Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Lembur


__ADS_3

"Dari presdir, ya?" tanya Adelia yang kini tersenyum simpul untuk menggoda sahabatnya karena sekilas mendengar suara bariton dari seorang pria.


Ia bahkan sama sekali tidak pernah menyangka jika atasannya bisa berhubungan dengan seorang pegawai baru. Padahal selama ini beredar kabar bahwa pemimpin perusahaan sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan pegawai.


Selama ini sudah banyak yang mencoba untuk mencari perhatian dari presiden direktur perusahaan dengan berpenampilan sangat seksi dan make up tidak biasa.


Namun, sama sekali tidak bisa mendapatkan perhatian dari atasan mereka yang memiliki pesona tak terhingga dan menjadi impian bagi setiap wanita.


Melihat Diandra hanya diam, kini Adelia mulai bisa membaca situasi. "Ternyata benar jika kamu adalah wanita kesayangan CEO. Pantas saja tadi memakai jas milik tuan Austin."


"Pasti saat jam istirahat sudah kamu kembalikan dengan pergi ke ruangannya. Pakai nipu aku lagi kalau ada pekerjaan tambahan." Adelia berdecak kesal karena telah dibohongi oleh pegawai baru yang baru saja diajari.


Hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya adalah bisa mengajari wanita yang mungkin bisa saja memecatnya jika melapor pada atasannya.


Menyadari kesalahan, segera ia berakting tersenyum simpul. "Maafkan aku jika tadi mengajarimu kurang jelas atau kurang baik." Adelia bahkan kini menyatukan kedua tangan dengan memasang wajah memelas.


"Jangan melapor pada kekasihmu, ya! Nanti aku bisa kehilangan sumber pendapatanku," ucap Adelia yang kini mulai mengerti apa yang harus dilakukan untuk melindungi pekerjaan.


Hingga ia merasakan sebuah pukulan pada lengannya. Meskipun tidak sakit, tetap saja sangat terkejut dan seketika menoleh. Begitu melihat ada salah satu rekan kerja yang berbicara dengan nada perintah, membuatnya sangat kesal.


"Hey, cepat kembali ke meja kerjamu jika masih ingin bekerja di perusahaan ini. Lihat jam berapa ini!" seru seorang wanita dengan kemeja berwarna merah dan bawahan selutut hitam.


Diandra yang tadinya tidak ingin berbicara apapun karena khawatir akan terjadi sesuatu hal yang membuat suasana makin memanas, kini mengerutkan kening begitu melihat sosok wanita yang dianggapnya sok berkuasa.


Bahkan menatapnya dengan tajam, seolah menunjukkan jelas ketidaksukaan padanya. '


''Sepertinya wanita itu sangat membenciku karena mendengar kabar burung di perusahaan ini,' gumam Diandra yang saat ini tengah menatap intens wajah wanita dengan make up cetar membahana seperti seorang artis.


'Sebenarnya ia mau kerja atau melenong? Tebal sekali make up-nya. Apa rasanya tidak seperti sedang memakai topeng?'


Diandra yang kini melihat Adelia bangkit berdiri dengan wajah kesal, kini menahan pergelangan tangannya. "Nanti pulang kerja, aku bareng ya? Kamu naik apa ke kantor?"


Adelia yang sama sekali tidak ingin menjawab wanita yang tadi memukulnya, berbeda saat bersikap pada Diandra. "Aku baik bus. Memangnya kamu naik bus juga? Tidak mungkin kekasih presdir naik kendaraan umum."


"Mungkin saja lah karena aku lebih suka naik bus daripada antar jemput yang bisa menimbulkan rasa iri dengki yang lain." Diandra berbicara sambil melirik sekilas wanita yang sudah duduk di kursi kerjanya.


Sengaja ia menyindir seperti itu agar tidak ada rasa iri dengki dari sosok wanita yang seolah menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


"Wah ... ternyata aku bertemu dengan pasangan bos yang luar biasa. Baiklah, nanti kita pulang bersama. Sekarang kerja lagi karena waktu berlalu begitu cepat saat mengobrol denganmu." Adelia kini tersenyum begitu melihat tangannya dilepaskan oleh Diandra dan kembali ke meja kerjanya.


Sementara itu, Diandra melakukan hal sama dan ingin fokus bekerja tanpa memikirkan hal-hal yang membuatnya merasa kesal.


'Fokus saja bekerja dan anggap gosip murahan itu tidak ada,' gumam Diandra yang kini mulai menatap layar komputer setelah dinyalakan.


Waktu semakin bergulir hingga semua staf perusahaan baik pria maupun wanita sama-sama fokus bekerja di bagian masing-masing. Hingga tanpa terasa jam pulang kerja tiba.


Tentu saja seperti biasa, embusan napas lega kini tengah dirasakan oleh semuanya karena setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, kini sudah bisa kembali ke tempat tinggal masing-masing.


Saat semua staf perusahaan tengah sibuk dengan membereskan meja kerja sebelum pulang, sangat berbeda dengan yang dialami oleh Diandra hari ini.


Ia yang tadinya ingin mengikuti yang lain dengan mematikan laptop, mendengar suara bariton dari pria yang baru saja memanggil namanya.


"Diandra, kamu tidak boleh pulang karena harus lembur." Seorang pria memberikan tumpukan dokumen di atas meja wanita yang diketahui memiliki hubungan khusus dengan bos perusahaan.


Diandra yang kini membulatkan matanya seketika begitu melihat banyaknya dokumen yang mungkin akan membuat otaknya penuh dengan angka-angka.


"Lembur? Apakah ada yang lain lembur di ruangan ini?" tanya Diandra yang merasa khawatir jika ada sebuah konspirasi dalam masalah tersebut.


Ia berpikir jika dalang dibalik semuanya adalah atasannya yang hari ini bersiap sangat aneh. 'Apa pria itu yang membuatku tidak boleh pulang awal? Apa ada masalah denganku, hingga membuatku harus lembur saat menjadi pekerja baru?'


"Tidak, kamu sendirian di sini karena ini adalah perintah dari atasan. Katanya pegawai baru harus bisa bekerja dengan baik, jadi perlu dilatih dan digembleng lebih dulu agar tidak terkejut jika nanti banyak pekerjaan."


Kemudian pria itu berlalu pergi tanpa berniat untuk menunggu tanggapan karena merasa tugasnya sudah selesai untuk menyampaikan perintah dari atasan yang menghubungi secara langsung.


'Aneh sekali menjadi kekasih bos Karne malah disiksa dengan tidak boleh pulang dan harus bekerja lebih keras dibandingkan yang lain. Perasaan dulu pegawai baru tidak seperti itu karena tidak mungkin disuruh lembur,' gumamnya di dalam hati.


Sementara itu, Diandra masih melihat siluet belakang pria yang berjalan semakin menjauh dan menghilang di balik dinding kaca, menembuskan napas kasar jika merasa sangat kecewa karena hari ini tidak bisa pulang cepat seperti yang lain.


'Rasanya aku sangat iri melihat mereka semua yang sudah bersiap untuk pulang. Jika mungkin tadi mereka iri padaku karena ada berita tidak benar itu, sekarang akulah yang merasakannya.'


Diandra yang baru saja hendak membuka satu dokumen untuk diperiksanya, seketika menoleh saat namanya dipanggil oleh wanita yang tadi mengajari.


"Diandra, semangat! Kapan-kapan saja kita pulang bersama karena waktu masih panjang." Adelia sebenarnya merasa iba pada Diandra karena habis bekerja lebih keras saat disuruh lembur di hari pertama bekerja.


Ia mau tahu bahwa hal itu sangat tidak masuk akal dan meyakini jika yang berada di balik perintah itu adalah bosnya dan tak lain kekasih wanita yang tersenyum padanya.

__ADS_1


'Sepertinya berduaan dengan diantara di ruangan ini,' gumam Adelia yang berlalu pergi dengan melambaikan tangan setelah Diandra menganggukkan kepala.


Diandra hari ini lebih pendiam karena jarang berbicara saat merasa kesal pada gosip murahan yang tersebar di perusahaan. Ia belum melanjutkan pekerjaan karena masih menatap satu persatu pegawai yang mulai meninggalkan meja kerja dan menatapnya sangat aneh.


Entah sudah ke berapa kali ia menghembuskan napas kasar yang menandakan bahwa perasaannya saat ini tidak karuan.


'Hari pertama bekerja sudah banyak drama seperti ini. Apalagi jika aku sudah beberapa bulan berada di perusahaan ini. Pasti akan ada banyak hal yang tidak bisa membuatku tenang bekerja.'


Akhirnya Diandra kembali fokus pada pekerjaan tanpa memperdulikan apapun padahal sejujurnya ia sangat takut berada di lantai itu sendirian.


"Konyol sekali! Kenapa aku harus bekerja lembur sendirian di sini? Bagaimana jika ada hantu di sini dan tiba-tiba mencekik leherku dari belakang?"


Diandra mengedarkan pandangan ke sekeliling dan bulu kuduknya meremang ketika membayangkan hal-hal yang mengerikan. "Kamu terlalu banyak menonton film horor, sehingga berpikir macam-macam."


"Aku tidak akan nonton lagi film horor karena hanya akan membuatku ketakutan seperti ini saat sendirian di tempat kerja. Jika yang melakukan ini adalah penjahat wanita itu, mungkin besok juga akan berada di sini sendirian."


Diandra yang baru saja menutup mulut dan berniat untuk fokus memeriksa tumpukan dokumen tersebut agar bisa segera pulang setelah menyelesaikannya, kini mendengar dering ponselnya berbunyi dan sudah bisa diduga bahwa yang menghubungi adalah pria yang baru saja bicarakan.


Tanpa membuang waktu, ia langsung mengangkat panggilan dengan menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton pria yang sangat dibencinya.


"Kamu setiap hari akan lembur, jadi siapkan mental serta kondisi tubuhmu agar selalu fit. Aku melakukan ini agar tidak memotong gajimu karena uang lembur bisa kamu gunakan untuk membayar hutang padaku."


Diandra saat ini merasa seperti kebingungan karena memikirkan harus lembur sendirian setiap hari, membuatnya khawatir.


"Jika Anda menyuruhku lembur setiap hari, paling tidak, ada salah satu pegawai yang menemaniku di sini agar tidak sendirian seperti orang hilang."


Saat berharap pria di seberang telpon tersebut merubah keputusan dengan cara menyuruh salah satu pegawai untuk menemaninya bekerja, seketika membulatkan mata begitu mendengar jawaban seorang presiden direktur perusahaan.


"Tenang saja karena kamu tidak sendirian. Setiap hari, aku yang akan menemanimu bekerja. Bukankah bosmu adalah seorang pria yang sangat baik? Karena tidak keberatan meluangkan waktunya untuk menemani salah satu pegawainya yang lembur."


Saat ini, Diandra hanya menelan saliva dengan kasar karena sekarang otaknya tengah memikirkan hanya berduaan di lantai tempat ia bekerja.


Ia khawatir jika pria itu akan melakukan hal-hal yang tidak senonoh padanya hanya karena menjadi seorang pemimpin perusahaan.


'Apa pria itu sudah gila karena ingin berduaan denganku di sini tanpa ada yang melihat? Bahaya. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya mengurungkan perintah.'


Diandra yang tidak langsung menjawab karena tengah mencari sebuah ide untuk menggagalkan niat pria yang dianggap hidung belang tersebut, kini kembali mendengar pertanyaan dari seberang telpon.

__ADS_1


"Apa kamu keberatan jika aku yang menemanimu? Karena itulah kamu tidak menjawab sama sekali."


To be continued...


__ADS_2