
"Astaga anak ini. Kenapa lagi anak ini?"
"Apa kau tidak lihat hari sudah terang? Sampai kapan kau berada di gulungan selimutmu itu?" sambung Rika. Fany tidak merespon ocehan Rika di sana, rasanya ia sangat malas untuk beranjak bangun.
Rika yang geram itu pun menarik selimut Fany hingga dirinya menggelinding di atas kasur king size-nya." Hah, apa kau masih tidak mau bangun?"
"Aaah... Mommy... jangan menggangguku. Aku sedang tidak mood," rengek Fany mengambil bantal untuk menutupi wajahnya.
"Kau bangun atau pintu kamarmu Mommy kunci dari luar?" ancam Rika di sana.
Fany yang mendengar ucapan sang mommy itu pun membuka bantal yang menutupi wajahnya. "Mommy yang baik yang cantik, jangan suka marah-marah ya. Nanti ilang cantiknya, lihatlah wajah Mommy terlihat garis-garis penuaan."
"Apa yang kau katakan? Coba ulangi sekali lagi?" Rika kembali berkacak pinggang di sana.
"Mommy cantik. Tapi lebih cantik kalau tidak suka marah-marah," jawabnya lalu mendudukkan dirinya.
"Cepatlah bergegas, jangan membuat kesal pagi-pagi. Atau uang jajan potong satu bulan," ancamnya pada Fany.
"Apasih, Mom. Sebentar-sebentar uang jajan, besok-besok uang jajan, kemarin-kemarin uang jajan. Suka sekali kalau melihat anaknya ini kelaparan di luar sana," gerutu Fany. Pasalnya pasti uang jajannya yang menjadi kunci dari hukumannya.
"Biar hemat. Cepatlah, semua orang sudah menunggumu." Rika berjalan keluar dari kamar Fany.
Fany mengerucutkan bibirnya lalu merebahkan dirinya lagi. Wajahnya ia tutupi kembali dengan bantal, dan kakinya menendang-nendang ke udara. Sepertinya dia kesurupan setelah tahu Julian pergi tidak pamit dengannya.
Biasanya Julian yang selalu mengganggu hari-harinya, selama satu minggu dia tidak berinteraksi sama sekali dengan Julian. Apa lagi ia tahu jika Julian pergi beberapa waktu, rasanya ada yang berkurang.
__ADS_1
"Aaarkh...," teriaknya mendorong makanan yang di sodorkan padanya hingga semua makanan itu berserakan di mana-mana.
Sang mommy meneteskan air matanya melihat putri bungsunya itu semakin hari semakin parah. Setiap hari mendengar suara teriakan putrinya yang tidak pernah berhenti, terkadang jika ada yang datang ke kamarnya, ia selalu meringkuk menutup kedua matanya dan kedua telinganya.
"Jangan mendekatiku. Pergi!" teriaknya lagi dengan mata terpejam dan menutup kedua telinganya.
"Putri Mommy jangan takut, ini Mommy. Tenangkan dirimu," bujuknya dengan lembut. Namun putrinya itu hanya menggelengkan kepalanya cepat karena merasa takut di dirinya.
"Dad, kita harus bagaimana? Mommy tidak mau melihat putri Mommy seperti ini. Sebaiknya kita membawanya ke psikiater." Air matanya semakin deras membasahi pipinya.
"Yang di katakan Mommy benar, Dad. Sebaiknya kita membawa Sisca ke psikiater," sambungnya menyetujui ucapan sang mommy.
Benar sekali jika orang yang sedang berteriak dan membuang makanan itu adalah Sisca, semakin hari keadaannya tidak membaik. Justru semakin hari dia semakin parah, hampir setiap jam dia berteriak. Sepertinya kejadian-kejadian saat dia di sekap itu terekam jelas di pikirannya. Namun itu juga salahnya sendiri, kalau saja dia tidak bermain-main pasti dia tidak akan menjadi seperti ini.
"Apa kata orang-orang di sana yang tahu bagaimana keadaannya? Mereka pasti akan menghina kita! Kita akan di pandang rendah oleh mereka yang ada di luar sana," tolaknya.
"Apa di saat seperti ini kau memikirkan itu semua, Dad. Kesehatan putrimu lebih penting dari itu semua," timpal Cia pada sang Daddy.
"Bukannya Daddy tidak memikirkan adikmu itu, Cia. Kalau saja orang lain tahu bagaimana keadaannya mereka pasti akan menjatuhkan kita dengan mudah. Mereka juga akan merendahkan keluarga kita di depan banyak orang!" sarkas Chaddrik.
Memang banyak sedikit ucapan dari Chaddrik ada benarnya, di dunia bisnis memang tidak ada yang benar-benar baik. Apa pun celahnya mereka pasti akan memanfaatkannya, mungkin Chaddrik berkata seperti itu juga untuk melindungi keluarganya.
"Daddy memang selalu memikirkan kekuasaan yang Daddy miliki semua. Kalau itu yang Daddy katakan, biarkan aku yang membawanya. Kalau perlu aku akan membawanya ke luar negeri agar Daddy tidak malu dengan teman bisnis Daddy itu." Gracia bersih kuekeh di sana. Sepertinya dua pikiran yang berbeda antara keluarga itu.
"Terserah maumu. Jangan bawa pulang sebelum dia benar-benar sembuh." Chaddrik pun keluar dari kamar Sisca dengan langkah cepatnya.
__ADS_1
Hikss... hikss...
Suara tangisan mommy Sisca terdengar di sana, Gracia mendekat ke arah sang mommy dan memeluknya untuk memberi ketenangan. "Mommy yang tenang, oke. Biar Cia nanti yang akan mengobati Sisca. Mommy tenangkan pikiran Mommy, Cia akan berusaha. Pasti Sisca akan sembuh."
"Mommy percayakan padamu," ujarnya dengan suara yang terdengar serak. Gracia menganggukkan kepalanya.
"Aaaakh...." Sisca kembali berteriak dengan kencangnya. Mereka yang ada di sana mencoba menenangkan Sisca agar kembali tenang dan tidak berteriak lagi.
Meninggalkan keluarga Sisca, kita beralih di mana tiga serangkai itu saat ini tengah berkumpul di salah satu café. Mereka selalu meluangkan waktu untuk berkumpul. Terlihat sekali jika Fany saat ini sedang tidak mood, ia mengorek-orek makanan di depannya dengan garpu di tangannya.
"Lihatlah, Jen. Sepertinya ada yang sedang galau berat," ujar Thea dengan pelan. Jennifer menoleh ke arah Fany yang sedang cemberut di depan makanannya.
"Kau kenapa, Fe?" tanya Jennifer di sana.
"Mungkin karena dia menahan rindu pada Julian,' sahut orang yang tiba-tiba di sana. Jennifer dan Thea menoleh ke arah sumber suara yang sangat familiar itu.
"Bagaimana kau tau kita di sini? Apa kau penguntit?" Thea membuka suaranya. Passalnya di mana pun Jennifer berada, pasti dia juga selalu datang. Siapa lagi dia kalau bukan Gerald, entah dari mana datangnya dia tiba-tiba berada di sana dan ikut nimbrung begitu saja.
"Itu tidak penting aku tahu dari mana," jawabnya santai. Thea memincingkan bibirnya di sana.
"Jen, sepertinya kau harus hati-hati. Kekasihmu sepertinya bukan orang biasa, dia seorang penguntit," ujar Thea dengan sangat pelan pada Jennifer. Jennifer terkekeh mendengarnya.
"Apa yang dia katakan padamu, Babe?" tanya Gerald pada Jennifer.
"Aku mengatakan kalau kau seorang penguntit! Puas kau?!" sengal Thea di sana.
__ADS_1
"Kau tidak perlu sensi seperti itu. Sepertinya jiwa Fany berpindah ke dirimu," jawabnya dengan sangat enteng.
"Kau yaaa!" Thea mengepalkan tangannya ingin menonjok Gerald tapi ia urungkan.