Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Kehilangan kesadaran


__ADS_3

Diandra saat ini masih menatap ke arah ponsel miliknya yang baru saja berakhir panggilan dari Cakra. Meskipun barusan mendengar jika pria di seberang telepon tersebut menyuruhnya untuk tidak memikirkan keberadaannya, tetap saja merasa seperti mengalami Dejavu.


Ia refleks menggelengkan kepala karena merasa jika menerima kebaikan dari Cakra yang memiliki sebuah ketertarikan padanya, akan terjatuh di lubang yang sama seperti beberapa hari lalu.


"Tidak! Aku ingin hidup tenang tanpa ada seorang pria yang berada di sekelilingku. Apalagi jelas-jelas dia mengungkapkan memiliki ketertarikan padaku. Jadi, mana mungkin aku tetap melanjutkan untuk menerima bantuannya." Diandra saat ini memilih untuk mencari semua informasi mengenai lowongan pekerjaan di daerah yang berada dekat dengan tempatnya berada saat ini.


"Pasti ada kebun teh lain yang berbeda pemilik. Siapa tahu ada lowongan di kebun teh lain yang bukan merupakan tempat kerja orang tua teman Cakra." Saat Diandra fokus mencari lowongan pekerjaan melalui ponsel pintar miliknya, mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Ia pun sudah menduga jika itu adalah pegawai yang mengantarkan makanan untuknya. Tanpa membuang waktu, langsung bangkit berdiri dari ranjang dan berjalan menuju ke arah pintu. Begitu membuka pintu di hadapannya, melihat sosok wanita dengan penampilan tapi yang memakai seragam berwarna biru.


"Ini makanan pesanan Anda, Nona. Mau ditaruh di dalam?" tanya wanita yang saat ini menunggu jawaban dari tamu hotel.


Diandra yang tidak ingin merepotkan, kini langsung menggelengkan kepala dan menerima nampan berisi makanan pesanannya, yaitu nasi nasi liwet dengan lauk bebek goreng serta lalapan komplit.


"Baiklah, Nona. Jika ada lagi yang ingin dibutuhkan, bisa menelpon."


Diandra berniat untuk kembali ke kamar setelah menganggukkan kepala kesepian kali, tapi tiba-tiba mengingat sesuatu hal dan berbalik badan.


"Apa saya boleh bertanya sesuatu?"


"Silakan, Nona."


Diandra sebenarnya merasa tidak enak dan ragu untuk mengungkapkan semuanya, tapi karena tidak ada pilihan lain, sehingga membuatnya ingin segera bertanya.


"Apa kamu orang asli sini?" Masih berusaha berbasa-basi sedikit karena merasa tidak sopan jika langsung mengungkapkan hal yang ada di kepalanya.


"Iya. Apa ada yang ini Anda lakukan di sekitar sini?" tanya pegawai wanita tersebut dengan mengorbankan kening karena merasa penasaran apa yang akan dilakukan oleh tamu wanita itu.


Diandra yang masih membawa nampan berisi makanan, kini tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. "Ehm ... sebenarnya saya berasal dari Jakarta dan berencana untuk mencari pekerjaan di sekitar sini."


"Mungkin bekerja di area kebun teh atau yang lainnya. Apakah kamu memiliki informasi mengenai lowongan pekerjaan? Aaah ... maaf sebelumnya karena bertanya privasi seperti ini." Diandra masih merasa tidak enak setelah mengungkapkan apa yang diinginkannya.


Hingga ia pun seketika berbinar begitu mendapatkan respon positif dari pegawai wanita di hadapannya tersebut.


"Ada banyak pekerjaan di daerah puncak. Kalau kamu mau, nanti aku akan memberikan informasinya. Oh ya, berapa nomor ponselmu? Nanti aku akan menghubungimu." Mengeluarkan ponsel miliknya yang tadi berada di balik saku bawahannya.


Tanpa ragu, Diandra langsung menyebutkan nomor ponselnya dan berharap ada kabar baik, sehingga bisa mendapatkan pekerjaan.


"Sebelumnya terima kasih karena sudah mau membantuku." Diandra langsung melulurkan tangan kanan setelah memindahkan nampan ke tangan kiri. "Aku Diandra."


"Panggil saja aku Mila," ucapnya sambil membalas uluran tangan dari wanita di hadapannya. "Terima kasihnya nanti saja setelah aku mendapatkan informasi mengenai pekerjaan untukmu. Kira-kira, kamu ini bekerja di bidang apa?"


Diandra yang tidak tahu karena bingung, memilih untuk mengendikkan bahu. "Pekerjaan apa saja, aku mau asalkan halal."


Mila hanya terkekeh dan menepuk pundak wanita di hadapannya yang terlihat sangat polos tersebut. "Baiklah. Nanti aku cari informasi dulu untuk bertanya pada beberapa teman."


"Semoga secepatnya ada kabar baik. Kalau begitu, cepat makan makanannya sebelum dingin karena nanti rasanya tidak lezat. Aku tidak bisa berlama-lama karena harus kembali bekerja." Melihat Diandra yang saat ini menganggukkan kepala. Kemudian melangkahkan kaki meninggalkan wanita itu.


Sementara itu, Diandra yang kini masih menatap ke arah siluet wanita dengan tubuh sedikit gemuk tersebut dan sekaligus merasa lega. "Alhamdulillah aku selalu bertemu dengan orang baik yang ringan tangan untuk membantuku tanpa pikir panjang."


"Semoga ada kabar baik dan aku bisa mengais rezeki di sini." Kemudian ia pekerjaan masuk dan berniat untuk menikmati makanan yang dipesannya hari ini.

__ADS_1


Bahkan saat meletakkan nampan di atas meja dan duduk pada sofa, Diandra bisa mencium aroma wangi khas yang membuat cacing-cacing di perutnya bernyanyi.


"Aku harus banyak makan agar tidak sakit karena tidak akan ada yang merawatku saat hidup sendirian tanpa siapapun. Bahkan keberadaanku dari orang tua karena tidak ingin Austin mengetahui di mana aku berada saat ini." Diandra sebenarnya merasa bersedih ketika mengingat orang tua.


Namun, karena berpikir jika apa yang dilakukan demi kebaikan sendiri, memilih untuk fokus pada hidupnya dan berharap orang tuanya akan baik-baik saja setelah mendapatkan uang hasil dari ia menjual diri.


Kini, ia langsung menikmati makanan yang dipesan dengan lahap. Meskipun sesekali bulir air mata jatuh tanpa seizinnya kala mengingat hidupnya yang sangat tragis.


Tapi ia terus mencoba untuk menghabiskan makanan yang dirasa sangat lezat. Apalagi selama ini sangat menyukai sambal, sehingga benar-benar menghabiskannya tanpa tersisa.


Bahkan iya tidak seperti seorang wanita patah hati yang biasanya tidak berselera makan dan memilih untuk seharian menangis tanpa memperdulikan kesehatan.


Ia saat ini menatap ke arah makanan yang sudah berpindah ke dalam perutnya. "Alhamdulillah. Ternyata Aku benar-benar hebat bisa menghabiskan makanan saat suasana hati sedang buruk karena patah hati."


"Semua ini karena aku harus menjaga kesehatan. Jika sampai kondisiku ambruk tanpa ada yang menjaga, aku sendiri yang repot dan hidup menderita. Aku harus kuat berdiri menjalani hidup di bawah kaki sendiri." Diandra kemudian bangkit berdiri dan mencuci tangan di wastafel.


Saat ini, ia bahkan mengusap perutnya yang sudah kekenyangan. Hingga beberapa saat kemudian ia mengecek ponsel miliknya karena ingin melihat nomor dari pegawai hotel yang bernama Mila tadi.


Diandra berpikir bahwa miscall agar ia menyimpan nomor. Benar saja apa yang ditebaknya, kali ini ada satu panggilan tidak terjawab dan juga pesan yang menyatakan bahwa itu adalah nomor Mila.


"Semeoga ada kabar baik dan aku bisa segera mendapatkan pekerjaan." Kemudian ia menyimpan nomor pegawai wanita yang dimintai tolong tadi.


Berpikir berteman dengan seorang wanita jauh lebih baik daripada lawan jenis dan itu sekarang menjadi pedoman dari Diandra. "Aku akan menjauhi para pria mulai hari ini agar tidak terjerat masalah."


Bukan merasa sok cantik karena menghindari para pria, pikir tidak ingin sakit hati lagi untuk kesekian kali karena ditinggalkan oleh pria yang dicintai.


"Semuanya akan baik-baik saja jika aku berteman dengan seorang wanita." Diandra merasa sangat yakin jika ia akan menemukan jalan, sehingga fokus untuk membuka lembaran baru di tempat yang identik menjadi tempat wisata bagi banyak orang.


"Mereka tidak mungkin akan datang ke sini. Pasti akan lebih memilih liburan ke luar negeri ataupun ke Bali yang notabene menjadi pusat tempat wisata terbaik." Meskipun ada keraguan di hatinya, tetap saja Diandra berusaha untuk memenuhi pikirannya dengan energi positif agar tidak dipenuhi oleh ketakutan.


Kini, ia merasa bingung harus melakukan apa, sehingga saat ini memilih keluar dari penginapan untuk berkeliling di area sekitar.


Namun, sebelumnya ia mengganti pakaian dengan yang lebih tertutup serta memakai sweater tebal agar hawa dingin tidak menusuk tulang.


Beberapa saat kemudian, ia sudah berjalan keluar dari ruangan kamar dan kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke area depan penginapan.


Ia diri untuk menuju ke area taman dengan lampu-lampu berwarna-warni yang ditata sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik dan ada banyak para tamu hotel menghabiskan waktu di sana.


'Rasanya sangat aneh karena aku berjalan sendirian saat banyak orang yang bersama dengan pasangan serta keluarga,' gumam Diandra yang saat ini merasa kikuk menjadi pusat perhatian ketika berjalan sendirian.


Hingga ia yang merasa tidak nyaman, memilih untuk menjauh dan terus berjalan mencari tempat yang sepi tanpa merasa takut ada orang jahat yang mungkin akan melakukan sesuatu padanya.


Ia di sana tidak ada orang jahat yang berani macam-macam karena satu-satunya seseorang yang membuatnya khawatir hanyalah Austin Matteo.


Sampai di mana ia melihat bangku kosong di sudut jalan yang merupakan pintu keluar, memilih untuk mendaratkan tubuh di sana sambil menatap beberapa kendaraan yang melintas di jalan raya.


'Pergi sendirian ternyata rasanya seperti orang bodoh saja karena tidak ada yang diajak bicara dan menjadi pusat perhatian orang lain. Karena rasanya memang sangat aneh ketika menginap di hotel sendirian.'


'Apalagi merupakan tempat wisata yang biasa digunakan untuk menghabiskan liburan bersama keluarga maupun pasangan,' gumam Diandra yang saat ini masih menatap kosong ke arah jalan raya yang berada di hadapannya.


Ia tengah memikirkan kilasan balik hidupnya dan mengembuskan napas kasar. 'Dulu, saat aku kecil, ingin bisa segera dewasa agar bisa mencari uang sendiri karena tidak tega melihat orang tua yang selalu bekerja membanting tulang.'

__ADS_1


'Namun, setelah dewasa, ternyata semuanya tak seindah ekspektasi. Ternyata hidupku malah hancur berantakan seperti ini dan tidak tahu harus bagaimana, hingga memilih untuk hidup dengan merahasiakan semuanya.'


Puas beragumen sendiri di dalam hati, Diandra yang beberapa kali mengusap lengannya karena dinginnya angin malam mulai menusuk pori-porinya. Karena tidak ingin makin kedinginan, kini ia memilih untuk bangkit berdiri dan berniat kembali ke ruangan kamar.


Namun, saat ia berjalan, mendengar suara yang di loudspeaker dan mencari sumber suara. Hingga ia melihat di bagian kanan taman, yang dipenuhi oleh anak-anak dan membuatnya merasa sangat tertarik, sehingga berjalan mendekat.


Ada banyak balon berwarna-warni yang menghiasi dan suara sorak sore dari anak-anak kecil yang terlihat sangat bahagia membuatnya tersenyum.


"Sebenarnya ada acara apa?" Diandra makin mempercepat langkah kakinya dan karena ingin segera mengetahui, bertanya pada seorang wanita yang saat ini berada di hadapannya.


"Maaf, Nyonya. Sebenarnya ada acara apa?" tanya Diandra yang kini melihat wanita di hadapannya menoleh.


"Oh ... itu merupakan acara setahun sekali yang diadakan di sini dan diikuti oleh banyak anak-anak yang merupakan tamu hotel. Jadi, pengurus hotel mengadakan lomba yang diikuti banyak anak-anak dari tamu hotel sebagai salah satu rangkaian acara memperingati hari jadi. Sedangkan besok adalah acara untuk para pasangan."


Diandra kini mengerti dan merasa sangat beruntung bisa melihat acara yang diikuti oleh banyak anak-anak kecil yang sangat menggemaskan. Apalagi ia dari dulu sangat menyukai anak kecil karena tingkah lakunya sangat lucu.


"Oh ... jadi seperti itu. Terima kasih, Nyonya." Diandra membungkuk hormat dan kini berjalan makin ke depan agar bisa melihat jelas.


Hingga ia pun kini berada di barisan paling depan dan bisa melihat beberapa anak yang berjalan seperti model menampilkan gaun yang dipakai. Bahkan suara tepuk tangan mendominasi acara tersebut.


Ia pun juga ikut bertepuk tangan sambil fokus menatap ke arah anak-anak kecil yang berjalan berlenggak-lenggok seperti model. 'Pintar-pintar sekali anak kecil itu. Pasti kalungnya sudah diajari karena setiap tahun ada acara di sini.'


'Beruntung sekali aku bisa melihat acara seperti ini karena sangat menghiburku dan sejenak melupakan beban hidup,' gumam Diandra yang masih fokus menatap ke arah para anak kecil yang berjalan di atas karpet merah.


Hingga saat ia melirik sekilas ke arah papan dengan banner berisi tentang acara fashion show anak-anak, mengerjakan mata melihat seperti bergerak.


Ia pun beralih menatap ke arah anak-anak kecil di sampingnya agar mendadak khawatir jika papan tersebut roboh dan mengenai mereka.


Belum sempat ia berbicara ataupun berkomentar untuk memberitahu yang lain atau pihak panitia mengenai papan tersebut yang seperti hendak roboh, ketika membulatkan mata begitu melihat pergerakannya.


Refleks Diandra berteriak dan semua orang menatap ke arahnya. "Awas! Bahaya!"


Ia tidak sempat menunjuk ke arah papan tersebut, tapi langsung berlari menuju ke arah suara anak kecil yang kini masih berada di sana.


Refleks Diandra langsung melindungi beberapa anak yang tepat di bawah papan roboh tersebut, sehingga yang terjadi adalah jatuh mengenai tubuhnya.


Sementara suara teriakan dari semua orang memenuhi tempat itu dan beberapa panitia langsung menolong wanita yang tertimpa papan tersebut.


Diandra yang kini masih memeluk erat tiga anak perempuan, merasakan tubuhnya terasa sangat nyeri hingga meringis kesakitan.


"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya seorang pria berseragam hitam untuk memastikan.


Bahkan beberapa pasangan suami istri yang merupakan orang tua dari anak kecil hampir tertimpa papan tersebut langsung menghambur memeluk anak masing-masing.


Mereka berniat untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan wanita tersebut, tapi membulatkan mata begitu melihat pemandangan di depan mata.


"Aku tidak ...."


Saat Diandra hendak menjelaskan, tiba-tiba kepalanya terasa berkunang-kunang dan lama-kelamaan kesadaran kesadaran.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2