
Tony Herlambang beserta sang istri tadinya menunggu Yoshi dan wanitanya di dekat mobil. Namun, sudah beberapa menit berlalu, ia menunggu, tapi tidak kunjung keluar juga dan membuat mereka merasa heran.
"Kenapa mereka tidak kunjung keluar juga? Apa yang dilakukan mereka di dalam mobil? Jangan-jangan mereka bermesraan dulu di dalam mobil," ucap sosok wanita yang saat ini tengah menatap ke arah sang suami.
Refleks Tony mencubit gemas pipi sang istri karena ia tahu bahwa sahabat lamanya dari dulu bukanlah seorang pria yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan.
Bahkan bisa dibilang sahabatnya itu tidak pernah sekalipun terlihat dekat dengan wanita karena pernah mengatakan tidak ingin berpacaran dan berharap langsung menikah saja.
"Yoshi adalah pria yang baik, Ma. Lagipula di antara mereka sama sekali tidak ada hubungan apapun. Yoshi masih dalam tahap PDKT dengan wanita itu."
"Kalau tidak percaya, ayo kita ke sana untuk menghampiri mereka," sahut Tony yang tidak ingin sang istri berpikiran jelek tentang sahabatnya yang merupakan pria baik.
Sementara itu, sosok wanita yang tadinya sama sekali tidak percaya di zaman sekarang ini masih ada pria yang tidak pernah pacaran, awalnya hanya tertawa terbahak-bahak.
Namun, ia pun seketika menatap ke arah sosok suami dan bersemangat. "Baiklah. Ayo, kita lihat apa yang mereka lakukan."
Karena tidak ingin membuang waktu untuk membuat istrinya percaya, ia pun mulai menggandeng pergelangan tangan dengan jemari lentik itu dan berjalan menuju ke arah mobil berwarna hitam tersebut.
Hingga begitu tiba di dekat mobil, ia pun membungkuk untuk mengetuk pintu mobil dan sedikit membungkuk. Ia bisa melihat sahabatnya malah asyik berbincang di dalam mobil dan membuatnya kesal.
"Astaga! Yoshi, kenapa kamu malah asyik di dalam mobil?" tanya Tony yang kini langsung mendaratkan sebuah pukulan di lengan sahabatnya begitu keluar dari mobil.
Yoshi dan Diandra seketika keluar karena menyadari jika dari tadi membuat Tony menunggu. Kemudian menjelaskan tentang kejadian yang berakhir membuat perasaan keduanya tidak karuan.
Bahwa baru saja mereka berada pada posisi paling intim hingga perasaan masing-masing tidak karuan.
"Maaf karena tadi ceritanya seperti itu dan aku mengatakan pada Diandra akan membawanya ke tukang servis nanti." Yoshi yang saat ini melambaikan tangan pada Diandra agar mendekat karena mengetahui jika wanita itu menutup diri .
__ADS_1
"Diandra, kamu harus selalu bersamaku agar tidak hilang nanti. Aku tidak ingin ada petugas di sini yang memberikan informasi ada wanita hilang yang tidak tahu arah jalan pulang." Yoshi memilih untuk bercanda karena ia ingin membuat suasana lebih santai.
Sebenarnya ia ingin membuat Diandra lebih dekat dengan istri sahabatnya, tapi mengetahui jika akan tidak nyaman. Apalagi pasangan suami istri yang masih baru itu tengah mesra-mesranya seperti tidak terpisahkan.
Jadi, tidak ingin mengganggu keromantisan mereka. Ia akhirnya memilih untuk selalu berada di dekat Diandra dan menemani saat bermain semua wahana yang diinginkan.
Diandra yang hanya tersenyum simpul kala candaan dari Yoshi seperti menganggapnya adalah seorang anak kecil. Namun, ia merasa terhibur atas apapun yang dilakukan oleh pria bagaikan malaikat itu.
"Tenang, aku tidak akan hilang kecuali diculik. Lagipula ingatanku sangat tajam dan pasti akan tahu arah jalan pulang," ucap Diandra yang saat ini berbicara sambil tersenyum simpul.
Bahkan ia pun juga tersenyum pada wanita yang menjadi istri dari sahabat Yoshi agar tidak terlihat sombong. Padahal ia sebenarnya lebih menutup diri saja dari orang lain dan hanya dekat pada orang yang dipercaya.
Orang yang dipercaya hanyalah Yoshi karena pria itu sudah berkali-kali membuktikan padanya. Hingga ia pun mendengar wanita itu berbicara padanya.
"Kamu takut ketinggian atau nggak? Aku rencananya ingin mengajak suamiku naik semua wahana yang menguji adrenalin," ucap Nia Puspita yang ingin tahu apakah dua orang di hadapannya akan melakukan hal sama.
Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara bariton dari sosok wanita yang telah membuka suara.
"Aku takut ketinggian. Jadi, nanti hanya akan naik beberapa wahana yang biasa saja. Lagipula aku takut malah akan pusing dan mual," ucap sosok wanita yang saat ini tidak ingin mempermalukan Yoshi dengan sikap kampungannya karena bisa dibilang ia sangat cemen.
Ia suka dengan acara pasar malam di kampung, tapi hanya berani naik bianglala yang tidak terlalu tinggi. Itu pun hanya sekali saja tidak mau lagi karena saat naik, merasa degup jantungnya berdegup kencang.
Ia ingin naik wahana yang biasa untuk sekedar bersenang-senang. Bahkan ia kali ini merasa sangat senang karena bisa masuk ke tempat yang selama ini hanya bisa dilihatnya di televisi. Apalagi ada berbagai macam hiburan di dalam sana dan tidak ingin dilewatkan.
"Baiklah, kalau begitu kita masuk saja sekarang dan bersenang-senang," ucap Yoshi yang kini langsung memberikan kode pada Diandra agar berjalan di sampingnya.
Sebenarnya Tony ingin menahan Yoshi karena Austin ingin bertemu, tapi tidak jadi melakukannya karena tadi dilarang berbicara. Akhirnya ia mengikuti sahabatnya yang dianggap menjadi penunjuk jalan.
__ADS_1
'Apa tuan Austin masih lama?' gumam Tony yang kini berjalan sambil memeluk sang istri dan ia tinggal terima beres karena hari ini Yoshi berbalik hati dengan menanggung semuanya.
Bahwa sahabatnya itu ingin ia menikmati hari ini yang dianggap adalah perayaan bisa bertemu lagi setelah sekian lama.
Di sisi lain, Diandra saat ini sudah memanjakan matanya begitu memasuki area wisata yang selama ini menjadi salah satu tujuan orang-orang untuk refreshing ketika berada di Jakarta.
Bahkan membuatnya segera mengambil dokumentasi sebagai kenang-kenangan. Kini, ia berjalan sambil memotret beberapa tempat yang dianggapnya indah.
Juga orang-orang yang kini berlalu lalang di sekitar. Hingga ia mendengar suara bariton dari pria yang berjalan di sebelahnya, sehingga membuatnya menoleh.
"Kamu asyik memotret tempat dan orang lain. Kalau mau, aku bisa membantu memotretmu, Diandra." Yoshi mengulurkan tangannya untuk meminta benda pipih itu.
Namun, Diandra menggelengkan kepalanya karena ia tidak berniat untuk mengambil gambar diri sendiri. "Tidak perlu karena aku hanya ingin mengambil gambar orang lain. Aku tidak percaya diri di depan kamera."
Bisa dibilang, Diandra adalah wanita yang introvert dan tidak suka bersosialisasi dengan banyak orang. Bahkan ia selalu merasa insecure dan tidak percaya diri di depan kamera.
Kemudian Diandra menatap ke arah salah satu wahana yang ingin dinaiki.
"Aku ingin naik itu."
"Baiklah, kita langsung ke sana saja," sahut Yoshi yang kini menoleh ke arah sahabatnya. "Kamu dan istrimu ikut ke sana atau ke tempat lain?"
Saat Tony Herlambang hendak menjawab, seketika ia menoleh ke arah sumber suara teriakan dan sangat hafal pemiliknya.
"Diandra!"
Bahkan tiga orang yang lain termasuk Diandra juga menoleh ke arah sumber suara tersebut.
__ADS_1
To be continued...