
"Hahaha... kau jangan seolah-olah kuat dan mengatakan itu. Kau pasti membual, jelas-jelas semalam dia bersamaku. Kau kasihan sekali." Wendy masih berusaha keras untuk meyakinkan Jennifer, walau apa yang di lakukan itu sia-sia.
"Hahaha ... justru aku sangat kasihan denganmu, Nona. Kau terlalu terobsesi dengannya sampai kau mengarang cerita yang tidak-tidak." Jennifer tertawa puas melihat kebod*han Wendy di depannya. Namun dia tetap menghargai bagaimana usaha Wendy untuk menghasutnya.
Wendy mengepalkan tangannya kuat saat Jennifer menertawakannya. Dia juga terlihat sangat kesal karena usahanya telah gagal. Begitulah jika niat buruk, tidak akan berhasil.
"Kenapa dengan wajahmu? Apa kau kesal karena usahamu itu gagal?" Jennifer tersenyum mengejek melihat ekspresi Wendy yang tiba-tiba berubah kesal.
"Bukankah tadi kau sangat senang dan menggebu-nggebu? Kenapa sekarang terlihat sangat kesal? Lain kali berpikirlah secara matang sebelum melakukannya, Nona. Jangan sampai kau membuat malu dirimu sendiri," sambung Jennifer di sana.
"Untung saja saat ini bukan di depan umum, Nona. Kalau tidak kau apsti sudah di tertawakan oleh orang-orang di luar sana karena kebod*hanmu itu," kata Jennifer lagi.
"Kurang ajar kau!" Wendy mengambil gelas berisikan jus itu dan melempar ke arah Jennifer. Dia sangat kesal karena usahanya gagal dan Jennifer selalu mengejeknya.
Dengan sigap Jennifer menghalau wajahnya dengan lengannya agar gelas itu tidak mengenai wajah mulusnya. Gelas tersebut pecah dan sisa jus itu berserakan, bahkan cipratan jus itu juga mengenai pakaian yang di kenakan oleh Jennifer. Untung saja dia tidak sampai lecet.
Napas Wendy terlihat memburu lantaran kegagalan usahanya untuk membuat Jennifer pergi, justru dirinya sendiri yang di buat malu. Jennifer hanya tersenyum mengejek dengan apa yang di lakukan oleh Wendy.
"Lain kali, berusahalah lebih keras agar usahamu itu tidak sia-sia, Nona."
Jennifer beranjak dari duduknya. "Aku rasa sudah selesai, aku harus pulang. Tidak ada waktu untuk meladenimu berlama-lama."
Baru saja Jennifer melangkah beberapa langkah, tangan Wendy mencekal tangannya. Wendy menghalangi Jennifer untuk kembali. "Kalau aku tidak bisa mendapatkannya, kau juga tidak bisa mendapatkannya. Lebih baik kau m*ti!"
Brugh...
Wendy mendorong tubuh Jennifer sampai terjatuh. Dengan cepat Wendy mendekat dan mencekik Jennifer." Sebaiknya kau mati saja. Dengan begitu aku tidak perlu susah payah untuk mendekatinya."
Dengan cara berpikir Wendy seperti itu bisa membuat Gerald akan berlari ke dalam pelukannya. Padahal tidak mudah membuat Gerald bisa jatuh hati. Dengan sekuat tenaga Jennifer menendang tubuh Wendy hingga dirinya terpental jauh.
"Aaarkh...." Brugh...
Jennifer memegang lehernya dan menggerakkan kepalanya untuk meregangkan otot-otonya. Wajah Jennifer seketika berubah layaknya psikopat. "Aahh.... ternyata kau mencari gara-gara denganku."
Wendy bangkit dan ingin kembali menyerang Jennifer. Dengan cepat Jennifer mendorong tubuh Wendy dan menahannya di tembok. Jennifer mencekik leher Wendy bagian belakang dan mengunci kaki Wendy agar tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Ternyata pelajaranku untukmu waktu lalu tidak membuatmu berubah, Nona. Maka jangan salahkan aku jika kau akan mendapatkan pelajaran yang lebih dariku!"
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Jennifer membenturkan kening Wendy pada tembok di sana. Jennifer melakukannya berkali-kali, tidak peduli dengan jeritan Wendy yang sedang kesakitan.
"Aaakh... lepaskan aku!"
Jennifer masih terus membenturkan kening Wendy ke tembok di hadapannya. Jennifer tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada Wendy. Siapa pun yang mengusiknya, akan mendapat resiko yang tidak bisa di hindari.
Jennifer kembali menjambak rambut Wendy hingga dirinya mendongakkan kepalanya ke atas. "Kau ingin aku melepaskanmu? Baiklah."
Bugh...
Jennifer kembali membenturkan kening Wendy ke tembok, kali ini dia melakukannya dengan keras lalu melepaskannya. Perlahan-lahan tubuh Wendy luruh ke lantai, kepalanya terasa pusing, bahkan keningnya mengeluarkan darah segar. la masih mempertahankan kesadarannya walau pusing di kepalanya sangat hebat.
Kekejaman Jennifer telah muncul ke permukaan, kali ini di hotel Wendy tidak ada siapa pun. Tamatlah sudah riwayatnya kali ini. Wendy berteriak dan memberontak agar di lepaskan, tetapi Jennifer seakan-akan tuli.
Brugh...
Jennifer melepaskan dengan sedikit keras, Wendy kembali tersungkur di buatnya. Jennifer mendekat dan menyetarakan tinggi badannya pada Wendy. la mencengkram kuat dagu Wendy di sana.
"Jangan pernah bermain-main denganku, Nona. Sudah aku katakan berkali-kali menjauhlah dan jangan pernah mengganggu milikku. Ternyata ucapanku tidak pernah kau dengarkan, maka tanggunglah riwayatmu." Jennifer menekankan kuat setiap perkataannya. Kali ini dia benar-benar di kuasai dengan amarahnya, jiwa-jiwa mafianya telah keluar.
"Eemm...lepaskan aku!" Wendy masih terus meronta-ronta agar di lepaskan.
"Kau tidak pantas dengannya. Harusnya dia menjadi milikku, bukan milikmu!" Wendy terus mengoceh walau tidak terlalu jelas. Dia memang tidak ada kapok-kapoknya, padahal dirinya saat ini juga dalam bahaya.
Siapa pun pasti tidak akan mendengar teriakannya sedari tadi, karena kamar hotel tersebut kedap suara. Walau sekencang apa teriakan Wendy, tidak akan ada yang tahu.
Bugh...
__ADS_1
Wendy menendang tubuh Jennifer agar cengkramannya itu terlepas, usaha Wendy berhasil, Jennifer terpukul mundur. Wendy berusaha berlari walau menahan pusing di kepalanya, ia mengambil pecahan kaca yang berasal dari gelasnya tadi. Wendy menodongkan itu ke arah Jennifer.
"Akan aku balas kau!"
Sebelum Wendy melukainya, Jennifer dengan cepat menangkisnya. Pukulan telak dia berikan pada Wendy, alhasil kaca yang berada di tangan Wendy itu pun terlepas. Jennifer mengambil alih kaca itu dan menggenggamnya, tidak peduli jika kaca itu menggores tangannya.
"Kau sungguh berani, Nona." Jennifer berjalan pelan ke arah Wendy. Terlihat Wendy sedang ketakutan
melihatnya. Wajah Jennifer yang tadi terlihat kalem dan pendiam, sekarang berubah drastis. Bagaikan monster yang bangun dari tidur.
Wendy mengundurkan dirinya perlahan-lahan. Badannya mulai gemetar melihat perubahan wajah dan sikap Jennifer. "Jangan mendekat!"
Tanpa peduli dengan pekikan dari Wendy, Jennifer tetap melangkahkan kakinya. "Aku katakan jangan mendekat atau kau akan menyesal!"
Tanpa berbicara, dengan cepat Jennifer menggires kulit mulus Wendy dengan pecahan kaca yang ada di tangannya. Jeritan pilu kembali Jennifer dengar.
Sreek...
Jennifer kembali melakukannya, lagi-lagi Wendy teriak kencang di sana.
"Hentikan! Menjauhlah dariku!" rasa sakit yang di
derita kali ini bertambah. Cairan merah kental itu mulai mengalir dari ke dua tangannya. Jennifer benar-benar tidak bercanda kali ini.
"Bukankah tadi kau ingin melawanku? Cobalah!" Jennifer menantang Wendy yang sudah tidak berdaya kali ini. Wendy sangat ketakutan di buatnya, sungguh dia tidak menyangkah jika dirinya akan bernasib seperti ini.
Srek...
Jennifer kembali menggores kulit mulus Wendy. Jennifer membuang pecahan kaca itu dari tangannya begitu saja.
Plak...
Sebuah tamparan keras dia berikan pada Wendy hingga darah keluar dari hidungnya. Sakit bertubi-tubi Wendy terima hari ini. Karena sudah tidak kuat menahan sakit pada dirinya, Wendy pun jatuh tidak sadarkan diri.
Tatapan mata Jennifer sangat tajam dan menusuk, tidak peduli bagaimana nasib Wendy saat ini. Setelah mengahjar Wendy habis-habisan, Jennifer mengambil tas miliknya dan keluar meninggalkan kamar Wendy.
__ADS_1
Terlihat jika pintu itu menggunakan sandi, Jennifer mengambil salah satu benda keras dan menghantam tombol-tombol itu dengan keras. Seketika tombol itu hancur dan rusak karena sakinga kerasnya pukulan yang di berikan Jennifer. Ia membuka pintu dan kembali menutup dengan keras.