
Diandra baru saja membacakan dongeng untuk Aksa karena suaminya harus pergi ke luar negeri selama tiga hari karena pekerjaan yang mendesak.
Jika kemarin lusa adalah hari yang paling istimewa karena memberikan dirinya sepenuhnya kepada Austin setelah mereka menyatakan cintanya satu sama lain dengan melakukan perbuatan mesra.
Namun, di malam hari beberapa hari ini harus tidur sendirian tanpa suami untuk pertama kalinya, merasa sangat kesepian, sehingga memilih pergi ke kamar Aksa dan tidur sambil memeluk anak aki-laki yang sangat disayangi tersebut.
Biasanya Aksa selalu tidur di kamar sebelah karena Austin sudah membiasakan anaknya mandiri dengan tidur tanpa orang tua.
Namun, hari ini sengaja meminta untuk tidur dengannya. Saat suara napas teratur terdengar memenuhi ruangan yang sunyi, Diandra kini meletakkan buku cerita di nakas.
Lalu meraih ponsel dan berniat menelepon suami, tapi beberapa menit baru mengecek pesan terakhir tadi sore.
“Kira-kira sudah berapa lama suamiku pergi?" lirih Diandra yang kini sangat merindukan suaminya.
"Sangat menyebalkan! Begini rasanya merindukan pria yang kucintai." Diandra tersenyum tipis ketika mengingat saat-saat ia sangat kesal pada pertemuan pertama.
Namun, tidak pernah berpikir bahwa yang terjadi sekarang benar-benar mencintai pria berstatus suaminya tersebut.
“Sayang, aku sangat merindukanmu. Sepertinya aku harus terbiasa berpisah denganmu karena kamu adalah orang hebat yang memimpin sebuah perusahaan besar dan pasti akan sering melakukan perjalanan bisnis."
Kemudian melihat ke bawah pada kaki yang tidak bergerak sampai sekarang. "Jika aku bisa berjalan, bisa mengikuti suamiku ke mana pun perginya."
"Aku akan menemanimu dalam perjalanan bisnis saat berlibur dan mengajak Aksa. Sayangnya belum ada perkembangan yang berarti. Aku harus berusaha sebaik mungkin dan tidak boleh menyerah."
__ADS_1
Kemudian ia melihat sosok anak laki-laki yang dianggap sebagai anak kandung karena sangat menyayanginya.
Entah kenapa rasanya ada yang aneh dengan perasaannya saat menatap Aksa dan memeluknya. Namun, mengesampingkan pemikiran aneh itu dan mendorong dirinya sendiri untuk berpikir bahwa itu adalah kasih sayang ibu yang alami untuk putranya.
"Aku sangat mencintai Aksa dan tidak akan pernah berubah meski nanti akan hamil dan melahirkan. Aku akan tetap mencintaimu, Sayang." Diandra kini mencium kening Aksa dan tersenyum.
Pelukan pun semakin erat dan berharap segera terlelap. Diandra perlahan menutup matanya dan bergumam pelan, “Aku sangat merindukan, suamiku”
"Rasanya sangat aneh tidur tanpa pelukan suami. Selama ini terbiasa tidur di pelukan suami, mencium aroma maskulin dan bersembunyi di dada bidangnya."
Saat ia sibuk menggumamkan rindu pada suaminya, di lantai satu terlihat pintu utama yang baru saja dibuka oleh seorang pembantu.
Wanita paruh baya yang menjadi kepala pelayan segera membungkuk begitu melihat tuannya telah kembali.
"Malam, Bik. Apakah semua orang ada di dalam ruangan?" Austin hanya tersenyum melihat pelayan yang sudah sangat lama bekerja untuk keluarganya.
"Ya, Tuan. Mungkin nyonya dan tuan Aksa sudah tidur sekarang."
"Baiklah. Aku akan langsung ke atas." Austin kini melangkahkan kakinya menuju anak tangga dan tak sabar bertemu dengan istrinya yang sangat ia rindukan.
Setelah urusannya selesai, memberitahu bahwa Diandra bukan lagi istri Yoshi, sehingga tidak akan ada masalah di kemudian hari.
"Aku kangen banget sama kamu sayang," lirih Austin yang kini tersenyum lebar karena sebentar lagi akan bertemu dengan istrinya.
__ADS_1
Ia bahkan tadi naik taksi dari bandara, sehingga tidak ada suara mobil masuk dan membangunkan istrinya yang mungkin sedang tidur.
Austin kini perlahan membuka pintu, agar penghuni kamar tidak terbangun. Bahkan ia berjalan berjinjit seperti pencuri yang mengendap-endap agar tidak membuat suara.
Awalnya ia ingin mendekati istrinya yang memeluk Aksa dan memuaskan indra penglihatannya untuk memandangnya. Namun, indera pendengaran menangkap suara lembut seorang wanita yang memejamkan mata dan mengigau.
"Sayang, cepatlah pulang. Aku sangat merindukanmu." Diandra dari tadi berusaha untuk segera tidur karena tersiksa setiap hari harus merindukan suaminya setiap hari.
Terhanyut dalam pikiran tersiksa oleh kerinduan, ia mengungkapkan semuanya dengan cara yang samar-samar. Berharap akan segera tidur.
Namun, bahkan setelah melakukan itu, masih tidak berhasil. Hingga beberapa detik kemudian tertidur setelah mengucapkan kalimat terakhir.
Hingga terdengar suara napas teratur yang memenuhi ruangan, yang menandakan wanita dengan mata terpejam itu lelah setelah asyik dengan kerinduan karena tersiksa dengan rasa ingin bertemu suami.
Sementara pria yang masih berdiri di samping ranjang, kini tersenyum mengetahui istrinya mencintai dan juga merindukannya.
Baru kali ini ia merasa bahwa perasaannya tidak lagi sepihak seperti dulu karena Diandra benar-benar telah berubah menjadi tergila-gila padanya dan ditunjukkan hari ini ketika akan tertidur.
'Aku sangat mencintaimu, sayang. Kamu tidak tahu bahwa aku tidak bisa tidur nyenyak karena sibuk memikirkanmu selama ini. Aku juga sangat merindukanmu dan ingin segera bertemu denganmu.'
'Itu sebabnya aku di sini sekarang setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 10 jam. Itu karena pelukmu adalah pulang yang kutuju dari penatnya dunia.'
To be continued...
__ADS_1