
Yoshi saat ini mengepalkan kedua tangannya begitu mengetahui apa yang dikatakan oleh Austin pada orang tua Diandra membuatnya berada pada posisi yang tidak menguntungkan.
Bahkan mungkin akan berakhir buruk karena kesempatan untuk menikahi Diandra seolah hilang saat orang tua wanita yang dicintai malah sangat mendukung seorang pria berengsek.
'Sial! Aku memang berpikir jika bajingan itu akan menghalalkan segala cara untuk bisa menikahi Diandra, tapi sama sekali tidak berpikir jika ternyata hal inilah yang direncanakannya. Lalu, apa aku masih punya kesempatan?'
Yoshi masih memutar otak untuk mencari ide menghentikan kelicikan seorang Austin Matteo karena ia tahu bahwa Diandra sama sekali tidak mencintai pria itu.
Bahwa Diandra mencintainya dan yakin jika wanita itu akan memilihnya daripada Austin Matteo. Jadi, sekarang lebih fokus pada perasaan wanita yang saat ini berada di hadapannya.
Refleks ia bangkit berdiri dari kursi dan mendekati sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut. Ia bahkan langsung memeluk erat tubuh wanita yang terlihat sangat gelisah tersebut.
Hingga mengusap punggung belakang Diandra agar lebih tenang dan tidak meluapkan emosi pada saat berbicara pada sang ayah.
__ADS_1
Sementara itu, Diandra saat ini hanya diam dan membiarkan Yoshi melakukan apapun padanya karena pikirannya benar-benar sangat tumpul. Bahkan kini ia mendongak menatap ke arah Yoshi yang berdiri menjulang di hadapannya.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak mau menikah dengan bajingan itu, tapi tidak mungkin mengatakan jika Austin Matteo berbohong. Bahwa aku menjual diri saat ia meminta jaminan atas uang yang kupinjam,' gumam Diandra yang kini ingin mencari jalan keluar dari permasalahannya saat ini.
Yoshi yang tahu pikiran Diandra saat ini, refleks langsung membungkuk dan berbisik di telinga wanita itu. "Lebih baik kamu iyakan saja dulu dan kita pikirkan cara untuk mencari jalan keluar."
Saat Diandra tidak ingin menuruti saran dari Yoshi, ia mendengar suara bariton dari seberang telpon dan membuatnya langsung menoleh ke arah benda pipih di atas meja.
"Diandra, kamu masih di sana, kan? Kenapa diam saja? Kamu malu pada kami? Itu tidak perlu dipermasalahkan karena sudah terjadi dan kami tidak akan marah padamu. Sekarang yang paling penting adalah segera menyelesaikannya. Apalagi tuan Austin Matteo sudah mengatakan niat baiknya untuk bertanggungjawab sepenuhnya."
Hingga datang jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya hanya untuk memohon maaf dan bertanggungjawab serta mengungkapkan penyesalan. Jadi, saat ini sangat mendukung putrinya yang ternyata memiliki hubungan dengan seorang pria tanpa sepengetahuan mereka.
Saat ini, Diandra menelan saliva dengan kasar dan membuatnya kembali menatap ke arah Yoshi yang mengangukkan kepala. Seolah memberikan sebuah kode padanya agar tidak membantah perintah dari sang ayah.
__ADS_1
Karena tidak punya pilihan lain dan tidak bisa berpikir, akhirnya Diandra membuka suara agar sang ayah tidak khawatir dan terlalu memeras otak.
"Baiklah, Ayah. Aku akan menuruti apapun perintah kalian. Aku pun benar-benar meminta maaf karena tidak bisa menjadi anak yang membanggakan," lirih Diandra sambil menahan tangis.
Bahkan ia tidak perduli apapun lagi saat ini karena sibuk menyembunyikan perasaan sebenarnya pada orang tuanya yang telah dibodohi oleh Austin Matteo.
'Aku harus menemui bajingan itu karena tidak ingin menikah dengannya,' gumam Diandra yang kini bisa mendengar suara dering ponsel milik Yoshi berbunyi.
Refleks Yoshi seketika melepaskan kuasa pada Diandra dan buru-buru mengambil ponsel miliknya. Bahkan ia langsung berlari keluar karena tidak ingin suara ponselnya mengganggu pembicaraan antara ayah dan anak itu.
Ia tadi memberikan sebuah kode pada sang istri untuk mengangkat telpon di depan. Begitu berada di ruang depan, langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara nada panik dari seberang telpon.
"Halo, Yoshi. Cepat ke rumah sakit sekarang!"
__ADS_1
"Halo, Ma? Mama kenapa? Kenapa harus ke Rumah Sakit?" Yoshi merasa deg-degan sekaligus panik mendengar suara penuh kecemasan dari sang sang ibu.
To be continued...