
"Bagaimana kita memancingnya?" Tanya salah satu di antara mereka.
"Sepertinya, malam ini mereka akan menjalankan aksi mereka lagi." Sahut di antara mereka. "Benar, sepertinya kali ini mereka akan berbuat brutal. Anggota mereka sudah ada yang tewas, pasti mereka akan melaksanakan aksinya lebih brutal lagi."
"Kita kunjungi tempat-tempat yang ramai di sini, kita akan menyebar. Mereka pasti tidak hanya melakukan di satu titik." Timpal Diva pada pembicaraan tersebut.
Mereka melanjutkan perbincangan serius mereka untuk menangkap pimpinan mereka dan memberantas semua orang-orang yang membuat rusuh itu.
"Oke, kita giring mereka ke satu titik. Biar tidak banyak memakan korban lagi kali ini," mereka semua mengangguk faham dan segera membuyarkan diri masing-masing.
Malam hati waktu Meksiko...
Diva dan lainnya segera menyebar ke tempat masing-masing, ada lima titik yang terbilang cukup ramai di kunjungi warga sana.
Diva berada di titik utama bersama sebagian anak buah Sean dan Tuan Carles, sedangkan Riko dia berada di titik akhir, di mana nanti semua orang yang membuat rusuh itu akan di giring ke sana.
Mereka sudah berada di titik masing-masing, mereka semua menajamkan pandangan mereka masing-masing untuk melihat hal yang mencurigakan di sana.
Dan memang tidak berselang lama, ada beberapa pergerakan mencurigakan di sana. Di titik utama dan titik ke tiga, pergerakan mencurigakan terlihat untuk sisanya masih terbilang aman.
Orang-orang Tuan Carles dan anak buah Sean berencana untuk membuat semua orang yang ada di sana pergi sebelum ada kerusuhan. Mereka menggunakan cara yang terbilang tenang agar mereka semua tidak panik dan membahayakan nyawa orang-orang di sana.
Entah bagaimana cara yang mereka lakukan, sedikit demi sedikit semua yang ada di sana pergi meninggalkan tempat.
Orang-orang pembuat rusuh itu pun terlihat geram melihat orang-orang di sana tiba-tiba pergi begitu saja, Diva yang melihat orang-orang tersebut hanya tersenyum sinis.
Diva dan lainnya segera pergi dari sana untuk menggiring orang-orang tersebut ke titik yang sudah di tetapkan. Orang-orang itu pun mengikuti Diva dan lainnya.
"Siall... Kemana perginya mereka?" Ucap orang-orang itu yang sudah tidak menemukan keberadaan Diva dan lainnya.
__ADS_1
"Kau mencari kami?" Diva muncul dari belakang mereka.
Orang-orang tersebut pun menoleh kebelakang, dilihatnya Diva yang ada di sana dengan senyum mengejeknya.
"Beraninya kau ikut campur dengan urusan kami!" Sentaknya pada Diva karena merasa semua yang mereka lakukan di gagalkan oleh Diva.
"Aku tidak ikut campur, aku hanya ingin bermain saja ." Ucap Diva pada mereka. Terdapat sepuluh orang perusuh di sana. Yang lainnya juga sudah tersebar di tempat-tempat lain.
Mereka yang berada di tempat lain juga sudah menunjukkan gerak-geriknya. Semua anak buah Sean dan tuan Carles bekerja sama untuk menggiring mereka ke tempat yang sudah di tetapkan.
Kembali lagi ke sisi Diva, dia masih beradu mulut dengan orang-orang tadi. Ada gunanya juga dia yang sering beradu mulut saat di mension.
"Dasar pengganggu," kesalnya lalu mengambil pistolnya.
Dooorr.... Dorrr..
Door... Door....
"Bawa orang-orang ini." Ucapnya. Untung saja jika Diva tidak mengeksekusi mereka langsung di sana. Jika saja itu terjadi, mungkin akan banjir dara dari orang-orang itu.
Mereka pun akhirnya membawa orang-orang tersebut pergi.
Di lain titik juga, mereka membawa semua perusuh itu walau ada baku hantam di antara keduanya.
Hingga pada akhirnya, semua di antara mereka berada di titik akhir saat ini. Mereka di jadikan satu dalam ikatan yang kencang. Memang tidak terlalu banyak jumlah mereka, sekitar tujuh puluh orang lebih. Tapi mereka susah membuat rusuh satu kota.
Pimpinan dari mereka sepertinya tidak ada di sana, mungkin dia sudah pergi jauh sebelum dirinya di tangkap oleh anak buah Sean dan anak buah Tuan Carles.
Entah apa sebenarnya motifnya hingga membuat kerusuhan dan melakukan aksi tembak pada orang-orang yang tidak bersalah dengan jumlah besar-besaran.
__ADS_1
"Di mana pimpinan kalian?" Mereka semua tidak ada yang menjawab.
"Perintahkan dia datang ke sini." Ucap Riko tegas.
"Pimpinan kami tidak ada di sini, kalian saja yang bodoh. Tidak tahu kemana dia pergi," ejek salah satu dari mereka yang tidak merasa takut.
"Bukan kami yang bodoh, kalian saja yang terlalu pengecut." Sarkas Diva di sana.
"Bagaimana Tuan, Nona. Sepertinya pimpinan dari mereka memang sudah pergi meninggalkan negara." Tanya salah satu anak buah Tuan Carles. Karena memang pimpinan dari mereka pasti sudah pergi dari sana saat anak buahnya dia perintahkan untuk melancarkan aksinya.
"Hahaha... Benarkah?"
"Kalian bawa saja orang-orang ini, biar tuan Carles yang menangani mereka semua. Mereka yang akan memancing pimpinan orang-orang ini." Titah Riko.
Mereka akhirnya membawa biang rusuh itu langsung menuju ke bandara, mereka akan membawa mereka semua ke Amerika. Mereka tidak akan mengeksekusi orang-orang di negeri orang lain.
Karena orang-orang tersebut sudah membuat kerusuhan di Amerika, maka hanya Tuan Carles lah yang berhak menangani mereka. Karena bukan hanya warga di sana yang di bantai orang-orang tersebut, tapi mereka juga merusuh di wilayah yang di miliki tuan Carles.
Sedangkan pimpinan dari mereka sudah pergi jauh agar dirinya tidak tertangkap. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli dengan orang-orangnya yang berada di sekitarnya. Bahkan dirinya juga sepertinya tidak peduli dengan nasib anak-anak buahnya jika terluka ataupun di sekap oleh musuh-musuhnya. Ia duduk di dalam pesawat dengan arogannya.
Jenifer mengemas beberapa bajunya yang akan ia bawa nanti, ia memasukkan ke dalam koper kecil miliknya. Jennifer memilih beberapa pakaian casual dan santainya untuk ia kenakan.
"Kau tidak mengajakku?" Julian terlihat merengek melihat sang kaka berkemas.
"Tidak, nanti kau hanya mengganggu saja." Ketusnya pada Julian.
"Aku kan anak baik, mana mungkin aku mengganggu. Aku kan kalem," ucapnya dengan wajah di buat-buat. Jennifer menghentikan aktifitasnya mendengar ucapan Julian.
"Saking kalemnya sampai Mension kau buat berantakan seperti kapal pecah." Ucapnya dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Itu hanya kebetulan saja, aku kan kalem kalau tidur ." Ujarnya lagi. Dia mengakui bagaimana sikapnya ternyata, dia hanya bisa diam ketika tertidur saja.
"Boleh kaan yaaah... Yahh... Kau tega sekali kalau meninggalkan aku di sini, kak Diva juga mana belum pulang." Ujarnya kembali. Wajahnya di buat sangat memelas seperti tidak mau di tinggal sang kakak.