
Mereka melajukan mobil ke arah yang pastinya. berbeda
"Kita harus ke mana?" ujar salah orang-orang yang mengikuti ketiganya.
"Walau kita tidak mendapatkan anak itu, kita juga masih bisa membawa temannya itu. Sepertinya, Tuan Dario tidak akan marah," jawab salah satu dari mereka.
"Sebaiknya kita berpencar saja. Satu mobil ikut mereka berdua, dan satu mobil lagi kita ikut yang satu itu ," usul salah satu lagi dari mereka.
"Kita akan mencobanya. Hubungi yang lain untuk mengikuti yang satu, kita akan ikuti dua orang itu." Mereka pun memutuskan untuk ikut berpencar mengikuti Fany dan Jennifer.
Mereka melajukan mobil ke arah yang berlainan sesuai rencana mereka. Kali ini mereka akan berhasil atau tidak, kita lihat saja bagaimana mereka akan menghadapi Fany dan Jennifer. Mobil yang mengikuti Jennifer dan Fany melaju sedikit kencang, takut jika mereka akan kehilangan jejak.
Jennifer yang dengan tenang menyetir itu melihat ke arah spion, terlihat jelas jika dirinya kali ini di ikuti oleh mobil di belakangnya. Jennifer melajukan mobilnya dengan cepat, ia mengetes jika mobil di belakangnya itu sedang mengikutinya atau tidak. Jennifer juga menyalip mobil lainnya yang ada di depannya.
Mobil yang ada di belakangnya itu ternyata juga mengikutinya, dan benar dugaannya jika mereka kali ini di ikuti oleh mobil di belakangnya.
"Kau kenapa, Tuan Putri? Kenapa kau tiba-tiba mengebut?" Fany yang belum tahu apa yang terjadi itu bingung karena tidak biasanya Jennifer mengebut dan menyalip.
"Kau lihatlah ke belakang. Ada yang ingin mengantarkan nyawanya sepertiya." Jennifer menunjukkan smirknya. Fany pun melihat ke belakang untuk memastikan. Benar yang baru saja di katakan oleh Jennifer, mereka di buntuti satu mobil di belakang.
"Let's go...." Fany nampak bersemangat kali ini karena ada yang tengah ingin bermain-main dengan mereka saat ini.
Jennifer tersenyum dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Jennifer berencana untuk membawa mereka ke jalanan yang sepi tidak di lintasi oleh orang-orang.
Sementara di sisi Thea...
Thea dengan santainya mengemudi, dirinya tidak sadar kalau dia di buntuti oleh mobil di belakangnya. Mobil itu mencoba menyalip Thea, saat di depan, mobil itu berjalan lambat. Bahkan Thea yang ingin mendahului mereka juga mengikuti ke arah mana Thea ingin melaju.
Tiitt...
Ttiiitt...
Thea mengklarkson mobil di depannya itu karena kesal. "Apa sih orang ini?"
Ttiitt...
Tiitt...
Thea kembali mengklarkson mobil di depannya. Saat ada celah, Thea menyalip mobil di depannya itu. tanpa di sangkah, mobil itu kembali menyalip Thea.
Bahkan banyak juga mobil lainnya berada di sisi kanan dan kiri mobil Thea, di belakang juga terdapat mobil yang baru saja masuk. Sepertinya mereka mengepung Tha agar tidak bisa lari ke mana-mana lagi. Mereka menggiring Fany untuk mengikutinya, Fany berkali-kali membunyikan Klarksonnya agar mereka minggir.
Sayangnya mereka semua tidak memperdulikan suara klarkson dari mobil Thea, mereka tetap di posisi masing-masing. Ternyata dario mengutus banyak bawahnnya, bukan hanya 3 atu 4 orang, entah berapa yang ia keluarkan kali ini.
Tiitt...
Tiitt...
"Ini mereka kenapa sih? Mereka pikir jalan yang mereka gunakan ini milik keluarganya apa!?" Thea terlihat kesal, pasalnya ia juga buru-buru. Sepertinya dia tidak sadar jika dia tengah menjadi incaran mereka-mereka.
Para bawahan Dario tersenyum lebar karena bisa mendapatkan Thea, mereka menggiring mobil Thea ke jalan yang sepi tidak di lintasi kendaraan mana pun. Thea tidak bisa menghindar, karena dia berada di tengah-tengah mobil yang mengikutinya.
"Mereka sengaja atau bagaimana?" ujarya saat melihat jalanan itu nampak sepi.
"Apa jangan-jangan ... apa mereka orang jahat? Astaga kenapa aku tidak menyadarinya? Aku harus bagaimana?" hatinya menjerit ketika baru saja menyadari jika dirinya masuk ke dalam perangkap bawahan Dario.
Mereka menghentikan mobil secara bersamaan, Thea pun juga terpaksa menghentikan mobilnya secara mendadak. Orang-orang itu pun keluar dari mobil masing-masing, di anatar mereka juga ada yang membawa senjata tajam.
"Hah, apa ini? Mereka siapa?" Thea terlihat panik dan takut, wajah yang tidak ia kenali itu terlihat sangat garang. Baru kali ini dirinya melihat orang-orang seperti mereka. Apa lagi mereka membawa senjata.
Tok ... tok...
"Cepat keluar!" salah satu dari mereka mengetuk dengan sedikit keras.
"Moom... tolong Thea...." Thea merengek ketakutan dengan situasi seperti ini. Ia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Mereka kembali mengetuk, bahkan mereka juga memaksa untuk membuka pintu mobil yang Thea kendarai. Rasa di hatinya di penuhi ketakutan melihat mereka-mereka semua.
"Keluar atau akan kehilangan nyawamu sia-sia!"
"Hiks... hiks... Mommy... Thea takut ...." Ia hanya bisa menjerit dan menangis di sana.
Salah satu dari mereka membuka paksa pintu mobil itu. Entah seberapa kuatnya kekuatan yang ia miliki, sampai pintu mobil itu berhasil ia buka.
"Aaakh...." Teriak Thea saat mobil itu berhasil mereka buka.
"Keluar!" Mereka menarik paksa tangan Thea. Thea memberontak, tetapi usahanya kalah dengan orang bertubuh kekar itu.
"Tidak. Lepaskan aku!" Thea mencoba untuk memberontak.
Bugh...
Tanpa berpikir, salah satu dari mereka membekuk tengkuk leher Thea hingga pingsan. Mereka akhirnya dengan mudah bisa membawa Thea, mereka memasukkan Thea ke dalam mobil. Tanpa menunggu lama mereka segera melaju kembali ke kediaman Dario, pasti Dario akan senang dengan apa yang mereka peroleh kali ini.
Mobil melaju cepat meninggalkan lokasi itu, mobil Thea mereka biarkan saja di sana. Mereka tidak membutuhkan mobil itu, yang penting target sudah mereka dapatkan.
Di sisi Jennifer dan Fany ...
Jennifer mengambil senjata yang tersimpan di dalam mobilnya. Ada beberapa pistol dan belati di sana. la menyelipkan senjata-senjata itu di balik baju yang ia kenakan.
"Ambillah senjata mana yang akan kau pakai." Fany pun mengambil senjata yang tersimpan di sana.
Jennifer masih melajukan mobilnya dengan cepat, entah di tempat mana yang akan Jennifer pilih untuk berhenti. Melihat kesempatan, salah satu mobil yang membuntuti mereka itu menyalip cepat dan berhenti mendadak di depan mobil Jennifer. Jennifer juga menghentikan mobilnya secara mendadak.
__ADS_1
"Itu orang kenapa sih! untung saja aku tidak terbentur." Fany terlihat kesal karena mobil itu tiba-tiba saja berada di depan.
Orang-orang di dalam mobil itu pun mulai keluar dan mendekat ke arah mobil Jennifer.
Tok...
Tok...
"Keluar kalian!" salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil. Jennifer dan Fany masih berdiam diri di dalam.
Tok...
Tok...
Tokk...
Mereka juga memaksa membuka pintu mobil Jennifer.
"Hitungan ke tiga, kita buka pintu bersamaan," ajak Jennifer yang memegang pegangan pintu tersebut. Fany mengangguk faham dengan aba-aba yang akan di berikan Jennifer.
"1...2...3..." Brugh...
Ke duanya membuka pintu itu bersamaan dengan sangat keras, sehingga orang-orang itu terpental dan jatuh tersungkur. Jennifer dan Fany keluar dari mobil, di lihatnya beberapa mobil menyusul yang juga berhenti di sana. Siapa sangka ternyata tidak hanya satu mobil yang tengah membuntutinya, melainkan beberapa mobil yang mengikutinya.
Ternyata Dario memerintahkan bawahannya bukan satu atau dua orang, tetapi berkisar 10 orang yang ia utus. Dia sendiri tidak mau menampakkan dirinya, justru dia memerintahkan anak-anak buahnya. Itu juga tidak hanya satu dua orang, tetapi lebih, sebenarnya pimpinan mafia seperti apa dirinya.
Jennifer tensenyum remeh melihatnya. "Maafkan aku, sengaja sekali kau melakukannya." Mereka yang terjatuh itu kembali berdiri.
Bawahan Dario yang baru tiba itu pun keluar satu per satu dari mobil. Mereka menggeruduk Jennifer dan Fany yang hanya berdua, mereka mengepung ke duanya agar tidak lepas.
"Wah... wah... wah... apa kalian semua pecundang? Bagaimana bisa laki-laki ingin melawan wanita? Apa lagi yang kalian hadapi hanya berjumlah dua orang." Fany memberikan sindiran pada mereka yang membentuk formasi melingkar.
"Kau jangan terlalu sombong, Nona. Sebaiknya kalian ikut dengan kami. Jangan sampai kami melukai kalian." Salah satu dari mereka menggertak Fany dan Jennifer, tidak ampuh jika mereka hanya mendapat gertakan kecil seperti itu.
"Hah! Apa? Coba ulangi sekali lagi. aku tidak mendengarmu berbicara apa?" Fany dengan ngegas berbicara di sana. memang sama persisi dengan Julian, meskipun dalam situasi yang mendesak dirinya tetap menunjukkan ke bar-barannya.
"Jangan banyak bicara, sebaiknya lawan mereka." Salah satu dari mereka memerintahkan itu. Dia tidak ingin berlama-lama membuang waktu hanya berdebat dengan Fany seorang.
Secara bersamaan mereka mendekat lalu menyerang Fany dan Jennifer. Benar-benar seperti pecundang, ia melawan seorang wanita secara bersamaan. Atasan dan bawahan sepertinya sama saja, sama-sama payah.
Jennifer dan Fany dapat menghindari pukulan demi pukulan dari bawahan Dario.
Bugh...
Fany terkena tendangan salah satu dari mereka." Heh, ternyata hanya seperti kemampuanmu, Nona."
Melihat orang itu menatap remeh, Fany terbakar amarah karena orang itu meremehkannya. "Akan aku habisi kau saat ini juga."
Fany menyerang balik orang-orang itu, ia tidak akan membiarkan dirinya kalah kali ini. Sementara Jennifer, dengan lincah dirinya menghindar, menangkis maupun membalas pukulan-pukulan mereka.
Jennifer memelintir tangan salah satu dari bawahan dario hingga bunyi tulang terdengar renyah di telinganya.
Bugh...
Jennifer mendorong orang itu ke sekumpulan kawannya. Mereka tersungkur lalu bangkit lagi untuk menyerang Jennifer kembali. Dari mereka mengeluarkan senjata yang tersimpan karena sedari tadi tidak bisa menyentuh Jennifer.
Baku hantam kembali terjadi, tidak ada rasa gugup
dari jennifer. Justru dia bersemangat melawan mereka-mereka. Belati yang mereka bawa dia rahkan ke arah Jennifer, dengan gesitnya Jennifer mengmabil alih belati itu dan melemparnya kembali ke arah berlawanan.
"Uhhuk...." Cairan merah segar keluar dari mulutnya. Lemparan Jennifer tepat mengenai jantunya, hingga salah satu dari mereka pun tewas seketika.
Melihat kawannya yang tewas, mereka semakin gencar melawan Jennifer.
Dorr... suara tembakan berasal dari salah satu bawahan Dario yang lainnya. Tembakan tersebut tidak mengenai Jennifer atau pun Fany, tetapi sebaliknya. Tembakan itu mengenai kawannya sendiri.
Jennifer yang fokus itu langsung saja merubah posisinya, jadi tembakan itu terkena dari kumpulan mereka sendiri.
Kreek ....
Aksi Jennifer tidak berhenti begitu saja, ia kembali memelintir tangan orang yang ada di hadapannya itu hingga patah. Yang menjadi koraban Jennifer itu pun berteriak kesakitan, bayangkan saja bagaimana sakitnya tulangnya patah akibat di pelintir Jennifer.
Bugh...
Bugh...
Fany juga tidak kalah dari Jennifer, ia menendang mengudara. Masing-masing dari mereka mendapat tendangan dari Fany hingga tersungkur. Tendangan Fany mengenai uluh hati mereka, sedikit sesak merasakannya. Tanpa memperdulikan mereka yang tersungkur, Fany kembali melanjutkan aksinya dengan yang lainnya.
Karena mereka mengeluarkan senjata, Fany juga mengeluarkan senjata miliknya.
Dorr ...
Dorr...
Dorr...
Tembakan beruntun dari Fany, ia melakukannya dengan cepat sebelum para bawahan Dario mendahuluinya.
Dorr ...
Dorr..
Dorr ...
__ADS_1
Fany kembali menembakkan peluru-pelurunya. Dari pada ia harus berlama-lama lebih baik ia juga melakukannya dengan cepat.
Bugh...
Karena sedikit lengah, seseorang tengah menendangnya dari arah belakang. Fany terhuyung di buatnya.
"Haiishh... mereka sangat menyusahkan sekali." Tanpa pikir panjang Fany kembali melayangkan pelurunya.
Dorr...
Doorrr...
Dorr...
Fany tidak main-main untuk kali ini. Dia juga kesal karena beberapa kali mendapat hantaman dari bawahan Dario.
Syutt...
Satu dari mereka melempar belati pada Fany, Fany dengan sigap menangkapnya. Tangannya mengeluarkan darah karena yang ia tangkap bukan gagang dari belati. Fany melempar kembali belati itu dengan wajahnya yang terlihat merah.
Dia benar-benar marah kali ini. Lemparannya tepat mengenai sasaran, orang itu pun seketika tidak lagi menghembuskan napasnya.
Dorr ...
Dorr....
Doorr....
Serentetan peluru Fany layangkan pada mereka, tidak ada ampun kali ini untuk mereka. Tangannya telah mengeluarkan darah, jadi darah harus di bayar oleh darah. Dan Fany membalasnya bukan main-main.
Kembali lagi ke Jennifer, Jennifer berhasil tertangkap. Tangan Jennifer ia cekal ke arah belakang, orang itu mengarahkan belatinya pada leher Jennifer. Jennifer sedikit mendongakkan kepalanya, walau begitu dirinya tetap bersikap tenang tanpa rasa takut.
"Akhirnya aku berhasil menangkapmu. Ikutlah denganku, jangan pernah memberontak. Apa kau tidak lelah membuang tenagamu?" ujarnya dengan sedikit sombong karena berhasil mencekal Jennifer.
"Coba saja kalau kau bisa membawaku." Jennifer tersenyum miring dan diam-diam dirinya mengambil senjata yang ia sembunyikan.
Jleeb...
Jennifer berhasil menancapkan belati itu mengenai perut laki-laki bertubuh kekar tersebut. Jennifer pun lepas dari genggamannya dan kembali melawan mereka-mereka yang masih bertahan.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Tendangan kuat di berikan oleh Jennifer pada mereka.
Dorr ...
Dorr ...
Doorrr...
Tembakan-tembakan itu berasal dari Fany yang menembaki orang-orang yang tengah melawan Jennifer. Dirinya sudah lebih dulu menghabisi bawahan Dario menggunakan pistol yang ada di tangannya. Kali ini dirinya menghabisi mereka yang masih melawan Jennifer.
Dorr...
Dorr ....
Dorr ...
Rentetan tembakan tidak berhenti dari Fany, Jennifer terlihat asyik melawa orang-orang itu seketika berhenti karena tugasnya sudah di ambil alih oleh Fany. Tanpa memakan banyak waktu, mereka semua sudah tidak bernyawa lagi.
"Kenapa kau melakukannya?" pekik Jennifer.
"Aku sudah terlalu kesal dengan mereka," jawabnya dengan enteng.
Baku hantam dan baku tembak telah selesai, Jennifer tidak mengalami luka, sedangkan Fany mengalami luka ringan di telapak tangannya. Mereka semua yang tengah meremehkan wanita seperti Jennifer dan Fany akhirnya sudah habis. Mereka terlalu menganggap remeh ke dua orang itu, dan seperti itulah akhirnya.
"Kau tidak apa-apa?" Jennifer bertanya pada Fany.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terluka sedikit." Fany menunjukkan lukanya pada Jennifer.
"Bagaimana bisa kau terluka!" Jennifer nampak khawatir dengan luka kecil yang di peroleh Fany.
"Kau tenang saja, Tuan Putri. Ini tidak ada apa-apa,"
"Eh... bagaimana dengan Thea?" Fany seketika mengingat Thea, karena mereka sedari tadi bersama. Pasti dari bawahan Dario juga mengikutinya.
Jennifer juga seketika membulatkan ke dau matanya lebar-lebar, ia pun bergegas menuju mobilnya dan melakukan panggilan apda Thea. Fany menyusul Jennifer masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana?"
"Tidak ada jawaban dari Thea." Bugh... Jennifer memukul setir mobilnya.
"Coba telfon dia kembali, mungkin dia sedang sibuk." Fany masih berpikir positif saat ini. Jennifer kembali melakukan panggilan pada Thea, hasilnya nihil.
"Sial! Mereka pasti membawa Thea. Aku yakin jika orang-orang itu bukan hanya mengikuti Thea," tebak Jennifer yang memang benar adanya.
"Sebaiknya kita kembali ke markaas dulu dan mengatasi lukamu. Minta Robert atau Julian mencari Thea saat ini." Jennifer menyalakan mobilnya dan bergegas pergi dari sana.
Orang-orang yang tidak bernyawa itu mereka biarkan saja di sana, tidak peduli bagaimana nasib mereka yang tergeletak. Fany melakukan apa yang di perintahkan Jennifer, ia menghubungi Robert. Jennifer melajukan mobil dengan cepat menuju markas, kali ini sedikit genting.
__ADS_1
Ada hal yang harus mereka lakukan setelah ini.