Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 225


__ADS_3

"Kenapa kau tiba-tiba mengajakku? Apa kau punya rencana sesuatu? Kau pasti punya rencana sesuatu, iya, kan?" cerca orang itu pada Julian. Ia bisa menebak jika Julian pasti mempunyai rencana jahil padanya.


Julian menggeleng cepat di sana. "Tidak. Rencana apa?"


"Lalu, kenapa kau membawaku? Kau pasti mempunyai segudang rencana jahilmu itu," desaknya.


"Hmm... tidak kenapa-kenapa." Julian menggelengkan kepalanya. Orang itu memincingkan bibirnya melihat ke tidak jelasan dari Julian.


Sepertinya, Julian mengikuti saran yang di berikan oleh sang papi semalam. Ia berharap jika yang ia jalankan saat ini bisa berhasil membuat Fany merasa cemburu.


Sementara di sisi lain ...


Dari arah berbeda, tiga serangkai itu juga baru saja sampai di sana. Akhir-akhir ini mereka sering berkumpul bersama. Hingga salah satu dari mereka melihat sesuatu yang berbeda.


"Fa bukankah itu Julian? Siapa yang bersamanya? Tumben sekali?" ujar Thea saat melihat Julian duduk berhadapan dengan wanita lain.


Tentu saja tiga serangkai itu Fany, Thea dan Jennifer. Thea yang kebetulan melihat Julian bersama wanita lain itu pun memberitahu pada Fany. Fany memandang kedua orang tersebut dengan pandangan biasa saja.


"Hmm... baguslah dia kalau dengan wanita lain. Biar dia tidak menggangguku." Thea yang mendengar jawaban Fany itu menganga tidak percaya.


"Hah! Apa kau tidak marah dengan mereka? Kau kan milik Julian," ujar Thea yang justru sedikit kesal pada Fany.


"Ck, yang mengatakan itu kan cuma dia saja. Bukan aku," jawab Fany yang memang terihat tidak ada rasa sedikit pun.

__ADS_1


"Apa kau memang tidak ada rasa padanya? Awas kau menyesal nanti." Bukannya Jennifer justru Thea yang sangat cerewet di sana dengan apa yang ia lihat. Jennifer hanya memandang diam dengan apa yang terjadi, dia juga tidak biasanya melihat Julian bersama dengan wanita lain.


Fany hanya menggedikkan kedua bahunya menanggapi ucapan Thea. Thea juga sedikit bingung dengan reaksi Fany, kalau wanita lain mungkin sudah marah di sana. Mereka melanjutkan perjalanan mereka dan duduk sedikit jauh dari Julian dan teman wanitanya itu.


Kembali lagi ke sisi Julian ....


"Kalau kau berbuat yang tidak-tidak akan aku tendang kau," ujar teman perempuan Julian.


"Memangnya aku melakukan apa? Aku sedari tadi diam. Apa kau tidak melihatnya?" Julian mulai menunjukkan wajah tengilnya di sana.


"Sekarang memang kau tidak melakukan apa-apa, tapi entah nanti. Kau kan orang yang tidak bisa diam, belum lagi selalu berisik di dalam kelas. Aku heran denganmu itu, perempuan saja kalah dengan berisikmu." Wanita itu mengutarakan uneg-unegnya pada Julian yang selama ini memang tidak bisa diam di dalam kelas. Ada saja yang akan ia lakukan, mereka yang satu kelas dengan Julian harus memiliki stok sabar yang melimpah.


"Aku hanya menghidupkan suasana kelas yang sepi. Aku heran, kenapa semuanya diam saja." Sudah tidak heran lagi jika bericara dengan Julian, dia tidak pernah kehabisan kata-kata kalau menjawab ucapan orang lain. Teman sekelasnya itu pun lebih baik memilih diam tidak bebricara algi, lelah rasanya jika harus berbicara dengan Julian.


Tanpa sengaja tatapan Fany bertemu dengan tatapan Julian di sana, mereka saling pandang meskipun jarak sedikit jauh. Wajah Fany terlihat sedikit berbeda saat memandang Julian, entah dia merasa cemburu ataukah merasa yang lain. Cukup lama ia memandang Julian, Fany pun mengalihkan pandangannya dan kembali fokus dengan ke dua orang yang bersamanya.


"Kenapa kau terus mengikutiku?" kesalnya karena Julian sedari tadi mengikutinya.


"Supaya kau tidak hilang," jawab Julian seenaknya.


"Astaga! Memangnya kau kira ini di mana? Kau pikir ini di hutan atau bagaimana? Sudah sana sebaiknya kau pergi, bukankah kau juga sudah memiliki wanita? Kau sedari tadi tidak jelas mengajakku dan mengikutiku ke mana-mana seperti anak hilang," ujarnya panjang lebar pada Julian. Mungkin dia sedikit tidak nyaman dengan apa yang di lakukan oleh Julian.


"Sssh... aku heran denganmu. Orang lain pasti akan senang jika aku mengajaknya, tapi kenapa kau sedari tadi memarahiku?" desis Julian pada temannya.

__ADS_1


"Tidak perduli kau anak orang kaya se jagat raya, aku tidak perduli kalau kau orang tertampan dari semua makhluk. Bagiku kau orang yang sangat sangat sangat aneh, berisik dan tengil. Aku lihat jika Tuan Besar Sean tidak sepertimu, kenapa kau bisa berbeda jauh sekali darinya," cerocos teman Julian dengan sungguh-sungguh.


"Waahh... ternyata kau mengakui ketampananku. Kau benar-benar jujur." Julian memberikan kedua jempolnya pada temannya.


Sabar... sabar... menghadapi Julian memang harus penuh ke sabaran. Teman Julian hanya bisa menarik napasnya panjang, ia tidak habis pikir dengan Julian." Haaah... terserah kau saja. Diam dan jangan ikuti aku!"


la berbicara ketus lalu segera berlari dengan kencang tanpa aba-aba meninggalkan Julian di sana. Julian hanya melihat teman satu kelasnya itu yang sudah berlari jauh meninggalkannya. "Kenapa semua temanku aneh-aneh sekali."


Julian mengatakan jika temannya aneh-aneh, padahal dirinya sendiri juga bertingkah aneh dan random. Mungkin dia tidak menyadari bagaimana tingkahnya, entah bagaimana Julian, suka-suka Julian saja. Tanpa di sadari, sedari tadi perbincangan Julian dan temannya tadi tidak sengaja ada yang melihat.


la melihat dari kajauhan dengan ekspresi yang datar, cukup lama dia berada di sana, ia pun memutuskan untuk pergi sebelum Julian melihat keberadaannya. Ia pergi pun dengan ekspresi datarnya. Julian juga memutuskan untuk pergi dari sana menuju ruang kelasnya.


Satu minggu sudah berlalu, selama itu Julian mengikuti saran dari sang papi. Namun sayangnya yang dia lakukan tidak mendapat hasil apa-apa, ia berharap jika Fany akan merasa cemburu dan marah padanya. Sayangnya tidak sama sekali, hal itu membuatnya sedikit frustasi.


"Aaakkh... apa aku perlu cara lain?" rambutnya yang rapi ia acak-acak tidak karuan seperti singa.


"Apa memang dia tidak ada rasa padaku sama sekali? Kenapa dia tidak marah atau pun merasa cemburu? Lalu, apa yang aku lakukan lagi?" gumamnya pada diri sendiri.


"Apa aku kurang tampan? Bahkan aku sangat tampan. Ada apa dengannya?" sambungnya lagi.


"Atau ... dia ada laki-laki lain? Siapa yang sudah berani mendekatinya? Akan aku penggal kepalanya." Tidak henti-hentinya Julian menggerutu di sana. Dia benar-benar sangat frustasi, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan.


"Maaf, Tuan Muda. Semuanya sudah siap," sahutnya dari belakang.

__ADS_1


Julian menoleh ke arah sumber suara. "Aaaiissh... kau menggangguku saja," ujarnya dengan sedikit kesal di sana.


__ADS_2