Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Milikku seutuhnya


__ADS_3

Begitu melihat sosok wanita dengan hanya mengenakan jubah handuk dan rambut digelung ke atas, hingga memperlihatkan leher jenjang putihnya, seketika membangkitkan hasrat kelelakian Austin.


Wajah natural tanpa make up itu menurutnya jauh lebih cantik dari para wanita yang selama ini dikencaninya. Meskipun para kekasihnya adalah wanita dengan body seksi dan selalu tampil menawan dengan memakai make up tebal, tapi menurutnya tidak mengalahkan kecantikan alami tanpa polesan dari Diandra.


Tidak kuat menahan diri lebih lama, seketika Austin menyesap dan ******* bibir sensual yang baru disambarnya. Ia bahkan tidak melepaskan kuasa saat tangan kanan menahan tengkuk belakang serta tangan kiri menahan kepala wanita yang diciumnya.


Sementara itu, Diandra sangat terkejut dengan perbuatan pria saat tiba-tiba menciumnya hingga membuatnya terhuyung ke belakang beberapa langkah.


Ini adalah ciuman pertama untuknya dan ia merasa sangat jijik, tapi harus menahan diri agar tidak berteriak untuk menolak.


Diandra bingung harus melakukan apa dan hanya membiarkan Austin menguasai bibirnya. Ia hanya meremas kedua sisi jubah handuk yang membalut tubuhnya saat ini.


'Aku sangat jijik pada perbuatan pria ini. Apa yang harus kulakukan? Aku harus kuat. Ini adalah pertama dan terakhir,' gumam Diandra yang kini hanya diam membiarkan Austin bermain-main dengan bibirnya.


Bahkan saat ia berusaha sekuat tenaga untuk menguatkan hati, tidak bisa melakukannya karena sekarang bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tidak pernah membayangkan jika akan merasa jijik saat mendapatkan ciuman pertama dari pria yang sangat dibenci.


Sementara itu, Austin yang tadinya menyesap serta ******* sosok wanita yang ingin segera membuatnya menyalurkan gairah, merasa sangat kecewa karena sama sekali tidak mendapatkan balasan.


Berbeda dengan para wanita yang pernah diciumnya, pasti membalas dengan penuh gairah dan lidah saling membelit saat berbagi saliva. Namun, kali ini adalah hal pertama yang dirasakan dan saat merasakan cairan terasa asin, seketika membuatnya berhenti.


Ia mengerjapkan kedua mata begitu melihat wajah cantik Diandra dipenuhi oleh bulir air mata. "Kau menangis?"


Pemandangan pertama yang membuatnya merasa sangat heran kala mencium bibir sensual yang dari tadi seolah melambai untuk dilumatnya, kini membuatnya tidak mengerti.


Meskipun Diandra tidak bersuara saat meneteskan bulir air mata, tetap saja ia merasa sangat terhina dengan sikap wanita yang dianggapnya sama sekali tidak menikmati ciumannya.


'Astaga! Apa maksudnya menangis saat aku menciumnya? Aku adalah pria yang selama ini sangat handal mencium wanita hingga selalu berakhir memujaku. Lalu, apa ini? Diandra menangis saat aku sudah mengeluarkan banyak uang untuknya?'


Saat Austin ingin marah untuk mengungkapkan kekesalan, kini terdiam seketika begitu mendengar suara serak dari wanita yang membuatnya merasa tidak percaya.


"Maafkan aku. Aku sangat terkejut saat kamu tiba-tiba menciumku. Ini adalah pertama kali aku berciuman dan tidak tahu harus bagaimana," ujar Diandra yang buru-buru mengungkapkan apa yang dirasakan.


Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat merasa shock ketika tiba-tiba dicium dengan brutal dan penuh nafsu. Apalagi tidak ingin jika sampai pria yang sudah memberikan uang padanya marah dan berbuat kasar saat menggaulinya.


Diandra bahkan kini gemetar saat berdiri karena efek belum makan, tapi tidak ingin mengatakannya pada pria yang tengah memandangnya dengan tatapan sulit diartikan.


Sementara itu, Austin yang awalnya sangat terkejut dengan pengakuan Diandra, mencari kebenaran dari pria yang ada di hadapannya tersebut.


Hingga ia menyadari bahwa semua yang ditunjukkan oleh Diandra adalah sesuatu hal yang sangat jelas jika itu adalah ciuman pertama bagi wanita itu.

__ADS_1


Ia pun tersenyum lebar dan merasa sangat senang karena kali ini seperti seorang pria beruntung karena bisa mendapatkan wanita sepolos Diandra.


"Sepertinya aku perlu mengajarimu bagaimana caranya berciuman." Kemudian meraih pergelangan tangan kiri Diandra dan mulai berjalan menuju ke arah ranjang.


Ia bahkan mendorong pelan tubuh wanita yang menurutnya sangat seksi ketika memakai jubah handuk miliknya.


"Duduklah! Aku akan mengajarimu!" Austin sebenarnya ingin meminta maaf karena mencium dengan brutal tadi, sehingga meninggalkan kenangan buruk pada ciuman pertama Diandra.


Namun, gengsinya terlalu tinggi dan ia tidak ingin terlihat lembut di hadapan wanita. Apalagi selama ini selalu menampilkan sikap datar pada para kekasihnya.


Sementara itu, Diandra hanya diam tanpa membuka suara dan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Meskipun dalam hati ingin hari ini segera selesai, agar bisa cepat pergi meninggalkan ruangan yang akan menjadi nerakanya.


Ia hanya mendengarkan penjelasan dari pria yang sebenarnya ingin ia hindari, tapi tidak bisa.


"Saat aku menciummu, kau tidak boleh diam saja karena itu sangat menghina harga diri seorang pria. Kamu harus balas *******, menyesap dan membelit lidah seperti yang kulakukan." Austin sebenarnya ingin sekali terbahak kala mengingat apa yang sedang dilakukannya.


Bahwa ia menganggap seperti sedang memberikan tutorial berciuman pada gadis belia yang polos. Namun, sebagian hatinya dipenuhi rasa bangga karena menjadi pria pertama untuk Diandra.


Saat Austin ingin bertanya apakah Diandra paham pada perkataannya atau tidak, kini ia melihat jemari lentik itu gemetar. "Apa kau gemetar karena efek takut padaku karena akan melakukannya?"


Refleks Diandra menggelengkan kepala karena tidak ingin pria di hadapannya memikirkan sesuatu yang tengah dirasakannya. "Aku dari tadi belum makan."


"Astaga!" Austin yang tadinya sangat serius ketika menjelaskan, kini tertawa terbahak-bahak karena ada saja kejutan yang dilihatnya hari ini.


Kemudian Austin meraih ponsel miliknya di atas nakas dan mulai membuka aplikasi pesan antar makanan.


"Sekarang katakan apa yang kau ingin makan malam ini? Aku akan memesannya, mumpung sedang baik hati." Masih berdiri menjulang di samping wanita yang masih terdiam, seolah tengah memikirkan pilihan makanan.


Namun, jawaban yang paling dibenci olehnya seolah menyakiti indra pendengaran.


"Terserah Anda saja karena akan makan apapun yang dipesan. Saya bisa makan apa saja." Diandra awalnya ingin makan jenis seafood saat ditawari, tapi tidak jadi mengatakannya karena sadar bahwa ia tidak menyukai pria itu.


Hingga jawaban Austin membuatnya terkejut dan mengerjapkan mata beberapa kali.


"Jawaban para wanita yang bilang terserah adalah hal paling tidak kusukai karena para pria selalu disalahkan jika tidak sesuai dengan keinginan. Baiklah, seafood saja karena aku sudah lama tidak menikmatinya."


"Saya tidak akan menyalahkan Anda karena telah mengirimkan uang untuk biaya rumah sakit ayahku. Saya akan menikmati seafood-nya dengan lahap." Merasa konyol saat masih bisa berbicara bahwa ia akan lahap makan saat pikirannya seperti mau meledak karena tertekan.


Austin kini tersenyum simpul dan mulai memesan makanan sambil bersuara. "Kau memang harus makan banyak karena aku tidak ingin membuatmu pingsan di atas ranjang."

__ADS_1


Saat Diandra tidak berniat untuk menanggapi, ia mendengar suara dering ponsel miliknya dari dalam tas yang tadi diletakkan di atas meja.


Diandra kini menatap ke arah tas miliknya dan mendengar suara bariton pria yang berkomentar tanpa ia bertanya.


"Waktumu sudah kubeli dan kau hanya boleh fokus denganku. Jadi, jangan angkat telpon siapapun hari ini!" Austin kini mengungkapkan titahnya karena merasa terganggu dengan suara dering ponsel milik Diandra.


Ia pun berjalan menuju ke arah meja setelah melihat Diandra mengangguk patuh. Sekarang ia merasa seperti seorang raja tengah memberikan titah pada dayang yang patuh.


Kini, ia membuka tas milik Diandra dan langsung menonaktifkan ponsel itu, agar tidak ada suara-suara yang menganggu ketika bercinta dengan Diandra nanti.


"Kemarilah!" Austin melambaikan tangan setelah mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


'Sebelum melakukan kegiatan inti, akan lebih baik jika melakukan pemanasan dulu,' gumam Austin yang tengah memikirkan hal liar di otaknya.


Ia ingat ketika tengah berkumpul bersama Oscar dan Patrick, melihat video yang menampilkan pria dan wanita melakukan hubungan intim. Ia memang masih perjaka, tapi tahu bagaimana pria yang membuat para wanita mendesah dan menggeliat.


'Saatnya praktek apa yang selama ini kulihat,' gumam Austin saat melihat Diandra duduk di sebelah kirinya dan ia langsung mengungkapkan nada protes.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?"


Tatapan tajam mengintimidasi dari Austin seketika membuat Diandra seketika kembali berdiri. Ia merasa selalu dipermainkan oleh pria yang membuatnya tidak bisa memberontak.


"Jadi, saya harus berdiri?" tanya Diandra yang kini seketika bergerak mundur begitu melihat tangan Austin yang terangkat dan mengarah pada tali jubah handuknya. "Apa yang Anda lakukan?"


Austin yang merasa sangat geram, kini menahan pergelangan tangan Diandra yang hendak menolaknya. "Diamlah! Nikmati saja karena aku tidak akan membuatmu bekerja keras hari ini."


Kemudian ia menarik tali jubah handuk Diandra hingga terlepas dan segera menunjukkan pada Diandra saat melakukan pemanasan agar menghiasi ruangan kamarnya dengan rintihan penuh kenikmatan.


Sementara itu, Diandra yang merasa jantungnya seperti mau melompat dari tempatnya, karena perbuatan pria yang tiba-tiba membuatnya menjerit kecil dan membeliakkan mata.


"Tuan ...."


Diandra meremas kedua sisi pelindung tubuhnya karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Awalnya ia sangat malu karena ini adalah pertama kalinya ada pria yang melihat setiap sudut tubuhnya.


Namun, kini pria yang baru saja mengirimkan gelombang gairah di setiap urat syarafnya mulai mengarahkan tangannya untuk berpegangan.


Hingga ia seketika meremas rambut basah pria yang sudah sibuk di bawah sana.


Sementara itu, Austin merasa sangat puas karena berhasil membuat Diandra menggeliat dan menghiasi ruangan kamar dengan rintihan. Bahkan terdengar sangat seksi di telinganya.

__ADS_1


'Diandra, akhirnya kau sekarang jadi milikku seutuhnya,' lirih Austin yang saat ini sibuk memainkan indra perasa di bagian paling sensitif milik wanita di atasnya.


To be continued...


__ADS_2