
Diandra tadinya melarang Yoshi untuk menggandeng tangannya karena tidak ingin dilihat oleh beberapa staf yang mungkin melintas di lobi. Bahkan resepsionis pasti bisa dengan jelas melihat jika melakukan itu.
Meskipun sudah berhasil membuat kehebohan di perusahaan dengan kedatangannya yang tiba-tiba saat menjadi sekretaris pribadi pimpinan perusahaan, Diandra tetap saja tidak mau semakin menambah masalah.
Nasib baik Yoshi tidak bersikap seperti anak kecil yang merengek meminta permen saat ia melarangnya untuk menggandeng tangan.
Jadi, merasa sangat lega dan ketika menyeberang jalan begitu berada di depan perusahaan, ia membiarkan Yoshi menggandengnya.
Awalnya ia berpikir bahwa Yoshi akan melepaskannya setelah menyeberang jalan, tapi yang terjadi malah sebaliknya karena semakin mengeratkan genggaman pada tangannya.
"Lepaskan! Kalau seperti ini, akan terlihat sangat lebay dan alay. Kita Bahkan bukan remaja yang pertama kali jatuh cinta." Diandra berniat untuk melepaskan genggaman tangan dari Yoshi.
Namun, tidak jadi melakukannya karena ia merasakan genggaman semakin lebih erat dan mendengarkan ada protes dari pria itu.
"Bukankah tadi kamu mengatakan tidak ingin dilihat oleh para staf di perusahaanku, bukan? Jadi, sekarang tidak ada staf yang bisa melihatnya karena sudah berada di luar perusahaan." Yoshi saat ini menoleh ke arah wanita yang terlihat diam saja.
Seolah tengah mencari kata-kata yang pas untuk membuatnya tidak lagi menggandengnya. Namun, begitu melihat Diandra sudah tidak protes lagi ataupun beralasan, sehingga membuatnya tersenyum lebar karena merasa lega.
"Baiklah. Sepertinya percuma saja aku menolak karena Sepertinya kamu tidak akan mendengarkan aku. Lagipula memang benar jika saat ini tidak ada para pegawaimu." Diandra pun kini mengarahkan jari telunjuk pada warung dengan bandar berwarna hijau yang sangat ramai.
"Apa itu warteg-nya?" tanya Diandra yang saat ini mengerjapkan mata begitu melihat ada banyak orang yang makan siang di sana dan membuatnya merasa yakin jika makanan di situ rasanya pasti sangat enak karena bisa dikunjungi oleh para pembeli.
Diandra makin bersemangat untuk segera merasakan makanan di sana. "Ayo, cepat! Sepertinya makanan di sana sangat enak karena banyak orang yang datang untuk makan siang seperti kita."
Sementara itu, Yoshi yang tadinya tidak menyangka akan seramai itu saat jam makan siang, membuatnya mengerjakan mata karena bingung harus masuk atau membatalkannya.
Bahkan membayangkan berdasarkan dengan para pembeli lain saja sudah membuat kepalanya pusing karena ia paling malas untuk antri. Namun, terpaksa harus mengikuti Diandra yang terlihat bersemangat masuk ke dalam.
Ia seperti sangat bersemangat, padahal aslinya sangat malas untuk ikut antre membeli. "Baiklah. Ayo, kita masuk."
Diandra menganggukkan kepala dan masuk ke dalam warung yang disediakan banyak kursi untuk orang-orang yang makan di sana.
Namun, ia melihat ada orang-orang yang lebih memilih untuk dibungkus karena merasa tidak nyaman makan dengan banyak orang. Diandra saat ini mengedarkan pandangannya untuk mencari kursi kosong.
Saat tidak menemukan kursi kosong untuk tempat duduk, ia seketika menoleh ke arah pria di sebelahnya. "Kita bungkus saja dan makan di ruangan karena di sini tidak ada yang kosong."
Saat ini, Yoshi seketika mengedarkan pandangan ke sekeliling orang-orang yang sudah sibuk menikmati makanannya. "Benar juga. Baiklah, terserah kamu saja. Asalkan calon istriku senang, aku akan ikut."
"Iish ... jangan berbicara seperti itu di depan banyak orang. Aku malu dianggap lebay. Ayo, kita ke sana dan memesan makanan." Diandra kini berjalan dengan posisi masih bergandengan tangan seperti anak remaja yang pacaran.
Meskipun merasa sangat malu dengan perbuatan Yoshi yang terus menggandengnya seperti takut kehilangan, ia mencoba untuk tidak memperdulikannya.
Kemudian berjalan menuju ke arah penjual yang sudah sibuk melayani pembeli, mulai dari yang dibungkus dan dimakan di tempat.
Diandra menunggu wanita paruh baya itu melayani pembeli yang terlebih dulu antri sebelum dirinya. Ia dari dulu tahu bahwa masakan orang berusia paruh baya jauh lebih enak daripada orang masih muda.
Seolah itu sudah menjadi dogma dalam pikirannya dari dulu karena selalu saja setiap makan di warung yang memasak adalah wanita paruh baya, pasti rasanya sangat lezat.
Diandra menoleh ke arah Yosi yang dari tadi hanya diam saja seperti orang yang kebingungan tidak tahu harus melakukan apa.
"Kamu mau makan dengan lauk apa? Ada banyak lauk dan sayuran di etalase. Kamu tinggal pilih." Diandra mengarahkan dagunya ke arah etalase berisi makanan.
Berharap Yoshi menatap dan memutuskan untuk makan siang dengan apa.
Yoshi yang dari tadi bingung karena baru pertama kali masuk ke warung itu dan melihat banyak pegawai yang berasal dari perusahaannya, tapi melarang semua orang untuk menyapanya karena akan membuat Diandra tidak nyaman.
Ia bahkan tadi berdiri di belakang Diandra dan memberikan kode dengan mata saja agar beberapa orang yang melihatnya masuk tidak bangkit berdiri untuk memberikan hormat ataupun menyapanya.
"Aku makan yang sama denganmu saja karena bingung ada beraneka ragam makanan di sana." Yoshi memilih untuk mencari cara aman karena tidak ingin berpikir.
__ADS_1
Hingga melihat Diandra menganggukkan kepala tanda setuju dan tidak lagi bertanya karena fokus pada penjual yang saat ini sudah sibuk meladeni pelanggan.
'Aku bahkan tidak mengajak Diandra ke kantin agar para staf pria di perusahaanku tidak melihatnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya karena ada banyak serta pria yang ternyata lebih memilih makan di sini daripada kantin perusahaan.'
Yoshi menghembuskan napas kasar seolah mewakili perasaannya saat ini karena tadi melihat jika ada banyak Setelah pria berasal dari perusahaannya tengah menatap ke arah Diandra.
Seolah melihat wanita yang membuatnya berhasil melepaskan status jomlo sejati. 'Jika Aku setiap hari mengajak Diandra makan ke restoran, ia pasti akan merasa sangat ilfil padaku dengan menganggap aku pamer kekayaan.'
Tapi saat berniat untuk membuat Diandra nyaman, malah membuatnya merasa kesal sendiri karena mengetahui tatapan dari para staf pria di perusahaannya.
'Tidak lagi aku datang ke sini untuk membiarkan para peserta pria di perusahaanku menatap Diandra seolah menjadi pusat perhatian ketika masuk ke sini bersamaku.'
Lamunan Yoshi seketika buyar begitu mendengar Diandra memesan makanan pada penjual wanita paruh baya tersebut.
"Makan atau bungkus, Neng."
"Bungkus saja, Bu karena sudah tidak ada tempatnya." Diandra kemudian menyebutkan makanan yang dipesannya pada wanita paruh baya tersebut.
Wanita upaya tersebut sekilas melirik ke arah para pembeli dan berniat mencari tempat kosong untuk dua orang, tapi memang ternyata sudah penuh dan membuatnya tidak bisa menawarkan.
Di saat bersamaan, menuju ke arah dua orang yang bangkit berdiri dan berniat untuk membayar karena sudah selesai makan.
"Itu sudah pergi, Neng. Lebih baik Neng segera duduk di sana bersama dengan pacarnya agar tidak ada yang menempati lagi. Nanti nasi akan diantarkan."
Diandra yang mengikuti arah telunjuk dari wanita paruh baya tersebut, seketika menganggukkan kepala tanda setuju dan langsung berjalan cepat menuju ke arah dua kursi kosong.
"Ayo, kita duduk di sana!" Menatap ke arah sosok pria yang menurutnya jauh lebih pendiam hari ini.
Sementara itu, Yoshi yang bahkan sudah seperti patung karena patuh saja pada semua perintah Diandra hari ini, tapi kini membulatkan mata saat mengetahui tempat duduk yang dimaksud adalah di samping para staf laki-laki perusahaannya.
'Astaga! Kenapa semuanya kebetulan begini? Mereka semua akan bisa melihat diandraku dari dekat. Aaah ... lebih baik aku segera mengusir mereka semua agar menyingkir dan tidak membuatku sakit mata!'
Hingga ia yang tadinya sangat bersemangat karena berhasil mendapatkan tempat duduk kosong dan menikmati makanannya, kini merasa bingung begitu melihat jika itu adalah deretan para lelaki.
'Astaga! Aku baru menyadari jika tidak ada satupun wanita di deretan ini.' Diandra bisa melihat jika para pria itu menatap ke arahnya sekilas dan langsung kembali menikmati makanan dengan menundukkan kepala.
Padahal ia tadi berniat untuk menyapa dengan menganggukkan kepala, tapi tidak jadi dan merasa lega saat tidak ada lagi yang menatapnya.
Hingga ia menoleh ke arah Yoshi yang dari tadi tidak kunjung duduk dan malah berdiri. "Cepat duduk! Kenapa? Apa tempat duduknya kotor?"
Diandra berniat untuk melihat kursi kosong di sebelahnya, tapi tidak jadi karena sudah diduduki oleh Yoshi. Saat ia baru saja menutup mulut, sangat terkejut begitu mendengar suara bariton dari Yoshi.
"Kalau sudah selesai makannya, cepat pergi dari sini!" ujar Yoshi yang tidak ingin para pegawai di perusahaannya tersebut menatap Diandra.
"Baik, Presdir!" jawab para pria yang ada sekitar 12 orang itu menjawab dengan serempak.
Bahkan sudah seperti tentara yang tengah melakukan pelatihan dan tentu saja perbuatan mereka membuat semua pengunjung di warung itu menatap.
Begitu juga dengan Diandra yang saat ini mengerjapkan mata dan menyadari sesuatu begitu melihat semua orang seperti sangat segan pada Yoshi.
"Mereka adalah staf di perusahaanmu?" tanya Diandra yang seketika seperti kehilangan muka di hadapan para pria itu saat baru mengetahuinya begitu Yoshi menganggukkan kepala untuk membenarkan pemikirannya saat ini.
"Iya, Sayang. Mereka semua berasal dari divisi yang sama dan merupakan orang-orang yang bahagia melihat kita. Bukankah begitu?" tanya Yoshi yang saat ini melihat para pegawainya tengah menunduk sambil menikmati makanan.
"Benar, Presdir! Akhirnya Anda menemukan jodoh yang selama ini ditunggu." Salah satu pria memilih untuk mewakili jawaban teman-temannya yang tidak berani untuk membuka suara karena takut dipecat jika membuat bos mereka marah ataupun kesal.
Diandra merasa sangat malu karena ternyata duduk dengan dikelilingi oleh para staf perusahaan Yoshi. Apalagi Yoshi memanggilnya sayang di hadapan mereka semua.
'Rasanya aku seperti dikuliti hidup-hidup oleh mereka semua. Mau ditaruh di mana mukaku,' gumamnya yang kini tengah berusaha untuk bersikap tenang.
__ADS_1
Ia merasa bingung harus berkomentar apa dan memilih diam hingga makanannya sudah tiba diantar oleh seorang wanita muda yang meletakkan di atas meja.
Diandra kini memberikan piring berisi makanan yang tadi dipilihnya untuk Yoshi. "Semoga kamu cocok dengan makanannya."
Yoshi yang kini mengalihkan perhatian dari staf perusahaan, melihat makanan yang membuatnya langsung berselera makan. Ia yang selama ini suka pedas, kini seolah langsung menelan ludah begitu melihat menu di piring itu.
"Wah ... sepertinya ini sangat enak." Tanpa membuang waktu, Yoshi langsung mengambil sendok dan mencoba satu suapan.
Diandra saat ini masih tidak berkedip menatap Yoshi yang mencoba makanannya. Ia tadi memilih lauk ayam sambal ijo dengan sayur daun singkong serta sambel goreng kentang dan ati ampela.
Makanan khas ala rumahan yang yang selalu mengingatkannya pada sang ibu karena setiap hari memasak untuk keluarga. Bahkan ia merasa tidak ada masakan yang bisa menandingi kelezatan masakan ibunya.
Namun, saat melihat wanita paruh baya tersebut tadi sangat hangat dan yakin jika masakannya sangat enak, kini ingin mendengar tanggapan dari Yoshi bagaimana.
"Bagaimana menurutmu? Apa enak?" Sambil Yoshi yang terlihat sangat menikmati ketika mengunyah makanan.
Ia bahkan sampai tertawa melihat pria itu seperti merasakan kelezatan dari makanan yang berada di mulut.
Yoshi seketika memberikan jempolnya sambil mengunyah. "Enak, bahkan sangat enak. Aku tidak mengira jika makanan di warung ini memiliki rasa yang sangat sempurna karena perpaduan semua nya sangat pas di lidahku."
"Pantas saja warung ini sangat ramai dan membuatku merasa, tapi tidak pernah datang ke sini." Yoshi bahkan sudah sekali lagi mengambil makanan dari piring itu dan melanjutkan aksi makannya.
"Cepat dimakan! Kok malah melihatku makan dari tadi!" Saat Yoshi baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari semua pria yang merupakan pegawainya bangkit berdiri dari kursi.
"Selamat menikmati makanannya, Bos. Kami pergi dulu karena sudah selesai."
Diandra yang tadinya ketawa karena mendapatkan ejekan dari Yoshi, berniat untuk merasakan makanan yang dipesannya.
Namun, saat melihat para pria itu bangkit berdiri dan hendak pergi, tidak jadi melakukannya karena ingin menyapa terlebih dahulu dengan memberikan seulas senyuman agar tidak dianggap menjadi seorang wanita yang sombong karena dekat dengan bos mereka.
Tentu saja dapatkan senyuman balik dari para pria itu, tapi seketika membulatkan mata mendengar suara bariton dari pria yang saat ini terlihat marah.
"Padahal aku tadi ingin mentraktir kalian semua dan tidak perlu membayar makanan yang dimakan hari ini. Tapi karena kalian berani memandang calon istriku, aku tidak jadi melakukannya."
Yoshi benar-benar merasa cemburu dan tidak rela ada para pria yang menatap Diandra. Seolah ingin melindungi wanita itu dari tatapan semua pria.
Hingga semua pria yang masih berdiri di balik meja tersebut saling bersitatap dan beberapa saat kemudian melihat wanita yang duduk di sebelah bos mereka mengungkapkan ada protes dan menyelamatkan mereka.
Refleks Diandra langsung mencubit pinggang kokoh pria yang dianggap sangat berlebihan. "Iiish! Tidak boleh seperti itu. Tetap traktir mereka jika sudah memiliki niat baik pada orang lain. Lagipula kebaikan akan kembali pada diri sendiri."
Yoshi yang akhirnya tidak ingin membuat Diandra kesal, akhirnya menuruti perintah wanita yang kini kembali menikmati makanannya.
"Baiklah ... baiklah. Aku akan membayarkan makanan mereka." Kemudian ia dalih menatap ke arah para staf yang terlihat berbinar begitu mendengar perkataannya.
"Terima kasih, Presdir! Kami akan mendoakan hubungan presiden dengan nona ini sampai ke jenjang pernikahan dan hidup bahagia selamanya," sahut pria dengan tersebut saat mewakili terima kasih mereka.
Yoshi hanya diam saja dan mengibaskan tangan karena ingin makan dengan tenang tanpa mereka. Namun, di dalam hati sibuk mengaminkan doa dari mereka.
Sementara itu, Diandra merasa sangat lega sekaligus senang karena Yoshi berubah pikiran untuk kembali berbuat baik. Ia tersenyum simpul dan
menyuapkan satu makanan ke dalam mulutnya.
Hingga ia menganggukkan kepala setelah semua pria itu menyapa ke arahnya untuk mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke perusahaan.
"Aamiin," ucapnya setelah mendengar doa dari para pria yang sudah pergi tersebut.
'Semoga doa mereka diijabah oleh Tuhan dan kami bisa sampai ke jenjang pernikahan dan bahagia selamanya,' gumam Diandra yang saat ini merasa seperti mendapatkan aura positif dalam hidupnya begitu mendengar doa-doa penuh ketulusan yang ditujukan padanya dan Yoshi.
To be continued...
__ADS_1