
"Aku pernah mendengar nama pengusaha sukses Austin Matteo dan ternyata sekarang nasibku sangat baik karena bisa bertemu dengan pria hebat seperti Anda," ucap Yoshi yang kini langsung mengulurkan tangan pada sosok pria yang selama ini membuatnya penasaran karena telah berhasil membuat seorang wanita takut pada lawan jenis.
Meskipun saat ini merasa sangat khawatir jika tiba-tiba Diandra keluar dari private room, jadi berpikir harus buru-buru menyusul wanita itu dan tidak mengizinkan untuk beranjak pergi sebelum pria di hadapannya pergi.
Sementara itu, Austin Matteo yang saat ini seketika menjabat tangan pria di hadapannya, kini mengulas senyuman karena merasa tersanjung saat dipuji.
"Anda terlalu berlebihan, Tuan ...."
Austin tidak melanjutkan perkataannya karena tidak mengetahui nama pria yang berdiri di hadapannya dan mendengar suara bariton yang langsung memperkenalkan diri padanya.
"Saya Yoshi Zaydan Narendra," sahutnya untuk menjawab rasa penasaran Austin mendengar suara dari sahabatnya yang menjelaskan mengenai tujuan pria itu datang ke restoran.
"Kebetulan kami dulu pernah bertemu saat ketemu rekan bisnis dan saling bertukar kartu nama dan sempat beberapa kali menggunakan jasaku. Hingga saat aku datang ke Jakarta, kebetulan tuan Austin ingin memakai jasaku selama 3 hari di sini, selebihnya aku gunakan untuk liburan bersama istri."
Tony hanya menjelaskan poin penting yang ia ketahui ingin ditanyakan oleh sahabatnya. Sekalian memperkenalkan dua pria yang menurutnya sangat hebat dalam bidang masing-masing dan berpikir siapa tahu bisa berteman ataupun menjalin kerja sama dalam hal bisnis.
Namun, ia merasa aneh ketika melihat sahabatnya yang terlihat seperti gelisah karena beberapa kali menatap ke arah private room. 'Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Yoshi? Seperti sangat khawatir pada keadaan wanita yang disukainya.'
"Senang bisa berkenalan dengan Anda, Yoshi," ucap Austin yang saat ini melepaskan tangannya dan mengeluarkan kartu nama dari dalam dompet. Kemudian menyerahkan kartu namanya. "Anda bisa menghubungi saya jika membutuhkan bantuan."
Sedangkan Yoshi seketika menerima kartu nama berwarna hitam tersebut dan melakukan hal sama. "Terima kasih. Oh ya, saya ada janji dengan klien dan tidak ingin ia menunggu. Jadi, harus segera pergi. Senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan Austin Matteo."
Yoshi kemudian beralih menatap ke arah sahabatnya dengan memberikan kode agar menelponnya setelah tidak sibuk karena ia pun juga sudah lama tidak berkomunikasi karena tidak punya nomor ponselnya.
Namun, tadi yang memberikan kartu nama miliknya. Sama seperti yang dilakukan pada pria yang membuatnya penasaran karena membuat Diandra seperti sangat ketakutan, lalu melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah private room.
"Silakan," sahut Austin yang saat ini tersenyum simpul begitu pria itu beranjak pergi dan melihat siluet Yoshi mulai menjauh serta menghilang di balik pintu private room.
Kemudian Austin beralih menatap ke arah Tony yang menyuruhnya untuk duduk.
"Anda ingin makan apa, Tuan Austin. Biar saya yang memesannya," ucap Tony yang kini mempersilakan pria di hadapannya agar duduk.
Karena merasa tidak enak berdiri terus, kini Austin langsung mendaratkan tubuhnya di atas kursi di hadapan pria yang akan bekerja sama dengannya saat memulai bisnis dengan klien dari luar negeri.
"Saya tidak pernah menyangka jika teman Anda adalah putra dari pemilik perusahaan konsultan terbesar di Jakarta. Selama ini saya sudah mendengar sepak terjang dari Narendra Consultants, tapi memang belum pernah menggunakan jasa mereka."
Tony Herlambang menganggukan kepala saat sang istri bangkit berdiri dari kursi karena berpamitan untuk pergi ke toilet. Ia sudah paham dengan sang istri yang ingin membiarkannya berbicara berdua agar lebih tenang dan tidak merasa terganggu.
__ADS_1
Kemudian beralih menatap ke arah Austin Matteo. "Anda benar. Sebenarnya Saya ingin mengatakan mempunyai teman dari Narendra Consultants, tapi ragu karena takut dianggap berbohong atau mengada-ngada bisa mengenal Yoshi."
"Jadi, saat kembali ke kota saya, Anda bisa menggunakan jasa Yoshi daripada saya yang berada di luar kota. Kebetulan memang kami lost contact setelah lulus dari kuliah dan baru hari ini pertama kali bertemu."
Kini, Austin Matteo mengerti semuanya dan menatap ke arah kartu nama dengan tulisan timbul serta mengkilap berwarna keemasan itu. "Oh, jadi seperti itu rupanya. Sepertinya saya beruntung bisa bertemu dengan teman baik Anda."
"Tentu saja saya sangat tertarik dengan tawaran Anda. Oh ya, tidak perlu memesan makanan karena saya tadi sudah sarapan di rumah. Sekarang saya akan membahas mengenai pekerjaan." Austin menatap ke arah jam tangan mewah miliknya karena tidak ingin membawa waktu dengan membahas hal lain.
Sementara itu, Tony pun menganggukan kepala dan memasang indra pendengaran agar bisa fokus.
Di tempat berbeda, beberapa saat lalu, Yoshi yang baru masuk ke dalam private room, melihat Diandra memainkan ponsel dengan menunjukkan kepala dan terlihat sangat serius.
Ia benar-benar merasa sangat lega karena melihat wanita itu tidak beranjak dari kursi dan tidak bertemu dengan pria yang membuatnya trauma. "Diandra."
Diandra sebenarnya bisa mendengar pintu yang terbuka dan sudah bisa menebak jika itu adalah Yoshi. Namun, ia tengah serius membaca mengenai beberapa tempat kos yang akan menjadi tempat tinggalnya setelah pindah dari apartemen.
Namun, seketika menoleh ke arah pintu begitu namanya dipanggil dan langsung berdiri. "Aku pikir kamu datang bersama klien. Kenapa belum datang juga? Oh ya, sepertinya kamu dan teman lamamu tadi tidak berbicara banyak karena sudah kembali secepat ini."
Saat ini, Yoshi tengah terdiam memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Apakah ia akan mengatakan tadi bertemu dengan Yoshi atau menyembunyikan hal itu dari Diandra.
'Sedangkan Diandra bekerja untukku dan jika itu terjadi pasti akan bertemu dengan Austin Matteo.' Yoshi saat ini terlihat memijat pelipis karena kepalanya tiba-tiba merasa pusing saat menyadari kebodohannya yang seolah membangun jembatan yang akan menghancurkannya.
Ingin ia mengumpat untuk meluapkan kebesaran saat menyadari kesalahan, tapi tidak ingin membuat Diandra merasa curiga dan akhirnya menyalahkan dirinya. Akhirnya ia memilih untuk menutupi dari wanita yang masih berdiri di hadapannya.
"Duduklah, Diandra. Mungkin sebentar lagi, klienku akan tiba. Aku tadi hanya sebentar berbicara dengan temanku karena ia ternyata menemui klien juga saat liburan di sini." Yoshi saat ini mengeluarkan ponsel setelah meninggalkan tubuhnya di kursi seperti yang dilakukan oleh Diandra.
Niatnya adalah ingin menghubungi klien untuk menanyakan sudah sampai di mana. Namun, ia mengerutkan kening karena ternyata ada pesan yang beberapa menit lalu masuk dan langsung dibuka dan dibacanya.
"Maafkan saya, Tuan Yoshi karena mendadak harus membatalkan pertemuan secara setia karena dalam perjalanan mendapatkan telepon bahwa istri saya mengalami kecelakaan pulang dari sekolah anak."
"Astaghfirullah!" Diandra seketika mengusap badannya karena ikut merasa berduka cita atas musibah yang dialami oleh klien Yoshi.
Sementara itu, Yoshi seketika mengirimkan pesan untuk membalas bahwa ia tidak mempermasalahkan hal itu dan mengucapkan duka cita atas musibah yang dialami oleh klien bisnisnya.
Bahwa masalah pertemuan bisa ditunda kapan saja karena memang mendapatkan masalah yang tidak bisa diduga ataupun diprediksi karena disebut musibah.
Saat baru selesai mengirim pesan, Yoshi seketika menelan ludah dengan kasar begitu melihat Diandra bangkit berdiri dari kursi dan mengajak untuk pergi karena tidak jadi meeting.
__ADS_1
"Ayo, kita ke kantor sekarang saja karena aku ingin segera bekerja dan mengetahui pekerjaan seorang sekretaris konsultan bisnis."
Diandra berniat untuk mencari tempat kost setelah nanti pulang kerja dengan meminta bantuan Yoshi agar menemaninya karena ia sudah sepenuhnya mempercayai pria itu.
Ia khawatir jika pergi sendiri, akan bertemu dengan para pria jahat yang akan berbuat tidak senonoh padanya ketika melihatnya hanya sendirian mencari tempat kos yang berada di beberapa gang kecil sesuai dengan alamat yang tadi ia cari.
Namun, diamnya pria yang sama sekali tidak bergerak dari tempat duduk, membuatnya mengerutkan kening. "Kenapa? Apa ada masalah lain?"
Refleks Yoshi seketika menggelengkan kepala untuk membantah pemikiran Diandra.
Jika tadi ia berniat untuk merahasiakan pertemuan tidak sengaja dengan pria bernama Austin Matteo, tapi sekarang berubah pikiran karena tidak mungkin bisa menahan Diandra untuk tetap di sana.
"Diandra, kamu tidak bisa keluar dari ruangan ini sekarang."
"Maksudnya?" Diandra benar-benar merasa ada keanehan yang tengah disembunyikan oleh Yoshi. Jadi, sekarang berpikir ada sesuatu yang tidak beres. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Diandra, klien temanku tadi ternyata adalah ...." Yoshi benar-benar kesulitan ketika menyebutkan nama pria yang sudah dipastikan akan membuat suasana hati dianggap berubah buruk untuk kesekian kalinya.
"Kenapa tidak diteruskan?" tanya Diandra yang semakin merasa penasaran dengan siapa yang tengah disembunyikan oleh Yoshi.
Hingga ia seketika membulatkan mata dan menggenggam erat telapak tangannya yang bergetar begitu mendengar nama seseorang yang membuatnya ketakutan.
"Klien penting temanku adalah Austin Matteo," lirih Yoshi yang saat ini bisa melihat perubahan wajah dari Diandra dan juga tubuh wanita itu terempas ke arah kursi.
Ia bisa melihat jika Diandra benar-benar sangat shock dengan apa yang baru saja diungkapkan olehnya. Karena merasa sangat khawatir, refleks Yoshi bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati sosok wanita dengan wajah pucat itu.
"Diandra, kamu tidak apa-apa?" tanya Yoshi yang kini memegang pundak sebelah kanan wanita dengan wajah penuh kekhawatiran itu.
Ia saat ini benar-benar merasa sangat yakin jika ada hal buruk yang terjadi di antara Diandra dan pria bernama Austin Matteo. "Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?"
"Kenapa kamu seperti ketakutan saat mendengar nama Austin Matteo?" tanya Yoshi yang kini menoleh ke arah pintu saat diketuk dan beberapa detik kemudian terbuka.
Sementara itu, Diandra seketika menyembunyikan wajah di balik tubuh tegap Yoshi yang berdiri di hadapannya karena khawatir jika yang masuk adalah teman sekaligus Austin Matteo.
"Siapa yang datang?" lirih Diandra sambil memiringkan wajah untuk menyembunyikan diri.
To be continued...
__ADS_1