
"Bukankah kau juga sudah membaca? Kenapa masih ingin mengetahui buku yang aku baca." Julian memutar otaknya untuk mengelak dari permintaan Fany padanya. Yang satu panda berakting, dan satunya lagi pandai sekali untuk mencari celah kebohongan dari Julian. Entah siapa nanti yang akan menang di sana, Fany? Ataukah Julian?
Fany memutar ke dua bola matanya malas mendengar setiap alasan yang di berikan oleh Julian." Kau itu selalu saja mengelak. Kau bohong kan!?"
"Mana ada aku berbohong? Hilangkan pikiran jelekmu itu padaku, kau selalu berpikiran jelek padaku.
Lebih baik kau lanjutkan saja baca buku itu." Selain berakting, Julian juga pandai sekali untuk mengelak.
"Orang bohong pasti cepat sekali ketahuan," celetuk Fany.
"Aku tidak berbohong. Aku berkata benar. Sebaiknya cepat kau selesaikan bacamu itu." terlihat sekali kalau dia berbohong di sana. Fany sudah bisa menebaknya dengan jelas kalau Julian pasti berbohong untuk itu. Fany kembali membuka bukunya dan kembali membaca bagian yang ia tinggalkan tadi.
Tiga puluh menit sudah berlalu, Fany akhirnya menutup buku yang ia baca. Julian yang melihatnya itu kembali bertanya pada Fany. "Kau sudah selesai?"
Fany menganggukkan kepalanya. "Sudah, aku sudah jenuh."
"Baru juga segitu sudah jenuh," cibir Julian. Mulutnya memang tidak pernah bisa diam, selalu julid apa pun waktu dan di mana pun tempatnya.
"Setidaknya aku tidak suka berbohong sepertimu," sindir Fany pada Julian.
Di tengah-tengah perdebatan mereka, salah satu pengunjung di sana datang mendekati mereka. Mereka sedikit bingung siapa orang itu yang tiba-tiba datang dan bertanya tanpa basa-basi. "Tuan Muda William?"
Julian dan Fany saling pandang siapa orang itu. Namun mengingat siapa Julian pasti banyak yang mengenali Julian di mana dan kapan pun itu.
"Iya," jawab Julian singkat sesingkat-singkatnya.
"Aaah... akhirnya aku melihatmu secara langsung saat ini," ujar orang tersebut.
"Memangnya kau pernah melihatku di mana sebelumnya? Apa kau pernah melihatku di layar TV mu?" jawab Julian sedikit nyleneh. Fany yang mendengarnya hanya menepuk jidatnya.
"Aahaha... bukan itu maksudku, Tuan Muda. Aku hanya sering mendengar namamu, tapi belum pernah melihatmu secara langsung seperti ini." Julian memanggutkan kepalanya mendengar penjelasan dari orang tersebut.
__ADS_1
"Apa dia kekasihmu?" orang tersebut menunjuk ke arah Fany.
"Memangnya kenapa?" bukannya menajwab, Julian bertanya balik pada orang itu.
"Aah... tidak apa-apa, Tuan Muda. Dia cantik, aku hanya berpesan padamu, jaga wanitamu ini, Tuan Muda. Kalau bisa, kau selalu ada di sampingnya. Pasti banyak bahaya yang menginnginkan dirinya," jelas orang itu yang sedikit ambigu. Orang itu sepertinya sangat tahu siapa Julian, dan apa yang akan terjadi.
"Bagaimana maksudmu?" tanya Julian bingung yang masih belum mencerna semua kata-kata orang itu.
"Aku tidak ada maksud apa-apa, Tuan Muda. Aku hanya berpesan padamu, jaga wanitamu ini. Jangan biarkan dia sendiri, mungkin dia sedang dalam bahaya," jelasnya lagi.
"Memangnya kau siapa? Apa kau tahu sesuatu?" tanya Julian kembali. Kali ini wajah Julian terlihat serius.
Orang itu tersenyum singkat pada Julian. "Nanti kau akan mengetahuinya, Tuan Muda. Aku hanya berpesan, ingat apa yang aku ucapkan. Aku tidak ada banyak waktu, aku akan segera kembali."
Setelah mengatakan hal itu, orang itu pergi dari hadapan Fany dan Julian. Ke duanya menatap kepergian orang itu sampai tidak terlihat lagi.
"Siapa orang itu?" Fany terlihat bingung.
Tanpa pikir panjang, mereka memutuskan kembali pulang. Julian mengantarkan Fany terlebih dahulu sebelum ia kembali ke mension.
Pemandangan danau yang sangat menyegarkan di tengah-tengah kegaduhan yang ada di kota. Air yang terlihat biru kehijauan dan bersih, di tambah lagi pepohonan yang berjejer membuat udara di sana benar-benar bersih. Cocok di gunakan untuk tempat meghilangkan penat dari lelahnya bekerja.
Tempat itu juga tidak terlalu ramai seperti danau pada biasanya. Sepasang muda mudi itu tengah menikmati udara segar di sekitar danau tersebut. Memang benar-benar segar dan menyejukkan, Jennifer nampak menikmati kesejukan yang di sekitar danau itu.
Tentu saja jika Jennifer datang ke sana dengan Gerald, ke mana pun mereka, pasti selalu berdua. Gerald nampak tersenyum memandang wajah Jennifer yang nampak tenang menikmati pemandangan alam menyejukkan ke dua matanya. Tak segan-segan juga Gerald mengambil ponselnya dan mengambil gabar Jennifer dengan candid.
Nampak dari samping pun, Jennifer tetap terlihat cantik. Setiap jebretan yang di hasilkan oleh Gerald seperti photografer profesional. Jennifer menoleh ke arah Gerald, dan satu jebretan ia dapatkan dengan hasil yang sempurna.
Tumben sekali jika mereka pergi tidak bersama Julian dan Fany, biasanya dua anak itu selalu ikut ke mana mereka pergi. Hari ini mereka pergi secara terpisah dengan tempat yang berbeda pula.
"Kau kan setiap hari melihatku? Kenapa harus memotretku terus-terusan?" Jennifer protes pada Gerald yang tengah memotret dirinya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Aku juga ingin mengabadikan setiap momen wajah cantikmu itu," jawabnya dengan enteng, Gerald juga memposting salah satu hasil jebretannya di sosmed miliknya. Jennifer memincingkan bibirnya dengan jawaban Gerald.
"Kau berteman dengan Julian semakin terlihat tidak beres." Jennifer menggelengkan kepalanya dengan ke dua bola matanya memutar malas.
"Hehehe... aku terlihat tidak beres hanya denganmu saja." Gerald sedikit terkekeh dengan ucapan Jennifer yang mengatainya aneh.
Jennifer memandang sinis pada Gerald. " Jadi kau tidak normal begitu kalau bersamaku? Lebih baik kau menjauh sana. Jangan dekat denganku," usir Jennifer. Wajahnya terlihat sedikit ngambek, padahal niat hati Robert ingin memberikan gombalan pada jennifer. Namun, sayangnya gagal, Jennifer lebih dulu ngambek di sana.
"Kenapa kau sensi sekali?" Gerald menyentuh pipi lembut Jennifer. Jennifer yang sudah ngambek itu pun menjauhkan wajahnya.
"Bukankah aku memang terlihat aneh jika hanya bersamamu? Orang lain tidak tahu bagaimana aku yang sebenarnya. Aku selalu menunjukkan sisi berbeda jika hanya denganmu," jelas Gerald agar Jennifer tidak ngambek lagi dengannya.
"Berbeda bagaimana? Kau sama saja dengan Julian dan yang lainnya," jawab Jennifer sedikit judes.
"Hahaha... apa kau pernah melihatku asik dengan
yang lainnya? Atau pernah aku bersikap aneh dengan yang lainnya?" Gerald tidak mau terpancing dengan sifat Jennifer yang memang terkadang sangat sensitif, Gerald tetap santai dan tenang berhadapan dengan Jennifer.
Jennifer hanya diam tidak menanggapi ucapan Gerald, entah dirinya ngambek sungguhan, atau hanya untuk menguji kesabaran Gerald.
"Memang benar apa yang di katakan Papi padaku, kau memang suka ngambek, dan tidak mudah membujukmu." Gerald mengutarakan apa yang pernah ia dengar.
Jennifer kembali menatap Gerald dengan tatapan yang tidak biasa. "Memangnya Papi pernah mengatakan itu padamu?"
"Hmmm... dia mengatakan padaku kalau aku harus sabar menghadapimu yang suka ngambek dan sulit di bujuk. Waktu dirimu kecil juga sering sekali ngambek," jelasnya.
"Kata siapa aku seperti itu? Memangnya kau juga pernah melihatku ngambek waktu kecilku?" Bukannya Gerald marah, justru dia semakin gemas kalau melihat Jennifer yang benar-benar ngambek padanya.
"Apa yang di katakan oleh Papi aku sudah bisa menggambarkan bagaimana dirimu,"
"Aku tidak percaya padamu. Kau pasti suka berbohong seperti laki-laki pada umumnya. Jangan kira aku bisa dengan mudah tertipu denganmu," ketus Jennifer yang membuat Gerald tertawa lepas di sana.
__ADS_1