
Diandra yang beberapa saat lalu Tengah menahan amarah yang membuncah di dalam hati karena posisinya tersudut ketika bodyguard menceritakan apa yang dilakukannya. 'Ingin sekali aku berteriak melepaskan semuanya, tapi rasanya tidak punya tenaga untuk itu.'
'Malas sekali rasanya menjelaskan tentang sesuatu yang bahkan sudah diketahui orang tuaku, tapi menyudutkanku,' gumam Diandra yang saat ini seketika menoleh ke arah sang ibu begitu terlihat sangat mengkhawatirkan Austin ketika pertama kali tersadar setelah kecelakaan.
Bahkan ia sama sekali tidak bergerak sedikit pun dan hanya fokus pada interaksi dari orang tuanya yang beralih mendekati Austin. 'Sampai di mana dia membuat orang tuaku selalu berada di pihaknya dan aku serasa anak tiri sekarang.'
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Menantu," ucap ayah Diandra yang saat ini memberikan sebuah kode dengan kerlingan mata begitu melihat sosok
Saat ia terdiam sejenak menatap ke arah sosok pria yang kini mengerti dengan apa yang dilakukan dan menjawab serupa melalui indra penglihatan, di saat bersamaan pintu terbuka.
"Alhamdulillah, Ayah." Austin yang tadinya merasa aman karena kedatangan mertuanya lebih cepat, tapi kini semakin bahagia begitu mendengar suara dari orang tuanya.
__ADS_1
"Putraku, bagaimana keadaanmu, Sayang?" Ibu Austin seketika berjalan mendekati ranjang perawatan putranya.
Tentu saja ia tahu jika putranya hanya bersandiwara saja, sehingga memainkan perannya di depan menantu yang diketahuinya telah hamil anak kembar agar tidak kabur dari rumah.
"Mama, Papa?" lirih Austin yang saat ini berpura-pura menunjukkan tangan serta kakinya. "Laki-laki tidak akan menangis hanya gara-gara luka sekecil ini."
Saat ia tengah bercanda untuk menguraikan suasana penuh ketegangan yang mewakili perasaannya karena masih belum berani menoleh ke arah sebelah kiri, di mana Diandra berada.
Hingga ia berakting sangat terkejut ketuk untuk mendalami petani sebagai seorang pria bodoh yang tidak tahu apa-apa. "Sayang, kamu juga ada di sini? Lalu, apa yang terjadi padamu?"
Dengan gerakan lambat serta meringis kesakitan, ia memijat pelipisnya. "Argghh ... kepalaku kenapa sangat pusing?"
__ADS_1
Kemudian ia berniat untuk bangkit dari ranjang karena ingin mendekati Diandra yang bahkan sekolah tidak berniat untuk berbicara dengannya lagi.
"Austin, kamu tidak boleh bergerak karena masih belum pulih." Ayah Austin kini menahan tubuh kekar putranya yang hendak turun dari ranjang perawatan.
"Aku ingin melihat keadaan istriku, Pa. Apa yang terjadi pada istriku? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" Saat baru saja menutup mulut, mendengar suara dari Diandra yang membuatnya tidak lagi berkutik.
"Aku tidak apa-apa! Jadi, jangan berpikiran buruk karena aku tadi hanya pusing sedikit dan sudah diberikan obat." Diandra sebenarnya ingin keluar dari ruangan kamar VIP itu agar bisa mendinginkan otak dan menenangkan perasaannya.
'Aku benar-benar sangat butuh ketenangan dan acara satu-satunya adalah menghilang dari pada kamera semua karena merasa sesak bernapas di ruangan yang sama dengan para pembohong,' gumam Diandra yang hanya bisa mengumpat di dalam hati.
"Aku ke toilet sebentar karena sangat gerah dan ingin cuci muka." Diandra berpikir bisa melakukannya, yaitu turun dari ranjang perawatan. Namun, semua orang seketika berteriak padanya.
__ADS_1
To be continued...