Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menggemaskan sekali


__ADS_3

Austin yang dari tadi menatap ekspresi wajah dari sang istri, merasa sangat lega karena masalah yang menimpa hubungan rumah tangga mereka, kini telah menemukan titik terang.


Bahwa hal yang ditakutkannya tidak terjadi, sehingga bisa bernapas lega meskipun belum berniat untuk jujur jika ia sama sekali tidak mengalami kecelakaan karena semua hanyalah sebuah sabotase semata untuk memantik rasa iba dari sang istri.


'Syukurlah semuanya berakhir dengan baik dan bukan perpisahan. Aku tidak akan memaafkan jika sampai hubungan kami hancur karena perbuatan adik kakak itu,' sarkas Austin yang saat ini tengah menoleh ke arah sang ayah begitu pria paruh baya tersebut menenangkan perasaannya.


Malik Matteo berbicara lirih dengan berbisik untuk mengungkapkan kelegaan. "Nasib baik kamu berhasil menenangkan istrimu. Apa yang kamu lakukan hingga membuatnya terlihat tenang?"


Sementara itu, sosok wanita yang tadinya menatap ke arah sang menantu, anak dan suaminya berbisik-bisik. "Mama juga merasa penasaran. Cepat ceritakan!"


Austin yang malah merasa konyol melihat orang tuanya berbisik-bisik, kini tertawa lebar karena sejujurnya perasaannya saat ini benar-benar lega dan bisa membuatnya tersenyum.


"Tidak usah berbisik seperti itu karena semuanya sudah clear. Ternyata ibunya Yoshi mengarang sebuah cerita untuk memfitnahku. Makanya istriku berpikir aku adalah seorang pria jahat karena menyakiti Yoshi yang tidak berdaya dengan membuat sebuah konspirasi, yaitu memisahkan mereka." Ia mengakhiri ceritanya sambil melirik ke arah sang istri yang diam saja.


Seperti menyadari kesalahan karena telah masuk dalam jebakan orang jahat yang tak lain adalah mantan mertua sendiri. "Bukankah begitu, Sayang? Kamu saat ini sudah mengerti mana yang baik dan jahat, bukan?"


Diandra hanya diam saja karena masih merasa malu saat mengingat kebodohannya karena lebih mempercayai perkataan dari mantan mertuanya yang ternyata adalah seorang wanita jahat.


Sebenarnya ia tidak sepenuhnya menyalahkan wanita yang tersiksa karena takut kehilangan putra satu-satunya, tapi tetap saja merutuki kebodohannya.


'Ya, aku hanyalah seorang wanita bodoh karena gampang dipengaruhi oleh mantan mertuaku. Bahkan ia berbicara di telepon dengan sangat meyakinkan dan membuatku sama sekali tidak merasa curiga. Apalagi saat aku mengingat jika sangat membenci Austin, sehingga semuanya makin bertambah besar.' Lamunan Diandra seketika musnah karena saat ini mendengar suara ibu mertua yang sangat penasaran dengan cerita sebenarnya.


"Benarkah apa yang terjadi, Diandra? Kamu terpengaruh oleh wanita jahat itu?" tanya Lina Rosmala yang saat ini berpikir jika Diandra sangat polos.


"Ya, Ma. Pasti kalian semua berpikir bahwa aku adalah seorang wanita bodoh karena lebih mempercayai mantan mertuaku. Maaf," ucap Diandra yang seperti tidak punya muka berhadapan dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


Saat ia sibuk merutuki kebodohannya sendiri karena lebih mempercayai ibunya Yoshi, merasa tidak percaya dengan tanggapan dari ibu mertuanya yang diakuinya adalah merupakan seorang wanita baik hati.


Bukan ibu mertua jahat yang banyak membuat para menantu terluka hatinya.


"Tidak, Sayang. Kamu bukanlah seorang wanita bodoh, tapi merupakan wanita lugu. Kamu pasti berpikir bahwa semua wanita di dunia ini sangat baik, bukan? Jadi, tidak berpikir bahwa mantan mertuamu itu adalah seorang wanita jahat." Ia saat ini berjalan mendekati menantunya dan ingin memberikan petuah agar tidak terpengaruh pada orang-orang yang ingin menghancurkan rumah tangganya.


Ia kini menggenggam serta mengusap lembut punggung tangan dari Diandra dan menatapnya penuh kasih sayang karena sudah menganggap seperti putri kandung sendiri.


"Kamu harus pintar memilah perkataan dari orang lain yang ingin menjatuhkan suamimu. Ya, Mama akui jika Austin pernah berbuat jahat padamu, tapi selama bertahun-tahun dia tersiksa." Kemudian sekilas menoleh ke arah putranya yang terlihat tersenyum karena dipuji olehnya ketika menceritakan masa-masa terpuruk.


"Bahkan meskipun sudah hilang ingatan, tidak tersentuh oleh satupun wanita karena sepertinya sudah terpatri namamu di hatinya. Selain itu, kalian memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh karena meskipun kamu memutuskan untuk menikah dengan Yoshi, apa yang terjadi?"


"Kamu sudah mengetahuinya kan?" Kini merasa lega karena melihat raut wajah yang tadinya dipenuhi oleh kekecewaan serta amarah, kini telah berubah lebih kalem.


"Maafkan Austin dan lanjutkan kebahagiaan tanpa mendengar perkataan dari orang lain yang iri karena melihat hubungan rumah tangga kalian. Apa kamu mengerti?" Ia pun tersenyum begitu melihat menantunya menganggukkan kepala dan beralih menatap ke arah biasanya yang ikut senang karena raut wajah bahagia terpancar saat ini dari semua orang.


"Alhamdulillah masalah yang terjadi di antara mereka telah selesai. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, bukan?" Ia mengingat jika putranya tengah berakting mengalami kecelakaan. Jadi, setengah mempertimbangkan apakah mengatakannya atau putranya saja yang menjelaskan sendiri pada sang istri.

__ADS_1


'Kira-kira Diandra marah atau tidak ketika mengetahui jika putraku hanya berpura-pura?' gumamnya yang kini melihat besannya mengiyakan perkataannya.


"Ya, Jeng. Alhamdulillah akhirnya semua kesalahpahaman sudah hilang dan tidak membuat hubungan putra-putri kita kandas karena fitnah. Wanita bernama Asmita Cempaka itu sangat jahat." Laksmi Mustika kini melirik sekilas ke arah putrinya dengan geleng-geleng kepala.


"Bisa-bisanya dia memutarbalikkan fakta dengan memfitnah menantu dan parahnya malah putriku mempercayainya daripada keluarga sendiri."


"Jika sampai dia benar-benar pergi dari rumah dan kembali hidup sendirian seperti beberapa tahun lalu saat hamil Aksa, hanya hal buruk yang akan terjadi," umpatnya untuk bisa menyadarkan putrinya agar tidak bersikap egois.


Bahwa hidup dengan anak 3 bukanlah sebuah hal yang mudah bagi single parent. "Padahal ada seorang suami yang sangat mencintai melebihi diri sendiri, tapi malah disia-siakan hanya karena melakukan satu kesalahan. Bahkan Tuhan memberikan pintu maaf asalkan mau bertobat."


"Iya ... iya, Bu. Aku salah. Jangan terus mengingatkanku seolah aku masih amnesia." Diandra awalnya merasa sangat menyesal, tapi ketika berkali-kali disudutkan oleh sang ibu, tentu saja membuatnya kesal.


Bahkan bibirnya mengerucut dengan raut wajah masam yang mewakili perasaannya saat ini karena tidak ada sedikitpun pengertian dari sang ibu yang menganggap Austin adalah anak emas dibandingkan dirinya.


'Kasih sayang Ibu bahkan berkurang setelah Austin menjadi menantunya. Bukankah aku adalah putri kandungnya, paling tidak, jangan terlalu mencolok menyayangi menantu kesayangannya,' umpat Diandra yang asik mengumpat di dalam hati untuk meluapkan segala amarah yang membuncah karena menganggap sang ibu pilih kasih.


Ia bahkan menatap kesal ke arah sosok pria yang tengah berbaring di sebelah sang ayah serta mertuanya. 'Lihatlah para pria itu. Pasti mereka pun mau bersatu untuk memojokkanku.'


Saat asyik bergumam sendiri, ia tiba-tiba mengingat sesuatu yang belum dikatakan olehnya karena tiba-tiba terlintas di pikirannya. "Oh iya. Aku ingin menanyakan sesuatu."


Semua orang yang tadinya tidak peduli pada raut kesal Diandra karena memang ingin memberikan pelajaran agar menyadari kesalahan, sama-sama menatap karena ingin mendengar pertanyaan apa yang akan diungkapkan oleh wanita itu.


"Apa, Sayang?" sahut Austin yang kini merasa khawatir jika ada sesuatu hal yang terlewatkan dan membuat Diandra masih belum sepenuhnya tenang.


Namun, ini berusaha untuk membiasakan diri karena memang semua yang dikatakan oleh orang tua serta mertuanya benar. Bahwa pria yang terlihat mengenaskan dengan perban di kaki kanan itu memang sangat mencintainya.


"Aku dulu bertemu denganmu di restoran cepat saji, kan? Bukankah saat itu kamu bersama dengan anak dan istrimu? Lalu, di mana mereka?"


Sebenarnya ia merasa ragu untuk menyebut itu, tapi karena memang tidak tahu apa hubungan sang suami dengan wanita itu, sehingga bingung menjelaskan. Hingga ia sangat kesal karena melihat Austin malah tertawa terbahak-bahak.


"Astaga!" Austin saat ini memegang perutnya karena merasa pertanyaan dari sang istri sangatlah konyol.


Ia tahu siapa yang dimaksud oleh Diandra dan orang tuanya kini ikut merasa penasaran.


"Siapa anak dan istrimu?" Malik Matteo dan sang istri saling menatap kebingungan karena status dari putranya bahkan masih lajang. "Kamu menikah diam-diam tanpa sepengetahuan kami?"


"Iya, Mama benar-benar akan menghajarmu jika itu terjadi." Lina Rosmala bahkan mengarahkan tatapan tajam pada putranya yang membuatnya kesal karena malah semakin tertawa terbahak.


"Ini bukan lelucon, jadi jangan tertawa!" sarkas Diandra yang sangat marah karena pertanyaannya yang serius dianggap sebuah candaan semata. "Bahkan aku jelas-jelas melihatmu serta mendengar anak itu memanggilmu papa. Jadi, jangan mengelak karena aku masih mengingat semuanya."


Diandra takkan mengingat jika keputusannya untuk menerima Yoshi juga disebabkan oleh itu. Ia merasa sangat marah karena saat hidupnya menderita membesarkan Aksa sendirian, tapi Austin malah hidup berbahagia dan memiliki seorang putri bersama dengan istri yang cantik.


Ya, ia aku jika wanita tersebut sangat cantik dan jauh dibandingkan dirinya yang biasa. Jadi, berpikir bahwa wajar jika Austin bersama dengan wanita secantik itu.

__ADS_1


Austin yang sebenarnya berusaha untuk berhenti tertawa, tetapi melihat kekonyolan dari sang istri dan menganggap jika itu adalah sebuah kecemburuan yang membuatnya senang, sehingga terus terkekeh sambil memegangi perutnya yang terasa kaku.


"Astaga, perutku bahkan seperti mau kram saat ini." Ia memegangi perutnya karena terlalu lama tertawa. Hingga meringis kesakitan karena sang ibu menjewer daun telinganya.


"Cepat katakan siapa wanita dan anak itu, Austin? Kamu benar-benar membuat Mama malu karena membanggakanmu di depan Diandra tadi." Lina Rosmala bahkan saat ini semakin memperkuat tangannya untuk menjawab telinga putranya agar segera menjawab dan seketika membulatkan mata begitu mengetahuinya.


"Astaga, Ma. Ibu dan anak itu adalah Aisyah dan putrinya!" teriak Austin yang seketika merasa lega begitu telinganya terbebas dari tangan sang ibu yang membuatnya merasa nyeri luar biasa.


Ia makan masih mengusap telinganya dan meringis kesakitan karena perbuatan dari sang ibu benar-benar meninggalkan kenyerian. Hingga ia ingin membalas dendam pada dua wanita yang sangat berarti di hidupnya tersebut.


"Kalian harus membayar kesalahpahaman ini karena benar-benar tidak ridho dengan nasib telingaku yang sangat nyeri. Ini pasti baru sembuh beberapa hari kemudian." Ia bahkan menatap tajam ke arah sang ibu. "Lebih baik Mama jelaskan pada istriku siapa Aisyah."


Saat Lina Rosmala sangat terkejut karena tidak berpikir jauh ke sana dan menyesali perbuatannya yang ceroboh akibat terbawa oleh perkataan Diandra.


"Iya, maafkan Mama. Tadi kan Mama pikir kamu benar-benar mempunyai anak istri tanpa sepengetahuan kami." Saat ia ingin menjelaskan pada menantunya, tidak jadi melakukannya karena diambil alih pembicaraan itu oleh sang suami.


"Diandra, yang kamu lihat itu adalah sepupu Austin yang suaminya meninggal karena mengalami kecelakaan saat putri mereka masih bayi. Jadi, Austin memang berperan sebagai ayah karena kasihan melihatnya." Ia sebenarnya ingin tertawa ketika menjelaskan, tapi tidak ingin menantunya merasa malu.


"Tapi, setelah kalian menjalin hubungan dan menikah, memang disuruh Austin untuk tidak menampakkan diri di depanmu karena takut akan membuat ingatanmu bermasalah. Apalagi pernah bertemu sebelum mengalami amnesia."


"Akhirnya Aisyah berangkat ke luar negeri bersama putrinya agar tidak membahayakan kesehatanmu." Malik Matteo mengakhiri ceritanya dan bisa melihat raut wajah menantunya bertambah suram.


Kemudian ia menyuruh putranya untuk menghibur Diandra agar tidak semakin merasa bersalah atas kesalahpahaman yang dipikirkan. Ia kini memberikan kode pada semua orang untuk keluar. Hingga besannya mewakili karena mengerti.


"Lebih baik sekarang kita pulang ke rumah karena sudah larut. Biarkan putra putri kita menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin tanpa merasa terganggu dengan kehadiran kita," ucap Romy Sudrajat yang kini memberikan kode pada sang istri untuk berkemas.


"Ya, lebih baik begitu. Biarkan mereka menyelesaikan kesalahpahaman yang terus berlarut-larut dan membuat hubungan mereka renggang." Laksmi Mustika yang berdiri di sebelah ranjang putrinya, seketika mengambil tas yang tadi ditaruh di atas laci.


"Ibu tinggal pulang sekarang, ya. Baik-baik dengan suamimu." Ia sejenak mengusap lengan putrinya sebelum pergi dan tersenyum senang karena merasa sangat lega.


Diandra saat ini semakin bertambah malu dan tidak tahu harus berkomentar apalagi. Ia bahkan sangat takut membuka mulut untuk berbicara, tapi terus melakukan kesalahan. Jadi, memilih untuk diam agar tidak mengulanginya.


Sebenarnya merasa sangat bingung karena sebentar lagi hanya akan berdua dengan Austin, tapi berpikir jika butuh berbicara berdua untuk membahas semua hal yang terjadi di antara mereka, mau tidak mau, ia berusaha menenangkan perasaannya.


'Tenang ... tenang. Ini hanya perkara mudah, Diandra. Jadi, tidak perlu gugup karena Austin tetaplah suamimu,' gumam Diandra yang saat ini menganggukkan kepala ketika melihat para orang tua bergegas pergi.


Di sisi lain, Austin yang saat ini merasa sangat senang karena bisa berduaan dengan sang istri setelah pertikaian yang membuatnya merasa takut, kini melambaikan tangan pada 4 orang yang kini berpamitan padanya.


"Hati-hati di jalan." Ia bahkan masih melihat siluet dari para orang tua yang baru saja menghilang di balik pintu ruangan perawatan.


Kemudian menoleh ke arah sosok wanita yang terlihat kebingungan dan memerah wajahnya seperti seorang perawan yang malu berduaan dengan lawan jenis.


'Istriku sangat menggemaskan sekali. Jika berada di rumah, aku pasti sudah menghajarnya di atas ranjang,' gumam Austin yang saat ini tengah mempertimbangkan apakah ia akan mengungkapkan tentang kebohongannya mengenai kecelakaan yang dialami.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2