
Diva mendekat karena Sean tengah memanggilnya. Sean memeluk keponakan satu-satunya.
"Kalau Diva kenapa-napa, uncle akan merasa bersalah pada mama dan papa Diva. Karena uncle sudah gagal menjaga Diva dengan baik." Ucap Sean. Tidak terasa, jika air mata Diva menetes mendengar ucapan dari Sean.
"Diva jika besar nanti harus kuat, oke." Sambung Sean memegang kedua pundak Diva.
Diva mengangguk dengan air mata yang tersisa di kedua matanya. Sean kembali memeluk keponakan kesayangannya. Ana ikut terharu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya saat ini.
"Sekarang kalian pulang dulu, oke. Uncle masih ada urusan yang harus uncle selesaikan." Ujar Sean.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan Sean?" tanya Ana.
"Aku akan mengurus berandal-berandal iku. Kamu pulang dulu, kasihan nanti Julian dan Jennifer." Ucap Sean lembut. Ana harap-harap cemas dengan apa yang akan di lakukan oleh Sean.
"Jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja." Ucap Sean mengelus pipi lembut Ana. Sean seakan tahu apa yang sedang di fikirkan Ana saat ini.
"Kau harus berjanji padaku. Kau tidak boleh kenapa-napa." Ucap Ana lagi. Sean mengangguk dengan ucapan Ana. Sean mencium kening Ana sejenak.
Sean memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan Ana dan Diva ke mension utama. Sean memutuskan untuk tidak kembali terlebih dahulu karena ingin mengurus musuh bebuyutannya.
"Panggilkan Riko kemari." Perintah Sean pada anak buahnya.
Tidak berselang lama, Riko datang menemui Sean.
"Bagaimana orang itu?" tanya Sean to the point. Wajahnya seketika menjadi menyeramkan.
"Dia ada di ruang bawah tanah, tuan. Apa yang akan kita lakukan?" tanya Riko.
"Aku akan hubungi tuan Carles. Kita akan datang ke Amerika untuk membumi hanguskan mereka." Perintah Sean.
Carles merupakan mafia yang berkuasa di Amerika. Kelompoknya dan kelompok Sean terlibat pertemanan yang sangat akrab. Sean tidak bisa sembarangan masuk ke negeri orang dengan mengacaukan yang ada di sana.
"Siapkan anggota kita untuk keberangkatan ke sana." Sambung Sean.
Riko segera menjalankan tugas yang di beri Sean. Sean mengambil ponselnya dan menghubungi Carlo yang berada di Amerika. "Hallo, tuan Carles." Sapa Sean melalui sambungan telfonnya.
"Hallo, tuan William. Bagaimana kabarmu, tuan William? Lama sekali kita tidak berjumpa." Carles menerima panggilan Sean dengan senang hati.
__ADS_1
"Aku di sini baik, tuan Carles. Bagaimana denganmu ?" Sean bertanya kembali.
"Aku pun baik, tuan William. Ada yang kau perlukan tuan William? Kau pasti ada keperluan untuk menghubungiku." Carles sepertinya sangat hafal bagaimana Sean.
"Kau memang sangat bisa memahamiku, tuan Carles."
"Aku menghubungimu karena aku membutuhkan bantuanmu." Ucap Sean yang mulai mengarah ke arah serius.
"Katakan tuan, William." Ucapnya di balik sana.
"Aku butuh bantuanmu untuk membuka akses untukku masuk ke sana. Aku ingin membumi hanguskan kelompok Leon, dia sudah berbuat ulah di sini. aku tidak akan membiarkan mereka menginjak bumi lagi." Ucap Sean tegas.
"Aaahh... kelompok itu? Dia memang selalu membuat ulah. Aku akan membantumu, aku juga akan menyiapkan anggotaku untuk membantu anggotamu, tuan William. Aku juga sudah geram dengan kelompok mereka." Ucap Carles.
Sepertinya, Sean saat ini sangat beruntung. Dia mendapatkan teman yang juga mempunyai musuh yang sama dengannya.
"Datanglah ke sini, kami akan menyambutmu."
"Terima kasih, tuan Carles. Aku akan datang secepatnya." Ternyata hal yang sangat mudah bagi Sean untuk bisa ke sana dan membumi hanguskan kelompok Leon.
Melihat ke mension utama...
"Apa kalian tidak kenapa-napa? Apa kalian tidak ada terluka?" tanya mami Sean yang terlihat sangat yang khawatir.
"Bagaimana cucu grandma ini? Apa tidak ada yang terluka?" mami Sean membolak-balikkan tubuh Diva memastikan jika Diva tidak kenapa-napa.
"Tidak, grandma. Uncle menyelamatkan kami tepat waktu." Jawab Diva.
Mami Sean langsung saja memeluk Diva. "Syukurlah Diva tidak kenapa-napa. Grandma sangat khawatir pada Diva." Ucap mami Sean.
"Mii... biarkan mereka duduk dulu. Masa iya mami tega membiarkan mereka berdiri. Biarkan mereka duduk menenangkan diri dulu, mereka pasti masih merasa syok ." Tegur papi Sean pada sang istri.
Mami Sean segera membawa Ana dan Diva untuk duduk dan memerintahkan maid yang ada di sana untuk mengambilkan minum untuk keduanya.
Kembali lagi ke markas....
Anggota Sean sudah mulai bersiap-siap untuk keberangkatan mereka. Sebagian dari mereka membawa helikopter dan sebagian lagi mereka membawa jet yang di khususkan untuk kelompok mafia Sean.
__ADS_1
"Bawa dia, Ko." Perintah Sean saat berada di ruang bawah tanah.
Riko memberikan penutup kepala bewarna hitam untuk menutupi kepala Leon. Anak buah Sean membawa paksa Leon pergi dari sana.
Sean kembali berjalan keluar. Ia memerintahkan anggotanya yang terbilang kuat di sana untuk berjaga selama dia berada di Amerika.
Tidak lupa juga jika Sean memerintahkan anak buahnya untuk memberitahukan Ana jika dirinya akan pergi ke Amerika setelah ini.
Semuanya sudah siap. Mereka masuk ke kendaraan masing-masing.
Sean berada di salah satu helikopter yang ada di sana. Tidak lupa juga jika Riko ikut dalam perjalanan Sean kali ini. Untuk Leon dia di amankan oleh anak buah Sean.
Helikopter yang ada di sana sudah mulai mengudara. Mereka langsung saja menuju ke Amerika tanpa berlama-lama.
Kali ini, Sean tidak akan membiarkan kelompok Leon berdiri lagi. Sean akan membumi hanguskan semua kelompok Leon dengan bantuan dari kelompok Carles.
Amerika...
Kelompok Sean sudah tiba di sana setelah menempuh perjalanan udara selama berjam-jam.
Sean memerintahkan anak buahnya yang ikut bersamanya itu menuju ke markas milik kelompok Carles.
Kelompok Sean di sambut hangat oleh kelompok Carles di sana. markas milik Carles tidak kalah luas dengan markas milik Sean. Kelompok Carles juga sama seperti kelompok Sean.
"Selamat datang di markasku, tuan William." Sapa Carles saat Sean turun dari helikopter yang ia gunakan.
"Terim kasih atas sambutannya, tuan Carles. Lama tidak berjumpa."
"Bagaiman? Apa kita langsung ke sana? Anak buahku pun sudah siap semuanya." Tawar tuan Carles pada Sean.
"Lebih baik kita ke sana. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Pasti anak dan istriku sudah menunggu di sana." Jawab Sean dengan halus.
"Wohoo... ternyata anda sudah mempunyai anak dan istri? Aku tertinggal informasi ternyata." Canda tuan Carles pada Sean.
"Apa yang sudah kelompok Leon lakukan di sana?"
"Dia sudah menculik istri dan keponakanku. Aku tidak akan membiarkan kelompok mereka berdiri lagi." Jawab Sean tegas. Sorot matanya menajam, ia seperti macan yang siap menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Baiklah, kita langsung saja ke sana."