
"Jangan turun dari ranjang, Diandra!" seru sang ibu pada putrinya begitu merasakan cubitan dari menantunya untuk menghentikan.
Tadi Austin sudah mengirimkan pesan mengenai kehamilan kembar Diandra sangat lemah dan mengharuskan untuk selalu berada di atas ranjang. Jadi, berniat untuk menyuruh putrinya memakai kursi roda.
"Ada apa? Kenapa aku tidak boleh pergi ke kamar mandi? Apakah aku harus mengompol di sini?" Diandra benar-benar sangat kesal karena seperti berada di penjara saja.
Apalagi ia saat ini sangat enggan untuk menatap ke arah Austin yang berbicara dengannya dan bertanya tentang apa yang saat ini tengah dirasakan.
"Biar Ayah mengambil kursi roda untukmu. Tadi kata perawat, kamu harus bed rest karena kehamilanmu sangat lemah. Jadi, jangan mengambil resiko dengan membahayakan nyawa dua janin dalam kandunganmu." Kemudian langsung melangkah keluar untuk bertanya pada perawat.
Saat Diandra hanya diam saja karena yang dipikirkannya saat ini adalah perkataan sang ayah menjadi kenyataan, agar ia kehilangan bayi kembar di rahimnya saat ini. Ia malah mendapatkan pertanyaan dari pria dengan raut wajah terkejut tak jauh dari hadapannya.
__ADS_1
"Apa, hamil bayi kembar? Apakah istriku saat ini kembali hamil, Bu?" Austin mendalami perannya seperti manusia paling lemah agar dikira tengah menahan rasa sakitnya yang tak tertahankan.
"Sial! Kenapa kepalaku sangat sakit seperti ini?" Austin yang bisa membaca pikiran Diandra karena hanya melihat raut wajah masam ditunjukkan dan ketika memintanya untuk menjawab, hanya singkat.
"Biar aku pijat kepalamu. Siapa tahu bisa sedikit berkurang, Menantu." Saat ia hendak menyentuh kepala menantunya, terlihat putrinya berkomentar ketus.
"Mama, aku adalah putrimu yang selalu kamu banggakan semenjak dulu. Aku sekarang tahunya adalah pusat kuliner pinggir jalan menikmati hidup. Jadi, jangan menjadikanku seolah anak tiri." Ia benar-benar sangat cemburu melihat kedekatan itu.
"Biarkan saja datang ke sini karena nanti pasti akan ikut tahu bagaimana terharunya seorang tamu naratama." Ia yang sudah tidak tahan karena merasa sang ayah lupa, kini mengerutkan kening karena tidak kunjung datang.
"Lama sekali mengambilnya. "Apakah ada perawat yang datang." Diandra yang sudah tidak tahan lagi, kini menatap kesal pada sang ibu.
__ADS_1
Sementara itu, Austin menyadari jika permasalahannya belum beres tentang apa yang dikatakan oleh saudara kandung ibu dari Yoshi yang ingin menghancurkan pernikahan mereka.
'Apa yang harus kulakukan sekarang untuk membuat istriku memaafkan kesalahan di masa lalu dan tidak bersikap egois? Apalagi ada anak kembar yang tidak boleh sampai terkena imbasnya,' gumam Austin yang sebenarnya sangat ingin menggendong sang istri ke kamar mandi.
Pada posisinya yang bersandiwara mengalami kecelakaan, tidak mungkin menggendong Diandra ke kamar mandi meskipun ingin. 'Cinta sejati hanya ada di dunia halu, bukan dunia nyata.'
Austin hanya berkeluh kesah karena khawatir mendapatkan ceramah dari orang lain. 'Aku akan membuat istriku kembali seperti dulu, sangat mencintaiku dengan luar biasa sampai tidak mau meninggalkan aku.'
Ia kini seketika menatap ke arah sang mertua begitu melihat baru saja masuk ke dalam ruangan.
'Sepertinya Diandra sangat marah padaku dan tidak mau memaafkan kesalahan di masa lalu,' gumam Austin yang kini sudah dipeluk oleh anak buahnya.
__ADS_1
To be continued...