
Satu hari setelah Austin membeli cincin bersama calon ayah mertua untuk memenuhi keinginan Diandra, mendapatkan pesan dari wanita yang diketahui telah mempunyai rencana besar tersebut.
Kemarin, ia membayar cincin yang akan digunakan oleh Diandra untuk melamarnya. Dengan mengatakan pada calon ayah mertua agar merahasiakan hal itu.
Kini, Austin yang baru saja selesai meeting, baru saja masuk ke dalam ruangan kerja dan begitu mendaratkan tubuh di kursi kebesaran, langsung memeriksa ponsel.
Di mana ada pesan dari sosok wanita yang sangat dicintai dan membuatnya seketika tersenyum lebar.
Apa malam ini kita bisa bertemu? Aku ingin membicarakan tentang sesuatu denganmu sambil makan malam. Aku tunggu kamu di restoran pada pukul tujuh malam.
Sebenarnya ia ingin sekali langsung menelpon Diandra untuk memberikan jawaban, tetapi dengan sekuat tenaga menahan diri.
"Tahan. Jika kamu menelpon Diandra, tidak akan bisa menyembunyikan rasa bahagiamu karena sudah mengetahui rencana wanitamu. Nanti malah akan mengacaukan segalanya," ucapnya yang saat ini tengah berpikir untuk tidak menghubungi Diandra.
Akhirnya dengan masih terus tersenyum, kini menggerakkan jari-jari untuk membalas pesan Diandra.
Sebenarnya aku ingin menjemputmu agar kita bisa pergi bersama, tapi sepertinya kamu tidak ingin aku melakukan itu. Baiklah, aku akan datang tepat waktu.
Setelah dirasa cukup dan tidak berlebihan, kini Austin menekan tombol kirim dan tentu saja langsung centang dua yang menandakan jika sudah dibaca oleh Diandra.
Saat berharap ada balasan lagi, tapi tidak ada dan membuatnya sedikit kecewa.
"Ia tidak membalas lagi. Sebenarnya apa yang dipikirkan saat ini? Sepertinya ingin membuatku penasaran dengan sikap misterius hari ini yang tiba-tiba mengajak makan malam."
"Semenjak amnesia, banyak hal baru yang ditunjukkannya dan sangat bertolak belakang dari yang dulu. Meskipun aku sangat senang dengan perubahan sikapnya yang jauh lebih mudah ditaklukkan daripada dulu, tapi tidak memungkiri jika sifat keras kepala itulah yang membuatku bisa jatuh cinta."
Austin masih menatap intens ke arah ponsel di tangan dan memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikiran saat ini.
"Apakah aku akan jatuh cinta sebesar ini pada Diandra jika dulu sangat mudah ditaklukkan dan langsung menerimaku? Aku bahkan tidak tahu jawabannya, tapi hal itu tidak akan membuatku menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa memilikimu seutuhnya."
Saat ia kini meletakkan ponsel dalam genggaman ke atas meja, kini beralih menatap ke arah tumpukan dokumen yang harus segera diperiksa dan tanda tangani.
Ketika ingin fokus bekerja, dering ponsel mengalihkan perhatian dan begitu mengetahui yang menghubungi adalah sang ibu, tanpa membuang waktu langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Iya, Ma." Austin merasa sangat khawatir saat mendengar suara tangis dari seberang telpon. "Kenapa Aksa menangis, Ma?"
"Austin, hari ini kamu melarang Aksa untuk datang ke apartemen Diandra, bukan? Aksa saat ini menangis tersedu-sedu dan tidak bisa dibujuk. Bahkan sekarang tengah berguling-guling di lantai sambil menangis," ucapnya dengan menatap ke arah cucu laki-laki yang tidak bisa dirayu.
__ADS_1
Karena setiap hari terbiasa datang ke apartemen mengunjungi sang ibu dan selalu pulang malam dengan dibujuk oleh Austin yang mengatakan Diandra masih sakit, sehingga mau diajak pulang.
Menandakan bahwa Aksa tidak ingin sang ibu tidak sembuh-sembuh jika sibuk merawatnya, sehingga patuh ketika diajak pulang dan dijanjikan besok pagi datang lagi.
Namun, karena hari ini tidak datang mengunjungi sang ibu, sehingga menangis tersedu-sedu dari tadi dan membuat para penghuni rumah utama kalang kabut.
Austin yang memang telah mengecualikan hari ini karena akan menjadi malam spesial untuknya, berharap tidak akan dikacaukan oleh putra sendiri.
"Apa Mama tidak bisa merayu dengan membelikan apapun kesukaan Aksa? Putraku akan melupakan kebiasaan datang mengunjungi ibunya jika dibelikan sesuatu yang sangat disukai. Ajak saja jalan-jalan ke Mall untuk memilih apapun kesukaan."
Meskipun berbicara seperti itu pada sang ibu, sebenarnya ia tahu betul seperti apa putranya. Apalagi dulu pernah mengalami sendiri jika tidak bisa menghentikan keinginan Aksa yang ingin bertemu dengan ibunya.
"Cucuku sebenarnya sangat mirip denganmu karena darah lebih kental dari air. Semenjak kecil, kamu sudah menunjukkan jika menginginkan sesuatu, harus dipenuhi oleh papa dan Mama. Apa kamu tidak bisa melihat cerminan diri saat melihat putramu?" Ia berbicara seperti itu karena ingin menyadarkan putranya.
Bahwa Aksa mungkin bisa dibujuk sebentar, tapi saat mengingat sang ibu lai, pasti akan kembali menangis karena ingin datang ke tempat wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Apalagi ikatan batin antara ibu dan anak sangat kuat dan tidak bisa Mama kendalikan seperti mobil remote." Ia yang merasa sudah cukup untuk mengomel pada putranya, berharap bisa merubah perintah hari ini.
Sementara itu, Austin masih diam karena merasa tertampar dengan kalimat skak mat dari sang ibu di seberang telpon. Bahkan terlihat tengah memijat pelipis.
"Aku tahu itu, Ma, tapi ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku dan tidak ingin gagal. Aku takut jika Aksa membuat Diandra lelah seperti biasanya, akan merubah mood dan akhirnya rencana yang disusun gagal."
Saat Austin tengah memikirkan keputusan, melihat telpon masuk dan langsung berbicara dengan sang ibu.
"Ma, aku matikan dulu telponnya karena Diandra menelpon!" Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu, Austin langsung mematikan sambungan telpon dari sang ibu dan langsung mengangkat telpon Diandra.
"Halo, Sayang."
"Kenapa Aksa tidak datang ke apartemen? Padahal ini sudah siang dan tidak biasanya belum datang. Apa ia sakit? Apartemen sangat sepi tanpa kehadirannya," ucap Diandra yang merasa sangat hampa ketika tidak ada anak kecil yang sangat disayangi dan selalu menghiasi hari-harinya dengan memanggil mama.
Panggilan sayang yang dianggap terbaik dan membuat hidup Diandra lebih berwarna, tapi satu hati tidak bertemu Aksa, seketika terasa hidup menjadi hambar dan tidak bersemangat lagi.
Austin yang merasa sangat kebingungan dan tidak berpikir jika Diandra akan sangat kecewa karena Aksa tidak datang berkunjung satu hari, kini makin dipusingkan oleh keputusan yang terpaksa harus diubah.
"Tadi Mama mengatakan tengah mengajak Aksa belanja di Mall dulu. Tunggu saja sebentar lagi karena pasti akan datang."
Suara embusan napas lega kini terdengar oleh Austin dan sekaligus merasa sangat bersalah karena mencoba untuk bersikap egois hari ini dengan tidak ingin diganggu siapapun, termasuk putranya.
__ADS_1
'Maafkan sikap egoisku,' gumam Austin yang kini menyesali perbuatannya.
Kemudian Diandra yang merasa senang, mengakhiri pembicaraan dan menunggu kedatangan Aksa
Austin saat ini langsung menelpon sang ibu untuk segera mengantarkan Aksa ke apartemen karena sudah ditunggu Diandra.
Sementara itu di sisi lain, Diandra yang dari tadi menunggu kedatangan Aksa, mengisi waktu luang untuk membuatkan camilan sehat. Dengan membuat pisang coklat, ia berkutat di dapur bersama sang ibu.
Hingga tanpa terasa, bel pintu berbunyi dan merasa sangat yakin jika itu adalah Aksa yang datang bersama calon ibu mertua. Buru-buru ia mengarahkan kursi roda ke depan untuk memeriksa.
Begitu yang dipikirkan benar, menyunggingkan senyuman begitu melihat anak kecil yang sangat disayangi berlari menghambur untuk mencium dan memeluk.
"Mamaaa!" teriak Aksa dengan wajah berbinar karena sangat senang.
Diandra yang seketika membalas ciuman dari Aksa sambil memeluk, kini mengerutkan kening begitu melihat wajah sembab bocah laki-laki yang selalu menggemaskan itu. Kemudian beralih menatap ke arah wanita paruh baya yang selalu mengantarkannya.
"Apa Aksa baru menangis, Ma?"
Ibu Austin yang merasa bingung untuk menjawab, kini hanya mengangguk perlahan karena tidak mungkin mengatakan jika putranya melarang Aksa datang hari ini.
Namun, perkataan Aksa yang polos pada Diandra seketika membuatnya merasa bersalah pada Austin.
"Mama, Asa tidak boleh datang. Asa sedih dan nangis." Langsung memeluk erat tubuh sang ibu, seolah menunjukkan kebahagiaan yang dirasakan ketika bisa melihat dan sekaligus menghabiskan waktu bersama sang ibu.
Refleks Diandra membalas pelukan erat dari bocah laki-laki menggemaskan tersebut sambil menaikkan pandangan pada ibu dari Austin.
"Apa benar yang dikatakan oleh Aksa, Ma? Memangnya kenapa Aksa tidak boleh datang ke sini? Apakah aku tidak boleh dekat dengan Aksa?"
"Bukan seperti itu, Diandra." Ia langsung menggerakkan tangan untuk membantah dan memutar otak untuk tidak mengatakan larangan sebenarnya berasal dari Austin.
'Aku tidak boleh mengatakan larangan Austin karena itu akan semakin memperkeruh suasana,' gumamnya yang kini menatap ke arah sosok wanita yang sudah memangku Aksa.
"Jadi, sebenarnya tadi Mama ingin menghabiskan waktu bersama hari ini dengan cucu karena sudah lama tidak bisa melakukan itu. Berpikir libur satu hari tidak masalah, tapi ternyata cucuku jauh menyayangimu."
Saat Diandra tersenyum begitu merasa bangga bisa membuat Aksa sangat menyayangi seperti ibu kandung, kini seketika pudar begitu mendengar suara dari anak kecil di pangkuan.
"Nenek boong! Papa melarang Asa datang."
__ADS_1
To be continued....