
Suasana penuh kebahagiaan kini terasa di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang karena Yoshi tidak ingin wanita di sebelahnya tersebut ketakutan jika mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Ia yang tadinya hanya menganggukkan kepala tanda setuju pada keinginan Diandra, kini berpikir hal yang berbeda. Rencananya adalah membawa Diandra ke apartemen miliknya untuk tinggal sementara di sana sambil mencari tempat kos seperti yang diinginkan oleh wanita itu.
'Semoga ia tidak marah padaku dan mau menerima untuk tinggal sementara di apartemen yang saat ini kosong,' gumam Yoshi yang fokus mengemudi, tapi pikiran tengah dikuasai oleh kegundahan karena khawatir jika Diandra marah padanya karena mengambil keputusan sepihak.
Sementara Diandra saat ini menatap ke arah banyaknya kendaraan yang memenuhi jalan dan membuatnya mengingat sesuatu begitu melewati bangunan tinggi menjulang yang pernah dimasuki olehnya.
Bangunan yang baru saja dilihatnya adalah sebuah klab malam yang dulu membuat Austin menyuruhnya untuk datang karena ia ingin meminjam uang.
Saat mengingat bahwa ia memiliki utang pada pria yang telah merenggut kesuciannya sebesar 10 juta, ini memikirkan apakah akan membayar atau menganggap kesuciannya sudah cukup untuk uang segitu.
'Aku memang hanyalah orang miskin yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, tapi kesucian yang selama ini kubanggakan dan selalu kujaga, tidak bisa dibeli dengan uang Austin saja ayahku tidak masuk rumah sakit karena serangan jantung.'
Diandra kali ini berpikir bahwa ia menganggap utangnya sudah lunas setelah perbuatan Austin yang melakukan dua kali padanya.
'Aku harus melupakan perbuatan yang jahat itu agar bisa tenang dan melanjutkan hidup dengan baik,' gumam Diandra yang saat ini mengerutkan kening begitu mobil mewah milik Yoshi berbelok ke arah bangunan tinggi menjulang yang diketahuinya adalah sebuah apartemen.
Refleks ia langsung menoleh ke arah pria yang saat ini juga menatap ke arahnya begitu memarkirkan mobil di tempat tersedia.
Sebelum ia mengungkapkan nada protes pada pria itu, kini mendengar suara bariton Yoshi. Seolah mengerti dengan pemikirannya dan menjelaskan sesuatu yang membuatnya kembali mengingat pertama kali pergi ke sebuah apartemen yang menjadi akhir dari harga dirinya.
"Maafkan aku karena tidak bisa dengan mudah menemukan tempat kos seperti keinginanmu. Jadi, untuk sementara kamu tinggal saja di apartemen kosong milik Naura. Sementara aku akan menyuruh orang untuk mencari tempat yang sesuai dengan keinginanmu."
Yoshi saat ini mengarang cerita dengan mengatasnamakan sepupunya karena ia tahu bahwa jika mengatakan yang sejujurnya bahwa itu adalah apartemen miliknya, Diandra tidak akan pernah mau tinggal di sana.
Ia seolah bisa membaca pikiran Diandra yang terkesan tertutup dan menghindar berinteraksi dengan lawan jenis, khususnya dirinya.
'Tanpa Naura, aku mana mungkin bisa membantu wanita yang sangat aneh ini. Sebenarnya apa yang terjadi padanya hingga selalu curiga padaku?' gumam Yoshi yang saat ini masih menunggu Diandra membuka mulut untuk menyetujui tawaran darinya.
Diandra saat ini tidak bisa percaya sepenuhnya pada perkataan seorang pria, meskipun sudah membuktikan dengan membantu orang tuanya. Kini, ia mengeluarkan ponsel miliknya.
"Aku ingin berbicara terlebih dulu dengan Naura. Berikan aku nomor Naura sekarang. Maaf, bukannya aku tidak percaya padamu, tapi ingin memastikan sesuatu karena tidak suka merepotkan orang lain."
"Apalagi tadi Naura sama sekali tidak berbicara apapun padaku, tapi sekarang kamu mengatakan aku boleh tinggal di apartemennya. Menurutku, meminta izin dan memastikan pada pemilik apartemen adalah suatu kewajiban."
Diandra saat ini masih menatap Yoshi yang tidak langsung menjawab pertanyaan darinya. Ia kini memicingkan mata dan merasa curiga jika apa yang ada di pikirannya benar.
Namun, seketika teralihkan begitu melihat pria itu mengambil ponsel yang ada di dalam dasbor mobil.
__ADS_1
"Aku tidak hafal dengan nomor sepupuku, jadi harus mencarinya terlebih dahulu." Yoshi saat ini sibuk merapat doa di dalam hati agar sepupunya mengiyakan semua pertanyaan Diandra agar tidak mencemarkan nama baiknya di mata wanita itu.
Kini, ia berpura-pura menatap ke arah layar ponsel miliknya dan langsung mengirimkan nomor sepupunya ke nomor baru Diandra. "Itu nomornya. Kamu bisa bertanya padanya secara langsung."
Meskipun berakting sangat tenang di depan Diandra, sedangkan di dalam hati merasa seperti hendak meledak jantungnya karena dikuasai oleh kekhawatiran jika wanita itu mengetahui kebohongannya.
'Naura adalah seorang gadis yang sangat pintar, pasti bisa membaca jika pertanyaan dari Diandra sama saja menghancurkan nama baikku jika ia berbicara jujur.'
Yoshi saat ini tengah sibuk menghibur diri sendiri dan membuatnya merasa sangat gelisah jika sampai mendapatkan sebuah kebencian dari wanita itu.
Padahal niatnya hanyalah semata ingin menolong wanita saat terlihat lontang-lantung dengan membawa koper. Kini, ia pasrah begitu Diandra berbicara di telpon dengan sepupunya dan hanya diam mendengarkan.
Diandra tidak membuang waktu langsung memencet tombol hijau karena ingin segera mencari tahu apakah pria di sebelahnya tidak berbohong.
"Halo, Naura. Ini aku, Diandra. Maaf mengganggumu. Aku sebenarnya saat ini sedang bersama sepupumu dan ia mengajakku ke apartemenmu yang kosong. Aku benar-benar merasa tidak enak. Kenapa tadi kamu tidak memberitahuku apa-apa?"
Saat menutup mulut, Diandra tidak langsung mendengar jawaban dari wanita di seberang telpon dan merasa sangat yakin jika Yoshi telah menipunya dengan mengatasnamakan Naura karena takut ia marah.
Namun, kini mendengar jawaban Naura yang berbicara penuh penyesalan dan membuatnya merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku, Diandra. Aku sebenarnya ingin langsung mengatakannya tadi, tapi takut jika kamu merasa tersinggung. Jadi, aku meminta tolong pada sepupuku. Jika aku tidak berakhir di rumah sakit, pasti sudah mengajakmu langsung ke sana."
"Kenapa kamu malah meminta maaf padaku? Seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena sudah membantuku."
"Justru aku yang berterima kasih padamu karena nyawaku tidak bisa dibayar dengan pertolonganku padamu melalui sepupuku. Oh ya, apartemen itu sudah lama tidak kutempati karena tidak diizinkan oleh mama."
"Jadi selama ini sering digunakan oleh sepupuku yang kadang mampir ketika sedang suntuk. Jangan heran jika ada beberapa pakaian laki-laki di sana karena itu bukan milik kekasihku, tapi milik sepupuku yang bersamamu."
Naura yang mengetahui bahwa Diandra bukanlah seorang wanita yang mudah menerima bantuan, bisa membaca bahwa sepupunya harus diselamatkan agar nama baik tetap terjaga.
Jadi, berbicara dengan sangat meyakinkan agar Diandra tidak mencurigai sepupunya yang menurutnya terlalu baik karena banyak membantu wanita yang baru dikenal.
Ia bahkan merasa curiga pada perbuatan sepupunya saat selalu ingin membantu Diandra. Bahwa ada sebuah ketertarikan dari sepupunya.
Itu membuatnya merasa senang karena selama ini tidak pernah melihat seorang Yoshi Zaydan Narendra tertarik untuk selalu ingin dekat dengan seorang wanita. Jadi, sebagai saudara sepupu yang baik, turut senang dan mendukung saat Yoshi memiliki sebuah ketertarikan pada wanita sebaik Diandra.
"Baiklah. Aku tidak akan mempermasalahkannya karena hanya tinggal di apartemenmu sebentar sambil mencari tempat kos. Apa kamu ingin berbicara dengan sepupumu?" tanya Diandra yang saat ini menoleh ke arah Yoshi.
"Tidak perlu, nanti dia hanya mengomel padaku. Kamu bisa tinggal di sana sepuasnya dan tidak perlu mencari tempat kos lain karena seperti yang sudah kubilang tadi bahwa aku tidak diperbolehkan tinggal di apartemen dan mencari seseorang yang mau mengontraknya."
__ADS_1
Naura masih mencoba untuk membuat Diandra tetap tinggal di apartemen sepupunya agar keduanya bisa dekat, tapi ia kembali menelan pil pahit kekecewaan karena wanita itu menolaknya.
"Aku lebih nyaman tinggal di tempat kos karena sesuai dengan kastaku. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak di tempat penuh kemewahan karena terbiasa tinggal di kamar sempit yang mudah dibersihkan." Diandra kini bisa melihat pergerakan Yoshi yang melepaskan seat belt.
"Terima kasih, Naura. Beristirahatlah, aku akan masuk ke apartemenmu karena sepupumu sudah memberikan sebuah kode."
"Baiklah. Sampai jumpa," ucap Naura yang yang langsung mematikan sambungan telpon sambil bernapas lega seolah terbebas dari beban berat yang menimpanya.
Kini, Diandra melakukan hal sama dengan beranjak keluar dari mobil setelah melihat Yoshi memberikan sebuah kode agar berjalan mengikutinya.
Yoshi yang tadi bisa mendengar suara sepupunya, seketika merasa sangat lega dan tidak membuang waktu, langsung ingin menunjukkan apartemen miliknya agar Diandra bisa segera beristirahat. Ia melihat wajah lelah wanita itu dengan lingkaran hitam di sekitar area mata.
Sebenarnya ia ingin sekalian menawarkan pekerjaan di kantornya, tapi menunggu besok karena berpikir terlalu cepat.
'Biarkan Naura saja yang besok memberitahu Diandra bahwa di perusahaanku ada lowongan pekerjaan sebagai sekretaris pribadi,' gumam Yoshi yang kini menarik koper milik Diandra memasuki lobi apartemen.
Kemudian keduanya masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai sepuluh karena unit apartemen Yoshi ada di sana.
Hanya keheningan yang ada di dalam lift saat ini, seolah keduanya tengah memikirkan sesuatu.
Diandra benar-benar sangat takut jika bersama dengan lawan jenis di dalam apartemen karena ia tahu akan ada syetan saat ada laki-laki dan perempuan di satu ruangan.
'Apa yang harus kulakukan untuk menyuruhnya pergi setelah menunjukkan apartemen Naura? Aku tidak mau berada di dalam apartemen hanya berdua dengannya. Aku sangat takut, meskipun Yoshi adalah pria yang baik.'
Diandra kini melihat pintu kotak besi itu telah terbuka dan merasa sangat ragu untuk mengusir Yoshi begitu memberitahukan unit apartemen yang akan sementara di tempati olehnya.
Saat Yoshi berjalan menuju ke unit apartemen miliknya, kini melihat ekspresi wajah kekhawatiran dari wajah Diandra dan ia tahu penyebabnya, sehingga kini mendekat dan memberikan koper milik wanita itu.
Refleks ia menepuk jidat berkali-kali untuk berakting. "Aku lupa!"
Diandra yang tadinya bingung untuk mencari alasan, kini mengerutkan kening melihat sikap pria di hadapannya. "Apa yang terjadi?"
"Aku lupa ada meeting dengan salah satu klien yang kemarin dibatalkan karena ada masalah keluarga. Jadi harus buru-buru pergi. Kamu masuk saja sendiri ke unit 205 dengan passcode 140390."
"Maafkan aku karena tidak mengantarmu ke dalam. Aku harus buru-buru!" Yoshi kini memencet tombol lift dan langsung masuk ke dalam ruangan kotak besi tersebut.
Saat pintu lift bergerak menutup, ia bisa melihat raut wajah Diandra berubah penuh kelegaan. "Diandra, setakut itukah kamu pada seorang pria? Siapa pria jahat yang telah membuatmu merasa ketakutan seperti itu saat bersama dengan lawan jenis."
To be continued...
__ADS_1