
Suasana di ballroom hotel bintang lima yang menjadi tempat resepsi dari pernikahan Yoshi dan Diandra mulai terlihat sepi saat para tamu satu persatu meninggalkan ruangan.
Saat ini, wajah penuh kelelahan terlihat sangat jelas dari Diandra. Ia menoleh ke arah Yoshi dan berniat untuk kembali ke dalam kamar hotel yang tadi digunakan untuk meriasnya dan berganti pakaian.
"Rasanya aku ingin segera meluruskan kakiku yang serasa mau patah hati ini." Ia berbicara sambil menoleh ke arah Yoshi.
"Nanti aku akan memijatmu, Sayang. Tenang saja." Yoshi yang mempunyai sebuah rencana setelah acara selesai, masih menyembunyikannya untuk memberikan sebuah kejutan pada Diandra.
Sementara itu, Diandra yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera pergi, ingin bertanya pada Yoshi berapa lama lagi kira-kira. Namun, khawatir akan dianggap tidak sabar untuk malam pertama.
'Lebih baik aku tidak bertanya daripada dia salah paham. Apalagi sifat para pria yang lebih banyak mesum, bisa-bisa nanti berpikir ke arah sana,' gumam Diandra yang kini beralih menatap ke arah kursi paling depan.
Ia kini melihat ibunya tengah menggendong putranya yang sudah tertidur pulas.
"Kasihan ibu pasti capek menggendong Aksa. Kenapa tidak beristirahat saja di dalam kamar hotel?" Diandra kini kembali menatap Yoshi. "Tolong suruh orang untuk memberitahu ibuku agar beristirahat dan merebahkan Aksa di ranjang."
Yoshi kini memanggil salah satu orang yang ada tak jauh dari singgasana dan memerintahkan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Diandra. "Sebentar lagi kita pulang karena aku punya kejutan untukmu."
"Kejutan?" Diandra makin dibuat penasaran dan ingin mengetahuinya. "Katakan sekarang kejutannya!"
"Tidak semudah itu." Yoshi berniat untuk merahasiakan sampai pulang. "Namanya bukan lagi surprise jika mengatakannya sekarang."
Meskipun kesal, Diandra tidak bertanya lagi. Ia hanya mengumpat di dalam hati. 'Seharusnya dia tidak memberitahuku dan tetap merahasiakannya. Ini malah seperti sengaja membuatku merasa penasaran.'
Saat Diandra mengumpat sambil menatap siluet sang ibu yang pergi bersama orang suruhan Yoshi, ia pun beralih menatap ke arah beberapa tamu undangan yang tengah menikmati sajian yang tersedia di atas meja.
__ADS_1
Hingga ia melihat pasangan suami istri yang berjalan naik ke singgasana. Ia berpikir jika itu adalah rekan bisnis dari orang tua Yoshi, tapi benar-benar sangat terkejut saat pria di sampingnya membuka suara.
"Mereka orang tua Austin dan salah satu rekan bisnis papaku dulu, Diandra." Yoshi sebenarnya dari tadi menunggu pasangan suami istri paruh baya tersebut sebelum mengajak Diandra meninggalkan singgasana.
'Aku ingin orang tua Austin melaporkan pada putranya bahwa aku dan Diandra sangat bahagia hari ini,' gumam Yoshi yang kini mengajak Diandra bangkit berdiri untuk bersalaman dengan orang tua Austin.
'Apakah mereka tahu perbuatan putranya padaku tiga tahun yang lalu?' gumam Diandra dengan sejuta pertanyaan yang kini menari-nari di kepalanya.
Diandra melirik ke arah Yoshi. "Apa mereka tahu siapa aku? Atau hanya datang untuk mengucapkan selamat padamu?" bisik Diandra di dekat daun telinga Yoshi sebelum pasangan suami istri paruh baya itu semakin mendekat.
"Kita lihat saja," sahut Yoshi yang tidak tahu dan ingin melihat apa yang akan terjadi hari ini.
'Aku telah membuat putra mereka babak belur di puncak. Apa tuan Malik Matteo akan membalas dendam padaku?' Yoshi yang juga tengah bertanya-tanya di dalam hati.
Diandra pun mengikuti pergerakan dari Yoshi dan ingin mengetahui niat apa yang terselubung dari pasangan suami istri yang sudah semakin mendekat dan terlihat tersenyum itu.
"Terima kasih, Tuan Malik Matteo," sahut Yoshi yang kini sebenarnya merasa sangat aneh karena pria itu sama sekali tidak menyebut tentang Austin.
Kemudian melihat juga melakukan hal yang sama pada Diandra. Namun, saat melihat ibu Austin memeluk erat Diandra, membuatnya merasa ingin tahu apa yang disampaikan secara lirih di dekat daun telinga istrinya.
"Diandra, kami di sini ingin meminta maaf atas perbuatan Austin padamu tiga tahun lalu. Aku tahu jika perbuatan Austin meninggalkan luka mendalam di hatimu dan meskipun beribu-ribu kali meminta maaf, tidak akan sanggup menyembuhkan luka itu."
"Namun, kami, khususnya aku ingin meminta maaf atas nama putraku," ucap sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Austin tengah memeluk erat tubuh pengantin wanita itu.
Sementara itu, Diandra hanya terdiam membisu saat mendengar permohonan maaf tulus dari wanita yang merupakan ibu dari Austin tersebut.
__ADS_1
Ia bingung harus bagaimana menanggapi, sehingga hanya diam dan mengangukkan kepala saat melihat wanita itu melepaskan pelukannya. "Terima kasih atas kedatangannya, Nyonya "
Diandra merasa jika tidak mudah memaafkan Austin, sehingga butuh waktu untuk berpikir. Hingga ia mengerutkan keningnya dan merasa bingung pada perkataan ayah Austin yang menyahut.
"Sekarang kami sadar bahwa Austin sangat mencintaimu dan sama sekali tidak tertarik pada wanita lain. Mungkin ini adalah sebuah karma untuk kami karena dulu menghinamu. Semoga kamu hidup berbahagia selamanya bersama Yoshi." Malik Matteo kini mengajak sang istri turun dari singgasana.
Sementara Diandra masih sangat bingung dengan kalimat terakhir dari ayah Austin. Meskipun ia hanya bisa berterima kasih atas doa penuh ketulusan dari orang tua Austin.
'Aku bisa menerima permintaan maaf dari kalian atas nama Austin, tapi tidak bisa melupakan kejadian itu.' Diandra kini menoleh ke arah sang suami yang dianggap sependapat dengan pemikirannya saat ini.
"Sepertinya mereka benar-benar tulus. Bahkan sama sekali tidak marah padaku telah membuat babak belur putra mereka." Yoshi tidak melihat orang tua Austin menikmati makanan karena langsung pulang.
Diandra yang masih tidak mengalihkan perhatiannya dari pasangan suami istri yang mulai menghilang di balik pintu. Ia menjawab pertanyaan dari Yoshi tanpa menoleh pada pria tersebut.
"Sepertinya mereka mendapatkan hidayah dari Tuhan. Sepertinya kamu tadi menunggu mereka. Sekarang sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Aku benar-benar sangat capek dan ingin segera beristirahat."
"Iya, aku memang menunggu mereka tadi," jawab Yoshi yang saat ini tengah memperhatikan situasi di ruangan itu. "Baiklah, kita pulang sekarang. Kita tidak akan menginap di hotel."
"Oh ... jadi kita tidak ke kamar yang tadi? Kalau begitu, aku akan mengganti pakaianku dulu," jawab Diandra yang langsung bangkit berdiri dari posisinya.
Tentu saja memakai gaun pengantin dan juga sepatu hak tinggi, membuatnya tidak bisa berjalan seenaknya ataupun berlari.
Yoshi sudah menuntun Diandra menuruni anak tangga kecil penghubung panggung dengan lantai. "Nanti kamu bisa mengganti pakaian setelah tiba di rumah."
Diandra merasa sangat aneh saat Yoshi tidak mengizinkannya mengganti gaun pengantin sebelum pergi. Apalagi saat ini ia membayangkan bahwa malam ini adalah malam pertamanya dengan Yoshi.
__ADS_1
'Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Yoshi? Kejutan apa yang ingin ditunjukkan padaku?' gumam Diandra dengan raut wajah penuh penasaran.
To be continued...