekerja." Sambung James.


Begitulah nasib mereka yang sudah membuat Sean marah dan tersinggung, siap-siap saja jika akan menerima ganjarannya.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Sean kembali.

__ADS_1


"Saya juga memecat mereka yang pernah berbuat kasar pada nyonya. Tapi, saya masih membiarkan mereka untuk bisa bekerja di luar.


"Buat mereka semua yang tahu siapa Ana bungkam tidak menyebar berita ini. Agar identitas Ana tidak terancam. Jika salah satu dari mereka membocorkan akan hal ini, keluarkan dia. Aku tidak mau menerima serorang penghianat dalam perusahaanku." Perintah Sean dengan tegas.


James mengerti dengan semua yang Sean perintahkan. Tanpa berlama-lama, James yang berada di sana membereskan semua ini.


Sean segera menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santainya. Dia memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, ia ingin menemani istri dan anak-anaknya di rumah.


Sean turun dari tangga dengan langkah cepatnya.


"Ana, apa tuan Sean tidak akan marah jika kita berada disini?" bisik Rika pada Ana. Dia takut jika Sean akan memarahinya seperti yang ia lihat di kantor barusan.


"Aku baru tau jika tuan Sean bisa menyeramkan seperti itu saat marah." Bisik Rika lagi.


"Dia tidak akan marah, tenanglah. Dia tidak pernah marah di rumah." Jelas Ana. Rika mengangguk mendengar jawaban dari Ana.


Setibanya di bawah, Sean mendudukkan dirinya di samping Ana. Sean mencium pucuk kepala Ana dan di saksikan oleh kedua teman mereka. Mereka berdua menganga lebar melihat tingkah Sean yang tiga ratus enam puluh derajat berbeda saat dirinya di kantor.


Saat dikantor dia terlihat sangat dingin dan datar, tetapi saat di mension dia berubah menjadi hangat seperti itu.


Sean mencium pucuk kepala Ana tanpa memperdulikan kehadiran kedua teman Ana. Dia sangat Pede. "Apa masih sakit?" tanya Sean lembut.


"Aku tidak apa-apa, Sean. Kepalaku sedikit sakit karena jambakan tadi." Jawab Sean. Sean mengelus-elus pucuk kepala Ana dengan lembut.


Tidak lama kemudian, Sean menoleh kearah kedua teman Ana yang menganga lebar melihat pertunjukan di hadapannya.


"Kenapa kalian membuka mulut seperti itu?" celetuk Sean membuat mereka berdua tersadar mendengar suara berat Sean.


"Eeehh.. ehh.." "ucap Rika dan Clare bersamaan.


"Bagiamana kami tidak menganga lebar, tuan. Anda melakukan adegan romantis itu di depan kami. Sepertinya kami tidak anda anggap sama sekali. Harusnya anda tau jika kami ini masih jomblo." Keluh Rika. Seketika ketakutannya pada Sean lenyap setelah melihat adegan yang membuat mata mereka panas.


"Dunia serasa hanya milik kalian berdua, kita di sini hanya ngekos deh rasanya." Sambung Rika mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Uncle memang begitu, kak. Aku sampai bosan melihatnya." Ketus Diva menanggapi jawaban Rika yang panjang lebar itu.


Diva memang setiap hari melihat Sean yang selalu bersikap manis dengan Ana tanpa melihat sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2