
Sebenarnya Diandra merasa sangat malas karena berpikir jika saat ini Austin hanya mencari sebuah alasan agar bisa berlama-lama berinteraksi dengannya. Jadi, sengaja mencari topik tidak penting dan menurutnya sangat konyol dengan bertanya mengenai konsep pernikahan apa yang diinginkan.
Apalagi ia sama sekali tidak pernah bermimpi untuk menikah dengan Austin karena hanya berharap bisa memiliki seorang suami seperti Yoshi yang saat ini sudah bersemayam di dalam hatinya.
Ia sangat yakin jika pria yang saat ini dicintainya akan memenuhi janji dengan menikahinya dan terbebas dari kegilaan pria yang berdiri menjulang di hadapannya tersebut.
'Sebenarnya hal konyol apa lagi yang akan dikatakan oleh si berengsek saat ini? Apa sebuah hal konyol lagi seperti yang beberapa saat lalu ditanyakannya padaku?' umpat Diandra yang saat ini masih tidak berkutik karena Austin belum melepaskan kuasa dari lengannya.
Sesak dan risi adalah hal yang dirasakan olehnya dan membuatnya ingin segera bisa bernapas lega setelah Austin melepaskan kuasa. Begitu pria itu menurunkan tangan, seketika merasa seperti terbebas dari sebuah rantai yang membuatnya sesak dan seperti tercekik.
Sementara itu, Austin saat ini merasa sangat lega karena Diandra akhirnya mau memberikan kesempatan untuknya menjelaskan mengenai tentang kabar yang dibawa oleh detektif.
Ia berdehem sejenak untuk menormalkan suara agar Diandra bisa mendengar dengan jelas ketika menjelaskan perihal pria yang dibanggakan oleh wanita yang dicintainya tersebut agar sadar dan tidak lagi memuja-muja Yoshi.
"Aku tidak bisa menghilangkan panggilan sayangku untukmu karena sangat mencintaimu. Lagipula hakku untuk memanggil sayang padamu meskipun kamu menolaknya. Jika perlu, tutup saja telingamu agar tidak mendengar panggilan sayang dariku."
Austin sengaja menunda penjelasan mengenai Yoshi karena ingin memulai dengan sebuah candaan meskipun hanya akan membuat Diandra semakin bertambah kesal padanya.
Namun, ia sama sekali tidak perduli karena berpikir bahwa mengulur waktu adalah cara terbaik untuk bisa lebih lama melihat wajah cantik wanita dengan raut memerah saat marah padanya.
Entah mengapa ia merasa jika Diandra terlihat semakin cantik saat marah dan membuatnya gemas, seolah ingin mencubit kedua sisi pipi putih itu. Bahkan meskipun berkali-kali mendapatkan umpatan dari Diandra, tidak membuat rasa cintanya pada wanita itu berkurang sedikit pun.
__ADS_1
"Apa kau hanya ingin mengatakan itu padaku? Jika sudah selesai, aku akan pergi." Diandra sebenarnya merasa malas untuk membuka suara, tapi selalu saja geram dengan apa yang lolos dari bibir tebal pria itu.
Kini, Austin hanya terkekeh geli melihat kemurkaan wanita yang dianggap sangat arogan dan keras kepala tersebut. "Sabar, Sayang. Aku tidak langsung ke topik utama karena ingin kamu mempersiapkan hatimu. Ini adalah berita buruk yang pasti akan membuatmu patah hati."
Bahkan Austin sangat suka mengulur waktu dan membuat rasa penasaran Diandra makin besar ketika memicingkan mata serta wajah yang tadinya memerah karena dipenuhi oleh angkara murka tersebut berubah seperti penuh kegelisahan.
"Apa maksudmu? Kenapa kau selalu bertele-tele dan tidak langsung mengatakan hal yang sebenarnya? Aku tahu bahwa kau adalah seorang pria licik yang bisa menghalalkan segala cara demi keinginanmu, tapi akan kupastikan kali ini apa yang kau inginkan tidak akan pernah terwujud."
Diandra sangat yakin jika hal yang akan disampaikan oleh Austin adalah sebuah kebohongan demi bisa membuatnya setuju menikah. Jadi, saat ini merasa bahwa Austin akan menjelek-jelekkan Yoshi.
'Aku tidak akan pernah terjebak oleh kebohongannya. Aku akan selalu mengingat perkataan Yoshi agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan apapun. Aku harus berpikir secara dingin dan bijak tanpa mengandalkan emosi. Sabar, Diandra. Jangan bersikap bodoh dan jatuh ke lubang sama seperti dulu.'
"Baiklah, jika memang kamu sudah tidak sabar untuk mengetahui kabar luar biasa yang akan membuatmu terbakar dan hanya tersisa menjadi abu semata." Austin bahkan tersenyum menyeringai ketika memulai untuk berbicara mengenai kabar yang dianggapnya sangat baik.
"Tadi kamu pasti mendengar saat aku menerima telepon di mobil. Jadi, tadi aku mendapatkan telepon dari detektif suruhanku untuk mengawasi keluarga Yoshi. Pasti Kamu sudah tahu bukan jika ayah Yoshi masuk rumah sakit karena serangan jantung?"
Diandra sama sekali tidak menjawab karena hanya mendengarkan dengan serius ke mana arah pembicaraan Austin yang ternyata sudah mengetahui semuanya dan membuatnya makin penasaran.
'Kenapa aku merasa takut dan khawatir jika si berengsek ini mengatakan hal buruk mengenai keluarga Yoshi. Apa Yoshi menceritakan tentang niatnya ingin menikahiku? Lalu keluarganya sama sekali tidak setuju karena aku hanyalah berasal dari keluarga miskin?'
Sebenarnya saat ini Diandra sangat tidak suka ketika Austin tidak langsung mengungkapkan semuanya tanpa bertele-tele, sehingga membuat pikirannya melanglang buana ke arah hal-hal yang negatif.
__ADS_1
Bahkan saat ini cukup jantungnya berdetak melebihi batas normal karena dipenuhi oleh kekhawatiran jika sampai pemikirannya benar. Namun, seketika ia meremas kedua sisi pakaiannya karena apa yang dipikirkan tidak sesuai dengan penjelasan Austin saat ini yang melanjutkan cerita.
"Jadi, karena ayah Yoshi hari ini masuk rumah sakit, yang terjadi adalah sebuah hal yang sangat luar biasa mengejutkan. Sepertinya ayah Yoshi merasa hidupnya tidak lama lagi dan menginginkan putra tunggalnya untuk segera mengakhiri masa lajang."
"Jadi, mereka menyuruh Yoshi menikah dengan anak dari salah satu rekan bisnis keluarga dan pernikahan akan dilangsungkan secara sederhana besok di ruangan rumah sakit sebelum dilakukan operasi. Apa besok kau akan datang menghadiri acara ijab qobul di rumah sakit?"
Austin bahkan saat ini tersenyum menyeringai penuh kemenangan begitu melihat raut wajah Diandra yang berubah tidak lagi dipenuhi kemurkaan seperti beberapa saat lalu.
"Jika kamu ingin datang menghadiri pernikahan Yoshi, besok akan kutemani. Aku tidak ingin kamu pingsan saat melihat pria yang kamu banggakan menikah dengan wanita lain di depan matamu setelah memberikan janji palsu untuk menikahimu."
Tentu saja Austin masih bersemangat untuk semakin menancapkan panah di hati Diandra agar cinta yang dimiliki untuk Yoshi sirna.
Hingga ia pun berakhir tidak tega begitu melihat Diandra bergerak mundur dua langkah dan menunjukkan kehancurannya karena iris kecoklatan dengan bulu mata lentik itu kini sudah berkaca-kaca.
Bahkan Austin hendak memeluk erat tubuh yang seperti kehilangan daya dan lunglai setelah mendengar ceritanya. Namun, ia tidak bisa mendekati Diandra begitu mengarahkan kedua tangan padanya agar tidak melanjutkan niatnya.
"Stop di situ dan jangan menyentuhku!" teriak Diandra yang saat ini tangannya seketika berkeringat karena dipenuhi oleh kekhawatiran sekaligus sebuah kehancuran begitu mengetahui tentang pria yang sempat membuatnya mengukir harapan besar.
'Kenapa Engkau tidak berhenti mengujiku, Tuhan? Aku tidaklah sekuat itu untuk bisa menanggung semua ini. Saat aku menaruh harapan pada pria baik seperti Yoshi, kenapa takdir malah menghancurkan harapanku?'
To be continued...
__ADS_1