
Malam harinya...
"Auuh... kepalaku... dasar perempuan itu. Awas saja kau besok, tamatlah riwayatmu!" ringisnya kesakitan. Walau sudah mendapat pelajaran dari Jennifer, dia masih belum kapok. Memang susah jika berurusan dengan orang yang suka ngeyel.
Kali ini apa yang akan dia lakukan pada Jennifer, harap-harap saja Jennifer tidak menghajarnya lebih parah lagi. Kalau saja Jennifer bukan di seret oleh Gerald mungkin tadi akan mengalami luka serius. Wendy sedari memegang kepalanya yang terasa berdenyut tanpa henti.
Kalau besok dia masih tidak mau berhenti, sama saja dia menyetorkan nyawanya sendiri pada Jennifer. Apa mungkin Jennifer harus membuka jati dirinya di depannya? Tetapi walau seperti itu pasti tetap tidak berpengaruh pada Wendy.
"Aaahh... brengsek kau wanita mur*han." Pyaar ... Wendy membuang gelas kaca yang ada di tangannya. Dia kesetanan sendiri dan memaki-maki Jennifer di sana. Benar-benar tidak sadar diri dia, padahal dia awal selalu mendekati Gerald. yang sedari
"Aku akan membuat perhitungan padamu. Awas saja nanti! Kau belum tahu siapa aku sebenarnya!" sifat sombongnya mendarah daging. Dia sendiri saja tidak tahu siapa Jennifer sebenarnya, tetapi dia bersikap seperti itu. Seolah-olah hanya dia yang paling memiliki marga besar di antara yang lainnya.
Sementara di sisi lain...
"Kau tumben sekali menghajarnya di depan umum, Kak? Tapi aku sangat suka yang kau lakukan." Julian memberikan dua jempolnya pada Jennifer.
Saat ini mereka tengah berkumpul di markas besar, tumben-tumbenan mereka berkumpul. Biasanya asyik dengan dunia sendiri.
"Aku belum puas melihatnya. Aku berdoa saja kalau dia mengulanginya lagi dan mendapat hadiah yang lebih hebat dari Tuan Putriku," celetuk Fany. Fany paling senang melihat Wendy di hajar habis-habisan oleh Jennifer. Namun dia masih belum puas juga, entah bagaimana yang bisa membuatnya senang dan puas.
"Kasihan anak orang," sahut Julian.
Fany melirik tajam pada Julian, tumben sekali dia mengatakan hal itu. "Sejak kapan kau merasa kasihan pada orang?" celetuk Fany. Karena memang tidak pernah melihat Julian merasa kasihan pada orang lain.
"Apa kau mulai menyukainya!" ujar Fany dengan ngegas.
__ADS_1
"Tidak! Mana mungkin aku menyukainya. Bisa tertekan batinku kalau bersamanya." Julian bergidik ngeri membayangkan. Buat apa juga dia membayangkan yang tidak penting seperti itu.
"Alasan dia, Fe. Jangan percaya padanya." Robert menjadi kompor di tengah-tengah mereka.
"Diam kau! Jangan sampai aku membantaimu di sini," ujar Julian sebelum semuanya runyam. Baru saja Fany berdamai dengannya karena masalah ponselnya, jangan sampai dia kembali memelas karena tidak bertegur sapa dengan Fany. Mereka sibuk sendiri hingga lupa dengan pembahasan yang mereka bahas kali ini.
"Sudah diam!" pekik Fany yang lama-lama jengah medengar perdebatan mereka berdua.
"Tuan putri, kalau saja aku menjadi dirimu, mungkin aku sudah membawanya ke tempat sepi dan menghajarnya habis-habisan. Kalau perlu aku lenyapkan saja dia dari sini," ungkap Fany. Dia juga ikut kesal, kalau dia melihat wanita lain mendekati Julian bagaimana reaksinya? Pasti akan sangat di luar dugaan secara dirinya sangat bar-bar.
"Biarkan dia bernapas sedikit lama lagi sebelum dia tidak bernapas sama sekali!" kata-kata Jennifer membuat siapa saja merinding di buatnya. Sangat tajam apa yang di ucapkan Jennifer kali ini. Barang kali dia sudah jengah dengan masalah wanita-wanita genit di luar sana.
Namun sikap Jennifer sama dengan Sean, jika sudah mengeluarkan tanduk tanpa memandang siapa orang itu pasti akan di hajar tanpa ampun. Kalau saja tadi tidak di depan banyak orang, pasti Wendy sudah kehilangan nyawanya saat itu juga. Maka dari itu tadi Julian juga meminta Gerald segera membawa pergi Jennifer.
"Kalau kau berbicara bisa tidak biasa saja. Wajahmu jangan serius begitu," ucap Julian melihat ekspresi wajah Jennifer di sana.
"Mana ada aku seperti itu? Aku tidak pernah seperti itu," elaknya. Dia paling enggan jika orang lain mengatakan dirinya petakilan.
"Tidak petakilan kalau kau tertidur," ketus Jennifer kembali. Seorang Julian memang hanya bisa diam kalau dirinya tertidur. Kalau seperti ini dia pasti akan menjawab setiap ucapan orang lain.
"Aku kembali dulu, kalian lanjutkan saja." Julian
beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi. Saat ini moodnya seperti sedang tidak baik-baik saja. Terlihat sekali kalau dia sedari tadi tidak menunjukkan senyumnya sedikitpun.
Pagi telah kembali menyapa, semua orang kembali melakukan aktifitas masing-masing. Twin J pun tengah pergi ke kampus, terkadang mereka tidak ada jam kelas, tetapi mereka tetap berangkat juga. Mungkin mereka tengah merasa bosan berdiam diri di mension tidak melakukan apa-apa.
__ADS_1
Kali ini salah satu dari mereka ada jam pengganti, jadi tetap harus ke kampus. Dengan duduk manis memerhatikan dosen pengambu yang tengah menjelaskan materi di depan. Memakan waktu 45 menit akhirnya jam sudah selesai, Jennifer dan Thea keluar untuk menyegarkan pikiran sebelum pulang.
"Kita ke tempat biasa, yuk. Sekalian nanti biar Fany aku suruh datang," ajak Thea.
"Terserah aja, aku ngikut," jawabnya singkat. Thea merogos ponselnya dan menghubungi Fany. Setelah deal, ke duanya berangkat menuju café yang biasa mereka kunjungi.
Skiip...
Ke duanya telah sampai di café, ternyata Fany sudah lebih dulu sampai di sana. Dia mengendarai mobilnya secepat kilat agar tiba lebih cepat.
"Bagaimana dengan wanita itu? Apa dia berulah lagi? Harusnya aku pergi juga tadi dan ikut menghajarnya." Fany penasaran dengan Wendy saat ini.
"Aku tidak melihatnya. mungkin dia tidak pergi hari ini," jawab Jennifer.
Tentunya Wendy tidak berangkat hari ini, rasa sakit di kepalanya belum juga hilang. Jennifer benar-benar kuat menarik rambut Wendy kemarin. Kalau saja itu dirinya melakukan di markas, agaknya pasti sudah terlapas kepala Wendy dari tempatnya.
"Aku penasaran dengan orang. Seberapa kaya dia, tinggi sekali bicaranya. Kelihatannya saja dia anak Mami dan Papi yang hanya bisa merengek," ejek Fany mengingak perkataan Wendy yang tinggi.
"Aku sangat kesal melihatnya. Kau ingat sendiri kan ucapan dia wantu kemarin. lihh ... rasanya ingin aku
cabik-cabik dan teriak di telinganya." Fany terlihat kesal sendiri di sana, sedangkan Jennifer saja bersikap santai saja saat ini.
"Bagaimana ya dia sekarang? Apa dia akan menangis dan merengek seperti kemarin untuk mencari perhatian?" sambungnya.
"Sudahlah, Fe. Kau kenapa juga harus membahas orang itu. Biarkan saja, memang pantas dia kalau mendapatkan pelajaran. Supaya nanti tidak terus-terusan seperti itu. Tapi aku rasa orang seperti itu tidak akan kapok," ujar Thea panjang lebar. Mereka berkumpul sembari sedikit mengghibah.
__ADS_1
"Dia tidak akan merasa kapok kalau belum menerima ganjaran yang setimpal. Kalau saja dia masih berani menyentuh milikku, akan aku buat tangan itu tidak bisa menyentuh benda-benda di sekitarnya." Thea menganga dengan ucapan Jennifer, karena tidak biasanya mereka berkumpul Jennifer berkata seperti itu.
Terdengar seperti sesuatu yang tidak akan berakhir bagus. Jennifer sedang dalam mode serius tidak bisa di ganggu gugat lagi. Dari pada membahas yang tidak penting, mereka lebih baik menikmati waktu luang mereka yang lebih berarti.