Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Memanfaatkan momen


__ADS_3

Diandra yang saat ini terdiam di atas ranjang karena dilarang oleh perawat untuk turun, kini mengusap perutnya yang datar pada posisi telentang karena tadi kembali berbaring.


'Bagaimana aku membesarkan kalian bertiga sendirian tanpa sosok ayah? Mungkin dulu aku bisa melakukannya saat mempertahankan Aksa, tapi tidak yakin dengan bayi kembar dan ditambah putra sulungku karena sudah terbiasa dengan kasih sayang ayah kandungnya,' gumamnya yang kini masih berada di atas ranjang.


Ia masih mengusap perutnya sambil beralih menatap ke arah sang suami dan kali ini tidak mampu untuk menahan diri lebih lama. Tentu saja untuk melampiaskan perasaan berkecamuk yang menyiksa dan bergejolak.


"Kenapa kau selalu menyiksaku dengan benihmu? Aku ingin pergi jauh darimu bersama Aksa, tapi kenapa kau malah kecelakaan dan aku pingsan karena hamil? Kenapa aku selalu mengalami Dejavu dengan berniat untuk menggugurkan janin yang ada di rahimku?"


Diandra bahkan berbicara dengan suara bergetar yang menandakan jika saat ini tengah menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Hingga ia yang keluar adalah suara serak dan bola mata sudah berkaca-kaca. Namun, ia berusaha untuk tidak meloloskannya karena tidak ingin terdengar sangat mengenaskan jika menangis tersedu-sedu hanya karena kehamilan.


Berpikir jika ia bukan lagi seorang remaja lemah yang dengan mudah goyah hanya karena diterpa banyak cobaan. Jadi, berusaha untuk terlihat kuat, meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Jangan lemah, bodoh! Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini dan harusnya tidak perlu khawatir karena semuanya berjalan dengan baik." Ia masih berusaha untuk menormalkan deru napas memburu karena dipenuhi oleh perasaan membuncah.


Namun, ia gagal menahan guling air mata yang kini sudah lolos membasahi wajahnya. Hingga ia mengusap kasar dengan punggung tangan ketika membersihkannya karena tidak ingin dilihat oleh siapapun.


Kekhawatirannya pada sang istri tidaklah sebesar rasa takut kehilangan. Ia merasa sangat takut jika sekarang membuka mata dan berusaha untuk menghibur serta menenangkan perasaan Diandra, yang ada malah ditinggal pergi.

__ADS_1


Jadi, memilih untuk tetap mencari aman dengan cara terus berpura-pura pingsan. Meskipun ia bisa mendengar dengan sangat jelas suara serak dari sang istri yang saat ini berusaha untuk tidak menangis.


'Maafkan aku, sayang. Seandainya kamu sekalian menyebut apa yang bisa membuatmu tidak membenciku karena membohongimu. Aku pasti akan melakukannya tanpa pikir panjang. Bagiku, hal yang paling penting adalah tetap bersamamu walau apapun yang terjadi,' gumam Austin ketika mencoba untuk menahan rasa khawatirnya pada sosok wanita yang berada di sebelah kanan ranjang.


Ingin sekali ia melihat bagaimana sosok wanita yang dicintai berusaha untuk kuat dan tidak menangis, tapi dipatahkan oleh rasa takut yang menguasai diri dan memilih untuk memasang indra pendengaran lebar-lebar.


Ia berharap bisa menemukan sesuatu hal untuk menebus kesalahan agar tidak kehilangan Diandra yang akan memberikannya anak kembar.


'Sayang, apa yang harus kulakukan agar kamu tetap bertahan di sisiku?' gumam Austin yang kini seketika terselamatkan begitu indra pendengaran menangkap suara beberapa orang yang baru saja masuk ke dalam dan seketika ingin memanfaatkan momen tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2