Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Merasa iri


__ADS_3

Diandra awalnya berpikir jika Austin akan mengungkapkan kemurkaan padanya saat kesal tidak digubris, tapi seketika membulatkan mata begitu pria itu malah menyerangnya secara tiba-tiba dan membuat tubuhnya sedikit terwujud ke belakang karena terkejut.


Namun, tubuhnya masih ditahan oleh tangan dengan buku-buku kuat tersebut. Ia awalnya tidak membalas dan membiarkan pria itu mencium bibirnya, tapi lama-kelamaan tidak bisa diam karena menikmati gelombang hasrat yang dikirimkan oleh sang suami. Hingga ia seketika membalasnya.


Hingga beberapa saat kemudian keduanya melepaskan pagutan mereka dan terdengar deru napas memburu dari masing-masing yang kini mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-paru mereka yang kekurangan setelah aksi ciuman panas dan liar beberapa saat lalu.


"Masih marah?" tanya Austin yang kini menatap intens wajah cantik sang istri.


Sementara itu, Diandra hanya terdiam dan tidak langsung menjawab saat masih menormalkan deru napasnya yang memburu.


Ia bahkan saat ini menatap ke arah pria dengan tatapan tajam menghunus yang seolah ingin menancapkan anak panah cinta di jantungnya saat ini. Hingga ia mengingat tentang kekesalannya pada pria itu dan mencubit perut kekar berotot di balik kaos kasual berwarna putih.


"Kau tadi menelpon Leony, kan?" sarkasnya dengan raut wajah masam dan masih tidak melepaskan cubitannya karena ingin melampiaskan amarah yang dirasakan saat ini.


Di sisi lain, Austin mengurutkan kening karena merasa jika sang istri seperti seorang peramal karena mengetahui apa yang dilakukannya.


"Bagaimana mungkin kamu tahu jika aku tadi menelponnya? Aku tadi menelponnya untuk menyampaikan pada ayahnya jika aku berterima kasih karena sudah membantu untuk menyelesaikan masalah di kepolisian, sehingga kakak beradik itu kini sudah dibawa ke kantor polisi dan sebentar lagi diproses."


Ia berpikir setelah menjelaskan semuanya, sang istri sudah tidak marah lagi, tapi mengerutkan kening karena melihat raut wajah memerah itu masih jelas mengungkapkan kemurkaan.

__ADS_1


"Sayang, apa lagi? Aku sudah menjelaskan semuanya padamu, kan? Apa ada yang salah denganku?" tanya Austin yang saat ini ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang istri ketika marah padanya hanya gara-gara menelpon sahabat baiknya tersebut.


Hingga ia seketika mengerjapkan mata begitu melihat tiba-tiba Diandra menangis tersedu-sedu.


Diandra saat ini berakting seperti seorang anak kecil yang ingin sesuatu agar dituruti. Ingin sang suami menurutinya dan mematuhi apapun yang ia katakan.


"Aku tidak ingin kamu menghubungi Leony lagi karena sudah mengirimkan surat padanya untuk tidak berhubungan denganmu lagi atas nama pertemanan. Aku melakukan ini demi melindungi keluarga kecil kita agar tidak ada pelakor seperti yang dialami oleh mayoritas orang." Diandra bahkan membiarkan air matanya berurai di pipi.


Ia merasa perlu untuk membatasi sang suami berinteraksi dengan lawan jenis. Jadi, menggunakan jurus berakting menangis agar sang suami menuruti apa yang dikatakannya.


"Kamu sekarang pilih aku atau Leony!" ujar Diandra dengan suara yang serak dan membuatnya yakin jika sesuatu yang ada di pikirannya adalah benar.


Bahwa ia tidak percaya dengan hubungan antara pria dan wanita lebih dari sebatas teman karena pasti ada salah satu yang memiliki perasaan lebih, meskipun tidak diungkapkan dengan kata-kata, tapi terkadang perbuatan yang menunjukkannya.


'Rasanya aku ingin memakannya sekarang juga karena sangat gemas dengan perbuatannya. Aku baru tahu jika istriku bisa bersikap semanis ini.'


Ia dari dulu tidak pernah berpikir jika Diandra bisa bersikap kekanak-kanakan ketika cemburu padanya karena selama ini bersikap datar dan tidak mengakui perasaannya.


Kini, pertama kali melihat ia melihat kecemburuan berlebihan dari sang istri, merasa sangat gemas dan seketika menghambur memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Ya ampun, Sayang. Aku benar-benar tidak ada sesuatu yang khusus dengan Leony. Mana mungkin aku memilih Leony daripada istri sendiri. Ya jelas aku memilih istri sendiri lah! Apakah kamu saat ini cemburu padaku?" Ia berbicara tanpa berniat untuk melepaskan pelukannya.


Sementara itu, Diandra yang merasa sangat kesal karena dianggap cemburu, padahal sebenarnya ingin melindungi rumah tangga mereka dari godaan orang ketiga.


"Bukankah aku sudah bilang jika ingin melindungi keluarga kecil kita dari pelakor dengan tidak memberikan akses apapun oleh wanita lain. Jika sahabatmu adalah laki-laki, aku tidak akan pernah melarang apapun, tapi ini perempuan dan aku tidak akan diam saja melihatnya."


Diandra berharap jika sang suami mau menuruti perkataannya dengan tidak menemui Leony lagi. Ia seketika memberikan jari kelingkingnya. "Berjanjilah padaku untuk tidak menemui Leony lagi!"


Austin saat ini merasa bingung karena berasal berada di posisi yang sulit, tapi ia tidak ingin menyakiti hati sang istri, sehingga tanpa ragu langsung mengaitkan jarinya. Baru berniat untuk berbicara pada reuni agar tidak menghubungi maupun bertemu dengannya.


Itulah yang saat ini dipikirkan olehnya dan berharap tidak ada masalah hubungan rumah tangganya dengan sahabat yang bahkan sudah lama tidak ya jumpai.


"Ya, aku janji tidak akan menemui dia lagi. Lagipula dari dulu juga aku tidak bertemu dengannya dan hidupku aman sentosa. Jadi, tidak merasa bingung jika kamu melarangnya." Ia seketika mengingat tentang surat yang dibicarakan oleh sang istri dan membuatnya merasa sangat tertarik.


Ia saat ini masih mengaitkan jari kelingking dengan sang istri. "Kamu membuat surat untuknya?"


Diandra yang seketika merasa sangat lega atas apa yang baru saja diungkapkan oleh sang suami ketika tidak keberatan dengan permintaannya, kini menganggukkan kepala karena tidak ingin ada yang ditutupi.


'Ya. Aku tadi memberikan surat dan menitipkannya pada perawat yang tadi mengantar ke depan. Kenapa? Tidak boleh aku memberikannya surat?" tanya Diandra dengan raut wajah masam.

__ADS_1


"Bukan tidak boleh, Sayang. Hanya saja, aku merasa iri karena dulu tidak pernah kamu kirimi surat saat kamu pergi, tapi sekali bertemu Leony langsung kamu berikan surat peringatan," ucap Austin yang saat ini tertawa ketika melihat sang istri yang kembali tersenyum masam.


To be continued...


__ADS_2